Hanoi: Danau Hoan Kiem Dan Legenda Kura-Kura.

Standard

ngoc  Son TempleBerdiri di pinggir danau ini pada suatu sore memberi kedamaian tersendiri. Udara kota Ha Noi yang sejuk di bulan April berkisar sekitar 20° Celcius. Permukaan danau yang tenang memantulkan segala sesuatu yang berada di atasnya, membuat bayangan indah dahan-dahan pohon yang menjuntai dari pingggiran danau.  Banyak orang duduk-duduk di bangku taman di sekelilingnya. Memang sebuah tempat yang sangat menarik untuk berjalan-jalan di sore hari yang sejuk.

Diberi nama Ho Hoan Kiem (Danau Pedang Yang Dikembalikan) karena menurut legenda, di tempat inilah pedang Thuan Thien dipulangkan kembali oleh Kaisar Vietnam Le Loi kepada Raja Naga (Long Vuong) melalui seekor kura-kura raksasa yang muncul di danau ini. Le Loi adalah Raja Vietnam yang berhasil membebaskan Vietnam dari kekuasaan China pada tahun 1428,dengan menggunakan senjata Thuan Thien yang sebelumnya ia dapatkan dari danau itu juga walaupun melalui pihak lain.

Di danau kecil ini saya pikir setidaknya ada 3 hal penting yang bisa dilihat, yakni Jembatan Merah, Kuil Gunung Giok (Ngoc Son Temple) dan Menara Kura-Kura. Seorang pelancong dari Malaysia yang meminta tolong kepada saya untuk memotretnya,  dengan sangat semangat menjelaskan segala sesuatu yang ia tahu tentang  danau dan temple ini kepada saya.Kelihatannya ia telah mengunjungi tempat ini beberapa kali.

Jembatan Merah (The Tuc,  Jembatan Matahari Terbit).

jembatan MerahJembatan berwarna merah yang melintas di danau ini, merupakan jalan yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil di tengah danau dimana Ngoc Son Temple berdiri. Jembatan ini terlihat sangat indah jika kita pandang dari tepi danau. Kontruksinya kelihatan sederhana, membuatnya terasa menyatu dengan kedamaian suasana sekitarnya.

Sebenarnya ada 3 gerbang yang harus kita lalui jika ingin menuju ke temple. Tapi karena saya menyusuri jalan kecil di pinggiran danau, yang merupakan jalan pintas langsung ke gerbang ke dua, saya tidak sempat melihat keindahan ornamen tua di gerbang pertama. Gerbang ke dua ini dihiasi dengan tulisan yang saya tidak tahu bacaan dan artinya.  Selepas gerbang ke dua inilah jembatan merah itu dimulai. Namun sebelumnya saya harus membayar sebesar 20 ribu Vietnam Dong (sekitar 10 ribu rupiah) untuk membayar ticket agar bisa masuk ke  dalam kuil itu.

Jembatan berakhir di gerbang kuil yang ke tiga. Saya sempat memotret gerbang kuil ini,yang dinding samping kanannya dihiasi dengan gambar Kura-kura raksasa yang dipunggungnya tersimpan pedang  Thuan Thien. Sedangkan disamping kirinya dihiasi dengan gambar kuda naga. Di atasnya dua ekor burung phoenix sedang terbang.Secara keseluruhan gerbang kuil kuno ini terlihat sangat indah. Pemeriksaan ticket dilakukan di sini.

Menara Kura-Kura (Thap Rua)

Menara Kura-KuraKalau kita berjalan di Jembatan Merah, persis ketika kita berada di tengahnya kita menoleh ke arah selatan danau, kita akan melihat sebuah menara kecil di kejauhan. Berdiri tegak dengan damai di atas sebuah pulau yang sangat kecil di tengah danau Hoan Kiem. Itulah Menara Kura-Kura atau yang oleh penduduk setempat disebut dengan Thap Rua. Menara ini  dibangun untuk memperingati dibawanya kembali pedang Thua Thien ke dasar danau oleh kura-kura raksasa.  Ternyata legenda tentang Kura-Kura ini memang sangat kuat tercermin dari bangunan maupun motif yang diaplikasikan di tempat itu.

Saya melayangkan pandangan saya ke permukaan danau. Mengharapkan nasib mujur bisa melihat kura-kura langka itu. Karena menurut keterangan, masih ada kura-kura yang hidup di sana. Namun tidak satupun yang saya lihat ada muncul ke permukaan, kecuali ikan-ikan mas  yang rupanya banyak juga menghuni  danau itu.

Ngoc Son Temple (Kuil Gunung Giok).

Ngoc Son temple 6Menurut guide yang mengantarkan kami, Ngoc Son temple ini adalah  kuil yang sudah sangat tua usianya. Agak bervariasi informasinya.Ada yang mengatakan kuil ini dibangun pada abad ke 16 ada juga yang mengatakan pada abad ke 18.  Namun kapanpun itu, kuil ini memang terlihat kuno dan indah.

Selepas dari gerbang diujung jembatana, kita memasuki area kuil. Di mana di dalamnya terdapat bangunan kuil utama, dengan beranda  di kiri kanannya. Lalu ada bale-bale di halaman depannya dan tempat api dan pedupaan. Ornamen di dalam kuil itu didominasi warna merah dan keemasan. Terlihat cemerlang dan gilang gemilang.

Saya melihat kesibukan yang cukup berarti di kuil itu. Selain wisatawan yang memadati halaman kuil, juga saya melihat cukup banyak orang melakukan doa di sana. Tua muda, laki atau perempuan bergantian berdiri di depan altar. Seorang sastrawan caligraphy terlihat sibuk menulis di salah sebuah ruangan. Sayapun mendekat dan bertanya tentang apa yang ia kerjakan. Ia menjelaskan bahwa ia menuliskan doa akan  kebahagiaan pengunjung yang berminat di atas kain  berwarna merah. Doa kebahagiaan!. Ada juga seorang wanita muda yang sibuk di tempat perapian. Rupanya ia membakar sesuatu, karena setelah itu saya melihat sebuah abu kertas masih dengan jejak tulisannya melayang dihembuskan angin tertiup keluar dari perapian.

15 responses »

  1. Danau yg sangat bersejarah bagi orang Vietnam ya Mbak Dani.bSetu2 atau danau2 kita mestinya kalau ada cerita atau dikasih tema seperti danau ini, pasti menarik. gak cuma sekedsr keelokan fisiknya saja ya Mbak…

    • ih ya Mbak Evi..padahal danau kita juga banyak ya.dan sebenarnya kebanyakan juga ada legendanya. Tapi memang kelihatannya kita kurang bisa mengemas, mengelola dan memasarkannya dengan baik. Saya lihat banyak sekali danau di Vietnam utara – kecil-kecil tapi aku lihat kok semuanya bersih, tertata rapi dengan jalan bertrotoar lebar, taman bunga dan pohon-pohon yang rindang di pinggirnya …jadi sangat menarik untuk dikunjungi dan dijadikan tempat nongkrong.. apalagi jika ditambah dengan cerita..semakin membuat danau itu menjadi menarik..

  2. Kalau melihat tempat eksotik di luar negeri kok saya iri ya mbak.. Kayaknya lestari dan benar-benar dirawat. Beda dengan di negara kita, banyak tempat-tempat bersejarah yang terkesan diabaikan dan tak luput dari aksi vandalisme pengunjungnya.

    • Ya..saya juga merasa begitu Pak. Sayang sekali, bangsa kita memiliki kelemahan dalam merawat dan melestarikan tempat-tempat menarik dan bersejarah yang sebenarnya sangat banyak tersebar dan sebenarnya sangat mungkin dikelola untuk tujuan yang lebih baik dan untuk kepentingan masayarakat.

    • Saya sih belum pernah melihat. tapi konon banyak juga orang yang melihat.Dan sebenarnya di kuil itupun ada rangka sebuah kura-kura raksasa dari danau itu yang beratnya lebih dari 200kg – sayang saya tidak punya fotonya.

  3. Wah masuknya sekarang bayar ya? Seingat aku beberapa tahun lalu sih gratis, Mbak. Memang danaunya indah dan cocok buat duduk-duduk di sore hari sambil ngelamun 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s