Monthly Archives: June 2013

Kematian Dan Cyclus Kehidupan…

Standard

Bunga-bunga berguguran1Semester pertama tahun ini,  saya lalui dengan beberapa peristiwa duka. Selain kehilangan Persia – kucing kesayangan keluarga kami, saya juga kehilangan seorang bibi (adik perempuan bapak) di Bali dan seorang ipar (kakak tertua suami) di belahan lain dari kota Jakarta.  Kedua-duanya adalah wanita yang sangat saya cintai dan dekat sekali dengan kehidupan saya.

Saya merasa hubungan dengan bibi saya ini adalah salah satu hubungan “Bibi-Keponakan” terbaik yang saya tahu dalam hidup saya. Di mata saya, bibi saya adalah wanita hebat yang sangat banyak menyuntikkan nilai-nilai kehidupan ke dalam diri saya. Menjadi pendamping orang tua dalam membimbing saya menjalani hidup ini. Tempat saya mengeluh dan mengadukan persoalan kehidupan saya. Dan ketika saya dewasa,  membuat diri saya merasa berarti dengan menjadikan saya sebagai tempatnya berbicara dan berbagi cerita. Bahkan ketika kedua orang tua saya telah tiada, bibi  membuat saya merasa tetap memiliki orangtua yang  setiap saat menunggu kedatangan saya pulang kampung.

Demikian juga dengan kakak ipar saya. Saya juga merasa bahwa ini adalah salah satu hubungan “Kakak-Adik Ipar” yang terbaik  yang saya pernah ketahui. Di mata saya, kakak ipar saya memiliki keseimbangan yang sangat tinggi antara kemampuan memberikan perhatian dan kasih sayang, dengan kemampuan untuk bersikap cuek dan tidak mencampuri urusan yang bukan menjadi urusannya. Ia selalu terbuka dan tahu persis kapan harus memberikan perhatian dan kapan harus berhenti. Ia juga tahu persis, bagian mana yang harus diperhatikan dan dieksplorasi, serta bagian mana yang bersifat sensitif dan sebaiknya jangan diungkit. Hal ini membuat hubungan kami selalu berada dalam kondisi prima. Sungguh beruntung saya menjadi adik iparnya.

Kedekatan ini tentu saja memberikan pukulan emosi yang tak bisa saya hindarkan dan sedikit tidaknya mempengaruhi hari-hari saya dalam bulan-bulan terakhir ini. Banyak sekali kenangan yang melintas ke dalam pikiran saya. Suka dan duka. Saya membayangkan, kedukaan ini tentu akan lebih berat lagi bagi anak-anak, suami dan saudara kandungnya. Saya bisa merasakan betapa beratnya, karena pernah mengalami sebelumnya, saat kedua orangtua saya meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu. Kematian orang yang kita cintai selalu meninggalkan kesedihan yang mendalam. Rasa duka seolah tak pernah lupa hadir ke dalam hati kita. Seolah mengikuti, kemanapun kaki kita melangkah.

Perasaan duka itu tetap menggelayut di pikiran saya, hingga pagi hari kemarin…

Saya melihat ada  banyak bunga-bunga bertebaran di halaman. Bunga-bunga itu sudah tua, lepas dari tangkainya dan jatuh ke tanah satu per satu. Demikian juga daun-daun yang coklat dan mati. Lepas dari batangnya dan lalu jatuh diterbangkan angin. Keduanya memberikan gambaran yang jelas kepada saya, bahwa baik bunga dan daun itu telah mengalami proses yang telah digariskan oleh alam. Lahir sebagai kuncup, berkembang optimal untuk melaksanakan fungsinya masing-masing, lalu menguning, coklat layu dan akhirnya lepas berguguran dihempaskan angin ke bumi. Sebuah kematian.

Apakah pohon-pohon merasa terpukul oleh kedukaan? Ia tampak berdiri tenang dan tetap kokoh di sana. Melanjutkan hidupnya dengan normal, tanpa sedikitpun terlihat terpengaruh oleh kematian dari sebagian bunga-bunga dan dedaunannya. Ia tetap  mencari makan dan mengumpulkan air dari akarnya, menyalurkannya lewat batang lalu memprosesnya pada daun dengan bantuan sinar matahari dan memanfaatkannya untuk tumbuh dan berkembang. Daun baru dan bunga baru. yang kemudian tumbuh berkembang dan akhirnya layu dan mati juga.

Kematian bagi pohon-pohon hanyalah sebuah siklus kehidupan biasa. Siklus standard yang sudah diatur oleh alam. Lahir – Tumbuh – Mati.  Semuanya harus diterima dengan baik. Untuk setiap kelahiran yang ada,  niscaya akan dilanjutkan oleh pertumbuhan dan selanjutnya pasti akan disusul oleh kematian.

Bagi alam, tidak ada ‘yang mana lebih baik dari yang mana’ antara kelahiran dan kematian. Tidak ada pemenang dan tidak ada pecundang. Yang ada hanyalah Tahapan Kehidupan yang harus dilalui. Karena dalam menjaga keberlangsungan hidupnya, bagi alam kelahiran sama pentingnya dengan kematian. Tanpa kematian, tidak akan ada tempat yang cukup untuk kehidupan baru.

Pohon-pohon yang berdiri kokoh di halaman,  seolah menunjukkan kepada saya bahwa  mereka sangat memahami siklus ini dan menerimanya dengan penuh penghayatan. Itulah sebabnya mereka tetap melanjutkan kehidupan, tanpa terpengaruh oleh bunga-bunga dan dedaunan yang berserakan di sekitarnya, hingga tiba gilirannya sendiri untuk menapakkan dirinya dengan damai ke dalam tahapan kematian itu.

Demikian juga  bagi setiap manusia.  Memahami, menerima dan menghayati siklus  kehidupan yang telah diatur oleh alam ini, akan sangat membantu kita untuk  membebaskan diri dari kedukaan. Karena kematian sesungguhnya bukanlah kekalahan yang harus diisak-tangisi, namun sebuah tahapan kehidupan yang harus dijalani oleh semua mahluk hidup dalam perjalanannya menuju Sang Pencipta.

Advertisements

Bereksperimen Di Dapur: Jamur Shiitake Panggang.

Standard

Jamur Shiitake PanggangJamur Shiitake alias Jamur Hioko (Lentinus edodes), sebagaimana banyak diinformasikan di berbagai media,adalah salah satu jamur yang diketahui memiliki sifat pengobatan. Mulai dari gangguan saluran pernafasan, gangguan hati,meningkatkan daya tahan tubuh, hingga untuk kecantikan. Bahkan belakangan ini, banyak penelitian telah dilakukan akan efek anti bakterial dan antiviral dari jamur ini. Lentinan, yang diisolasi dari jamur Shiitake, saat ini teregister sebagai salah satu obat anti tumor/kanker intra vena yang sangat penting.

Di tanah air, jamur ini mulai mudah kita temukan di berbagai supermarket, hingga ke pasar traditional. Rasanya mengingatkan kita akan petai. Walaupun tidak sama, namun ada sedikit kemiripan aroma. Saya membeli sebungkus dan mencoba membuat camilan untuk keluarga. Jamur Shiitake Panggang!.

Bahan –bahannya: sebungkus jamur Shiitake segar, 1 butir telor, sedikit kecap ikan, tomat, bawang putih, bawang merah, daun bawang, seledri,  gula, garam dan minyak wijen.

Cara membuat:

1.      Bersihkan Jamur Shiitake. Pisahkan tudung jamur dengan batangnya. Sedikit catatan: tudung jamur shiitake sangat lembut namun agak kenyal, sedangkan batang jamur shiitake agak keras dan tidak sekenyal tudungnya.

2.      Rendam tudung jamur Shiitake dalam kecap ikan.

3.      Cincang batang jamur Shiitake, bawang putih, bawang merah, daun bawang, seledri, tomat. Aduk dalam satu mangkuk.

4.      Tambahkan gula dan garam secukupnya dan sesendok minyak wijen. Lalu masukan telor ayam, diaduk rata.

5.      Ambil tudung jamur shiitake, letakkan dalam posisi terbalik, hingga bagian bawah payungnya menghadap ke atas, lalu letakkan adonan jamur cincang diatasnya.

6.      Pangang selama 30 menit dengan api 180°.

Kebingungan Tukang Ketoprak.

Standard

tkg ketoprak“Bang, pesan Ketoprak 3 dong! Yang satu pedas, banyakin bawang putihnya, nggak pakai bihun, kecap manisnya sedikit aja ya..; yang satunya lagi nggak pedas, nggak pakai ketupat, pakai bihun, banyakin kecapnya; dan yang satunya lagi biasa biasa saja, semuanya pakai, tapi tahu & krupuknya ditambah“.

Tukang Ketoprak”?????.  “Bu, boleh nggak diulang lagi pesanannya satu persatu?” dengan muka kebingungan he he.. Read the rest of this entry

Penglipuran: Wajah Asli Pedesaan Bali Yang Damai & Asri.

Standard

Desa Penglipuran, BangliGlobalisasi memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap  perubahan kehidupan masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sudah pasti, hal itu juga terjadi pada Bali tanpa kecuali. Jika kita lihat wajah Bali sekarang dengan di masa kecil saya dulu, tentu sudah sangat berbeda. Dulu jalanan masih sangat sepi, sekarang di banyak tempat tingkat kemacetannya sudah tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Dulu, kita melihat masih sangat banyak sawah yang menghijau, sekarang sawah menjadi sangat terbatas hanya di daerah-daerah pedalaman yang belum tersentuh gemerlapnya dollar.banyak yang sudah berubah menjadi artshop, restaurant atau bahkan pemukiman penduduk. Dan masih banyak lagi perubahan yang lainnya. Read the rest of this entry

Awkward Moment…

Standard

IndonesiaMemiliki teman-teman dari berbagai bangsa adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan bagi diri saya. Dengan menjalin pertemanan atau bahkan persahabatan dengan mereka, saya bisa mendapatkan banyak hal-hal baru  yang memperkaya khasanah pemikiran saya. Entah itu berkaitan dengan pekerjaan, proses pemikiran, cara pandang, budaya, kesenian, nilai-nilai kehidupan dan sebagainya.  Secara umum, saya pikir setiap orang berusaha menjaga hubungan baik satu sama lain, namun terkadang suasana kikuk dan canggung bisa saja terjadi tanpa sengaja dan tanpa dapat dihindarkan. Read the rest of this entry

Body Bahasa Dan Budi Bahasa.

Standard

Bunga SengganiSaya sedang duduk di lobby sebuah perkantoran sambil menunggu taxi yang akan membawa saya ke bandara. Menurut keterangan operator, taxi akan sampai dalam waktu 15 menit lagi. Namun yang namanya menunggu, satu menitpun tetap saja terasa lama. Membosankan. Lalu untuk menghibur diri, akhirnya saya menyibukkan diri dengan smartphone saya. Bosan juga. Akhirnya saya melihat ke sekeliling. Di depan saya duduk seorang wanita setengah baya sedang sibuk berbicara di telpon genggamnya. Wanita itu sangat rapih dan cantik. Rambutnya diikat ekor kuda. Menggunakan three pieces dengan warna seputaran coklat tanah dan keemasan. Tampak modis dan menarik. Ia duduk menumpangkan sebelah kakinya di atas kakinya yang satu lagi. Read the rest of this entry

Cuci Mata: Trend Terkini Kain Jumputan Di Bali.

Standard

kain Jumputan BaliIni adalah jenis kain yang saya sendiri bingung bagaimana menilai ke’kinian’nya. Karena motif jumputan di Bali, ya kayanya selama bertahun-tahun seperti itu saja. Tidak terlalu banyak perubahan. Motifnya ya…sesuai dengan namanya. Dari dulu juga memang begitu. Kecil-kecil, dibuat sejumput sejumput, dengan cara menjumput sedikit kain, mengisi entah dengan kelereng,  batu, biji-bijian, atau benda-benda lain, mengikat, lalu mencelupkannya ke dalam warna.  Alhasilnya selalu mirip begitu. Warnanya memang selalu bervariasi sejak dulu. Ukuran motifnya mungkin sedikit bervariasi, demikian juga bentuk ikatannya. Kadang ada juga kombinasi warna diantara ikatan. Tapi tak pernah berbeda jauh. Paling yang berbeda hanya jenis kain yang digunakan sebagai bahan dasarnya saja. Katun, sutera, dan sebagainya. Read the rest of this entry

Sepotong Piza Yang Tersisa Semalam.

Standard

PizaPulang kantor, saya lewat di sebuah toko Piza. Lalu saya mampir, membeli dan membawa pulang untuk anak-anak saya. Saya tahu, jam segitu anak-anak biasanya sudah makan malam. Namun saya pikir tak ada salahnya sesekali membiarkan mereka ngemil lagi setelah makan malam. Kan tidak setiap hari saya membelikan mereka makanan dari luar.

Anak-anak kelihatan menikmati pizanya. Seusai makan, saya melihat masih ada sepotong yang tersisa. Lalu saya simpan di kulkas. Read the rest of this entry

Tentang Janji Yang Tidak Selalu Harus Ditepati.

Standard

White Flowers.Seorang sahabat menghubungi saya dan berkata “Sorry rupanya ada janji yang aku lupa tepati. Maaf ya…” lalu  ditambah dengan sedikit penjelasan mengapanya.  Saya membalas “Ok.Gak apa-apa kok. Kan nggak semua janji harus ditepati”.  Lalu ia membalas lagi  dengan icon tawa. “Aku sudah tahu kalau jawabannya akan nggak apa-apa” katanya.

Saya nyengir membaca jawabannya.Lalu mulai benar-benar memikirkan kalimat saya sendiri dan jawaban sahabat saya itu. Dan jujurnya, saya mulai ragu. Apakah benar  tidak semua janji harus ditepati? Atau sebaliknya? Apakah benar semua janji harus ditepati? Lalu mengapa ia mengatakan bahwa sudah tahu bahwa jawaban saya pasti akan “nggak apa-apa” ? Read the rest of this entry

Cuci Mata: Motif Dan Trend Terkini Kain Songket Bali.

Standard

 

Kain Songket  Bali- benang perak dan emas 2Setelah kain Endek, jenis kain traditional lainnya yang sangat banyak penggunaannya dalam upacara traditional Bali adalah kain Songket. Walaupun mungkin tidak seterkenal kain Songket Palembang yang sangat mahsyur akan keindahannya itu, kain Songket Bali tetap menjadi tuan rumah yang disegani di tanah kelahirannya. Read the rest of this entry