Menonton Pertandingan Gong Kebyar Wanita Antar Desa di Kabupaten Bangli 2013.

Standard

Sekaha Gong Kebyar Giri Kusuma, Desa Pekraman Sulahan  Bangli.Sungguh sebuah kebetulan ketika hari Minggu, 26 Mei yang lalu saya pulang ke Bali, di lapangan Kabupaten Bangli yang berada persis di depan rumah saya, diselenggarakan pertandingan Gong Kebyar Wanita antar Desa dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Bangli yang ke 809. Ulang Tahun Kota Bangli sendiri seharusnya diperingati  setiap tanggal 10 Mei. Namun perayaan yang penuh suka cita rupanya dilaksanakan agak mundur guna mensukseskan Pilkada Bali minggu setelahnya. Karena kebetulan saya sedang di rumah,maka sungguh beruntung saya jadi ikut menyaksikan sebagian perayaannya.

Lomba Gong Kebyar Wanita.

Yang bertanding malam itu adalah 2 sekeha (organisasi) Gong Kebyar, yakni Sekeha Gong Kebyar Giri Kusuma dari desa pekraman (desa adat) Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli vs Sekeha Gong Kebyar Nareswari  yang berasal dari desa pekraman Demulih, kecamatan Susut,Kabupaten Bangli. Yang membuat saya takjub adalah, ternyata anggota sekeha gong yang bertanding itu adalah para wanita. Sungguh luar biasa!. Karena setahu saya, yang umumnya ahli bermain gamelan di Bali adalah para pria. Mungkin ada satu dua wanita yang juga bisa memainkan gamelan, tapi biasanya jumlahnya tidak banyak. Tapi kali ini yang memainkan instrumen gamelan itu, justru wanita semuanya.  Maka sayapun memutuskan untuk turun ke lapangan dan ikut menonton di sana, diantara kerumunan masyarakat Bangli yang berdesak-desakan.

Sekaha Gong Kebyar Nareswari, Desa Pekraman Demulih  Bangli 1Namanya juga lomba Gong Kebyar, maka jenis musik traditional yang dilombakan adalah jenis musik keras dan dengan tempo yang cepat serta mengembang yang disebut Kebyar. Walaupun Bali memiliki banyak genre musik traditional yang lain, namun genre Gong Kebyar  yang bertempo cepat dan keras inilah yang secara umum dikenal masyarakat Indonesia sebagai icon-nya musik Bali. Saya bukan ahli musik. Bukan pula ahli gamelan. Jadi sayang sekali saya tidak tahu apa yang menjadi kriteria juri dalam menetapkan pemenangnya. Saya menduga,setidaknya ketepatan tempo, kerapihan, dan keindahan suara dan gerakan para pemusik mungkin menjadi parameter-parameter penting yang diukur.

Kalau saya ditanya,sekeha gong mana diantara keduanya yang lebih bagus? Sudah pasti saya tidak bisa menjawabnya. Menurut saya kedua-duanya bagus. Kedua-duanya tampak trengginas, gesit,lincah, dan sangat indah gerakan pemusiknya saat menabuh peralatan musik traditional itu. Gamelannyapun terdengar sama indah dan dinamisnya. Sebenarnya,sekeha gong Nareswari Demulih terasa lebih lembut dan manis kedengaran di telinga saya,sementara sekeha gong Giri Kusuma Sulahan terasa lebih hidup, dinamis dan penuh semangat.  Namun saya tetap tidak tahu, seharusnya yang baik itu seperti yang mana. Apakah Nareswari lebih baik dari Giri Kusuma, atau justru sebaliknya Giri Kusuma yang lebih baik dari Nareswari. Dua-duanya indah.

Beradu Mengiringi Tarian.

Sekaha Gong Kebyar Giri Kusuma, Desa Pekraman Sulahan  Bangli - Tari Gabor1Pemusik dan penari, adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam seni traditional Bali. Pemusik bemain dengan cara memperhatikan gerakan penari, sedangkan penari bergerak dengan cara mendengarkan musik.  Sehingga dalam pertarungan ini, selain bertanding dalam sesi gamelan kosong, rupanya kedua sekeha juga harus bertanding untuk menunjukkan kemampuan mereka bermain gong kebyar untuk mengiringi tarian traditional.

Tari pertama yang harus diiringi adalah Tari Gabor.Tari Gabor,  seperti halnya dengan tari Pendet, Panyembrama ataupun Sekar Jagat,adalah salah satu bentuk tari pembukaan. Banyak digunakan dalam membuka acara-acara resmi,  baik acara sosial kemasyarakatan, acara yang berkaitan dengan kantor ataupun bisnis atau bisa juga digunakan untuk menyambut tamu. Di jaman saya kecil dulu, tari Gabor ini adalah tari wajib ke dua yang harus dikuasai setiap anak perempuan setelah tari Pendet. Sekaha Gong Kebyar Nareswari, Desa Pekraman Demulih  Bangli - Tari Gabor.Namun belakangan, tari Gabor kelihatannya lebih jarang dipertunjukkan dan digantikan dengan tari penyambutan yang lain seperti misalnya tari Panyembrama maupun Sekar Jagat.

Sekeha Gong Giri Kusuma mengeluarkan penari Gabor yang jumlahnya 8 orang. Para penari yang cantik keluar  berurutan, menuruni tangga,  masuk  ke panggung dan mulai memperlihatkan keindahan gerak tubuhnya kepada para penonton. Sekeha Gong Giri Kusuma mengiringinya dengan sangat baik. Saya tidak ada mendengar cacat, tidak tepat atau sedikitpun suara alat musik gamelan yang sumbang selama tarian ini berlangsung. Semuanya terdengar indah, dinamis dan seperti yang seharusnya.

Berikutnya adalah Sekeha Gong Nareswari yang mengiringi sebuah tarian Gabor.  Kali ini penari Gabor yang keluar hanya 4 orang.  Sekaha Gong Kebyar Giri Kusuma, Desa Pekraman Sulahan  Bangli - Tari Oleg Tamulilinga. Sekaha Gong Kebyar Nareswari, Desa Pekraman Demulih  Bangli - Tari Oleg Tamulilingan.Para penarinya sama cantiknya.Gerakannya pun sama lemah gemulai dan indahnya. Gamelan yang mengiringinyapun terasa sangat tepat dan jatuh persis dengan tempo yang tepat saat para penari menggerakkan anggota tubuhnya. Lagi-lagi saya tidak tahu, siapa yang lebih baik antara Giri Kusuma dan Nareswari. Namun untuk blocking panggung yang sedemikian luasnya, saya merasa 8 orang penari terlihat jauh lebih baik dibandingkan dengan hanya 4 orang penari saja. Karena jika hanya dengan 4 orang, panggung terasa kosong.

Berikutnya adalah bertanding dalam mengiringi Tari Oleg Tamulilingan. Tari Oleg, adalah sebah tarian yang menceritakan sepasang Tamulilingan (kumbang) yang sedang dimabok asmara. Digambarkan bahwa sang Tamulilingan betina memiliki karakter yang lincah, dan lemah gemulai, sedangkan yang jantan terpukau oleh keindahan sang betina dan berusaha keras mengejar dan merayunya.

Lagi lagi kedua grup bertarung dengan sama baiknya. Sungguh saya tidak tahu siapa yang lebih baik dari siapa.Kedua-duanya sangat bagus.

Sang Pemanah..

Sekaha Gong Kebyar Giri Kusuma, Desa Pekraman Sulahan  Bangli - Tari Oleg KagiaAkhirnya kembali Giri Kusuma menampilkan sebuah tari kreasi yang bernama Tari Kagia, menceritakan tentang Eka Walya,  seorang pemuda yang sangat menginginkan dirinya menjadi seorang pemanah. Ia berusaha keras agar diterima Dorna sebagai muridnya.Namun sayang, karena dianggap belum mampu, Eka Walya pun ditolak.Namun demikian, hal itu tidak menyurutkan semangat Eka Walya untuk terus belajar dan berlatih memanah. Ia berlatih dan terus berlatih dengan tekun. Satu hari ia membidik anjing-anjing milik Arjuna dengan panahnya dan kena, yang kemudian membuat Arjuna penasaran untuk mengetahui siapakah pemanah yang sedemikian ahlinya, hingga berani dan berhasil memanah anjing miliknya. Perbuatan yang akhirnya membuat Arjuna, mengakui kehebatan Eka Walya sebagai pemanah.

Karena malam sudah larut, dan esoknya saya harus kembali ke Jakarta dengan pesawat pagi, maka untukmemudahkan, malam itu sayapun melanjutkan perjalanan saya ke Denpasar.  Suara gamelan dan gerakan para penari, seperti bermain-main di kepala saya. Lapangan kota Bangli dan malam yang menyisakan gerimis dingin.  Meninggalkan kenangan akan kota kelahiran saya itu.

20 responses »

    • ya..saya kebetulan banget pas ad ditempat ketika pertandingan Gong Kebyar antara 2 desa ini terjadi. sayang tidak sempat melihat penampilan desa-desa lainnya lgi yang dilakukan malam hari lainnya.

    • dulu waktu kecil sampai sebelum menikah sih memang sering menari,Mbak.Setelah tinggal di Jakarta dan menikah, di awal-awal kadang-kadang masih menari dan ikut membantu teman mengajar menari di sanggarnya di daerah Palmerah dulu.. tapi setelah itu sdh ngga pernah nari lagi Mbak..

  1. Tanggal 10 Mei?
    Bertepatan dengan Ulang Tahun ASEAN Blogger juga lho, Bund.🙂

    Perempuan yang multi talent, memukul kendang bisa, menari juga bisa. Salut dengan warisan budaya semacam ini, Bund.

  2. Darah seniman mengalir deras di tubuh Jeng Dani. seni karawitan, suara dan tari dalam paket racikan dikuasai betul. Oleh2 komplit dari pulang Bangli nih. Salam

  3. Makna sesungguhnya dari bunyi gamelan yang terdengar indah dan dinamis, serta lembut dan manis, adalah mampu memberikan hiburan segar kepada Ni Made dan masyarakat sekitarnya….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s