Tentang Janji Yang Tidak Selalu Harus Ditepati.

Standard

White Flowers.Seorang sahabat menghubungi saya dan berkata “Sorry rupanya ada janji yang aku lupa tepati. Maaf ya…” lalu  ditambah dengan sedikit penjelasan mengapanya.  Saya membalas “Ok.Gak apa-apa kok. Kan nggak semua janji harus ditepati”.  Lalu ia membalas lagi  dengan icon tawa. “Aku sudah tahu kalau jawabannya akan nggak apa-apa” katanya.

Saya nyengir membaca jawabannya.Lalu mulai benar-benar memikirkan kalimat saya sendiri dan jawaban sahabat saya itu. Dan jujurnya, saya mulai ragu. Apakah benar  tidak semua janji harus ditepati? Atau sebaliknya? Apakah benar semua janji harus ditepati? Lalu mengapa ia mengatakan bahwa sudah tahu bahwa jawaban saya pasti akan “nggak apa-apa” ?

Dunia Ideal vs Dunia Nyata.

Waktu kecil, tentu orang tua dan guru kita di sekolah mengajarkan bahwa “Janji adalah hutang. Jadi Harus Ditepati!”. Kita harus Satya Wacana! Setia terhadap ucapan kita sendiri. Tidak boleh ingkar. Nah, jika saya menggunakan konteks itu, ucapan saya bahwa “tidak semua janji harus ditepati”, sudah pasti salah besar. Tapi ajaran guru dan orang tua, adalah ajaran yang ideal. Belum tentu pada kenyataannya yang terjadi di masyarakat seperti itu.

Salah satu contoh yang mudah, misalnya saat pacaran. Sebagian besar orang, ketika berpacaran mungkin pernah berkata kepada kekasihnya “Aku mencintaimu. Dan berjanji tidak akan meninggalkanmu”. Namun pada kenyataannya, banyak yang akhirnya bubar juga. Salah seorang diantaranya meninggalkan kekasihnya begitu saja, for what ever reason. Ia tidak menetapi janjinya. Tidak Satya Wacana. Berapa banyak pasangan yang akhirnya memang menikah, sehidup dan semati dengan pacar pertamanya? Sangat langka bukan? Secara statistik saya tidak tahu, tapi saya pikir percentage-nya sungguh sangat kecil. Pada kenyataannya, kebanyakan orang akhirnya menikah dengan pacar ke dua, ke tiga, ke empat atau mungkin pacarnya yang ke dua puluh.

Itu hanya salah satu contoh massal soal ingkar janji. Tentu masih banyak contoh  bentuk ingkar janji yang lainnya lagi. Ingkar janji soal pembayaran utang, soal  ketepatan waktu meeting, soal dead line pekerjaan,  ingkar janji wakil rakyat  saat kampanye dan sebagainya. Semua orang tahu ingkar janji adalah hal yang umum terjadi. Bukan sesuatu yang mengherankan lagi.

Jadi, sesungguhnya saya hanya mengatakan sebuah ‘common sense’ saja, ketika mengatakan kepada sahabat saya bahwa “Tidak semua janji harus ditepati”. Sebuah pemahaman umum atas apa yang biasanya terjadi di masyarakat. Dalam konteks ini, saya pikir saya tidak mengatakan sesuatu yang salah. Itu fakta!.

Kalaupun harus memijakkan kaki dengan seimbang di dunia ideal maupun dunia nyata, paling banter saya  hanya perlu mengganti kalimat saya  menjadi “Semua janji, idealnya ditepati. Tapi ya.. tidak harus juga”. ???!!##/******. Bingung yah??

Jawaban Yang Pasti Nggak Apa-Apa.

Sekarang tinggal mengapa sahabat saya dengan mudah menebak bahwa saya akan menjawab “Nggak apa-apa”.??.  Saya pikir secara umum, kebanyakan dari kita cukup permisif untuk bisa menerima kenyataan soal ingkar janji ini.  Mengapa demikian?

Kembali pada soal ingkar janji masa pacaran yang saya contohkan di atas. Jika kita pernah mengalami hal seperti itu, dan  jika kebetulan kita adalah korban janji itu, pada awalnya tentu akan merasa sangat terpukul. Lalu lama-lama bisa memahami, menerima dan memaafkan. Mungkin tidak melupakan, namun kejadian itu membuat kita menjadi semakin permisif. Semakin bisa memaklumi jika ada orang lain lagi yang mengingkari janjinya. Ngertiin habis, deh!.

Apalagi jika berikutnya, semakin banyak kita menemukan kasus –kasus ingkar janji. Teman yang pinjam uang, nggak bayar-bayarlah. Lalu teman yang janji makan siang bersama, tiba-tiba membatalkan karena hal yang tak jelaslah. Meeting yang molorlah, deadline yang tertunda dan berbagai bentuk ingkar janji lainnya lagi. Kita menjadi terbiasa akan Ingkar janji. Sehingga ketika ada teman, sahabat, keluarga kita yang tidak menepati janjinya kepada kita, secara spontan kita akan menjawab “Ok, nggak apa-apa kok”.  Terkadang malah kita tambahin “Don’t worry!”.  Uu..so sweet. Sangat permisif dan penuh pengertian.

Menuju Dunia Ideal.

Tapi apakah sikap permisif terhadap orang dekat kita yang ingkar janji itu sesuatu yang baik? “Ngertiin’orang-orang yang kita sayangi, menurut saya adalah satu hal. Tapi sesungguhnya, jika kita menyayangi seseorang (sahabat, pasangan, anak, keluarga dsb), ‘ngertiin’ saja sebetulnya tidak cukup. Kita punya responsibility untuk mendorong orang-orang yang kita sayangi agar lebih mendekati posisi dunia ideal.

Ya ya ya.. Saya mengerti itu. Sebaiknya saya menegur sahabat saya yang tidak menepati janjinya itu, sebagai salah satu bentuk responsibility saya sebagai seorang sahabat.  Tapi mengapa saya tidak melakukannya?

Secara umum saya merasa, diri saya adalah orang yang selalu berusaha untuk menepati janji. Namun potongan percakapan antara saya dengan rekan kerja saya di bawah ini, ternyata membuktikan lain:

Bu, ada orang dari media X menunggu ibu. Katanya sudah janji akan meeting dengan ibu hari ini. Tapi Ibu kan sudah ada janji meeting yang lain? “. Oops! Ya ..ampuun..!. Saat membuat janji dengan si A, rupanya saya lupa bahwa sebelumnya saya telah membuat janji dengan si B pada hari, tanggal dan jam yang sama. Saya lupa mencatatnya. Dan lupa pula menginformasikan rekan kerja yang mengatur schedule.  Alhasil, saya tidak berhasil menepati janji saya kepada si A. Jelas, saya tidak Satya Wacana.

Itu hanya salah satu contoh ketidak Satya Wacana-an saya. Terlalu banyak janji. Mungkin masih banyak sekali daftar Ingkar Janji saya yang lain. Pastinya banyak yang lebih parah pula qualitasnya.

Nah, bagaimana kita bisa mendorong orang-orang yang kita sayangi ke arah yang ideal jika kita sendiri tidak berada di dunia ideal?  Jawabannya adalah, mau tidak mau saya harus memperbaiki kwalitas diri saya sendiri terlebih dahulu.

Setidaknya kita harus berusaha berjalan ke dunia ideal terlebih dahulu, agar bisa mengajak orang lain bersama-sama kita menuju dunia yang ideal.

11 responses »

  1. nah ini setuju sekali mba, sahabat yang baik berani mengungkapkan kekurangan kita kepada kita sendiri secara terang-terangan, karena itu bukan hal yang mudah
    salam,
    chandra

  2. Kita mengatakan tak apa2 kepadasahabat yg takmenepati janji karena merasa tak enak, Mbak Dani. walau dalam hati kita sendiri merasa tak enak lrm diingkari janji, demi sopan santun kita mengatakan tak apa2. Kalau mengungkap kekecewaan kita juga kuatir image kita sbg sahabat yg baik, bepengertian dan berampati, akan rusak dimatanya. jadi pada dasarnya kita mengatakan tidak apa2 untuk menyelamatkan diri kita dari hal2 tak enak lainnya

  3. Bagaimanapun, kita harus berusaha menepati janji…..
    Karena “My word is my bond” ……kata-kata yang berlaku di dunia perbankan, terutama bagi seorang dealer.
    Nahh…mungkin kita mudah memberikan maaf…tapi dalam hati kita makin hati-hati jika janji dengan orang tertentu yang begitu mudah membatalkan janjinya. Apalagi sekarang makin macet, waktu kita terbatas.

    Biasanya saya memberikan batasan waktu, jika sampai jam sekian tak datang, berarti batal…agar kita bisa datang ke acara lain. Bagaimana denganku sendiri? Insya Allah saya berusaha menepati janji, kecuali untuk hal-hal di luar kuasaku, seperti sakit….ibaratnya masih bisa jalan, saya akan berusaha menepati janji. Justru karena ini, saya tidak mudah janji.

  4. baru aja kejadian kemarin mba ke saya. Saya bikin janji sama teman yang ingin berkunjung ke rumah, eh saya lupa. untungnya teman saya ini sangat baik, jadi dia mau rubah haluan. bukannya ke rumah tapi akhirnya ke kos-an saya.🙂

    janji walau gimana sih sebisa mungkin ditepati mba kalau menurut saya.

  5. bagaimana pun jg kl kita berjanji sedapatnya memang kita tepati, tetapi jika ada hal diluar dugaan kita tidak mampu melaksanakan janji tsb tentu kita wajib meminta maaf terhadap orang lain. Jika semua saling mengerti keadaan satu sama lain, tentu tidak akan jadi masalah

  6. Emang harus dari diri sendiri ya, biar kalo kita negur orang lain, orang itu ga komplein, kan kita sering nepatin janji. kalo saya musti berpikir berkali-kali untuk membuat janji, soalnya udah tertanam dari kecil perkataan ibu saya yang bilang kalo janji ga ditepati,nanti ditagih diakhirat. wuih…serem dengarnya. hehehe…,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s