Cuci Mata: Trend Terkini Kain Jumputan Di Bali.

Standard

kain Jumputan BaliIni adalah jenis kain yang saya sendiri bingung bagaimana menilai ke’kinian’nya. Karena motif jumputan di Bali, ya kayanya selama bertahun-tahun seperti itu saja. Tidak terlalu banyak perubahan. Motifnya ya…sesuai dengan namanya. Dari dulu juga memang begitu. Kecil-kecil, dibuat sejumput sejumput, dengan cara menjumput sedikit kain, mengisi entah dengan kelereng,  batu, biji-bijian, atau benda-benda lain, mengikat, lalu mencelupkannya ke dalam warna.  Alhasilnya selalu mirip begitu. Warnanya memang selalu bervariasi sejak dulu. Ukuran motifnya mungkin sedikit bervariasi, demikian juga bentuk ikatannya. Kadang ada juga kombinasi warna diantara ikatan. Tapi tak pernah berbeda jauh. Paling yang berbeda hanya jenis kain yang digunakan sebagai bahan dasarnya saja. Katun, sutera, dan sebagainya.

Apa barangkali warnanya sekarang jauh lebih cemerlang ya? Dulu perasaan lebih redup? Ah.. tapi itu kan barangkali karena yang saya lihat dulu adalah jumputan yang sudah terpakai dan tercuci berkali-kali. Sedangkan ini di toko kain. Ya..kainnya masih baru dan warnanya masih kinclong.  ha ha..

Saya tidak tahu bagaimana perkembangan kain jumputan di daerah lain. Apakah barangkali sudah bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengan kain Jumputan Bali.

Kain Selid Sanja.

kain Jumputan Bali - Pagi SoreLalu apa yang baru? Nyaris-nyaris tidak ada, hingga saya melihat seorang pengunjung toko kain menanyakan, apakah toko memiliki kamen (kain) “Selid-Sanja”? (di Bali, akhiran a biasanya dibaca sebagai  e seperti e dalam kata ketan). Oops! Apa itu? Kok saya belum pernah dengar. Sang pedagang pun mengajak ibu itu ke sebuah sudut toko dimana terdapat koleksi kain jumputan warna warni. Mata saya mengikuti gerakan ibu itu dalam memilih kain. Ooh..jumputan. Tapi mengapa disebut Selid-Sanja? Kata pedagang karena sekarang ada kain yang  bisa dipakai dari Selid (pagi hari) hingga Sanja (senja,sore hari). Ooh, banyak orang juga menyebutnya sebagai kain Pagi-Sore. Kebiasaan umum, jika kita memiliki 2 acara di pagi hari dan sore hari, maka kita akan berganti kain di tengah hari. Kain yang sudah dipakai di pagi hari, tidak lagi dipakai di sore hari. Pertama tentu karena alasan kenyamanan ( gerah, keringetan,  dsb). Lalu kedua, juga diantara masyarakat yang berada dan beragam, tentu ada saja yang suka  ‘show  off“. Pengen penampilan berubah, pengen pamer koleksi, dan sebagainya. Nah untuk kalangan yang ingin gonta ganti penampilan inilah kain Selid-Sanja diciptakan.

Lalu bagaimana kain ini bisa disebut Selid-Sanja?. Rupanya setiap lembar kain, terdiri atas 2  bagian yang berbeda warna (biasanya memiliki motif yang sama dengan bahan dasar berbeda warna). Misalnya wana pink dan warna ungu. Jadi kain ini bisa digunakan bergantian dari satu ujung,lalu berganti ke ujung yang lainnya.  Pink untuk di pagi hari. Ungu untuk di sore hari. Praktis juga sih. Bagus  idenya. Dengan kain Selid Sanja ini, memungkin wanita mengganti kainnya dengan cepat untuk busana pagi dan busana sore tanpa harus membawa kain cadangan.

9 responses »

  1. Sy suka pake kamen jumputan apa lg endek..krna m0tifnya yg unik dan skrg di bali lg trend kamen yg ngjreng di padupadankan dgn kebaya dan slendang yg ngjreng.;-)

    a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s