Sepotong Piza Yang Tersisa Semalam.

Standard

PizaPulang kantor, saya lewat di sebuah toko Piza. Lalu saya mampir, membeli dan membawa pulang untuk anak-anak saya. Saya tahu, jam segitu anak-anak biasanya sudah makan malam. Namun saya pikir tak ada salahnya sesekali membiarkan mereka ngemil lagi setelah makan malam. Kan tidak setiap hari saya membelikan mereka makanan dari luar.

Anak-anak kelihatan menikmati pizanya. Seusai makan, saya melihat masih ada sepotong yang tersisa. Lalu saya simpan di kulkas.

Esok paginya. Hari kerja seperti biasa. Anak-anak mandi dan bersiap ke sekolah. Sarapan pagi pun sudah disiapkan. Tiba-tiba anak saya yang kecil mimisan. Lumayan juga banyaknya darah segar yang mengucur dari hidungnya. Karena ia bilang kepalanya juga pusing,  maka saya melarang ia ke sekolah.  Saya minta agar ia istirahat saja di rumah. Kalau pusingnya berlanjut sampai siang, saya minta tolong agar suami saya membawanya ke dokter saja. Jadi pagi ini,hanya kakaknya saja yang berangkat ke sekolah.

Saya sendiri sebenarnya sedang cukup ribet. Pagi-pagi sekali ada appointment dengan agency di tengah kota. Lalu ada beberapa pekerjaan kantor yang harus saya bereskan dulu sebelum saya pergi melakukan kunjungan pasar.  Waduuh..waktunya kelihatannya mepet banget nih. Bisa-bisa saya terlambat. Sambil sebelah mata dan telinga saya bekerja di depan komputer, sebelahnya lagi memperhatikan anak saya yang berbaring di tempat tidur.

Mama, pengen makan piza yang kemarin” kata anak saya tiba-tiba. Oh!.  Baru sekali ini saya mendengar anak saya yang kecil ‘minta makan’. Biasanya sangat sulit menyuruhnya makan. Sebenarnya saya tidak suka anak saya tidak menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan khusus untuknya di pagi hari. Apalagi menggantinya dengan piza sisa kemarin.  Tetapi, karena ia tumben meminta makanan, maka cepat-cepat saya ke dapur, membuka pintu kulkas. Mengambil sepotong piza yang tersisa semalam. Menyalakan oven, mengatur temperatur, memasukan piza, lalu  mengatur timingnya.   Nah,beres!

Sekarang tinggal tunggu beberapa menit. Saya kembali ke depan komputer. Kembali tenggelam ke dalam pekerjaan saya. Anak saya rewel sekali. Ini, itu, nggak mau begini, nggak mau  begitu. Aneh sekali.Tidak biasanya ia begitu. Biasanya ia sangat baik dan sabar. Kenapa ya?  Mungkin kepalanya agak pusing, jadi semuanya menjadi terasa tidak nyaman. Tapi ya sudahlah. Saya mencoba memberi pengertian kalau mamanya sedang sibuk sekali, menyelesaikan utang pekerjaan. Saya benar-benar tenggelam ke dalam pekerjaan, sampai anak saya tiba-tiba menagih. “Mama, pizanya mana?”. Aduuuh! Ya ampuuun!. Sudah nyaris 30 menit. Saya benar-benar lupa. Kemana ya saya tadi? Kok sampai tidak terdengar suara oven berdenting menyatakan pekerjaan memanaskan piza sudah selesai. Entahlah!

Bergegas saya keluar kamar dan mematikan oven. Astaga! Piza yang tinggal sepotong itu gosong semua. Coklat gelap kehitaman. Oo! Apa yang terjadi? Anak saya yang mengikuti saya ke tempat oven, melihat piza gosong itu, lalu tiba-tiba menangis. Saya benar-benar panik dibuatnya. Karena selama ini  ia tidak pernah menangis karena makanan. Boro-boro nangis karena makanan. Minta makan pun tidak pernah. Bahkan sering saya bujuk-bujuk, rayu-rayu, kadang saya marah, agar ia mau makan dengan baik,  tetap saja sulit sekali makannya, hingga badannya sangat kurus. Tapi hari ini tiba-tiba ia pengen piza sisa semalam? Aneh banget.

Dan lebih anehnya lagi, mengapa pula sisa piza yang cuma sepotong itu tiba-tiba gosong.  Aduuuh , saya benar-benar garuk-garuk kepala jadinya. Sekarang waktu saya yang sudah sangat mepet untuk menyelesaikan pekerjaan kantor ini, harus saya gunakan untuk membujuk anak saya yang menangis. Piza oh Piza!.

“Maaf ya. Ngga sengaja. Terlanjur gosong. Lebih baik makan makanan yang dimasak tadi pagi, aja” kata saya. Anak saya menggelengkan kepala “ Nggak mau!. Maunya piza!”

“Ok. Nanti mama belikan lagi pizanya yang baru”. Kata saya membujuk, berharap ia menerima. “Nggak mau! Mau piza yang semalam” katanya. Aduuh. “Yang semalam kan juga sebenarnya sudah basi. Nggak enak dimakan juga. Nanti mama belikan yang baru saja ya” kata saya lebih membujuk lagi sambil mengusap-usap kepalanya. Anak saya tetap menangis di kasur. Tetap ngeyel minta sisa piza semalam, tapi tak mau pakai gosong. Mana ada?

Untuk pertama kalinya saya merasa tidak berdaya menjadi seorang ibu. Saya lirik jam tangan saya. Sudah sangat siang. Pekerjaan saya juga belum selesai. Akhirnya saya bilang kepada anak saya.  “Oke. Kalau masih terus menangis, mama dengarkan kamu menangis sambil kerja, yaa…”.  Saya pun melanjutkan pekerjaan saya  diiringi oleh tangisan anak saya yang semakin melemah, hingga akhirnya tangisannya berhenti sendiri. Saya tersenyum dalam hati.  Sedikit lega.  Dinamika menjadi seorang ibu.

8 responses »

  1. Waaahhh ….
    Tumben dia mau makan atas permintaan sendiri ya Bu …
    Namun sayang piza yang tinggal semata wayang itu gosong …

    Hmmm … jangan lupa nanti malam membeli piza lagi ya Bu …

    Salam saya

  2. Perjuangan seorang ibu untuk menghadapi 2 hal yang berbeda.
    Kalo dibujuk untuk menunggu datangnya piza via home service delivery mungkin tidak akan menunggu waktu lama.
    Anggap saja anak menginginkan yang aneh-aneh itu sedang belajar mempertahankan (mengelola) prinsip, meski ia tahu yang semalam itu sudah basi. Dan kemudian ia belajar tentang penerimaan (atas pendapatnya yang salah), sehingga mau menunggu piza yang baru.

    Semoga anaknya bu Made sudah pulih kembali.

  3. mbaaak…. tp skrg sudah sehat wal afiat kan anaknya?
    teringat pas kapan itu suamiku minta tolong dipanasin sisa 1 pizza di microwave kamar hotel. berhubung aku gak tau cara makenya ya aku asal pencet aja. eh begitu kelar, kok bukannya panas malah jadi krispy super garing kayak biskuit, hihihi. yaudah aku yg makan deh😀

  4. wah senang sekali baca tulisan ini, senang dengan kalimat ini “Oke. Kalau masih terus menangis, mama dengarkan kamu menangis sambil kerja, yaa…”.
    kalau saya mungkin akan kelabakan panik hihi😛

  5. Salut buat cara mbak Made mengambil sikap…tanpa emosi, tapi tegas menunjukkan kewajiban terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan, ah…didengarkan mamanya pun tangis anak itu pasti langsung melemah, dia sudah lumayan lega, biarpun pizza semalamnya tidak bisa dimakan karena gosong🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s