Awkward Moment…

Standard

IndonesiaMemiliki teman-teman dari berbagai bangsa adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan bagi diri saya. Dengan menjalin pertemanan atau bahkan persahabatan dengan mereka, saya bisa mendapatkan banyak hal-hal baru  yang memperkaya khasanah pemikiran saya. Entah itu berkaitan dengan pekerjaan, proses pemikiran, cara pandang, budaya, kesenian, nilai-nilai kehidupan dan sebagainya.  Secara umum, saya pikir setiap orang berusaha menjaga hubungan baik satu sama lain, namun terkadang suasana kikuk dan canggung bisa saja terjadi tanpa sengaja dan tanpa dapat dihindarkan.

Saya Bangsa Indonesia.

Salah satu contoh yang pernah saya alami adalah ketika suatu hari saya melakukan kunjungan kerja ke Thailand. Saat memasuki runag meeting, saya melihat ada banyak orang di sana. Sebagian besar sudah saya kenal. Tapi  beberapa ada juga yang belum. Sayapun berkeliling. Menyalami teman-teman yang sudah saya kenal  dan memperkenalkan diri  kepada teman-teman baru.

Seorang pria muda berkulit putih dengan rambut pirang, bangkit dari duduknya dan menyalami saya. Menyebutkan namanya dengan sangat ramah lalu berbasa-basi sedikit dengan saya. Dari obrolan perkenalan itu, saya mengerti bahwa ia berkebangsaan Belanda. Ia lalu bertanya tentang saya. Lalu sayapun menyebutkan nama Indonesia dengan bangga.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ia tampak gugup dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi terhadap bangsa Indonesia di masa lalu. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak  ikut terlibat. Dan itu murni perbuatan nenek-moyangnya, yang menurutnya ia sendiripun tidak setuju.  Tapi itu telah terjadi. Ooh!  ya amppuuun. Tentu saja saya tahu ia tidak terlibat atas kejadian  yang  terjadi sejak beratus tahun yang silam itu. Lah wong ia lahirpun mungkin baru kemarin sore. Masa saya akan menyalahkan dan memusuhinya. Pastilah tidak mungkin.

Saya lalu mengatakan, tidak apa-apa.  Itu kan masa lalu. Saya pikir bangsa Indonesia tidak punya dendam atas apa yang pernah terjadi. Masa lalu adalah sejarah. Sekarang kita hidup di masa kini dan menyongsong masa depan.  Akhirnya kami bisa melalui beberapa menit perkenalan itu  dengan baik.  Namun tak urung, kejadian itu cukup membuat suasana terasa kikuk juga. Setelahnya, kamipun berteman baik dan tak pernah menyinggung-nyinggung soal itu lagi.

Pulau Sipadan.

Cerita lain adalah saat  tugas di Malaysia.  Saya dan teman-teman makan malam di sebuah restaurant Spanyol. Sambil makan, kami ngobrol  ke kiri dan kekanan. Becanda dan tertawa ngakak menikmati hidup selepas kerja. Selesainya, teman saya yang orang asli sana, mengantarkan kami kembali hotel. Di dalam kendaraan kami melanjutkan obrolan kami. Kali ini topiknya adalah tentang tempat-tempat  pariwisata yang menarik di Malaysia. Topik itu dipilih karena seorang teman kami yang berasal dari China ingin  extend kunjungannya di negara itu. Ia berencana akan melanglang Malaysia sendirian. Ide yang menarik. Tapi kemana ia akan berwisata?

Teman kami yang warga Malaysiapun memberi beberapa pilihan tempat wisata yang menarik berikut penjelaannya. Antara lain Langkawi, Penang, lalu pulau Redang. Kemudian ia mulai bercerita tentang pulau Sipadan. Keindahannya yang tiada tara, terutama bagi pencinta kegiatan diving.

Mendengarkan nama Sipadan, saya jadi teringat akan pertikaian sengit antara Malaysia dengan Indonesia beberapa tahun yang lalu, yang berakibat pahit bagi pihak Indonesia, dimana Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan akhirnya lepas dari Indonesia.  Sementara saya masih melamunkan keputusan Mahkamah International pada tahun 2002 itu, teman saya itu terus bercerita tentang Sipadan dan mengatakan bahwa pulau itu sekarang sangat berkembang  dalam pariwisata dan bertanya apakah ada diantara kami ada yang pernah ke sana. Tak ada diantara kami yang pernah ke sana.

Sejujurnya sayapun belum pernah ke sana. Tapi tentu saja  saya tahu Sipadan. “Dulunya pulau itu menjadi sengketa Malaysia dengan Indonesia” gumam saya. Teman saya tampak terkejut. “Ooh,bukan!!” katanya. “Dengan Philipina” katanya. “ Salah!” kata saya. “Saya tahu pasti,  pulau Sipadan itu sengketa dengan Indonesia. Bukan dengan Philipina”.  Setahu saya yang disengketakan Malaysia dengan Philipina adalah Sabah, bukan Sipadan. Saat itu tidak ada seorangpun teman bangsa Philipina  diantara kami.

Teman saya terdiam. Barangkali ia tidak terlalu yakin dengan pendapatnya sendiri. Seisi kendaraan tiba-tiba terdiam semua. Suasana berkembang menjadi janggal. Aneh dan kikuk. Seluruh isi kendaraan terasa dingin dan beku. Tak seorangpun merasa nyaman untuk memulai pembicaraan lagi.  Saya merasa agak kurang enak karena telah mengeluarkan pernyataan yang memicu kebekuan suasana itu. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya  merasa agak tenang. Toh saya hanya mengatakan fakta sejarah dan tidak mengatakan sesuatu yang negative atau rasis.

Setelah beberapa menit berlalu dalam kebekuan tanpa kata,..seorang teman nyeletuk dari kursi belakang kendaraan, “Awkward moment…” katanya.Ha ha.. kamipun tertawa bersama.

Melanjutkan obrolan kami tentang tempat pariwisata yang lain.  Berusaha melupakan percakapan kami tentang sengketa yang pernah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Toh Mahkamah International telah menjatuhkan keputusannya. Dan sebagai warga dunia, tentu kita harus menghormati keputusan itu. Kami bersama di sini bukan untuk bersengketa, namun untuk bekerjasama.

17 responses »

  1. Saya bisa membayangkan situasi yang dihadapi Bu Sri waktu itu … terutama yang sipadan dan ligitan itu…

    saya tidak kebayang … jika saya yang berada disana …
    akan kah saya mampu menahan emosi saya …

    hehehe

    Salam saya Bu

    • iya Om.. itu memang faktanya yang sangat perih dan melibatkan emosi kebangsaan kita, tapi mau bagaimana lagi. Keputusan International telah diambil dan mau tidak mau ya kita harus tetap menghormatinya.

  2. haha iya lah urusan2 begitu sebaiknya gak dijadikan pertentangan/perselisihan lagi. apalagi masalah penjajahan jaman dulu banget gitu… hahaha

  3. aku rasa akupun akan terdiam eitu …
    rasanya emang sayang Sipadan Ligitan terlepas ya…, tapi sudahlah…
    yg penting sekarang jaga yang masih ada sama kita,membangun daerah2 terluar dan terpencil…

  4. So sweet bgt ceritanya mbak. Sebenarnya emosiku gado2 ya saat membaca cerita ini. Naik turun. Tp endingnya bikin aku ketawa ngakak waktu ada yg nyeletuk ‘awkwrd moment!’ , hehehehe.

  5. Pingback: Buah Lho…? | Kisahku

  6. Yesterday is history, hihi. Itu yang mungkin bisa dilayangkan di masa kikuk yang pertama ketika bertemu kenalan baru dari belanda itu Mbak. Hehehe

    Terkadang kekikukkan itu bisa muncul kapan saja ya mbak, dengan sengaja atau tidak sengaja dari hal-hal kecil di keseharian kita.

  7. bisa kebayang mbak gmn rasanya …
    peristiwa seperti itu bisa mengangkat jiwa nasionalisme, meskipun kalau udah di tanah air tetap aja kadang sebel dengan pemerintah …:mrgreen:

  8. Terkadang hal itu muncul..bahkan bisa memicu jarak antara sahabat…karena rasa kebangsaan yang tinggi..lain kali kalau pergi ke mana2 bawa permen, kacang dan aqua, jadi saat suasanan kaku..kita teriang…permen..kacang..aqua dua kali saja diulang-ulang heeee

  9. Kalo saja ada temen mbak yang dari Filipina tentu perdebatannya agak seru mbak. Namun benar, seperti juga dgn Belanda, semua itukan masa lalu, konflik itupun sudah diselesaikan oleh kedua negara dengan elegan walau kita mesti menelan pil pahit…

  10. Kalau kita berkomunikasi dengan orang luar negeri, tanpa sadar kita mewakili bangsa kita dan mereka mewakili bangsa masing-masing, ya Mbak Andani 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s