Penglipuran: Wajah Asli Pedesaan Bali Yang Damai & Asri.

Standard

Desa Penglipuran, BangliGlobalisasi memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap  perubahan kehidupan masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sudah pasti, hal itu juga terjadi pada Bali tanpa kecuali. Jika kita lihat wajah Bali sekarang dengan di masa kecil saya dulu, tentu sudah sangat berbeda. Dulu jalanan masih sangat sepi, sekarang di banyak tempat tingkat kemacetannya sudah tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Dulu, kita melihat masih sangat banyak sawah yang menghijau, sekarang sawah menjadi sangat terbatas hanya di daerah-daerah pedalaman yang belum tersentuh gemerlapnya dollar.banyak yang sudah berubah menjadi artshop, restaurant atau bahkan pemukiman penduduk. Dan masih banyak lagi perubahan yang lainnya.

Demikian juga kalau kita melihat rumah-rumah penduduk di Bali. Apa yang dulu diketahui para wisatawan sebagai rumah traditional Bali dengan pintu gerbang ,  tembok, tata ruang dan  bangunan,  pepohonan  yang asri, tenang  dan  damai  sepertinya sudah sulit lagi dilihat di masa sekarang.  Itu hanya kenangan masa lalu seperti yang terlihat dalam lukisan-lukisan traditional saja. Perkembangan teknologi, pembangunan dan globalisasi  telah membuatnya sangat berubah. Ada yang merubahnya menjadi semakin cantik dan ada  juga yang membuatnya semakin buruk. Namun intinya, sudah semakin sulit untuk melihat wajah Bali seperti apa adanya di jaman dulu.

Namun demikian, ada sebuah desa di Bangli, tepatnya di Kelurahan Kubu di mana kita masih bisa melihat wajah asli pedesaan Bali. Keasriannya, kedamaiannya dan konektifitasnya dengan alam. Itulah Desa Penglipuran. Kesanalah saya mengajak seorang teman saya bermain, ketika ia mengatakan ingin melihat wajah pedesaan di Bali. Teman saya sebenarnya sudah sangat sering ke Bali, namun ia  biasanya hanya mondar-mandir KutaDenpasar dan yang paling jauh juga ke Ubud. Selain itu kebetulan letak desa ini sangat dekat dengan rumah orangtua saya di Bangli.

Desa Penglipuran terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, di jalur utama yang menghubungkan Bangli dengan Kintamani.  Oleh karenanya secara umum memiliki udara yang sejuk. Jika kita tempuh dari Denpasar, kurang lebih akan membutuhkan waktu sekitra  45 menit  hingga 1 jam.

Lalu apa yang  berbeda dari desa ini dibandingkan dengan desa-desa lain di Bali?  Yang jelas, desa ini masih sangat kuat mempertahankan adat istiadatnya, termasuk juga adat dalam penataan ruang desa. Secara kasat mata kita akan melihat desa yang sangat rapi, bersih dan tertata rapi.  Rumah-rumah penduduk terlihat sangat mirip satu sama lain dan nyaris-nyaris seragam. Mengapa demikian? Karena desa ini masih memegang teguh konsep tata ruang di Bali yang umum disebut dengan Tri  Mandala (Tri = tiga; Mandala = ruang/wilayah) dengan sangat ketat. Sehingga tidak memungkinkan terjadinya kekacauan struktur wilayah yang membuat desa ataupun pekarangan menjadi tampak tidak rapi dan tercemar.

Tri Mandala sendiri adalah konsep penataan ruang atau wilayah, dimana  untuk setiap ruang yang ada (rumah, tempat suci, desa), selalu dibagi menjadi 3 area berdasarkan letak, fungsi dan tingkat kesuciannya, yakni:

1.      Nista Mandala /Jaba /Teben – area  untuk tempat yang kotor

2.      Madya Mandala /Tengen/Tengah – area untuk aktifitas manusia

3.      Utama Mandala /Hulu – area untuk tempat suci/pemujaan Tuhan.

Jika kita lihat, desa ini hanya memiliki satu jalan utama, yang menurun dari hulu ke hilir. Di ujung atas jalan ini (hulu) adalah areal tempat suci, dimana terdapat Pura Penataran dan Pura Desa. Lalu ditengah-tengah, di kiri kanan jalan adalah tempat pemukiman penduduk dan di ujung jalan terbawah desa terdapat kuburan dan lahan kosong tempat penduduk desa menjalani hukuman adat jika ada yang melakukan pelanggaran . Contoh pelanggaran adat misalnya adalah melakukan poligami. Karena desa ini melarang poligami (dianggap tidak menjaga keseimbangan hubungan yang harmonis dengan manusia lain/istri pertama), maka jika ada yang melakukannya maka ia akan dihukum dan harus tinggal di  lahan kosong di ujung desa yang disebut Karang Memadu.

faktor lain yang mungkin membuat desa inimenjadi sangat bersih dan tenang, adalah fakta bahwa kendaraan roda empat tidak ada yang mondar-mandir di jalan desa. Sepanjang mata memandang di jalan desa itu , hanya ada anak-anak  atau ibu-ibu yang berjalan kaki.

Selain itu konsep kehidupan yang seimbang (Tri Hita Karana) juga diterapkan dengan sangat baik di sini. Konsep ini mengajak manusia untuk menjalin keseimbangan hubungan yang baik dan harmonis (Tri = Tiga; Hita Karana = Penyebab Kebahagiaan dengan mencapai Keseimbangan & Keharmonisan) :

1.      Antara Manusia dengan Tuhan  Yang Maha Esa (Parahyangan)

2.      Antara  Manusia dengan Manusia lainnya dalam masyarakat (Pawongan)

3.      Antara Manusia dengan Lingkungan dan Alam sekitarnya (Palemahan).

Konsep Tri Hita Karana ini deterapkan dengan sangat baik dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan Ketuhanan yang sangat  baik, tercermin dari tingkah laku penduduknya yang sangat religious dan selalu berdasar pada kebenaran pikiran dan kesucian hati. Kita juga melihat keharmonisan hubungan masyarakat yang saling menghormati, menghargai dan saling mempercayai. Juga disekelilingnya, alam dan lingkungan yang hijau  yang dipelihara dengan baik dan penuh hormat. Sehingga terciptalah kedamaian dan keharmonisan menyeluruh yang bisa dirasakan oleh setiap orang yang berada di desa itu. Tidak heran jika banyak orang yang datang mengunjungi desa Penglipuran, selalu berkomentar : ”Desa ini sungguh damai, tenang dan asri”.

Jika ada yang berencana liburan ke Bali, ada baiknya mampir ke Desa Penglipuran ini.

12 responses »

  1. Wah aku ngiri sama temannya nih Mbak. Beruntung banget diajak sama yang betul-betul mengerti, sehingga kunjungan ke Penglipuran betul-betul bermakna dan bukan hanya sekedar melihat-lihat.

  2. senangnya kalau aku bisa lagi ke Penglipuran ditemani mbak Dani…
    waktu ke sana sesudah hari raya ..jadi desa meriah dengan banyak penjor..
    petugas loket kasih tahu nomer rumah yang sedang open house..,kita boleh masuk ke rumah…
    sangat terkesan dengan kerapihan dan kebersihan desanya

  3. pernah denger sekarang di beberapa daerah emang ada desa2 yang dipertahankan keasliannya dan dijadiin objek pariwisata juga ya. menarik ya…

  4. Kenangan mengunjungi desa ini tanpa dampingan petugaspun terasa sungguh rapi indah, apalagi kalau bersama mBok Ade yang asli Bangli pastinya semakin berkesan. Suksma tuk sharingnya.

  5. mba, aku malah familiar banget sama pemandangan desa ini, kayaknya sering jadi tempat syuting Sinetron FTV. Mudah-mudahan nanti aku bisa punya kesempatan mampir kesana deh, kayaknya menarik banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s