Lima Menit Yang Berharga.

Standard

jakartaSaya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor malam ini ketika mendengar suara ambulans menguing-nguing minta jalan di lajur yang saya lalui. Pak Supir yang mengantarkan saya pulang tetap menyetir kendaraan dengan tenang pada jalurnya. Ambulans terus menguing dan mendekati kendaraan saya.  Karena tidak melihat ada usaha yang cukup berarti untuk memberikan jalan kepada ambulans di belakang kami, maka sayapun meminta tolong Pak Supir agar minggir sedikit, ambil jalur kiri guna memberikan jalan yang cukup bagi ambulans untuk melintas. Ambulanspun lewat. Kami melanjutkan perjalanan kembali di jalur sebelumnya.

Kurang lebih lima menit kemudian, sebuah ambulans  lain lewat kembali. Menguing-nguing dengan nada yang sangat menyedihkan. Nguing nguing nguing…akhirnya berada tepat di belakang saya. Sekali lagi saya melihat tidak ada upaya dari Pak Supir untuk minggir. Akhirnya sayapun menegurnya. Memintanya untuk pindah ke jalur kiri dan sisihkan jalan untuk ambulans agar lewat.

Entah apa yang terjadi malam ini, saya bertemu dengan 2 ambulans di ruas jalan yang sama dengan selisih waktu kurang lebih hanya lima menit.  Sebuah kebetulan. Namun justru kebetulan ini memberi saya kesadaran bahwa ternyata tidak semua orang memahami akan pentingnya mengalah  di jalan raya dan membantu membebaskan jalur bagi  setiap ambulans yang lewat.

Sayapun lalu mengingatkan  Pak Supir, bahwa seringkali yang ada di dalam ambulans adalah orang sakit yang membutuhkan pertolongan darurat. Dan banyak sekali diantaranya yang sesungguhnya masih bisa diselamatkan jika saja pertolongan yang diberikan sangat cepat. Misalnya orang yang kecelakaan, orang yang mengalami stroke, serangan jantung dan sebagainya. Lima menit saja lebih cepat, mungkin akan sangat besar artinya bagi pasien dan keluarganya. Jadi  kita semua harus berusaha ikut membantu sesama dengan mengalahkan rasa ego kita di jalan raya dan memberikan kesempatan bagi ambulans untuk melintas terlebuh dahulu.

Ooh..begitu ya, Bu. Saya baru tahu, kalau beda lima menit itu bisa berbeda jadinya” Jawab Pak Supir yang segera saya iyakan.  Sayapun meminta tolong agar ia selalu bersikap mengalah , dimanapun dan kapanpun bersusulan jalan dengan ambulans.

Kadang-kadang sirine itu bukan untuk orang sakit”. Ada pendapat begitu. Ya benar. Kadang  isi ambulans adalah jenasah yang sebenarnya tidak perlu dibawa ngebut, tapi tentu tidak ada salahnya kita menghormati orang yang sudah meninggal atau memudahkan jalan bagi keluarga yang sedang kedukaan, dengan cara membantu memberinya jalan. Pun jika ambulans itu kosong, mungkin sedang menjemput orang yang sedang butuh pertolongan darurat. Tetap akan sangat membantu orang lain.

Lima menit  lebih lambat buat kita mungkin tidak banyak bedanya. Namun lima menit lebih cepat bagi pasien yang darurat akan sangat banyak bedanya.

Keegoisan di jalan raya tidak hanya bisa kita lihat dari kasus ambulans itu saja. Saya sering memperhatikan pada sebuah jalur yang macet, ada kendaraan yang berusaha keras ingin menyeberang jalur macet itu namun tak ada seorangpun yang mau mengalah dan memberi jalan kepadanya. Padahal kendaraan itu memang harus masuk gang atau perumahan yang ada di sisi samping jalur kendaraan yang macet itu.  Atau malah ingin keluar dari gang atau perumahan ke jalur yang berlawanan arus dengan jalur yang macet. Namun tetap saja orang tidak mau mengalah. Malah dengan sengaja semakin memepetkan moncong kendaraannya ke bagian belakang kendaraan di depannya, agar tidak ada celah bagi si pemotong jalan.

Sebagai akibat, yang terjadi malah kemacetan sekunder di jalur kendaraan yang ingin memotong itu. Padahal kalau saja ada pengemudi yang mau mengalah, memberi sedikit jalan kepada kendaraan yang ingin menyeberang,  bukan saja membantu membahagiakan pengendara yang ingin menyeberang itu, namun kemacetan sekunder mungkin sekaligus bisa dihindarkan.

Dan sesungguhnya mengalah lima menit, tidak akan membuat perbedaan waktu yang berarti bagi si pengemudi yang mengalah itu. Toh di depannya masih macet juga. Jika ia tetap ngotot tidak mau memberi  jalan, perjalanannya pun sesungguhnya tidak akan menjadi lebih cepat juga. Apa yang bisa ia lakukan ?  Tentu saja tidak mungkin ngebut di jalur macet, bukan? Jadi, mengapa tidak kita ijinkan saja pengendara itu menyeberang?

Lima menit mungkin tidak ada bedanya bagi kita, namun mungkin sangat penting artinya bagi orang lain dan bagi kebaikan lingkungan kita.

Sisihkan lima menit untuk mengalah, karena itu mungkin saja akan membantu menyelamatkan nyawa orang lain.

22 responses »

  1. Itu yg gw salut dari org2 sini. Pd gak egois. Kalo ada ambulance atau fire truck atau polisi lwt pake sirine, otomatis semua mobil akan minggir atau berhrnti supaya mereka bs lewat. Patut dicontoh ini…

    • sama Man… di sini begitu dengar sirine, semua minggir loh. Bahkan dari kejauhan aja sudah cari tahu, apakah di lajurnya dia atau bukan.

      Mbak dulu waktu saya SD belajar kok di seklah bahwa kita harus memberikan jalan pada ambulans. Tapi ya begitu orang Indonesia kok jadi egois sekali, dan jauh dari tindakan perikemanusiaan ya.

      Baru beberapa hari lalu, saya menulis di FB begini :
      Acara TV di chanel 4 Nihon Terebi: Sekai Bazuke!
      Dalam 1 jam yang menolong cewe Indonesia membawa barang berat CUMA 2 orang. (Alasannya kalau tidak minta tolong, maka orang Indonesia tidak akan menolong) Australia 11 orang. Etiopia 3 orang (di sini terang-terangan minta tip). Finlandia 12 orang. Dan Jepang? 7 orang… Hmmm kok begini ya negaraku sekarang? Mana tuh “gotong royong”nya

      sedih😦

  2. Benar mba 5 menit yang sangat berharga. Di daerah rumahku sini hampir tiap hari ambulance lewat, dalam sehari bisa berkali-kali, terkadang didepan ambulancenya ada mobil polisi, jadi jalan cepat dibukanya, dan pengendara akan otomatis menepi.

  3. Suara sirine ambulance membuat aku trauma. Yang masih terekam jelas di ingatanku, saat om ku harus segera pindah rumah sakit dengan ambulance dalam kondisi jalanan padat dan orang pada “kurang” peduli, om ku dalam kondisi terkena serangan jantung dan tepat di depan gerbang rumah sakit om ku tidak bisa tertolong😦 . Mungkin jika saat itu para pengemudi lain sedikit lebih cepat memberikan jalan, om ku bisa tertolong.
    Upstt…baru pertama komen langsung curhat.🙂 salam kenal ya mbak. Tulisannya 2 jempol.🙂

  4. setuju sekali mba, saya pernah melihat ambulans yang terjebak kemacetan panjang yang disebabkan oleh dibookingnya jalan oleh salah satu supporter sepak bola indonesia, miris sekali paahal ambulans sudah meraung-raung

  5. Inilah salah satu kenyataan “idiot”nya pengendara. Arogansi juga, seakan jalan milik dia… paraahhhh….😀

  6. Since one minute can make a different between lives and death,
    percaya atau enggak, klo kita nerobos lampu merah trus ada snelli (jas dokter) yg tergantung di jok mobil biasanya pak polisi bakalan nyuruh lewat aja*walau blm terntu dokternya on call urgent
    aturan internasionalnya klo ada pesawat yg ada kurir jaringan/organ transplantasi seharusnya didahulukan take off sama landingnya….
    jd segala sesuatu yg kaitannya dengan nyawa itu hrsnya didahulukan, hal ini yg sbgian bsr gak dimengerti msyrkt

  7. ego dijalan raya..

    5 menit mengalah untuk yang lebih membutuhkan itu memang luar biasa manfaatnya

    meski terkadang tetaps aja ada yang emmanfaatkan,mobil mobil yang tak berkepentingan ikut ngebut dibelakang mobil ambulance🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s