Memijat Anak. Mengasah Naluri Ibu.

Standard

pijitAda satu hal yang sering saya lakukan hampir setiap malam sebelum tidur. Yakni memijat anak saya. Dari kaki, ke betis, paha, pantat, pinggang, punggung, leher, kepala, lalu balik lagi dan seterusnya hingga anak saya tertidur. Entah bagaimana asal muasalnya, saya sendiri tidak ingat. Anak saya akan selalu memanggil saya jika ia berhenti belajar atau bermain dan bersiap untuk tidur.

Mama! Pijitiiin ..” rengeknya dengan manja.

Kalau sudah begini, biasanya saya akan menghentikan apapun pekerjaan yang sedang saya lakukan. Misalnya sedang menulis, ya..saya berhenti menulis sejenak. Nanti kalau anak saya sudah tertidur, barulah saya lanjutkan menulis lagi. Begitu juga jika sedang menjahit, merenda dan sebagainya. Pasti saya hentikan sejenak.

Namun kadang-kadang saya benar-benar tidak bisa. Misalnya jika pekerjaan kantor sedang menumpuk dan mau tidak mau terpaksa saya bawa ke rumah. Saya lalu minta tolong pada suami saya untuk menemani anak saya tidur. “Sama papa ya? ” Anak saya biasanya menggeleng. “Mau dipijitin sama Mama” Rajuknya. Saya lalu membujuk ” Papa lebih pintar lho mijatnya“. Tapi anak saya tetap merengek minta sama mamanya saja. Waduuh! Jika benar-benar tidak bisa, maka saya terpaksa menjelaskan kepada anak saya bahwa saya sedang sangat , sangat, sangat sibuk dan tidak bisa diganggu. Anak saya sangat kecewa. Lalu sayapun melanjutkan pekerjaan saya dengan hati galau juga.

Memijat anak. Walaupun kadang-kadang terasa cape, namun tetap saya lakukan juga karena saya percaya bahwa melakukan pijatan memberi saya kesempatan kontak dengan anak saya dengan lebih baik.  Ketika memijat, kadang kadang anak saya juga mengobrol dan menceritakan pengalamannya hari itu. Kadang saya juga menemukan ada bagian tubuhnya yang membiru, terluka, benjol ataupun bentol. Jadi kesempatan itu juga saya gunakan untuk sekalian memeriksa kesehatannya.

Kalau ada yang biru, biasanya saya tanya “Kenapa biru? Kejedot ya? Dimana?“. Atau kalau ada yang baret-baret juga saya tanya “Kenapa baret?” Biasanya dari sana saya juga akan tahu apakah ia terlalu kelelahan hari itu atau tidak.

Pijatan dan sentuhan, saya percaya sebagai salah satu bentuk komunikasi ibu dengan anaknya.  Saya ingat, mendiang ibu saya pernah memberi tahu agar saya selalu mendekap anak saya di dada, untuk mengoptimalkan kontak dengan anak. Karena menurut ibu saya, kontak lewat dekapan, sentuhan dan pijatan adalah  cara yang terbaik untuk menjalin hubungan bathin ibu dengan anak. “Kita akan bisa merasakan jika terjadi sesuatu pada anak” jelas ibu saya.  Saya pikir mungkin ada benarnya juga pendapat ibu saya itu.

Percaya atau tidak, pada kenyataannya sebagai seorang ibu, saya cukup sering merasakan hal yang terjadi pada anak saya. Salah satu contohnya misalnya jika anak saya demam, kadang-kadang saya terbangun dan menyangka bahwa anak saya sedang demam (padahal sebelum tidur belum demam). Dan benar saja.. ketika saya pegang dahinya ternyata terasa panas.  Barangkali itulah yang disebut dengan naluri seorang ibu.

25 responses »

  1. haha.. anak2ku malah lebih seneng dipijitin bapaknya, mbak. Mereka nyadar, aku nggak telaten banget kalo mijit. Wong ibunya ini lebih seneng dipijit, sih! huahaha.
    Btw, anaknya umur brp, mbak? Salam kenal dari Bandung….🙂

  2. Mungkin pijatan yang diberikan pada anak itu bisa mengalirkan energi positif ya Mbak. Ibarat magnet yang digosok-gosok.
    Dari ilmu yang ilmiah sampai ilmu hati, kayaknya bisa menerima bahwa memijit anak memang bisa mengasah naluri ibu.

  3. Kalau anak-anakku dulu cuma minta diusap-usap, sekarang sih udah pada malu karena udah mulai ABG. Ajang ngobrolnya jadi pindah pas sarapan atau makan malam jadinya.

  4. Komunikasi melalui pijatan, naluri ibu semakin terasah kepekaannya. Sharing yang sangat indah mBok Ade. Selamat berhari Minggu bersama keluarga.

  5. kebiasaan waktu kecil saya, sebelum tidur saya memnta mama saya untuk mengusap-usap rmbut ma punggung mbak… itu berlngsung smpe 6 sd hehe🙂
    naluri seorang ibu juga emang kuat mbak, mama saya pasti selalu gk enak hati kalo saya lgi ada msalah, atau terkena musibah. slam kenal dari saya mbak😀

  6. Anak saya yang perempuan, thalita (9,5 tahun) sampai sekarang klo mau tidur selalu minta (thalita sering menyebutnya) “diklitikin” atau diusap2 punggungnya.
    Biasanya ga sampai 5 menit akan langsung tertidur…..🙂

  7. sama mba, yang penting adalah terjalinnya komunikasi antara ibu dan anak… sepertinya semua anak sama ya, seringkali menemukan bagian tubuh yang tiba2 biru.. atau lecet.. tapi kadang2 anak kita sendiri lupa kenapa bisa terjadi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s