Membangun Kebiasaan Baik.

Standard

Pak SupirSaya sedang ada jadwal mengawasi sebuah pekerjaan yang lokasinya agak keluar kota. Sebenarnya masih agak mengantuk, karena malam hari sebelumnya saya begadang. Namun demi pekerjaan, saya pun memaksakan bangun dan bersiap karena tidak ingin terlambat. Tepat pukul 05.00 pagi, supir yang menjemput saya tiba rumah. Saya masuk ke kendaraan dan langsung berangkat.

Jalanan gelap dan terasa lengang. Kendaraan melaju dengan tenang dan leluasa. Karena tidak ada yang saya lakukan selain hanya berdiam diri dan memandang ke kegelapan di luar jendela, maka saya pun megobrol dengan Pak Supir yang kelihatannya sudah sangat sepuh. Saya menadapat kesan pertama bahwa bapak tua ini sangat santun sikapnya. Ternyata, selain sangat santun,  Bapak Supir tua  ini juga sangat ramah dan rupanya teman mengobrol yang sangat menyenangkan.

Walaupun baru pertama kali bertemu, kami mengobrol seolah-olah sudah saling mengenal lama.   Lama kelamaan obrolan lalu bergeser menjadi ajang curhat si Bapak, dimana saya berperan sebagai  pendengarnya.  Curhatnya terutama berkaitan dengan puteri tertuanya yang menurutnya sudah jauh di atas ambang umur untuk menikah, namun tak kunjung jua menetapkan pilihannya.  Dan adik-adiknya semua mengikuti jejak kakaknya.

Menurut Bapak itu, puterinya lebih senang  menghabiskan waktu dan penghasilannya untuk berpergian keluar kota. Ke gunung, ke laut ataupun ke hutan, memuaskan hobi fotografinya daripada untuk memikirkan pasangan hidup. Sang Bapak sangat mengkhawatirkan masa tua puteri -puterinya, jika sampai akhir nanti tetap juga memilih untuk melajang. “Padahal banyak pria yang mau lho, Mbak. Tapi dia tetap memilih hidup sendiri. Katanya tidak mau nanti hidupnya diatur-atur sama orang laki.”   Terdengar nada khawatir  dan sedih dalam suaranya.

Saya mendengarkan penuturannya dengan baik, tanpa berusaha mencekokinya dengan pendapat saya sendiri.  Saya pikir si bapak hanya ingin didengarkan saja. Bukan digurui. Jadi cukuplah saya dengarkan saja ceritanya sepanjang jalan itu. Saya merasa cukup beruntung juga mendapatkan kesempatan mendengarkan ceritanya. Setidaknya ada hal-hal  yang menarik hati saya dari penuturannya di luar kesedihannya itu. Contohnya adalah tentang  kedisiplinan diri dalam berkomitmen terhadap orang lain dan cara yang ia ambil dalam mendidik puterinya.

Karena hobinya berjalan-jalan membutuhkan biaya cukup tinggi, sering juga  puterinya kehabisan uang di luar kota.

Tiba-tiba saja Mbak, dia itu bisa menelpon dari dekat Gunung Bromo minta dikirimkan uang. Ya, saya sih tidak apa-apa. Tapi bahasanya itu seringnya bukan meminta. Tapi meminjam. Pinjam dulu Pak. Tiga ratus saja!.  Saya kirimkan. Saya tidak mau anak saya kesusahan”  Sang bapak bercerita bahwa setelah itu anaknya lupa mengembalikan.

Saya sering mendengar cerita seperti ini. Orang-orang yang meminta uang, namun mengatakan “meminjam”,  tapi ujung-ujungnya tidak mengembalikan.  Atau awalnya memang hanya ingin meminjam, tapi karena merasa hubungannya sangat dekat, lalu menganggap soal pinjam meminjam itu hanya masalah remeh yang tak perlu dipikirkan. Biasanya itu terjadi dalam kasus pinjam meminjam antar anggota keluarga ataupun teman dekat.  Dan biasanya yang meminjamkan juga mengikhlaskan begitu saja.

Saya sering marah pada anak saya. Kalau yang namanya meminjam itu kan harus mengembalikan. Kalau meminta ya…lain lagi. Tidak perlu dikembalikan. Tapi bilangnya harus meminta, bukan meminjam”.  Ya…saya setuju dengan pendapat bapak itu.

Saya marah bukan karena saya itung-itungan pada anak saya.  Tapi untuk mendidik anak saya dengan baik.  Agar jangan menganggap remeh jika meminjam kepada seseorang. Walaupun itu kepada Bapak sendiri. Nanti ia menjadi terbiasa dengan sikap ini. Meminjam dan tidak mengembalikan. Menganggap remeh lalu melakukan hal yang sama di masyarakat. Kepada teman-temannya ataupun kepada orang lain”. Bapak itu menghentikan kendaraan di depan lampu merah.

 

“Hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan kita saat bergaul di masayarakat, itu dimulai dari keluarga. Kejujuran, kebaikan, ketulusan, kebohongan, kejahatan dan sebagainya yang terjadi di masyarakat itu semuanya berawal dari kebiasaan kecil yang tidak diperhatikan terjadi di keluarga” lanjutnya panjang lebar.

Wah… saya terkesan mendengarkan cerita si Bapak. Sangat mungkin terjadi. Saya mencoba memutar ulang kalimat bapak itu yang saya rekam dalam otak saya.  Mendengarkannya kembali, dan mencernanya dalam pikiran saya.  Kebiasaan kecil dalam keluarga yang menentukan sikap dan sifat kita dalam bermasyarakat!.

Soal kebiasaan kecil, si Bapak Supir tua ini juga mencontohkan kepada saya, bahwa beliau selalu ngelap kendaraannya  minimal dua kali sehari. Juga setiap kali keciprat kotoran maupun setiap kali habis hujan. “Biar tidak kotor. Kalau hujan turun lima kali, ya saya lap lima kali. Saya tidak pernah tunda ngelapnya nanti saja atau dibesokin. Saya tidak mau kebiasaan menunda ngelap kendaraan itu akhirnya menimbulkan masalah dan kerusakan yang lebih parah di kemudian hari.”.   Ceritanya. Entah kenapa saya menjadi semakin termenung . Cerita Bapak itu seperti berputar berulang-ulang di kepala saya.

Kerjakan sekarang apa yang bisa kita kerjakan sekarang dan jangan menunda masalah, sebelum akhirnya menjadi besar dan parah”.

 

Dan ketika saya turun di tempat tujuan. Saya melirik kepada kendaraan si bapak yang dipakai untuk menjemput saya itu. Memang terlihat sangat bersih, kinclong dan berkilau.  Sayapun mengucapkan terimakasih.  Dan Pak tua itu mengucapkan selamat bekerja kepada saya sambil tersenyum sumringah.

Sebuah kisah pagi yang sulit saya lupakan…

16 responses »

  1. Wah beruntungnya pagi-pagi bisa mendapatkan pelajaran berharga ya Mbak. Tapi aku setuju sih, yang menentukan sikap dan sifat kita adalah sesuatu yang dimulai dari “pendidikan” sehari-hari di rumah. Salut sama si Bapak tua itu!

  2. Terimakasih sudah berbagi pengalaman ini, mbak Dani… saya setuju, apak yang diutarakan bapak itu sangat penting… yaah, semoga saja pesan si bapak dapat ‘nyantol’ ke anak-anaknya suatu hari nanti… setidaknya, itu sudah nyantol ke benak (dan hati) kita ya mbak…🙂

  3. Membangun kebiasaan….terkesima dengan pembelajaran bapak sepuh yang tekun ‘memproses’ kebiasaan putri2nya.dikemas dengan apik oleh mBok Ade, matur suksma

  4. senangnya berbagi cerita, kita bisa dapat pelajaran dari orang yg tak terduga
    dan mbak selalu bisa menarik permenungan dari cerita itu , trims mbak mengajarkan sikap fokus pada lawan bicara

  5. Pengalaman yang menarik. Kita bisa dapat pelajaran hidup dari orang yang baru dikenal di perjalanan. Kalo aku mah jarang ngobrol2 begitu dg orang baru, malu ah. Hehe..🙂

  6. soal “bahasa” setuju banget, dulu juga gitu sama babe sendiri, bilangnya minjem ntar dibalikin eh sampe bertahuntahun baru “inget” balikin hihihi, walupun babe ga pernah nagih sih.. namanya sayang anak kali ya.. terus ada sodara yang mengingatkan, kalu mo minta ya minta aja, jangan bilang pinjem.. sejak itu tinggal minta aja sama babe pasti dikasih..
    keren ya si paksopir, tabik deh dengan kebiasaannya yang baik.. layak jadi teladan.. pagipagi asik dapat pencerahan dari seorang sopir.. sering ku juga dapat cerita begini kalu kitanya mau berfikir positif..

  7. Ternyata untuk berhati baik tak selalu dipengaruhi profesi.
    Meski kebanyakan profesi sopir erat dengan sikap kurang tata krama dan kebanyakan kurang perhatian pada keluarga, ternyata masih ada yang tidak seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s