Aesop’s Fable: Seekor Rubah Dan Buah Anggur.

Standard

the fox and grapesSeekor rubah yang sedang kelaparan mengendap-endap ke kebun anggur, dimana terdapat banyak sekali buah anggur manis dan matang dengan tampilan yang sangat menggiurkan tergantung di tiang-tiang rambatan yang tinggi.  Dalam usahanya untuk mendapatkan buah yang menerbitkan air liurnya itu, maka iapun melompat dan melompat berkali-kali, tapi gagal dalam semua usahanya.  Ketika akhirnya harus mengakui kegagalannya, ia mundur dan bergumam pada dirinya sendiri “Ah, nggak penting amat! Toh buah anggur itu masam!”.

*****

Anak saya tertawa mendengar kisah itu.  Saya bertanya kepada mereka, mengapa tertawa?  Apanya yang lucu? “ Rubah yang bodoh! Kenapa anggurnya yang disalahkan? Dibilang masam!“ kata anak saya yang kecil.  Jadi harusnya bagaimana? “Harusnya dia berusaha lagi dengan cara lain !”.  katanya lagi.  Anak saya yang besar menyetujui pendapat adiknya.  “Ia gagal, tapi tidak mau mencari tahu kelemahannya dan memperbaikinya. Malah menimpakan kegagalan itu ke buah anggur”.

Menarik membahas kasus ini, karena tidak asing dengan kejadian sehari-hari yang kita alami di sekitar kita. Dimana orang yang gagal, tidak mau mencari tahu kelemahannya sendiri dan melakukan perbaikan, tetapi malah mencari pembenaran atas kegagalannya itu dengan menunjuk kelemahan orang lain.

Contoh sehari-harinya adalah, Ibu rumah tangga yang tidak bisa memasak kare ayam dengan baik, namun tidak mau mengakui kelemahannya malah mengatakan bahwa  toh kare bukan makanan favorit anak-anak dan suaminya. Anak sekolah yang malas belajar sehingga mendapatkan nilai matematika yang rendah, mengatakan bahwa  nilai matematika teman-temannya malah lebih jelek lagi dari dirinya.  Seorang anak yang kalah bermain gangsing, mengatakan bahwa toh permainan gangsing itu tidak menggunakan banyak otak juga .  Dan masih banyak contoh- contoh lainnya lagi.

It is easy to despise what you cannot get!.

Catatan:

Kisah rubah ini saya tejemahkan dari  buku Aesop’s Fables –hasil kumpulan dan pilihan dari Jack Zipes

6 responses »

  1. Saya pernah juga bersikap seperti rubah ini Mbak Dani. Bukannya mencari kesalahan dari dalam diri saya mengapa tak bisa mendapat buah anggur, eh malah menghibur diri dengan mengatakan anggurnya masam🙂

    • ha ha.. kayanya aku juga pernah begitu deh… awak tak bisa menari, lantai dkatakan terjungkat..

      sebenarnya kalau dibenar-benarkan, tetap ada gunanya juga bersikap begitu… ya untuk menghibur diri dan mengurangi rasa kecewa he he..

  2. so true mba…. lebih gampang mencari kambing hitam (walaupun di sekitar kita kambing hitam dah jarang… hehehe).
    pembelajaran yang sangat indah dan penting nih.

    Mba… ikutan GA yuk,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s