Aesop’s Fable: Seekor Serigala Dan Burung Bangau.

Standard

The WolfSeekor serigala melahap mangsanya dengan rakus, sehingga sebuah tulang tersangkut di kerongkongannya. Dengan penuh kesakitan, ia berlari dan meraung di dalam hutan, memohon kepada setiap binatang yang ditemuinya untuk membantunya mencabut tulang itu.  Serigala itu bahkan menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil mengeluarkan tulang di kerongkongannya itu.  Tergerak oleh permintaan tolong serigala itu dan juga tergiur akan hadiah yang dijanjikan, seekor burung bangau bersedia memasukkan lehernya yang panjang dan menarik tulang itu dari kerongkongan serigala.  Setelah selesai, ia kemudian meminta hadiah yang dijanjikan. Tapi serigala hanya menyeringai memamerkan giginya.

Mahluk tak tahu berterimakasih!” jawabnya dengan marah.  “Beraninya kau meminta imbalan ? Tidak kumakan hidup-hidup saja harusnya kau sudah untung. Lagipula kaulah salah satu dari sedikit binatang yang bisa bercerita bahwa kau telah memasukkan kepalamu ke dalam rawahang serigala dan diijinkan menariknya kembali dengan selamat’.

*****

Hari kedua liburan bersama anak-anak. Sementara masih  komit dengan rencana awal membacakan cerita dari buku Aesop’s Fable, sambil mengusap-usap dan memijat punggungnya sebelum tidur.   Sama dengan kisah sebelumnya, sayapun menanyakan kepada anak-anak tentang isi pesan dari cerita itu.  Pendapatnya beragam.

Si kecil berpendapat, sebaiknya jangan pernah menolong orang jahat, karena tidak tahu berterimakasih.  “Kasihan burung bangaunya, ma!”.  Sedangkan anak saya yang besar berpendapat  lain , bahwa  burung bangau itu sungguh binatang yang tidak berhati-hati dan tergiur oleh hadiah. Padahal itu kan membahayakan jiwanya. “Harusnya ia lebih hati-hati dan sudah curiga akan  kejahatan serigala yang kemungkinan tidak akan menepati janji”.

Expect no reward when you serve the wicked, and be thankful if you escape injury for your pains.

 

 

Catatan:

Kisah serigala dan burung bangau  ini saya tejemahkan dari  buku Aesop’s Fables –hasil kumpulan dan pilihan dari Jack Zipes

12 responses »

  1. Kalau dari cerita diatas,yang dapat saya petik,kalau niat menolong hanya mengharap pamrih,maka hasilnya ga akan bagus,soalnya saya juga pernah menolong dengan pamrih,hehehe

  2. sebuah cerita dengan banyak makna mba.
    jadi inget… dah lama banget gak baca2 fabel seperti ini. dulu kan pas pelajaran Bahasa pasti ada.

  3. Di jaman sekarang ini, kalau ingin menolong si jahat dan ia berjanji tidak akan mencelakakannya (bukan hadiah yang diharapkan], pastikan sudah ada dicantumkan dalam perjanjian tertulis di atas kertas bermaterai bila perlu dihadapan notaris🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s