Rapelling : Rock & Roll Moment…

Standard

???????????????????????????????Di pedalaman India, di dataran tinggi Deccan, ada sebuah daerah yang sangat menarik perhatian saya. Kata orang daerah itu bernama Kallukote. Daerah yang sejuk, penuh dengan perbukitan batu. Dari bawah pohon asam yang rindang yang tumbuh di salah sebuah punggung bukit batu itu, mata kita bisa bebas lepas menelusuri dataran di bawahnya. Angin bertiup dengan lembut, matahari bersinar terang tanpa terasa panas, suara kambing yang mengembek saat digiring menaiki perbukitan oleh gembala. Bunga-bunga liar  bermekaran serta burung-burung beterbangan dari satu semak ke semak yang lainnya di sekitar batu-batu besar yang menghampar. Luar biasa tentram dan damainya.

Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan “Rapelling”  di tempat itu, yang dikaitkan dengan Global Leadership Training yang saya ambil.  Rapelling adalah kegiatan menuruni dinding batu yang terjal dengan hanya menggunakan bantuan tali. Mungkin banyak yang sudah mengalaminya atau bahkan ahli di bidang itu. Namun saya baru pertama kali melakukannya.

Menghadapi Ketakutan.

Setiap manusia, tentunya pernah mengalami rasa takut di dalam hidupnya. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika melihat batu besar yang tingginya beberapa meter serta sangat  curam yang harus saya turuni. Saya merasakan ketakutan dan keraguan yang luar biasa. Bisakah saya melewatinya? Bagaimana jika tali itu tidak kuat menopang berat tubuh saya? Atau jika kaki saya terpeleset dari atas?  Atau seandainya tangan saya terlepas dari tali?

Oohh! Mungkin saya akan jatuh bergedebum ke tanah di bawah batu itu dan… mungkin tubuh saya akan hancur remuk berserakan.

Ooh! Bagaimana nasib anak-anak saya  yang masih kecil? Pikiran buruk menyerang kepala saya. Rasa takut, khawatir dan ragu yang sangat melemahkan diri dan otot-otot tubuh saya.

Seorang teman ada yang memutuskan untuk mundur. Rasanya saya juga ingin menarik diri. Ingin membatalkan kegiatan itu. Banyak sekali bujukan-bujukan melemahkan yang berseliweran di kepala saya. Dan pelatih kami, seolah tidak mendengar sama sekali apa yang ada di kepala kami. Ia tetap memberikan informasi dan  instruksi bagaimana caranya memasang cantelan tali di pinggang kita. Menarik, mengencangkannya dan menguncinya. Lalu memberikan instruksi untuk menggunakan helmet, cara memegang dan mengendalikan tali serta mengatur jarak genggaman tangan kiri dan kanan versus tali. Lalu memerintahkan kami untuk naik ke atas batu dan mulai menuruninya satu per satu. Ia tidak membuka option untuk mundur sama sekali.

Satu per satu teman-teman saya dari negara lain maju dan menuruni dinding batu terjal itu dan berhasil. Hal ini membuat saya berpikir, bahwa saya harus menghadapi rasa ketakutan saya.  Jika orang lain bisa melakukannya,mengapa saya tidak bisa? Apakah saya akan memanfaatkan alasan gender untuk menyerah? Ah! Yang benar? Apakah memang kaum wanita lebih lemah, lebih penakut, lebih khawatir dan lebih peragu daripada kaum lelaki? Apa yang terjadi jika saya mundur? Gagal??!!! Saya tidak menyukai kata itu. Saya tidak suka gagal. Dan saya tidak mau gagal.  Saya  harus melakukan sesuatu untuk membuat diri saya sukses!.

Sekarang saya merasa tidak punya pilihan selain menghadapinya. Takut adalah satu hal. Namun jika saya tidak mau gagal, maka saya tidak punya pilihan selain menghadapinya. Maka mau tidak mau saya harus terus maju. Saya harus menghadapi rasa ketakutan saya dan bukan lari darinya. Maka saya melangkahkan kaki saya ke arah batu besar itu.

Menggalang Keyakinan.

Instruktur saya mencantelkan tali di pinggang saya. Memeriksa serta memastikan semua tali berada dalam keadaan baik. Ia lalu menanyakan nama saya dan dari negara mana saya berasal. Saya pun bercerita singkat tentang diri saya  dan bertanya bagaimana teknik yang terbaik agar perjalanan saya ke bawah berhasil dengan selamat. Pendek kata ia memberitahukan, bahwa secara umum tali itu sangat aman. Sebaiknya saya selalu memegang erat tali di belakang pinggang saya dengan tangan kiri, menggesernya sedikit demi sedikit untuk memberi kesempatan tubuh saya bergerak turun. Sementara tangan kanan bisa longgar memegang tali yang di depan tubuh saya. Ia juga memberi tips agar saya selalu menjaga lutut saya tetaplurus dan tidak bertekuk, merebahkan tubuh saya dengan kemiringan yang sesuai dengan kemiringan permukaan batu dan berjalan mundur setahap demi setahap seperti bayi.

Pemahaman teknis ini memberikan tambahan keyakinan pada diri saya, bahwa saya pasti akan mampu melaluinya dengan selamat.  Sayapun membulatkan tekad saya. Mulai mengatur strategy untuk gerakan kaki, tangan dan tubuh saya dalam kaitannya dengan permukaan batu dan tali penyelamat yang diberikan kepada saya.  Sekarang saya siap, lalu saya melangkahkan kaki pertama saya turun.

Wow! Luarbiasa! Saya merasakan badan saya miring. Tiba-tiba sejumput keraguan melintas tipis di kepala saya. Akankah saya aman?

Rupanya sang instrukstur menangkap keraguan di sinar mata saya – karena seketika ia berkata kepada saya “Don’t worry. You have me here for you. Trust me! Look into my eyes!”. Saya melihat ke dalam matanya dan saya merasakan ketenangan dengan mempercayakan seluruh keselamatan diri saya padanya. Ia terus memberi instruksi kepada saya “And keep stepping…. Down! Downward! Downward! Good! Keep Stepping!” Dan seterusnya…

 Saya  terus berjalan mundur ke bawah. Selangkah demi selangkah dengan berani. Lalu tiba pada bagian turunan batu yang sangat terjal dan agak cekung ke dalam. Saya berusaha mencari-cari tempat berpijak  yang aman untuk kaki saya dalam posisi tubuh sejajar dengan permukaan tanah namun menggantung beberapa meter di atasnya.

Sekarang saya tidak lagi mendengarkan kata-kata instruktur saya. Ia sudah terlalu jauh di atas sana dan tidak kelihatan lagi oleh saya. Yang ada hanya saya, tali dan batu terjal itu. Angin berhembus sepoi-sepoi. Saya merasakan kenyamanan yang sangat. Berada di udara! Menengok ke bawah. Alangkah indah pemandangan dari atas sini. Saya sangat bersyukur diberinya kesempatan untuk memandang ciptaanNYA yang maha agung dari posisi tempat saya bergantung dengan seutas tali. Jika saya sebelumnya mundur, tentu saya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk merasakan hal ini.

 “Yiiihaaaaahhhhhh!!!!”   Suara saya bergema di udara. Saya tersenyum bahagia kepada diri saya sendiri. Bahagia, atas kesuksesan saya menghadapi “Rasa Ketakutan” saya sendiri – yang merupakan “Obstacle” terbesar di dalam diri saya.

Lalu saya melambaikan tangan kanan ke arah teman-teman saya yang menunggu di bawah, memberi semangat dan  bertepuk tangan atas keberanian saya.Sayapun kembali melangkah perlahan. Turun, turun dan turun  dengan bantuan tali di batu itu.

Akhirnya sayapun menjejakkan kaki saya ke tanah dengan selamat.

“Rock and Roll. Yeah!!!” kata seorang teman saya.

14 responses »

  1. salam kenal mba.. tau blognya setelah BW di tempatnya mba evi..

    baca tulisan ini, jadi kangen repelling. duluuuu banget waktu jaman2 SMA, sering berkegiatan ini..

  2. sereeem….
    hi..hi…, aku kan paling penakut soal beginian mbak, ndak tahu kalau harus erharapan dgn tantangan seperti ini berani coba nggak ya…
    kl waktu masih anak2 sih berani2 aja, tp makin tua makin penakut

  3. Luar biasa, Jeng Dani mampu menata rasa takut memimpin keraguan menjadi keberhasilan mengatasi ketakutan. (Saya nyerah duluan nih). Selamat menerapkan hasil camp. Salam

  4. Woow, kreenn keep stepping, “down…..downward ….good….. keep stepping”.
    Bisa merasakan bagaimana rasanya saat itu terus sampai ditengah perjalanan bersyukur, untung saya berani.
    Kalau tidak, kapan akan melihat keindahan alam seperti ini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s