Aksara Dalam Mata Uang India.

Standard

Indian RupeeSaya mengamat-amati lembaran uang kertas Rupee . Indian Rupee.  10 Rupee, 20 Rupee, 500 Rupee, 1000 Rupee, semua ada gambar Mahatma Gandhi-nya.  Seperti umumnya mata uang asing lain, sebagian yang saya mengerti hanyalah angka, kalimat dalam bahasa Inggris dan berhuruf latin. Mungkin juga gambar-gambarnya. Selebihnya saya tidak mengerti.

Yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya sebuah  kotak yang berisi berbagai macam jenis tulisan yang berbeda-beda. Sepintas lalu saya melihat ada huruf yang serupa dengan aksara Bali. Walaupun tidak sama, tapi mirip-mirip. Saya berusaha keras untuk menerka apa bacaannya, namun tetap saja saya tidak bisa membacanya.  Aksara di dalam kotak di lembaran uang kertas itupun menjadi teka-teki yang  tak terjawab oleh saya.

Entah sebuah kebetulan,pada suatu malam saya berkesempatan hadir dalam sebuah Cultural Night, dimana diperkenalkan sejarah, budaya dan segala hal tentang India dan Bangalore khususnya. Dalam acara itu saya mendapatkan informasi mengenai tulisan dalam uang Rupee itu.

Penduduk yang Beragam, Bahasa yang Beragam, Aksara Yang Beragam.

Jika di Indonesia, kita memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” – walaupun berbeda-beda,namun tetap satu – demikian juga rupanya di India. India juga memiliki sangat banyak suku bangsa yang berbicara dalam beragam bahasa yang dibicarakan oleh kurang lebih 1,27 Bahasa Dalam Indian RupeeMilyar penduduknya. Ada bahasa Telugu,Urdu, Hindi, Sanskrit, Kannada, Malayalam, Gujarati, Bengali, Tamil, Kashmiri dan sebagainya masih sangat banyak lagi. Atas perbedaan ini, maka diambil keputusan untuk menetapkan Bahasa Hindi sebagai bahasa resmi negara.

Sangat mirip dengan kita di tanah air.  Kita memiliki berbagai macam suku, bahasa dan tulisan, ada Aceh,Batak, Minang, Nias, Sunda, Jawa, Sasak, Dayak, Bugis dan sebagainya – namun akhirnya memutuskan untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sekaligus bahasa pemersatu bangsa.

Namun sayangnya, walaupun bahasa resmi yang digunakan adalah Hindi, saya mendapatkan penjelasan ternyata tidak semua orang bisa berbahasa Hindi.  Entah apa sebabnya.

Mungkin permasalahan keberagamannya lebih kompleks dibanding kita. Hal ini tentu membuat kesulitan dalam berkomunikasi. Contohnya misalnya jika seorang penduduk Bangalore pergi ke daerah Maharashtra, rupanya ia tidak bisa berkomunikasi karena bahasanya berbeda.  Demikian juga aksara yang digunakan di jalan-jalan pun berbeda. Nah lho??

Sebagai akibat, maka di dalam mata uangpun terpaksa dimasukkan penjelasan dalam 15 sub bahasa India. Ada aksara Assamese, Bengali, Gujarati, Kannada, Kashmiri, Konkai, Malayalam, Marathi, Nepali, Oriya, Punjabi, Sanskrit, Tamil, Telugu dan Urdu.  Dengan demikian,diharapkan banyak orang akan lebih mudah mengerti akan mata uang tersebut.

Saya juga  mendengar bahwa seorang pemasar di India, jika ingin melakukan kampanye produknya di beberapa negara bagian/provinsi, mau tidak mau terpaksa membuat  film iklan dalam beberapa bahasa jika mau penjualannya lancar. Waduuuh…repot juga ya… Penduduk yang berpendidikan baik,  akhirnya banyak yang menggunakan Bahasa Inggris untuk memudahkan berkomunikasi.

Tulisan yang Mirip.

Aksara BaliHal lain yang menarik perhatian saya, adalah bentuk bentuk tulisan yang ada kemiripannya satu sama lain.  Termasuk kemiripannya dengan aksara Bali dan Jawa.  Seolah-olah memang semuanya berasal dariinduk aksara yang sama. Sayapun penasaran, dari manakah tepatnya kira-kira aksara Bali yang sekarang, dahulunya berasal?.  Benarkah daerah India Timur?

Saya pernah mendengar bahwa aksara Jawa, Bali  dan aksara suku-suku lain yang ada di Indonesia maupun aksara-aksara yang ada di negara-negara Asia Tenggara berinduk pada aksara Brahmi yang dibawa dari India, ribuan tahun yang lalu. Sayangnya saya tidak melihat ada aksara Brahmi dalam uang kertas itu. Barangkali aksara Brahmi itu juga sudah punah sekarang dan meninggalkan anak cucu serta cicit aksara yang menyebar. Untungnya, walaupun punah namun masih tetap meninggalkan keturunan yang masih hidup dan berevolusi hingga saat ini. Nah, bagaimana jika aksara ini punah tanpa meninggalkan jejak ?

Saya merenung. Jika semua orang tidak lagi menggunakan aksaranya sendiri, tentu lama kelamaan akan punah. Demikian juga aksara Bali. Jika tidak digunakan, tentu suatu saat akan punah juga. Syukurnya aksara ini masih cukup sering digunakan secara pasive dalam berbagai kegiatan di Bali.

Hmm..mengingat itu, saya jadi teringat pada diri saya sendiri. Sudah lama saya tidak pernah menggunakan huruf Bali lagi dalam kegiatan saya sehari-hari.  Karena semuanya ada dalam huruf Latin.  Maka saya pun mencoba mengingat-ingat dan berlatih menulis lagi.

Saya mencoba menulis nama saya sendiri kembali dalam Aksara Bali.

23 responses »

  1. Sama juga sejak meninggalkan bangku SD sekian puluh tahun lalu, saya sudah lupa menulis kalimat menggunakan aksara Jawa. Namun untuk membacanya kembali saya masih bisa sedikit-dikit. Untung ada koran lokal yang mengulas artikel seputar pelajaran huruf Jawa.

      • trims banyak mbak, terus terang menulis Jawa mengasyikkan menurutku mbak, lain dari pada yang lain, dan ada keuntungan bagiku yang tinggal jauh dari tanah air bahwa tiap menulis JAwa rasany aaku seperti sedang berada di kampungku sana, apalagi kalau banyka yang berkomentar pakai bahasa Jawa juga, seru banget🙂

  2. Walau saya tidak pernah mengalami pelajaran ini, namun senang menyelami makna dan arti dari setiap goresannya. Semoga tidak pindah ke negeri orang untuk aksara Jawa ini, dan tetap ada peminat dan pengembangan pendidikan aksara Jawa di Indonesia.

    Salam wisata

    • kalau di daerah memang pelajaran itu kita dapatkan di bangku sekolah…kalau di jakarta,mungkin karena masyarakatnya heterogen, jadi gurunya bingung mau kasih pelajaran apa ya.. Mungkin harusnya bahasa Betawi atau Bahasa/aksara Sunda ya?

  3. India, ketika masih make TV berlangganan, saya paling suka menyaksikan kehidupan dan keseharian masyakarat India. Dan ternyata dugaan saya salah dan saya tidak menyangka ternyata bahasa India itu beragam sebagaimana yang ada di Indonesia. Ini menjadi tanda tanya besar kenapa banyak yang tidak bisa bahasa hindi, apa karena tingkat pendidikan yang masih kurang ato gimana ya.
    Seingat saya, dalam legenda jawa, aksara Jawa diciptakan Ajisaka yang berasal dari India.
    Sayangnya, pelajaran bahasa jawa di tingkat SMP sudah ditiadakan, ini menurut saya sebuah langkah kemunduran untuk budaya negeri kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s