Daily Archives: September 8, 2013

The Banyan Tree – Living Life To The Fullest.

Standard

Pohon BanyanAda sebuah pohon yang selalu membuat saya penasaran karena saya sering mendengar namanya, namun tidak pernah melihatnya seumur hidup saya. Konon menurut cerita, itu adalah pohon yang terbesar yang mungkin ada di permukaan bumi. Dahannya rindang, akar gantungnya banyak, yang kemudian semakin berkembang membentuk batang-batang baru yang membesar. Sedemikian perkasanya pohon itu, sehingga dikatakan sebagai rajanya pohon. Bahkan beberapa sumber merefer pohon itu sebagai Kalpataru,walaupun beberapa sumber lain menyatakan bukan. Pohon itu adalah Pohon Banyan (Ficus bengalensis).

Setelah usia saya mendekati setengah abad, akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk melihat tanaman itu hidup-hidup.  Walaupun dari jarak beberapa meter saja, karena sore telah menjelang malam. Awalnya saya mengira bahwa pohon Banyan itu sama dengan pohon Beringin (Ficus benyamina). ternyata bukan.  Rupanya cuma bersaudara saja. Daunnya kelihatannya berbeda. Daun Beringin biasanya kecil-kecil, agak kaku dan berbentuk ellips. Namun daun pohon Banyan kelihatannya sedikit lebih besar dan mengkilat, walaupun bentuknya juga ellips.  Batang dan akarnya kelihatan mirip, namun kalau diteliti, rupanya batang pohon Banyan biasanya lebih banyak dari pohon Beringin.  Kenapa demikian? Usut punya usut ternyata perbedaan ini ada sebab musababnya.

Pohon Beringin biasanya tumbuh sebagai batang tunggal yang tumbuh dan membesar, lalu mulai mengembangkan akar-akar gantungnya untuk bernafas dan mencari makan di udara agar bisa tumbuh dengan lebih cepat. Akar-akar gantung ini biasanya tetap menggantung dengan ukuran relatif kecil dibanding batang utamanya. Jarang ada yang sangat membesar. Kalaupun ada, biasanya hanya satu dua dan jaraknya tidak jauh  dari batang utamanya. Sehingga jika kita perhatikan, pohon Beringin biasanya memiliki batang yang sangat besar, dahan yang rimbun penuh dedaunan serta akar yang menggantung banyak dan kecil-kecil.

Pohon Banyan rupanya sedikit berbeda.  Ia mulai tumbuh sebagai pohon kecil, seringkali di sela-sela batang pohon hidup yang lain.  Barangkali karena bijinya disebarkan oleh burung dan jatuh di sana. Ia mulai membesar lalu memiliki akar-akar gantung yang banyak. Nah akar gantungnya ini ada yang tumbuh membesar, melilit tanaman induknya, ada juga yang kemudian tumbuh membesar ke bawah  menyaingi batang utamanya dalam ukuran. Tumbuhnya pun agak beberapa jauh dari batang utamanya.  Sehingga pohon Banyan akan terlihat memiliki banyak sekali batang dan dahan.  Iapun bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang luas. Kebetulan yang saya lihat di tempat itu adalah pohon yang masih muda.  Jadi akarnya yang telah menjadi batang belum terlalu banyak. Namun saya sudah bisa melihat, beberapa diantaranya sudah cukup besar diameternya.

Mengapa saya sangat tertarik ingin melihat pohon ini dengan mata saya sendiri adalah karena cerita yang saya dengar bahwa pohon ini bisa tumbuh menjadi sedemikian besarnya menaungi wilayah lebih dari 1.5 hektar dengan sedemikan banyak batangnya. Sehingga jika kita bayangkan, pohon Banyan yang dibiarkan besar, satu pohon bisa membentuk hutan tersendiri. Cukup untuk menaungi kehidupan satwa liar di bawahnya. Selain itu, pohon Banyan ini juga memiliki banyak kisah, selain merupakan salah satu pohon yang disakralkan di India.

Memandang pohon ini, melihat bagaimana akarnya yang berubah menjadi batang tumbuh dari atas ke bawah (bukan hanya dari bawah ke atas seperti umumnya batang  pohon) membuat kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang diajak berpikir “out of the box ‘ oleh sang pohon. Bahwa dunia ini bukan hanya bisa berjalan seperti bagaimana aturan yang umum berjalan. Namun juga menyediakan berbagai pilihan lain yang selama ini belum berhasil kita lihat.  Kita perlu men’challenge’ diri kita dengan lebih keras lagi untuk mencari pendekatan-pendekatan alternatif yang beda dari biasanya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari.

Untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, pohon Banyan ini telah melakukan upaya hidup yang sepenuhnya. Telah menjalankan segala kemungkinan cara tumbuh baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Jungkir balik tanpa peduli. Jalani hidup yang sepenuhnya. Secara maksimal. Living life to the fullest!. Itulah sebabnya ia menjadi sedemikian digjaya. Sedemikian perkasa diantara pepohonan.

Matahari sore bergerak turun. Meninggalkan desauan angin yang seolah bertanya. Apakah kita sudah menjalankan kehidupan kita dengan maksimal? Mengerahkan segala upaya kita? Sudah jangkir balik? Kaki ke tas kepala ke bawah? Habis-habisan? Sebelum kita merasa puas dengan pencapaian kita. Atau bahkan sebelum kita menyerah dengan mengatakan bahwa  hanya sebatas ini kemampuan kita. Jika belum jungkir balik, ikhtiarkanlah lebih kuat lagi. Sehingga semua potensi yang ada pada diri kita termanfaatkan dengan baik. jangan cepat merasa puas akan pencapaian kita, karena mungkin saja masih banyak potensi yang belum kita gali dengan optimal. Dan hanya baru mengatakan menyerah dan tak sanggup ketika kita memang benar-benar telah menjalani semuanya dengan semaksimal mungkin namun tetap tak berhasil.

Saya menoleh sekali lagi kepada pohon Banyan di Vassanthanahalli itu. Mengucapkan terimakasih di dalam hati saya.  Lalu melangkah pergi.

Advertisements

Berkawan Dengan Alam: Mangkok Daun Jati Kering.

Standard

Mangkok Dari Daun Jati KeringDalam dunia modern ini, tidak mudah bagi kita untuk menghindarkan diri dari penggunaan bahan-bahan plastik yang tidak ramah bagi lingkungan alam sekitar kita. Dengan segala kemudahan dan kepraktisannya,  membuat kita menjadi sangat bergantung pada keberadaannya.  Demikian juga dengan bahan glass. Walaupun sebagian glass bisa digunakan lebih lama daripada plastik dan lebih mudah didaur ulang, namun sebagian bahan gelas terutana gelas yang dilapis tetap tidak ramah lingkungan.  Namun di sini, di sebuah camp di pedalaman India, saya melihat upaya untuk memperkecil perusakan lingkungan oleh aktifitas manusia  dilakukan dengan sungguh-sungguh di camp itu.

Salah satu upaya kegiatan ramah lingkungan yang saya lihat dilakukan di sana adalah mengganti penggunaan mangkok-mangkok plastik dan kaca dengan mangkok daun jati kering.  Saya belum pernah melihat yang ini sebelumnya. Menarik juga!.

Saya memang melihat banyak pohon kayu jati (Tectonia grandis) di tanam di sana. Daunnya banyak dan sebagian ada yang menguning lalu gugur ke tanah di tiup angin. Melihat banyaknya pohon jati, seseorang mungkin ada yang memunguti daunnya. Mengeringkannya dengan baik,  lalu  cukup kreative membentuknya menjadi cekung serupa mangkok dan memanfaatkannya untuk menikmati makanan.

Kacang Ijo Dalam Mangkok Daun JatiSaya menemukannya ketika sore hari kami disuguhi snack yang terbuat dari kacang ijo kukus berbumbu bawang dan cabe kering.   Snack alami dari kacang-kacangan, dihidangkannya dengan memanfaatkan mangkok daun jati. Dan dimakan sambil berdiri di luar ruangan di bawah pohon-pohon yang rindang. Di antara desau angin sore pedesaan.  Diantara kicauan burung dan tupai yang sibuk berlarian ke sana kemari mencari biji-bijian. Tidak ada sebuah aturan protokoler  acara makan yang harus diikuti. Semuanya sangat natural. Aduuuuh..saya merasa sangat menyatu dengan alam.

Setelah makan, kami membuang daun jati kering itu ke tempat sampah dan kamipun kembali ke aktifitas kami masing-masing. Saya terkesan sekali dengan upaya mereka merawat lingkungan.

Sebenarnya, jika kita ingat-ingat,  sebelum plastik datang merajalela, di Indonesiapun kita banyak memanfaatkan bahan alam ramah lingkungan untuk aktifitas kita sehari-hari.  Seperti contohnya daun jati ini. Di Jawa, daunnya yang lebar-lebar secara traditional  sangat umum kita lihat digunakan untuk membungkus makanan.  Demikian juga di tempat lain. Daun pisang.  Sangat umum  digunakan sebagai pembungkus.  Lalu  daun talas dimanfaatkan untuk payung. Namun semakin ke sini,  semakin sedikit pemanfaatannya karena semuanya sudah tergantikan dengan plastik.   Barangkali karena semakin sulit dan mahal juga didapatkan, karena pohonnya juga semakin banyak yang ditebang. Kembali lagi kealasan bahwa plastik lebih  praktis, lebih murah dan lebih mudah di dapat.

Jaman dulu orang di Bali juga biasanya makan dengan menggunakan kau, ingka atau tamas. Namun semakin ke sini, semakin tergantikan oleh piring kaca atau plastik. Kau, yakni mangkok  yang terbuat dari batok kelapa barangkali sudah tidak ada yang menggunakannya lagi selain sebagai hiasan.  Ingka, yakni piring yang terbuat dari jalinan lidi kelapa saya lihat masih digunakan sesekali.  Tamas, yakni piring yang dibuat dari daun kelapa hanya digunakan untuk upacara saja.   Agar bisa dipakai berulang-ulang ingka dan tamas ini biasanya dilapisi dengan daun pisang. Sekarang lapisan daun pisang ini  lebih sering diganti dengan lapisan kertas coklat pembungkus makanan. yang menggunakannya pun tetap lebih sedikit daripada yang menggunakan piring berbahan plastik atau gelas.

Nah melihat mangkok daun jati kering ini digunakan untuk menjamu tamu-tamunya, saya benar-benar merasa hormat kepada tuan rumah.  Sangat berkawan dengan alam!.

Pohon Di Halaman Yang BersihSebenarnya sebelum saya datang ke sana, saya sudah disurati agar mengatur sedemikian rupa pakaian saya, karena tuan rumah mempunyai komitment yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Saya pikir tentu maksudnya supaya saya tidak menggunakan detergent selama di sana.  Maka sayapun hanya membawa pakaian seadanya. Sesedikit mungkin agar tidak menyusahkan tuan rumah. Saya bisa mengerti akan maksud baik tuan rumah terhadap lingkungan.

Dan ketika tiba di sana,  saya melihat ternyata lingkungan di tempat saya menginap itu memang benar-benar sangat asri. Penuh pepohonan besar yang rindang dan hijau. Di bawah pepohonan itu, halamannya tampak bersih dan tak ada sampah plastik. Ada beberapa tempat sampah yang disediakan. Isinya sampah organik semua. Di belakang camp itu, saat saya pergi ke danau,  saya melihat ada tempat sampah untuk membuang sisa-sisa makanan. Ada juga sampah plastik di dalamnya, namun jumlahnya sangat sedikit sekali. Hebat juga!.  Saya pikir,hal ini mungkin bisa dicapai karena semua bahan-bahan yang dibutuhkan termasuk bahan makanan semua di swadaya oleh masyarakat setempat.Sehingga kebutuhan akan bahan-bahan dari luar yang umumnya dibungkus plastik menjadi berkurang.

Namun secara keseluruhan, memang bisa kita acungi jempol untuk upayanya dalam mengurangi plastik seminimal mungkin guna menyelamatkan lingkungan.

Let’s Go Green!.