Terang Di Dalam Kegelapan.

Standard

Seorang  teman mengisahkan kesulitan hidup yang dideritanya belakangan ini. Suaminya mengalami gangguan jantung yang ???????????????????????????????menyebabkannya harus menjalani operasi dan perawatan rumah sakit yang cukup lama. Ia menemani suaminya di Rumah sakit, sementara pekerjaan di kantor juga menumpuk. Walhasil, ia ikut jatuh sakit dan terpaksa dirawat inap juga di rumah sakit. Sementara dua anaknya yang masih kecil yang menjadi kurang terurus, ikut-ikut pula jatuh sakit dan akhirnya dirawat di rumah sakit juga. Saya mendengarkan sambil ikut merasakan jika saya berada di posisinya. Alangkah berat rasanya penderitaan itu.

Dan tentunya  masih ada lagi penderitaan finansial dibalik musibah yang berturut-turut itu.  Berobat tentu tidak ada yang gratis bukan?  Mahal pula. “Gelap sekali rasanya,Bu!” Kata teman saya dengan wajah yang sendu.

Seorang teman yang lain berkisah tentang keadaannya yang sangat sulit karena merasa terjebak di sebuah perusahaan di mana politik kantor terasa sangat garang.  Sementara ia sendiri merasa tidak suka  dan tidak bisa ikut berpolitik di kantor. Juga tidak ingin keluar, karena iamerasa tidak ada yang salah dengan kantornya. Hanya orang-orangnya saja ada yang berpolitik.  Saya juga tidak suka dan tidak bisa berpolitik di kantor. prinsip saya ya kerja saja dengan  baik dan lurus hati.   “Rasanya buntu!. Tidak menemukan jalan keluar”.  kata teman saya.

Sayapun ikut membayangkan jika saya yang berada di posisinya. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya akan mampu melewatinya dengan baik? Atau malah mati didera oleh badai politik itu?

Terima suka dan duka dengan ikhlas,  sebagaimana kita menerima siang dan malam.

Masih banyak lagi kisah-kisah derita yang diceritakan orang-orang kepada saya, yang menyebabkan dunia terasa buntu dan gelap. Membuat saya terpancing untuk mengkompilasinya,  mencari benang merahnya satu sama lain dan merenungkan maknanya.

Saya pikir setiap manusia yang lahir di planet bumi ini sudah ditakdirkan untuk menerima keadaan gelap dan terang dengan kurang lebih seimbang. Walaupun tentu saja porsinya setiap saat tergantung dari lokasi kita dan tingkat kecondongan axis bumi terhadap matahari. Namun secara umum, gelap terang itu pasti terjadi. Dan mau tidak mau harus diterima. Gelap dan Terang. Siang dan Malam. Tak ada orang yang mampu mengelakkannya kecuali  jika kita berada di luar dari system.  Artinya, jika saat ini kita mengalami gelap, suatu saat terang  pasti akan datang sebagai sebuah keniscayaan.  Mau tidak mau. Ikhlas tidak ikhlas. Demikian juga dengan terang. Jika saat ini kita sedang mengalami terang, maka suatu saat gelap pun akan datang juga sebagai sebuah kepastian. Tanpa usaha apapun dari kita. Alam sudah mengaturnya sedemikian rupa.

Orang Bali mengatakan Siang-Malam dan Gelap-Terang ini sebagai “Rhwa Bhineda” alias dua hal berbeda yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan melambangkannya dengan “Kain Poleng “alias Kain Hitam Putih. Memasang kain ini di pohon-pohon, di bangunan suci, di rumah dan sebagainya, sebagai pertanda akan kesadaran dan pengakuan  akan adanya hukum alam ini.

Dalam  kehidupan sehari-hari, masa masa sulit bisa kita andaikan dengan masa gelap. Dan masa -masa mudah bisa kita andaikan dengan masa terang. Jadi penghiburan sederhana yang bisa saya katakan pada diri saya sendiri saat harus menjalani masa sulit adalah “ Tenanglah! Sabarlah!  Lakukan segala sesuatunya dengan cara yang sebaik-baiknya yang bisa kita lakukan.  Karena dunia itu berputar. Cepat atau lambat, suatu saat masa terang pasti datang”.   Toh kita semua tahu, sejak jaman dulu manusia telah mempelajari tentang hukum siang malam ini  dan menerima kenyataan itu dengan baik.

Pelita membantu kita melewati malam dengan lebih mudah.

Ketika nenek moyang kita mulai belajar ikhlas menerima siang dan malam, lalu berikutnya mereka menemukan pelita untuk membantu mengatasi kesulitan saat malam tiba. Tentu saja  pelita ini tidak mampu memberhentikan rotasi bumi sehingga tidak ada lagi siang dan malam.  Namun setidaknya, pelita membantunya menjalani masa gelap dengn lebih baik.   Apakah hal ini tidak bisa kita implementasikan juga pada kehidupan kita sehari-hari?

Jika kita tahu bahwa kita harus menjalani masa sulit dari kehidupan kita, dan kita merasa sangat tertekan untuk menjalaninya, maka carilah pelita segera.  Di mana?   Ya di mana saja.

Dari dalam diri sendiri, dengan cara mengoptimalkan akal budi kita dengan sebaik-baiknya. Terkadang tanpa kita sadari, sebenarnya pemecahan masalahnya ada di kepala kita. Cuma kita saja yang belum menemukannya sejak awal.  Kenapa kita tak pernah tahu sebelumnya? Kadang-kadang hanya karena kita tak pernah memaksa  pikiran kita untuk bekerja lebih keras lagi. Kita terlalu memanjakan otak kita, sehingga malas untuk menghadapi tantangan.

Atau dari luar diri kita. Cari bantuan! Pertolongan!  Atau sekedar cari teman untuk sharing, sehingga rasa gelap yang menyelimuti sedikit terasa berkurang. Dengan usaha proaktif,  akan membuka kemungkinan untuk mendapatkan ide-ide dan cara-cara yang membuat kita terasa dimudahkan dalam menjalani masa sulit. Barangkali di sekeliling kita ada yang mempunyai pelita dan bersedia membaginya sedikit dengan kita?

Sesungguhnya dunia ini penuh dengan orang baik. Tengoklah sekeliling kita, dan fokus untuk menemukan kebaikan dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Pasti sangat banyak jumlahnya.

Saya merenungkan hal itu kembali, pada suatu malam, ketika saya memandang foto lilin ini.

11 responses »

  1. Semoga temannya segera lepas dari kesulitan… temannya sudah di cover asuransi khan mbak..?
    Memang siang-malam merupakan hukum alam yang dapat dijadikan pelajaran bagi mereka yang mau berpikir… Didaerah tertentu seperti di kutub utara sana lama siang dan malam tak selama yang kita alami.. siangnya lebih panjang dari malam, bgitupun sebaliknya di daerah lain.. sebuah keniscayaan bahwa siang dan malam adalah sebuah keniscayaan meskipun waktunya tidak sama.. jadi dapat ditangkap makna bahwa seseorang mungkin saja dapat melewati kesulitan dengan singkat tapi ada yang melewati dengan waktu yang cukup lama…

  2. Tidak semua orang mampu berpikir positip menemukan pelita ketika berada pada posisi gelap dengan segala ujian yang menghimpitnya, baik pelita dalam diri maupun orang di sekitarnya. Kegelapanlah yang sering menyelimutinya karena semua dihadapi dengan kesedihan dan merasa keadilan tidak berpihak padanya. Beruntunglah mereka yang meletakkan segala perkara dengan dimulai dari langkah sabar, karena dengan modal ini paling tidak akan sangat gampang berpikir positip dan meluaskan daya nalar untuk memudahkan menemukan jalan keluar (pelita) baik yang bersumber dari kekuatannya ataupun orang-orang di sekitarnya

  3. tulisan yg menginspirasi mba, terimakasih untuk sharing nya….

    memang terkadang pelita itu tidak jauh dari diri kita sendiri, ada pernyataan dalam surah Al Quran “karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” , semoga kita termasuk orang yg bisa menyadari akan adanya pelita disekitar kita atau barangkali kita menjadi pelita bagi orang yg membutuhkan..

  4. Bagi saya, ini tulisan yg indah yg menggambarkan hal yg sebenarnya tidak indah dalam hidup ini, utamanya ketika diri kita memasuki “masa gelap” itu. Sebenarnya ini hal yg wajar, dalam artian siapapun kita pasti mengalaminya.

    Saya pribadi pernah memasuki “masa gelap” itu di thn 1998, saat krismon. Berjutaan orang kehilangan pekerjaan saat itu, termasuk saya. Saya di phk bulan oktober, 3 bulan setelah anak ke-3 saya lahir. Saya menelusuri “masa galep” itu selama 14 bln. Masa yg saya tidak mempunyai pekerjaan formal. Usaha kecil-kecilan ini itu, hanya sekedar memperpanjang ketahanan uang pesangon untuk bertahan hidup. Kembali lagi bekerja formal di bln Januari 2000, saat saldo simpanan diatas kertas hanya cukup untuk bertahan hidup keluarga selama 2 bulan saja.

    Maaf mba jadi berkepanjangan. Hanya share saja atas apa yg diri saya pernah alami.

    Tetap menulis dan berbagi ya mba.

    Salam,

  5. jadi tahu nama kain hitam putih kaya catur itu kain poleng di bali..
    hidup ga selamanya gelap, ada pasang surutnya, pasti terang kalu kita mau minta bantuan dan sharing..
    mbak dani empatinya tinggi ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s