Burung Cerukcuk Dalam Sastra Bali.

Standard

Ketika sedang mengamat-amati tingkah laku Burung Cerukcuk di pinggir kali  belakang rumah, banyak kenangan masa kecil yang Burung Cerukcuk 9melintas di kepala saya.  Selain suaranya yang selalu setia membangunkan saya setiap pagi, saya juga teringat bahwa burung ini  ternyata cukup punya kontribusi juga dalam dunia kesustraan dan seni di Bali.  Setidaknya saya  ingat, ada sebuah Sasonggan atau Sasenggakan (= Pepatah)  dan Satua (= dongeng /cerita rakyat)   yang membawa-bawa nama Cerukcuk di dalamnya.

Sasonggan (Pepatah) : Sekadi Kedis Cerukcuk Punyah.

Sekadi Kedis Cerukcuk Punyah” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah “Bagaikan Burung Cerukcuk Mabok” .  Seperti kita tahu, burung Cerukcuk tanpa mabokpun sudah banyak sekali kicaunya. Cruk cuk cuk cak cruk cuk cuk cuk …cruk cuk  dan seterusnya. Nah bisa kita bayangkan, apa jadinya jika burung Cerukcuk ini sampai mabok ?. Tentu akan semakin banyak lagi kicaunya  dan tentunya pula kicauannya pun ngawur. Demikianlah jika seseorang yang banyak bicara namun pembicaraannya berkwalitas rendah atau malah tidak bermutu, sering diibaratkan sebagai seekor Cerukcuk  yang sedang Punyah alias mabok.  Karena  dianggap negative, biasanya orangtua menasihati anak-anaknya jangan banyak berbicara  atau sok tahu jika tidak tahu kepastiannya. Agar jangan menjadi seekor Cerukcuk Punyah. Agar jangan diperolok-olok orang lain.

Namun demikian banyak juga orang yang menyebut dirinya dengan nama Cerukcuk Punyah.  Barangkali untuk maksud merendahkan hati. Saya ingat,  bahkan seorang teman saya ada juga yang suka mengibaratkan dirinya dengan “Cerukcuk Punyah”, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak merasa sebutan itu cocok untuk dirinya.  Dan seingat saya bahkan ada juga sebuah tabuh/gamelan traditional yang berjudul Cerukcuk Punyah.

Satua Bali (Dongeng): I Cerukcuk Kuning.

Sebenarnya dongeng rakyat ini lebih tepatnya berjudul “I Bawang Lan I Kesuna”  terjemahannya adalah Bawang Merah Dan Bawang Putih.   Namun karena di dalam cerita itu melibatkan peranan seekor Cerukcuk Kuning, maka terkadang dongeng ini juga disebut dengan nama I Cerukcuk Kuning.

Dikisahkan pada jaman dahulu,hiduplah dua orang anak perempuan bersaudara yang diberi nama I Bawang dan I Kesuna.  Suatu hari karena Ayahnya mau berangkat ke sawah dan ibunya berangkat ke pasar, mereka ditugaskan oleh kedua orangtuanya untuk mengerjakan pekerjaan di rumah,  seperti menyapu, mencuci pakaian, memasak dan sebagainya. Merekapun mengiyakan perintah itu.

Ketika kedua orangtuanya pergi,  Si Bawang berkata kepada adiknya (Si Kesuna) ” Kesuna, kamu saja yang nyapu ya? Nanti biar saya yang ngepel” kata SI Bawang.  Kesunapun setuju. Lalu ia menyapu.  Setelah selesai menyapu, si Bawang berkata lagi “Kesuna, kamu saja yang ngepel ya? nanti saya yang mencuci piring” katanya. Kesunapun mengepel lantai. Setelah selesai, SI Bawang berkata lagi “Kesuna, kamu saja yang mencuci piring ya, nanti saya yang masak”  Kesunapun menurut saja apa kata kakaknya. Demikian seterusnya hingga ia menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Mulai  dari nyapu,ngepel,mencuci piring, memasak, mengisi air, mencuci pakaian, menyeterika.  Kesuna bekerja keras, sedangkan Si Bawang hanya berleha-leha saja dan terus memberi perintah.  Namun Kesuna mengerjakannya dengan senang hati.

Ketika menjelang sore, Kesuna yang rajin dan  telah menyelesaikan pekerjaanya pun mandi dan berhias diri. Sedangkan Bawang yang pemalas segera pergi ke dapur dan membalur tubuhnya dengan abu dapur agar terlihat kotor. Ketika orangtuanya datang, Si bawang bersandiwara dan menangis di hadapan orangtuanya, sambil berkata bahwa  ia sangat kelelahan karena dari pagi harus bekerja sendiri, sementara Kesuna tidak mau membantunya sedikitpun.  Menurutnya Kesuna hanya duduk duduk saja dan asyik berdandan. Mendengar pengaduan Bawang, maka kedua orangtuanya pun marah dan memanggil Kesuna.  Kesuna berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun karena Bawang lebih pintar mengambil hati orangtuanya, maka orangtuanyapun lebih percaya kepada Bawang. Terlebih lagi ketika melihat penampilan Bawang yang kotor penuh abu dan belum sempat mandi, sedangkan Kesuna bersih, rapi dan wangi, membuat kedua orangtua mereka semakin percaya akan perkataan Bawang.

Karena sedih akan kemarahan orangtuanya, maka Kesuna menangis dan pergi membuang diri  ke dalam hutan. Di sana ia bertemu dengan seekor Burung Cerukcuk Kuning yang  bertanya mengapa ia bersedih. Kesunapun menceritakan kisahnya yang menyedihkan dan membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya. Lalu ia pun meminta tolong kepada Burung Cerukcuk Kuning itu agar mematok kepalanya sekuat-kuatnya sampai ia mati, karena merasa sudah tidak tahan lagi akan nasibnya.  “Caiiii caiiiii… Cerukcuk Kuning.  Dong tulungin ja patok sirah tiyange”. Terjemahannya “Wahai engkau Cerukcuk Kuning. Tolong dong kepala saya dipatokin”.

Burung Cerukcuk Kuning itupun mendekat, terbang diatas kepala Kesuna dan  “Cruk cuk cuk…” ia mematok kepalanya.  Namun keajaiban seketika terjadi, diatas kepala si Kesuna sekarang terpasang bunga-bunga emas yang indah dan gemerlap. Demikian juga ketika Si Cerukcuk Kuning mematok leher, pergelangan tangan, jari tangannnya, cruk cuk cruk cuk cruk cuk... maka terpasanglah kalung,gelang dan cincin emas permata yang gemerlapan. Cerkcuk Kuning memberikan semua itu kepada Kesuna karena ia tahu bahwa Kesuna adalah anak perempuan yang rajin dan baik hati. ia lalu memberi nasihat kepada Si Kesuna agar mengurungkan niat bunuh diri dan sebailknya pulang ke rumah. Jika merasa belum siap juga, lalu Cerukcuk Kuning menyarankan agar Kesuna pulang ke rumah neneknya saja.Sejak itu Kesuna lalu tinggal di rumah neneknya yang menerimanya dengan baik.  Di sana  ia membantu neneknya memintal benang dan menenun kain.

Suatu hari Si Bawang berkunjung ke rumah nenek mereka dan menemukan SIKesuna sedang menenun di sana. Wajahnya kelihatan bahagia dan pakaiannya gemerlap dengan perhiasan emas permata. Melihat itu, maka Si Bawang bertanya dari mana Kesuna mendapatkannya. Kesuna  pun menceritakan kisahnya dengan Cerukcuk Kuning.

Seketika Si Bawang berlari ke dalam hutan, menangis dan memanggil-manggil nama Cerukcuk Kuning dan mengarang cerita bahwa ia sudah bekerja keras di rumah, namun difitnah oleh Kesuna sehingga orangtuanya marah dan mengusirnya ke dalam hutan. Ia pun meminta agar Cerukcuk Kuning mematok kepalanya sampai mati.   Caiiii caiiiii… Cerukcuk Kuning.  Dong tulungin ja patok sirah tiyange”.. Atas permintaan itu, maka Cerukcuk Kuningpun mematok kepala Si Bawang. ”  Cruk cuk cuk…”  maka seketika duri-duri tajam menancap di kepala Si bawang.  Demikian juga ketika Cerukcuk Kuning mematok lehernya, maka tiba-tiba seekor ular berbisa sudah membelit lehernya, kelabang yang juga berbisa mengelilingi pergelangan tangannya dan jari-jari tangannya pun dikelilingi ulat bulu yang sangat gatal. Maka SI Bawang pun akhirnya meninggal karena kemalasannya, karena fitnah dan keserakahannya sendiri.  Sifat buruk yang sebaiknya kita semua hindari.

8 responses »

  1. ditempat saya, burung ini disebut trocok atau trocokan yang mirip sekali dengan burung “genthilang” atau kutilang, bedanya trocok bagian belakang badannya warna kunig, sedangkan genthilang ada hitamnya. Dan keduanya memiliki ocehan yang khas.

    Benar juga ya Bu kalo seseorang mendapatkan sematan seperti cerucuk mabuk, sebagai bentuk indikasi yang bersangkutan tidak mampu mengontrol diri dalam tindakan dan omongan. Padahal semakin banyak omongan apalagi tidak mendasar, bisa jadi mencederai diri sendiri maupun orang lain.
    sepakat, sifat buruk harus kita hindari, dengan apapun caranya untuk hidup yang lebih baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s