Burung Cerukcuk, Sang Penanda Pagi.

Standard

Burung Cerukcuk 6Ada sejenis burung, yang suaranya sangat khas terdengar di telinga saya sejak kecil. Cruk cuk cuk cak cruk cuk cuk .. atau …cruk cuik cak cok .. dan seterusnya seputaran kata cruk, cuk, cak, cok, cuik. Kadang-kadang suaranya ditingkah suara ayam jantan berkokok…kuk kuruyuuuuuk kuuuuuuuk.  Jika suara burung itu terdengar nyaring dari pepohonan  di belakang rumah, Itu tandanya saya sudah harus bangun, melipat selimut, menyapu halaman rumah dan mandi serta bergegas ke sekolah.  Karena jika tidak, tentu ibu saya akan menegur saya dengan keras. Mau tidak mau saya harus mendisiplinkan diri, segera bangkit dari tempat tidur secepatnya.   Itulah suara burung Cerukcuk alias Yellow Vented Bulbul (Pycnonotus goiavier), sang penanda pagi.

Setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkan rumah orangtua saya, suara burung Cerukcuk itu tetap menjadi jam alam penanda pagi untuk saya.  Bedanya, saat ini suara burung cerukcuk itu datangnya dari pohon-pohon di pinggir kali di belakang rumah saya. Kelihatannya belakangan ini suara burung Cerukcuk itu semakin banyak dan semakin nyaring. Memikat saya untuk iseng menengoknya ke bantaran kali.  Sayangnya hari masih pagi dan sinar matahari belum cukup untuk memberikan saya penerangan untuk melihat dimanakah gerangan burung Cerukcuk itu bertengger.

Awalnya saya melihat sepasang di atas dahan pohon yang sangat tinggi dan jauh. Sayang sekali lensa saya kurang mampu memberikan gambar yang berkwalitas baik untuk jarak sejauh dan setinggi itu.  Namun saya masih bisa melihat gerak gerik pasangan itu sebelum satu persatu terbang entah ke mana. Oleh karenanya saya tetap coba ambil fotonya dan perbesar, dan belakangan saya perhatikan ternyata  sepasang burung itu bukan Burung Cerukcuk, tapi Burung Kutilng (Pycononotus aurigaster). Kepala burung Kutilang umumnya berwarna hitam -mirip orang memakai topi, sedangkan Burung Cerukcuk berwarna putih keabuan dengan jambul berwarna coklat kehitaman.

Orang bilang, jika kita melihat burung Kutilang, ada kemungkinan kita juga akan melihat Cerukcuk. Karena kedua burung ini memenag sering terlihat bersama  atau berkelompok.

Menjelang siang, saya melihat seekor burung Cerukcuk yang lebih kecil bertengger di pagar tembok yang menjadi dinding kali. Walaupun jaraknya juga agak jauh dari tempat saya berdiri, setidaknya saya bisa melihatnya dengan cukup jelas. Walaupun bisa saya katakan burung ini warnanya memang suram dari ‘sono’nya.

Burung Cerukcuk adalah seekor burung penyanyi yang suaranya memang sangat merdu, merupakan salah satu anggota keluarga dari burung Kutilang alias burung Bulbul (Pyconotidae).  Secara umum, burung-burung jenis ini termasuk ke dalam burung yang berukuran tubuh sedang – dimana burung Cerukcuk itu sendiri   kurang lebih berukuran sekitar 18-20cm.

Bagaimana cara untuk mengidentifikasi?

Jika kita tinggal di pedesaan, koBurung Cerukcuk 2ta kecil  atau di daerah dekat dengan ladang taupun belukar yang terbuka atau taman kota dan sudah sering melihat jenis burung ini sejak kecil, tentu tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengidentifikasi. Namun jika belum terbiasa melihat, mungkin dengan memperhatikan ciri-ciri tubuhnya akan cukup membantu kita untuk melakukan identifikasi.

Pertama tentu kita lihat dari ukuran tubuh burung itu sendiri. Besar, kecil, sedang? Dan burung ini ukurannya sedang.  Kemudian kita lihat bentuk  paruhnya ramping. Tidak bengkok, tidak tebal tapi juga tidak panjang. Lehernya pendek yang membuat jarak antara kepala dengan badannya menjadi dekat.  Sayapnya pendek namun ekornya lumayan panjang.

Berikutnya kita perhatikan warnanya. Secara umum burung ini tampak suram. Warnanya tidak terlalu menarik. Badannya berwarna putih suram hingga kekepala.  Kepalanya lucu, karena matanya dihubungkan dengan garis berwarna hitam dengan paruhnya. Sehingga jika kita perhatikan (terutama dari arah depan) ia seperti mempunyai alis putih di atas matanya. Burung ini  juga berjambul, warnanya coklat kehitaman.  Tapi seingkali kita melihat jambulnya tidak ditegakkan.Tubuh bagian atas dan sayapnya berwarna coklat. Dan perut bagian bawah sampai ke ekor berwarna kuning. Paruhnya berwarna hitam dan kakinya berwarna abu-abu.

Nah kalau masih ragu-ragu juga, maka kita dengarkan suaranya.. Cruk cuk cuk.. karena gara-gara suaranya itulah burung ini disebut Cerukcuk.

Agak siang, saya mendengar suara burung Cerukcuk itu lagi dari arah pinggir kali. Maka sayapun menengok kembali. Wah.. seekor burung Cerukcuk sedang bertengger di pohon pepaya. Sedang makan buah pepaya. Saya baru tahu bahwa Cerukcuk ternyata doyan buah pepaya.  Awalnya saya kira  ia hanya menyukai buah boni yang kecil-kecil , atau serangga – karena dulu saya tahunya burung ini adalah penghuni pohon boni.  Melihat ini saya merasa sangat girang sekali.  Saya pikir sepanjang pohon pepaya itu tetap berbuah dan matang, tentu burung Cerukcuk ini akan rajin mampir di pohon pepaya itu.  Sangat mudah bagi saya untuk mengamat-amatinya.

Semoga tidak ada pemburu yang lewat , sehingga kebahagiaan burung ini di alam bebas tetap terpelihara dengan baik.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s