Mengenai Perikebinatangan.

Standard

Kucing AnonimousHari Minggu pagi, saya mengajak anak saya yang kecil berpetualang kembali di pinggir kali di belakang rumah.  Petualangan yang sangat menyenangkan, walaupun pulang-pulang kulit pada bentol-bentol digigit nyamuk. Ketika kembali berada di belakang rumah, saya mendengar anak saya yang besar berteriak  dari halaman rumah memanggil-manggil nama saya.  Suaranya terdengar panik. Ada apa ya?Saya jadi ikutan panik. Tak biasanya anak saya yang besar sudah bangun sepagi ini pada hari Minggu.

“Mama!  Mama! Tolong kucingnya Ma. Lehernya dijerat orang!” Kata anak saya.   Sayapun bergegas pulang.

Astaga!!!. Kucing liar (saya tidak tahu siapa pemiliknya) yang sering datang berkunjung ke rumah saya itu lehernya terjerat tali plastik. Anak saya mengetahui kalau leher kucing itu terjerat, ketika melihatnya datang ke rumah meminta makan.  Mungkin sudah lebih dari sebulan kucing itu selalu datang ke rumah untuk meminta makanan.  Sangat jinak dan manja. Saya pikir mungkin sebenarnya kucing itu bukan kucing liar. Hanya barangkali pemiliknya tidak terlalu perduli padanya saja. Sehingga ia tampak kurus dan kurang terpelihara. Karena tak tahu nama dan pemiliknya, maka saya sebut saja kucing itu Si Anonimous.

Sekarang kucing itu terlihat sangat lemas tak berdaya. Tentu sangat sulit bernafas. Boro-boro bisa makan.

Tali Rafia Yang Dipakai menjerat leher kucingRupanya Si Mbak dan anak saya di rumah sudah berusaha membantu melepaskan tali plastik berwarna yang menjerat leher kucing itu. Namun karena tali itu terlalu ketat dan  mereka takut usahanya akan semakin mencekik leher kucing itu, maka merekapun menghentikan usahanya.

Melihat itu, saya tak punya pilihan lain lagi. Saya minta anak saya memegang kucing itu agar tidak bergerak. Lalu dengan sedikit menekan tubuhnya dan mengangkat tali itu, saya berusaha keras menyelipkan ujung gunting diantara kulit kucing dan tali plastik itu. Semuanya menahan nafas, karena sekarang kucing itu pasti sangat tercekik dan tidak bisa bernafas.  Saya coba gunting tali itu, namun tidak berhasil.  Keras juga rupanya. Atau barangkali terlalu menempel di kulit kucing itu?.  Saya coba sekali lagi menggunting tali itu dengan tenaga yang lebih kuat dan lebih cepat.  Lalu… kresss… kresss.

Mhhh..hah!!! Syukurlah! Akhirnya tali itupun putus dan kucing Anonimous itu bisa bernafas lega kembali.  Kedua anak saya dan Si Mbakpun ikut bernafas lega. Anak saya lalu memberinya makanan. Karena tempat makanannya tidak ada, maka ia hanya meletakkannya di lantai halaman saja.

Memberi makan kucingYang saya bingung adalah, kok ada ya orang bisa setega itu terhadap binatang?. Tidak habis pikir rasanya. Apa yang ada di pikiran orang itu ketika melakukan perbuatan yang tak mengenal kasih  terhadap sesama mahluk?

Saya bisa mengerti, mungkin sebagian orang ada yang memang tidak menyukai kucing.  Entah karena suaranya yang manja, atau terlalu ribut saat musim kawin. Atau entah karena takut sama bulunya, atau karena pernah melihat kucing mencuri makanan di dapurnya dan entah karena masalah lain.  Tapi tentunya hal itu tidak cukup memberi alasan kepada kita manusia untuk boleh saja seenaknya melakukan perbuatan kejam yang sama sekali tidak terpuji itu terhadap seekor kucing, bukan?. Jika kita tidakmenyukainya, mungkin cukup hanya dengan mengusirnya dan melarang kucing itu masuk ke rumah kita. Dan bukan menjerat lehernya hingga kucing itu megap-megap kehabisan nafas.

Sama seperti kita, kucing juga mahluk hidup ciptaan Tuhan yang punya nyawa, punya rasa takut, sedih dan marah. Kucing juga mengenal trauma jika pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh manusia.

Banyak yang mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang lebih mulia dibandingkan dengan binatang. Namun jika kita menjerat leher kucing karena hanya ingin menyakitinya saja, sementara kucing tidak pernah menjerat leher kita, apakah kita layak mengaku diri lebih mulia?  Sungguh sebuah hal yang perlu direnungkan.

Semoga semakin banyak manusia yang bersikap baik pada binatang.

15 responses »

  1. Saya juga kadang suka kesal dengan kelakuan kucing yang jika lengah sedikit suka bab dan bak sembarangan. Tapi, kalau sampai ada orang yang memperlakukan kucing dgn amat burut, saya juga pasti tidak akan sampai hati dan akan mengecam orang yang melakukannya itu.

  2. Kalau dilihat dari simpul yang dibuatnya, sepertinya yang bisa melakukan seperti itu bukanlah anak-anak. Entahlah apa tujuan yang dilakukan dengan menjerat si empus. Duh tega banget tuh orang.

  3. Padahal binatang juga mahluk hidup ciptaan Tuhan dan dia tidak tahu bahwasannya binatang ini kelak bisa menyelamatkan kita.
    Kami di rumah malah seirng memberi makan kucing dan anjing liar sehingga mereka kerasan di sekitaran rumah kami.

  4. Alhamdulillah selamat. Ikutan tegang pas baca. Kebangetan ya itu orang, untung masih selamat dia gak depan kami ikat itu kucing. Kalau depan kami ajah…. hmmm.. abis dikeroyok.
    Saya, papa, mama, adik dan para ponakan penyayang kucing. Semoga disadarkan ya itu orang. Gimana kalau dia diperlakukan seperti itu ya nanti.. terlalu

  5. Memang suka aneh kalo mendengar ada orang yg demikian tega kpd binatang.
    Nah, khusus mengenai kucing, anak saya suka banget sama kucing ini. Walau gak pernah beli kucing luar yg mahal, tp di rumah saya di sukabumi sekarang banyak kucing. Awalnya sih anak saya suka iseng kasih makan, lama2 ada yg netap tinggal dan sekarang beranak juga.
    Oh ya mba tinggal di daerah mana? Koq sepertinya nyaman ada kali segala dekat rumah…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s