Daily Archives: October 4, 2013

Bunglon…

Standard

Bunglon 1Anak saya yang kecil baru saja habis belajar  Science pada bab Adaptasi Mahluk Hidup Terhadap Lingkungannya.  Sepulang kerja, saya memeriksa kesiapannya untuk menghadapi ulangan dengan memberikan pertanyaan random seputar  jenis-jenis paruh burung dan kaki burung yang berbeda-beda sesuai makanan dan habitatnya, cicak yang memutuskan ekornya, cumi-cumi yang mengeluarkan tinta, kupu-kupu yang memiliki bulatan mirip mata pada sayapnya, bunglon yang merubah warna kulitnya dan lain sebagainya untuk mempertahankan dirinya. Setelah saya rasa ia mampu menjawab semuanya, saya menyuruhnya tidur agar besok ia tidak bangun kesiangan atau ngantuk saat ulangan.

Hari Minggu-nya, saya  mengajaknya pergi ke bantaran kali di belakang rumah untuk mencari bunglon dan mengamati tingkah lakunya dari dekat.  Saya pikir jika ia bisa melihat bunglon dengan mata kepalanya sendiri, tentu ia tidak perlu mengulang pelajaran lagi, karena semua yang dilihatnya akan terekam di dalam otaknya sebagai sebuah pengalaman dan ingatan yang panjang.

Mimikri.

Bunglon (Bronchocela jubata), atau yang juga disebut dengan Baluan (Bahasa Bali), atau Kadal  Hijau Bersurai /Green Crested Lizard, merupakan salah satu kadal dari keluarga Agamidae yang umum bisa kita temukan di semak-semak yang rendah di Indonesia. Seperti kita tahu, bintang ini bisa merubah warna kulitnya mendekati warna lingkungan sekitarnya dengan maksud untuk menyamarkan diri entah saat menghindar dari musuhnya, maupun saat akan menyergap mangsanya.  Beberapa sumber mengatakan bahwa perubahan warna juga  dipicu oleh suhu udara, sinar matahari, mood bahkan musim berbiak.

Umumnya ia terlihat berwarna hijau saat berada di dedaunan, namun terkadang ia bisa juga terlihat abu-abu jika latar belakangnya kelabu atau berubah coklat jika latar belakangnya coklat. Itulah yang disebut dengan MIMIKRI. Saya menjelaskan lagi kepada anak saya, walaupun saya tahu ia sudah membacanya dari buku.

Tepat ketika  berdiri di dekat batang pohon pepaya yang masih kecil, sesuatu tampak bergerak diantara dedaunannya. Anak saya meloncat kaget. Kami melihat sejenis  Bunglon hijau bersurai dalam jarak yang sangat dekat.  Tubuhnya panjang, di bagian belakang kepalanya tampak bersurai pendek, warnanya  hijau abu-abu.  Saat itu ia hanya berdiam saja di sana. barangkali menunggu mangsanya lewat. Makanannya adalah serangga seperti kupu-kupu, belalang , kumbang atau capung.

Agak lama kemudian, ia bergerak perlahan menuju tembok perumahan. Saya melihat seekor lagi di batang pohon pepaya yang lain. Setelah puas melihat-lihat dan kaki menjadi bentol oleh gigitan nyamuk,  saya dan anak saya pulang  membawa cerita tentang Bunglon, hewan yang bermimikri.

Membunglon.

Walaupun secara umum, manusia mengagumi kemampuan Bunglon untuk mempertahankan diri dengan cara bermimikri, namun  kemampuan Bunglon bermimikri ini tidak selalu dipandang positif oleh manusia.  Misalnya jika ada yang berkata ” Dasar Bunglon lu!” Apa yang ada di pikiran kita?

Jika pernyataan ini ditujukan untuk kita, besar kemungkinan kita akan setuju untuk mengatakan bahwa disebut Bunglon itu tidak menyenangkan. Mengandung persepsi dan image yang negative, yang kurang lebih menganggap kita sebagai manusia yang plin plan. Yang tidak punya pendirian tetap. Tergantung situasi dan kondisi  – dalam pengertian negative. Dimana tempat yang paling menguntungkan baginya , kesanalah ia memihak.   Seseorang yang disebut Bunglon, selalu dianggap sebagai orang oportunistik yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan pribadinya.    Bukan memihak kepada kebenaran, melainkan memihak pada keuntungan.

Nah..kalau sudah begini yang kasihan Bunglonnya ya.  Ia tidak tahu menahu soal untung rugi maupun sikap yang plin plan, namun namanya ikut terbawa-bawa.