Kacamata Baru Dan Trend Terkini.

Standard

kacamataSaya mengantarkan suami saya ke Optik di Bintaro Plaza untuk membeli kacamata baru. Karena gagang kacamatanya  rusak. Menyadari bahwa gagang kacamata saya juga sudah mulai butut dan  kusam, suami saya berkata mengapa saya tidak sekalian saja mengganti kacamata. Saya jadi tergiur mendengar ajakan suami saya itu.

Saya ikut melihat ke dalam etalase untuk mengetahui frame-frame terkini yang sedang trend.  Karena tidak tahu mesti beli yang mana, saya bertanya pada sales girl yang menjaga counter itu , “Mbak, mana sih model yang terakhir?“.  Si Mbak mengambilkan  sebuah kacamata dengan frame yang terlihat lebih lebar dan tebal dari yang saya pakai sekarang. Warnanya hitam pada bagian atasnya dan bening di bagian bawahnya.  Frame bagian atasnya masih agak melengkung – tidak beda jauh dengan frame kacamata kucing yang pernah ngetrend beberapa tahun yang lalu. Gagangnya berwarna hitam dengan sedikit sentuhan metal pada bagian sendinya. Saya membaca merk yang tertatah di gagangnya. Dikeluarkan oleh seorang perancang busana Amerika dan founder dari sebuah global brand yang berfokus pada lifestyle.

Saya lalu mencoba kacamata itu dan melihat wajah saya di cermin. Hhmmm..kok kayanya kurang cocok ya. Wajah saya kelihatan semakin lebar dan tembem dengan kacamata itu. Suami saya melihat dan mengatakan kalau model itu kurang pas di wajah saya yang bulat. “Jadi kelihatan tambah bulat” katanya sambil tertawa. Tapi ia selalu mengolok-olok pipi saya yang tembem.  Jadi saya tidak mau menanggapinya. “Ganti yang lain saja.  Kan masih banyak tuh model yang lain” saran suami saya sambil membantu saya mencarikan model-model yang menurutnya lebih sesuai untuk wajah saya. Tapi saya keukeuh tidak mau.  “Soalnya trend-nya ke arah bentuk  yang begini. Daripada nanti out-dated dan beli lagi yang baru,kan mending beli aja yang ini. Ntar tungguin kalau orang-orang pada pindah ke model begini, jadi nggak perlu beli lagi yang baru…karena sudah ikut trend yang terakhir” kata saya. “Ya sudahlah” kata suami saya mengalah. Walaupun saya melihat wajahnya yang tersenyum geli masih menyimpan rasa kurang setuju dengan pendapat saya. Tapi itulah salah satu hal yang saya sukai dari suami saya. Ia suka memberikan idenya, tapi jika saya tidak sependapat, ia tetap menghormati pilihan saya. Sikap yang sama juga selalu saya upayakan terhadap suami saya.

Lalu saya memeriksa harganya. Berpikir sejenak, apakah budgetnya masuk atau tidak. Akhirnya “Ya..boleh deh Mbak. Saya mau yang ini” kata saya kepada penjaga counter optik itu. Ia lalu memeriksa ulang mata saya dengan alatnya, mencatat ini dan itu, saya menyelesaikan pembayaran dan selesai. Si Mbak memberi informasi bahwa kacamata minus itu akan selesai hari Kamis.

Pada hari Kamis berikutnya, suami saya rupanya sudah mengambil kacamata kami di optik itu.  Saya lalu mencobanya. Anak-anak saya melihat. “Wah.. kacamatanya jelek banget” komentar anak saya yang kecil. “Bukan kacamatanya. Kacamatanya sih bagus. Tapi pipinya kegendutan! ha ha ha… Mama nggak cocok pakai kacamata itu” komentar anak saya yang besar melanjutkan. Mereka tertawa terbahak-bahak. Suami saya hanya tersenyum. Saya mematut-matut diri saya di depan cermin. Memang jelek banget ya? Perasaan, nggak jelek-jelek banget deh…

Hari Jumat saya ke kantor, belum menggunakan kacamata baru itu. Demikian juga hari Senin. Saya masih memakai kacamata yang lama. Suami saya heran, lalu bertanya “Kok kacamata barunya belum dipakai?” tanyanya.  Karena tidak enak pada suami, besoknya hari Selasa, saya pakai kacamata baru itu.  Sesampai di kantor seorang teman berkata “ Wah.. kacamatanya baru ya Bu? ”  Saya mengangguk. “Kacamatanya bagus, tapi kayanya kurang pas ya Bu dengan bentuk wajah ibu? Kelihatannya jadi aneh” katanya lagi. “Oooh gitu ya? Mungkin karena biasa melihat saya dengan kacamata yang sebelumnya ” kata saya menghibur diri.

Berikutnya teman yang lain berkata ” Bu Dani! Kacamatanya baru ya Bu? Kok jelek banget sih Bu?”  hah? jadi serius nih jelek banget? Teman saya mengangguk dan bilang ia lebih suka melihat saya memakai kacamata saya yang lama.Waduuuuh..

Teman berikutnya yang melihat saya lagi” Bu Dani, itu kacamatanya kelihatan tebal dan jadul lho, Bu!” hah? Jadul? Bukannya kata SPG-nya ini justru trend yang terakhir ya?  Semakin lama semakin banyak lagi komentar yang tidak positive.  Hingga makan siang, akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang berkata positive tentang kecocokan kacamata itu dengan wajah saya.  Yang paling positive yang saya terima  hanya seperti ini  “Nggak terlalu jelek kok Bu.. ” mungkin maksudnya menghibur saya saja.  Atau ada juga  yang nyaris positive “ Ya Bu, sesuai kok Bu. Sesuai … dengan umur ibu..ha ha”.

Selain tidak sesuai dengan wajah saya, belakangan saya baru mengetahui bahwa kacamata itu terlalu lebar menutup wajah saya.  Sehingga saat berjalan di bawah panas matahari, meninggalkan keringat di bawahnya. Mata saya pun jadi lembab dan kacamatanya berembun.  Selain itu gagangnya juga tidak terlalu pas. Agak kegedean – tapi yang ini mungkin masih bisa saya betulkan.  “Memangnya ibu nggak coba dulu ya sebelum membeli?” tanyanya teman saya keheranan. “Sudah sih!...” kata saya, akhirnya menceritakan bagaimana asal muasalnya mengapa kacamata trendy itu bisa saya beli. Teman-teman saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu. “Korban Trend!” katanya. Sayapun ikut tertawa pahit.

Berikutnya, ketika saya berada di bandara akan berangkat ke Surabaya, suami saya meninggalkan pesan di bb saya “Eh, kacamatanya ketinggalan yah?” tanyanya. Saya menciutmembacanya.Mengapa ya saya khawatir suami saya mengungkit-ungkit soal kacamata itu? Bingung mau jawab apa. Mau bilang lupa, tapi sebenarnya kan  bukan lupa. Saya sengaja meninggalkannya. Tapi kalau bilang terus terang, gimana ya nanti reaksi suami saya. Akhirnya saya jawab “ Ha ha..kacamatanya ternyata…“. Suami saya membalas lagi. “Tapi yang lama  bawa kan?” tanyanya khawatir.  Lalu ia menyusulkan icon senyum buat saya. Mungkin ia sudah bisa membaca gelagat saya,  kalau saya punya masalah dengan kacamata itu.

Sepulangnya dari Surabaya, ketika suami saya menyinggung kembali soal betapa pelupanya saya akan kacamata itu, saya pun tidak tahan lagi untuk mengaku kepada suami saya tentang cerita yang sebenarnya soal kacamata itu.  Tentang komentar teman-teman saya  dan tentang mata saya yang lembab dan berembun karena keringat.

Ia tertawa terbahak-bahak…

Pesan moralnya:  Pilihlah sesuatu yang cocok untuk diri kita, bukan yang sedang ngetrend .

16 responses »

  1. aku juga pernah lho mbak lebih ngikut saran spg, pilih baju..
    sampai di rumah dikomplen sama anak2 dan bapaknya…, jadi deh nggak pernah dipake, dikasih ke orang jadinya

  2. hihihi iya benerr mbak, cari kacamata itu kayak cari soulmate ya, harus pas dan cocok banget. soalnya kan itu bakal dipakai dalam waktu yang cukup lama. kl aku biasanya jarang dapet kacamata yg sesuai trend karena biasanya nggak cocok sama muka hikss. apalagi kacamata sekarang yg frame nya kecil2 ga cocok sama wajah besar ku.. hihiihihi *eh kok ya malah curcol*

  3. Mbak mengambilkan sebuah kacamata dengan frame yang terlihat lebih lebar dan tebal dari yang saya pakai sekarang.

    >> itu kan model kacamata yg aku pilih mbak. semata karena jatuhnya di pipi sih, hihihi. ngandelin idungku yg kecil, kacamata sering melorot.

  4. Hihi.. ikut berduka dgn uang yg udah dikeluarkan, mbak…
    Btw, coba dong sesekali pasang fotomu disini, dgn kacamata baru itu, dan mari kita liat, se-tidak pantas apa kacamata baru itu di wajah mbak Dani…🙂

  5. Sales girl atau apalah memang pandai merayu calon konsumen agar luluh hatinya dan mau membeli barang dagagannya. Mereka dibekali ilmu melunakkan hati calon pembeli agar saat itu juga mau membeli. Self hipnosis modalnya yang lalu dialirkan ke konsumen dengan kata-kata. Salam….

  6. wah mbak, untung aku ini suka classic fashion, dan selalu memilih out of trend. Kadang yang saya pilih malah akan jadi trend beberapa waktu sesudahnya, padahal wkt aku beli itu murah….
    Memang kita harus mencocokkan dgn diri sendiri bukan dgn trend ya

  7. Skrg mata ku minus jd mau ndk mau harus pake kacamata dan kacamata pertamaku bentuknya sprt yg dipilih njenengan mbak. Hehe…..mmng keliatan bunder tp aku orgnya cuek abiz. Aku milih itu bukan krn lg trend tp krn aku jatuh hati sama bentuknya yg unik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s