Daily Archives: October 15, 2013

Alu, Si Biawak Sungai.

Standard

BiawakSalah satu binatang yang selalu menjadi cerita banyak orang di perumahan saya adalah biawak. Ya!. Biawak yang hidup di sungai di belakang rumah saya.  Katanya banyak jumlahnya dan sangat sering melakukan ‘penampakan’. Rasanya hampir setiap satpam pernah bercerita kepada saya tentang binatang kadal itu. Namun anehnya sudah hampir 14 tahun saya tinggal di sini, tak seekorpun biawak pernah saya jumpai.  Namun cerita-cerita tentang biawak sungai itu tetap saja bergulir dan membuat saya penasaran.

Beberapa kali saya mencoba menelusuri sungai dan berharap bisa bertemu dengan mahluk itu,namun tetap tidak berhasil. Hingga sekitar dua minggu yang lalu  ketika saya sedang memotret burung  – tanpa sengaja saya melihat sesuatu bergerak di rerumputan di tepi sungai. Saya menahan nafas agar tidak mengganggu.

biawakSebuah benda gelap tampak bergerak dan menyembul dari rerumputan yang tinggi, merayap di dinding sungai. Wow! besar juga. Saya taksir panjangnya sekitar 2 meter dari moncong hingga ke ekornya.  Bentuknya seperti kadal kebun raksasa. Warnanya hitam kecoklatan dengan totol-totol warna keam kehijauan yang membentuk corak garis-garis melintang di tubuhnya hingga ke bagian ekor.  berkaki empat tentu saja, dengan jari-jari kaki yang lancip.  Sepintas lalu mirip buaya. Ia kemudian menyelinap di balik pohon kersen. Saya tak mampu melihatnya lagi.

Itulah Biawak Sungai (Varanus salvator)  yang saya cari-cari selama ini. Di Bali orang menyebutnya dengan nama  Alu.

Pertemuan yang hanya beberapa detik itu cukup memberi saya petunjuk tentang area jelajahnya. Keesokan harinya,  sayapun menunggu biawak itu melintas di tempat yang sama.  Benar saja, tidak lama kemudian seekor biawak keluar dari rerumputan itu dan memanjat dinding kali. Ukurannya sedikit lebih kecil dari yang kemarinnya.  Ia bergerak ke atas terus dan berbelok di pertengahan dinding. Nah sekarang saya melihat ada sebuah lubang di dinding itu. Rupanya ke lubang itulah sang biawak masuk. Jadi itu rumahnya. saya menunggu hingga biawak itu benar-benar  masuk ke  dalam lubangnya dan ekornya lenyap dari pandangan mata saya.

Biawak 1Setelah itu saya masih melihat 3 x  lagi ada biawak di sekitar itu. Dan saya juga menemukan sebuah lubang rumah biawak yang lebih kecil lagi dari sebelumnya.  dan juga melihat  dua ekor biawak yang lebih kecil sedang bersembunyi dibalik sebatang anak pohon kersen.

Biawak sungai memang hidup di tepi-tepi sungai  dan mencari makannya di sana. Makananya adalah ikan, kodok, cacing, burung ataupun tikus yang banyak juga berkeliaran di pinggir kali.

Walaupun secara umum, para satpam di perumahan saya mengatakan bahwa populasi biawak ini masih tinggi di sekitar sungai, namun entah kenapa saya merasa  keberadaannya semakin lama semakin menyusut.  Habitatnya  terganggu oleh perkembangan industri perumahan. Saya dengar banyak juga yang berusaha untuk menangkap, entah untuk diambil dagingnya buat disate, atau buat dijual dan dijadikan mainan.

Sambil menulis ini, saya memikirkan apakah generasi setelah anak saya akan masih sempat melihat mahluk ini hidup-hidup sebelum terdesak habis oleh peradaban manusia..

Ladang-Ladang Garam.

Standard

Sarang BurungMelintas di Gresik dari arah Surabaya!.  Saya memandang keluar dari jendela kendaraan yang saya tumpangi.  Udara di luar terasa sangat puuanas memanggang. Rasanya kok temperature udara melebihi 40º ya, walaupun informasi yang saya terima mengatakan bahwa Surabaya dan sekitarnya hanya mencapai suhu 33° C siang itu. Waduuh… berjalan di bawah teriknya matahari selama sejam kelihatannya dijamin gosong , kalau begini.  Di kiri kanan jalan, pohon-pohon tampak kering  kerontang. Daunnya berguguran, hingga tinggal cabang-cabang dan rantingnya saja. Menampakkan sarang-sarang burung  telanjang tanpa tertutup sehelai daunpun. Kalaupun masih ada sehelai dua helai daun yang tersisa, tetap tak mampu memberi perlindungan yang memadai bagi sarang-sarang itu. Aduuh kasihannya para burung itu. Harus kemana mereka berlindung lagi?.

Kemarau kali ini benar-benar sangat ganas di sini. Tanah terlihat kering dan berdebu.  Rumput-rumput di pinggir jalan terlihat coklat dan mati.  Padahal Oktober sudah tiba. Namun hujan belum turun jua. Agak berbeda dengan  Medan dan Jakarta,  dimana hujan sudah mulai turun beberapa kali, walaupun tidak dengan intensitas yang tinggi.

KemarauJaman dulu, kita diajarkan oleh guru kita bahwa bulan-bulan yang berakhiran dengan “er” – seperti September, Oktober, November – Desember – adalah bulan-bulan musim penghujan. Namun di tempat ini, pemahaman itu tidak berlaku. Musim kelihatannya sudah tidak berjalan seiring lagi dengan pemahaman manusia.

Beberapa ekor burung bangau tampak kepanasan berteduh di batang pohon yang sama.  Barangkali panas telah melelehkan aspal jalanan. Kapankah kemarau ini akan berakhir? Rasanya tidak ada yang menyukainya jika datang terlalu lama.

lalu saya melihat seekor burung berwarna hitam bertengger di atas kawat.  Terdiam memandang jauh ke depan. Entah apa yang ada di dalam pikiran burung itu. Tidakkah ia merasa kepanasan? Kehausan? Atau Kelaparan?.

Saya menghela nafas. Siapakah yang menyukai kemarau seperti ini? Rasanya tak seekor mahluk hidup-pun.

Ladang garam 1Berpikir demikian di dalam kepala saya, ladang-ladang alias tambak garam tampak  muncul di sebelah jalan tol.  Ladang -ladang yang luas, dilengkapi dengan baling-baling yang menurut Pak Supir yang mengantarkan saya, dibawahnya adalah sumur. Dimana air asin bersumber dan diangkat ke permukaan.   Beberapa  tumpukan garam tampak putih kemilau ditengah ladang. Juga di tepi-tepi jalan. Tampak karung-karung berwarna biru berisi garam.  Mungkin siap diangkut ke  gudang-gudang garam, ke tempat pengemasan atau pengolahan berikutnya hingga siap dijual.

Selama ini saya tidak terlalu memperhatikan bahwa Gresik adalah penghasil garam yang penting. Barangkali karena selama ini jika mendengar nama Gresik, ingatan saya hanya  mengarah pada Semen saja. Semen Gresik!.  Itu yang membuat saya lupa bahwa garampun dihasilkan di sini, bahwa otak-otak bandeng, bandeng presto maupun bandeng asap  yang sering saya beli  di Surabaya itupun sebenarnya berasal dari sini juga. Hingga semuanya terpampang di depan mata saya,barulah saya ingat kembali bahwa Gresik menghasilkan garam.

Ladang garamTambak-tambak garam itu seketika menyita perhatian saya. Melihat tumpukan garam yang banyak itu, tentu mudah ditebak jika produksi garam sedang berlimpah. Musim kemarau dan sinar matahari yang sangat terik,membantu para petani garam untuk memproduksi garamnya dengan lebih baik dan lebih cepat.  Sebaliknya jika musim hujan, tentu sulit bagi mereka untuk memproduksi garam dengan baik. Jadi kemarau ini, sangat disukai oleh para petani garam, terlepas dari fakta kemudiannya apakah harga garam sedang bagus atau sedang anjlok.

Saya jadi tertawa di dalam hati akan pikiran saya yang mendua dengan cepatnya.  Baru saja saya menyalahkan kemarau yang menyebabkan penderitaan bagi burung-burung dan rerumputan,  sekarang saya merasakan betapa pentingnya kemarau bagi para petani garam dan tentunya juga bagi manusia.  Bagaimanapun, semua orang membutuhkan garam. Jika kemarau tidak ada, tentu sulit membayangkan garam akan mudah kita dapatkan dengan harga terjangkau.

garam

Teringat akan sebuah kisah menarik yang pernah diceritakan seorang teman kepada saya.

*****

Tersebutlah kisah seorang ibu yang memiliki 2 orang anak laki-laki.  Anaknya yang pertama  berprofesi sebagai Tukang Payung, sedangkan yang kedua berprofesi sebagai Tukang Tembikar. Si Ibu selalu bersedih hati, karena setiap musim hujan, anaknya yang berprofesi sebagai Tukang Tembikar mengeluh padanya bahwa penghasilannya berkurang- karena ia tidak  bisa membuat gerabah untuk dijual. Sebaliknya setiap musim kemarau,anaknya yang berprofesi sebagai Tukang Payung mengeluh penghasilannya berkurang karena tidak banyak orang yang membutuhkan payung untuk berteduh dari sinar matahari. Payung hanya dibutuhkan untuk berteduh dari hujan di musim penghujan.  Demikianlah ia selalu bersedih hati tanpa putus-putusnya sepanjang tahun selama bertahun-tahun.  

Hingga akhirnya seorang sahabatnya menasihati agar ia berkunjung ke rumah anaknya Si Tukang Tembikar pada musim kemarau. Ia melihat anaknya yang sangat bahagia dan senang karena sangat sukses membuat dan menjual gerabahnya dalam jumlah banyak di musim itu. Maka iapun merasa sangat bahagia. Musim berikutnya saat hujan tiba, ia berkunjung ke rumah anaknya yang Tukang Payung. Di sana iapun melihat kebahagiaan dan kesenangan anaknya karena sukses membuat dan menjual payung yang sangat banyak musim itu. Ibu itupun merasa sangat bahagia. Demikian seterusnya, ia selalu berbahagia tanpa putus-putusnya sepanjang tahun selama bertahun-tahun berikutnya. 

*****

Demikianlah musim. Akan selalu datang silih berganti. Setiap musim datang dengan kelebihan dan kekurangannya, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Demikian juga kemarau dan musim penghujan.  Akan selalu membawa kebahagiaan dan penderitaan tergantung sudut pandang kita dan  bagaimana kita menyikapinya.

Mari tersenyum manis pada musim yang ada…