Ladang-Ladang Garam.

Standard

Sarang BurungMelintas di Gresik dari arah Surabaya!.  Saya memandang keluar dari jendela kendaraan yang saya tumpangi.  Udara di luar terasa sangat puuanas memanggang. Rasanya kok temperature udara melebihi 40º ya, walaupun informasi yang saya terima mengatakan bahwa Surabaya dan sekitarnya hanya mencapai suhu 33° C siang itu. Waduuh… berjalan di bawah teriknya matahari selama sejam kelihatannya dijamin gosong , kalau begini.  Di kiri kanan jalan, pohon-pohon tampak kering  kerontang. Daunnya berguguran, hingga tinggal cabang-cabang dan rantingnya saja. Menampakkan sarang-sarang burung  telanjang tanpa tertutup sehelai daunpun. Kalaupun masih ada sehelai dua helai daun yang tersisa, tetap tak mampu memberi perlindungan yang memadai bagi sarang-sarang itu. Aduuh kasihannya para burung itu. Harus kemana mereka berlindung lagi?.

Kemarau kali ini benar-benar sangat ganas di sini. Tanah terlihat kering dan berdebu.  Rumput-rumput di pinggir jalan terlihat coklat dan mati.  Padahal Oktober sudah tiba. Namun hujan belum turun jua. Agak berbeda dengan  Medan dan Jakarta,  dimana hujan sudah mulai turun beberapa kali, walaupun tidak dengan intensitas yang tinggi.

KemarauJaman dulu, kita diajarkan oleh guru kita bahwa bulan-bulan yang berakhiran dengan “er” – seperti September, Oktober, November – Desember – adalah bulan-bulan musim penghujan. Namun di tempat ini, pemahaman itu tidak berlaku. Musim kelihatannya sudah tidak berjalan seiring lagi dengan pemahaman manusia.

Beberapa ekor burung bangau tampak kepanasan berteduh di batang pohon yang sama.  Barangkali panas telah melelehkan aspal jalanan. Kapankah kemarau ini akan berakhir? Rasanya tidak ada yang menyukainya jika datang terlalu lama.

lalu saya melihat seekor burung berwarna hitam bertengger di atas kawat.  Terdiam memandang jauh ke depan. Entah apa yang ada di dalam pikiran burung itu. Tidakkah ia merasa kepanasan? Kehausan? Atau Kelaparan?.

Saya menghela nafas. Siapakah yang menyukai kemarau seperti ini? Rasanya tak seekor mahluk hidup-pun.

Ladang garam 1Berpikir demikian di dalam kepala saya, ladang-ladang alias tambak garam tampak  muncul di sebelah jalan tol.  Ladang -ladang yang luas, dilengkapi dengan baling-baling yang menurut Pak Supir yang mengantarkan saya, dibawahnya adalah sumur. Dimana air asin bersumber dan diangkat ke permukaan.   Beberapa  tumpukan garam tampak putih kemilau ditengah ladang. Juga di tepi-tepi jalan. Tampak karung-karung berwarna biru berisi garam.  Mungkin siap diangkut ke  gudang-gudang garam, ke tempat pengemasan atau pengolahan berikutnya hingga siap dijual.

Selama ini saya tidak terlalu memperhatikan bahwa Gresik adalah penghasil garam yang penting. Barangkali karena selama ini jika mendengar nama Gresik, ingatan saya hanya  mengarah pada Semen saja. Semen Gresik!.  Itu yang membuat saya lupa bahwa garampun dihasilkan di sini, bahwa otak-otak bandeng, bandeng presto maupun bandeng asap  yang sering saya beli  di Surabaya itupun sebenarnya berasal dari sini juga. Hingga semuanya terpampang di depan mata saya,barulah saya ingat kembali bahwa Gresik menghasilkan garam.

Ladang garamTambak-tambak garam itu seketika menyita perhatian saya. Melihat tumpukan garam yang banyak itu, tentu mudah ditebak jika produksi garam sedang berlimpah. Musim kemarau dan sinar matahari yang sangat terik,membantu para petani garam untuk memproduksi garamnya dengan lebih baik dan lebih cepat.  Sebaliknya jika musim hujan, tentu sulit bagi mereka untuk memproduksi garam dengan baik. Jadi kemarau ini, sangat disukai oleh para petani garam, terlepas dari fakta kemudiannya apakah harga garam sedang bagus atau sedang anjlok.

Saya jadi tertawa di dalam hati akan pikiran saya yang mendua dengan cepatnya.  Baru saja saya menyalahkan kemarau yang menyebabkan penderitaan bagi burung-burung dan rerumputan,  sekarang saya merasakan betapa pentingnya kemarau bagi para petani garam dan tentunya juga bagi manusia.  Bagaimanapun, semua orang membutuhkan garam. Jika kemarau tidak ada, tentu sulit membayangkan garam akan mudah kita dapatkan dengan harga terjangkau.

garam

Teringat akan sebuah kisah menarik yang pernah diceritakan seorang teman kepada saya.

*****

Tersebutlah kisah seorang ibu yang memiliki 2 orang anak laki-laki.  Anaknya yang pertama  berprofesi sebagai Tukang Payung, sedangkan yang kedua berprofesi sebagai Tukang Tembikar. Si Ibu selalu bersedih hati, karena setiap musim hujan, anaknya yang berprofesi sebagai Tukang Tembikar mengeluh padanya bahwa penghasilannya berkurang- karena ia tidak  bisa membuat gerabah untuk dijual. Sebaliknya setiap musim kemarau,anaknya yang berprofesi sebagai Tukang Payung mengeluh penghasilannya berkurang karena tidak banyak orang yang membutuhkan payung untuk berteduh dari sinar matahari. Payung hanya dibutuhkan untuk berteduh dari hujan di musim penghujan.  Demikianlah ia selalu bersedih hati tanpa putus-putusnya sepanjang tahun selama bertahun-tahun.  

Hingga akhirnya seorang sahabatnya menasihati agar ia berkunjung ke rumah anaknya Si Tukang Tembikar pada musim kemarau. Ia melihat anaknya yang sangat bahagia dan senang karena sangat sukses membuat dan menjual gerabahnya dalam jumlah banyak di musim itu. Maka iapun merasa sangat bahagia. Musim berikutnya saat hujan tiba, ia berkunjung ke rumah anaknya yang Tukang Payung. Di sana iapun melihat kebahagiaan dan kesenangan anaknya karena sukses membuat dan menjual payung yang sangat banyak musim itu. Ibu itupun merasa sangat bahagia. Demikian seterusnya, ia selalu berbahagia tanpa putus-putusnya sepanjang tahun selama bertahun-tahun berikutnya. 

*****

Demikianlah musim. Akan selalu datang silih berganti. Setiap musim datang dengan kelebihan dan kekurangannya, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Demikian juga kemarau dan musim penghujan.  Akan selalu membawa kebahagiaan dan penderitaan tergantung sudut pandang kita dan  bagaimana kita menyikapinya.

Mari tersenyum manis pada musim yang ada…

21 responses »

  1. Dalam kurun 20 tahun terakhir, sepertinya akhiran er pada 12 bulan yang bermakna ‘gedhenya sumber’ karena musim hujan sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Alam sudah berubah, perilaku manusia juga demikian. Kerusakan ekosistem, dan tatanan kehidupan, menyebabkan kita sudah tidak bisa lagi memprediksi secara alam apa yang terjadi pada alam esok hari.

    Gresik, setiap saya memasuki kota ini sangat terasa sumpek, karena panasnya lingkungan, panas alam dan panasnya pencemaran udara.

  2. Met pagi mbak,
    Iya, saya jadi inget kata orang tua dulu, kalo bulan yg berakhiran ber itu musim hujan ya. Rupanya sekarang sudah tidak berlaku lagi…
    Rupanya Gresik penghasil garam juga. Saya pikir hanya semen saja…
    Salam,

  3. Daku suka bertanya tanya, garam yang dibuat itu sudah melewati skrining kesehatan nggak yah ? maksud daku apakah air laut yang dipakai itu tidak banyak kontaminasi logam logam berbahaya mengingat waste disposal dari pabrik sangat mengkawatirkan.

    • Sayang aku belum pernah masuk ke dalam pabrik garam. Jadi nggak tahu jawabannya..
      Tapi harapanku sih…*menghibur diri sendiri* pembentukan kristal garam Natrium dengan cara evaporasi tambak garam itu kan hanya Na + Cl doang yang berpartisipasi kan ya? Mungkin aja sih barangkali masih ada sedikit kontaminasi mineral lainnya misalnya Ca atau Mg , mudah-mudahan bukan timbal atau mercury ya…

      Selain itu aku denger dari pak sopir yang mengantarku, sumber airnya itu bukan dari laut langsung loh. Tapi ditimba dari sumur-sumur air asin di dalam tanah ( paling nggak, kalaupun terjadi kontaminasi mineral yang berbahaya di laut jawa mungkin levelnya agak lbih rendah- soalnya masih disaring oleh tanah dulu he he).
      Terus konon sebelum dijual ke pasar, garam itu juga di refine lagi dan dikasih yodium..

      • Kalo daku malahan suka cari garam tanpa yodium untuk biking sayur asin dan telor asin. daku lebih senang garam yang warnanya tidak putih bersih, biasanya pake diproses dengan bahan kimia tambahan lagi.

      • Nah…itu berarti garam yang langsung dari tambak garam itu kaya yang digambar aku itu Pak Eddy.Kayanya itu belum diapa-apain deh. Begitu jadi kristal NaCl langsung dikumpulkan dan dimasukkan ke karung..

  4. Saya jadi ingat ladang garam di sebelah timur Sumenep yang terbentang sepanjang pantai hingga pelabuhan Kalianget. Ladang garam begitu putih warnanya saat tertimpa sinar matahari yang menyengat. Namun, jintoro ( baling-baling ) yang digerakkan angin dengan setia terus berputar yang menandakan kesibukan petani garam di daerah itu masih ada.

  5. Selalu ada hikmah disetiap peristiwa.tergantung kita menyikapinya.
    tulisan ibu dani mengajak saya untuk lebih bijak memandang kenyataan.whatever it is we need to be grateful.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s