Daily Archives: October 19, 2013

Floor Art : Halaman Rumah dan Rangoli.

Standard

Rangoli - BaliKetika sedang ceklak ceklik di timeline facebook kakak sepupu, saya melihat foto seorang keponakan saya sedang berdiri di halaman rumah siap mau berolahraga. Kakinya persis menginjak gambar dekorasi halaman. Berikutnya saya melihat foto lain yang diupload kakak saya –  masih di halaman  dan saya melihat lagi gambar  dekorasi itu. Lalu ada gambar kolam yang baru saja dikuras. Kata kakak saya seorang keponakan yang lain sedang deman, takutnya demam berdarah. Jadi ia kuraslah kolam itu.  Kebetulan kakak saya yang satu ini memang hobinya mendandani halaman rumahnya dan berkebun ria. Saya sering mengolok-oloknya sebagai si tukang kebun, walaupun sebenarnya saya suka mengagumi bakatnya yang natural itu.    Binatang peliharaannya juga banyak. Mulai dari anjing,monyet, musang, tupai, burung dan sebagainya, membuatnya menjadi lebih paham  tata cara merawat hewan dibanding adiknya yang dokter hewan ini.  Entah kenapa melihat photo keponakan dan halaman rumah yang didandani kakak saya itu, membuat perasaan kangen tiba-tiba melanda dengan berat ke hati saya. Homesick!.

Teringat masa kecil yang indah di sana. Saya dan kakak, adik dan  sepupu-sepupu saya – bermain-main bersama, tertawa bersama, berkelahi  lalu menangis dan kembali lagi tertawa. Bermain ke sawah, bersepeda di lapangan,  mandi di sungai, mengejar capung dan sebagainya. Ah, sayang sekali sekarang kami tinggal terpencar-pencar. Walaupun dulu sering bertengkar juga, tapi saya selalu tahu betapa saudara-saudara saya sangat menyayangi saya, sebagaimana saya menyayangi mereka. Keluarga! Adalah tempat dimana saya selalu mendapatkan kehangatan dan kasih sayang.  Memikirkan itu mata saya jadi berkaca-kaca. “Huaaaaaahh… kangen! Pengen pulang” kata saya kepada kakak saya itu di photo di timelinenya. Kakak saya hanya tertawa  aha.  Mudah-mudahan ia ingat janjinya akan mengajak saya makan ikan mujair ala tepi danau Batur jika saya pulang.

nanda

Saya melihat lagi ke foto keponakan saya itu. Ia tampak serius dengan kacamatanya.  Saya lalu memperhatikan tanaman hias di dekatnya. Dan kembali lagi terpaku pada gambar dekorasi di kaki keponakan saya itu.  Kenapa ya baru kali ini saya memperhatikan gambar itu dengan detail.  Apa mungkin kakak saya  baru habis merapikan atau barangkali mengecatnya ulang? Atau baru menggantinya dengan cone block hias yang  baru ya? Tapi tidak mungkin lah itu gambar baru – tentu saja saya sudah melihatnya berkali-kali setiap kali saya pulang. Wong warnanya saja sudah kelihatan agak luntur begitu. Apanya yang beda ya? Saya mencoba mencari-cari dan mengingat-ingat. Tapi tidak berhasil menemukan apapun. Ah, barangkali hanya kebetulan saja kaki keponakan saya itu pas berada di atasnya saat dipotret, sehingga mata saya tertarik melihatnya.

Tiba-tiba saya teringat akan gambar-gambar serupa di depan rumah-rumah penduduk di daerah Karnataka, India yang pernah saya ambil tahun yang lalu. Bentuknya sangat beragam,  ada yang berbentuk bunga dengan mahkota delapan, ada yang bergambar bunga lotus, ada yang  berbentuk swastika, empat sudut, mandala dan sebagainya.  Lalu gambarnya juga ada yang kosongan dan sederhana, hanya digambar dengan kapur tulis berwarna putih atau cat putih saja, namun  banyak juga yang padat dan penuh warna-warni dan sulur-sulur. Yang di halaman rumah kakak saya  gambarnya penuh warna. Sekarang saya menyadari  ada banyak persamaan antara seni yang berkembang di India dengan seni di Bali. Setidaknya jika kita memperhatikan design-design dekorasi halaman itu dengan seksama.

Itulah Rangoli.  Dekorasi lantai halaman maupun lantai rumah yang cantik – digunakan utamanya hanya sebagai penghias halaman.  Saya mendapatkan informasi, kalau di India sendiri Rangoli dipasang hanya untuk menyambut hari raya, atau acara tertentu seperti misalnya pernikahan dan sebagainya dan dimaksudkan sebagai area suci untuk menyambut  dewa dewi masuk ke rumah.  Sehingga saya banyak melihat digambarnya di depan pintu halaman. Selain itu rangoli digambar sebagai  tanda keberuntungan dan mencegah kesialan. Terelepas dari fungsinya itu, gambar-gambar itu memang sangat indah.

Sayapun memeriksa file foto-foto saya kembali . Sayang disayang- rupanya saya tidak ada menyimpan gambar rangoli yang berwarna-warni. Padahal banyak melihatnya saat saya di sana. Mungkin saya kelupaan memotret.

Saya lalu menghubungi kakak saya kembali dan meminta ia memotretkan Rangolinya dari arah yang lebih baik, sehingga saya bisa melihatnya dengan baik.  Rangoli-rangoli itu memang terlihat cantik dan menarik jika dipasang di halaman.

Advertisements

Burung Layang Layang.

Standard

Burung Layang-LayangKetika kecil, saya paling senang membaca buku cerita dari perpustakaan sekolah. Maklum, pada saat itu bahan bacaan yang bisa saya jangkau dari sebuah kota kecil di tengah pulau Bali hanya terbatas pada majalah Si Kuncung. Lalu belakangan mulai ada majalah Bobo dan beberapa sisipan bacaan anak-anak dari majalah wanita langganan ibu saya atau dari harian Sinar Harapan langganan bapak saya.  Itu yang membuat saya sangat menyukai perpustakaan sekolah saya. Karena di sana saya bisa mendapatkan akses ke buku-buku bacaan yang dibaca anak-anak lain pada jaman saya itu  di kota-kota lain di Indonesia maupun di belahan lain dunia.  Termasuk di dalamnya adalah kisah-kisah yang dituliskan oleh Hans Christian Andersen.

Salah satu yang sangat saya ingat adalah kisah tentang Thumbelina, si putri mini  berukuran sejempol tangan  yang dibawa kabur oleh kodok dan akhirnya diselamatkan oleh si tikus ladang. Namun sayangnya oleh Si tikus, Thumbelina  dijodohkan dengan seekor Tikus Celurut yang tinggal di lubang bawah tanah. Thumbelina sangat sedih, namun akhirnya berhasil kabur dari sana dengan bantuan burung layang-layang yang sebelumnya ditolong Thumbelina saat burung itu jatuh sakit. Akhirnya seperti di semua cerita HC Andersen, kisah itu bearkhir bahagia. Dimana burung layang-layang itu mengantarkan Thumbelina terbang jauh hingga akhirnya ia bertemu dan menikah dengan Pangeran Peri dan mengajaknya terbang dari bunga ke bunga.

Burung Layang-Layang Batu 7

Saya sangat terkesan akan burung layang-Layang dalam kisah itu. Dan saya selalu teringat akan gambarnya. Menurut saya, burung itu sangat artistik bentuknya. Sehingga sejak kecil setiap kali saya mendongak ke langit, saya selalu mencari-cari burung layang-layang yang bentuknya seperti dalam gambar di buku itu. Selalu berharap bisa menjumpainya.

Sebenarnya saya sering melihat burung itu beterbangan, namun susah sekali memotretnya.  Belakangan ini saya berhasil menemukan sebuah lokasi dimana burung ini sering beristirahat melepaskan lelah dan bertengger dengan santai. Yakni di sebuah pohon mati tidak jauh dari rumah saya. Ke sanalah saya selalu pergi, jika lagi ingin bersantai mengamati tingkah laku burung itu.  kadang-kadang burung ini juga saya lihat menclok di antena rumah tetangga di dekat pohon mati itu.

Burung Layang-Layang , atau kadang orang juga menyebutnya dengan Layang-Layang Batu atau umumnya dikenal dengan nama Pacific Swallow (Hirundo tahitica),  adalah burung yang umum kita lihat terbang melayang-layang di atas permukaan air sungai atau taman-taman perumahan.  berkejaran dengan teman-temannya menangkapi serangga yang terbang atas muncul di permukaan air.  Jika kita bermain ke taman Bintaro Jaya di sektor VII, dengan mudah kita bisa melihatnya melayang menyambar-nyambar di permukaan air. Di Bali,burung ini disebut dengan nama Kedis Sesapi. Kadang-kadang orang bingung membedakannya dengan walet, karena bentuknya serupa.

Burung berukuran kecil ini (paling sekitar 13-14 cm) memiliki kepala punggung dan sayap luar berwarna biru tua kehitaman, dengan  dahi, pipi dan kerongokan berwarna jingga, sementara dada dan perut serta sayap bagian dalam berwarna putih kotor. Sayapnya sangat panjang,dan bahkan lebih panjang dari ekornya, sehingga tampak sangat indah.

Saya beridiri di atas jembatan di atas sungai di taman Bintaro Jaya. Memandang  burung layang-layang ini terbang melayang-layang dengan riangnya di atas sungai, sementara angin mendesau lewat daun-daun pohon pinus di tepi sungai.  Teringat akan sebuah lagu kanak-kanak  ciptaan Pak A.T.Mahmud yang bercerita tentang Burung Layang-Layang ini:

Tampak jelas di langit biru jernih, sekawan burung layang-layang.

Dengan akrab terbang beriring- iring, dengan bebas melayang-layang.

Sungguh senang mereka terbang, turun naik berkeliling.

Berkejaran tak hentinya, damai tentram bercengkrama.“.

Kedamaian selalu datang ketika kita menikmati dan mensyukuri attraksi alam yang melintas di depan kita…