Burung Layang Layang.

Standard

Burung Layang-LayangKetika kecil, saya paling senang membaca buku cerita dari perpustakaan sekolah. Maklum, pada saat itu bahan bacaan yang bisa saya jangkau dari sebuah kota kecil di tengah pulau Bali hanya terbatas pada majalah Si Kuncung. Lalu belakangan mulai ada majalah Bobo dan beberapa sisipan bacaan anak-anak dari majalah wanita langganan ibu saya atau dari harian Sinar Harapan langganan bapak saya.  Itu yang membuat saya sangat menyukai perpustakaan sekolah saya. Karena di sana saya bisa mendapatkan akses ke buku-buku bacaan yang dibaca anak-anak lain pada jaman saya itu  di kota-kota lain di Indonesia maupun di belahan lain dunia.  Termasuk di dalamnya adalah kisah-kisah yang dituliskan oleh Hans Christian Andersen.

Salah satu yang sangat saya ingat adalah kisah tentang Thumbelina, si putri mini  berukuran sejempol tangan  yang dibawa kabur oleh kodok dan akhirnya diselamatkan oleh si tikus ladang. Namun sayangnya oleh Si tikus, Thumbelina  dijodohkan dengan seekor Tikus Celurut yang tinggal di lubang bawah tanah. Thumbelina sangat sedih, namun akhirnya berhasil kabur dari sana dengan bantuan burung layang-layang yang sebelumnya ditolong Thumbelina saat burung itu jatuh sakit. Akhirnya seperti di semua cerita HC Andersen, kisah itu bearkhir bahagia. Dimana burung layang-layang itu mengantarkan Thumbelina terbang jauh hingga akhirnya ia bertemu dan menikah dengan Pangeran Peri dan mengajaknya terbang dari bunga ke bunga.

Burung Layang-Layang Batu 7

Saya sangat terkesan akan burung layang-Layang dalam kisah itu. Dan saya selalu teringat akan gambarnya. Menurut saya, burung itu sangat artistik bentuknya. Sehingga sejak kecil setiap kali saya mendongak ke langit, saya selalu mencari-cari burung layang-layang yang bentuknya seperti dalam gambar di buku itu. Selalu berharap bisa menjumpainya.

Sebenarnya saya sering melihat burung itu beterbangan, namun susah sekali memotretnya.  Belakangan ini saya berhasil menemukan sebuah lokasi dimana burung ini sering beristirahat melepaskan lelah dan bertengger dengan santai. Yakni di sebuah pohon mati tidak jauh dari rumah saya. Ke sanalah saya selalu pergi, jika lagi ingin bersantai mengamati tingkah laku burung itu.  kadang-kadang burung ini juga saya lihat menclok di antena rumah tetangga di dekat pohon mati itu.

Burung Layang-Layang , atau kadang orang juga menyebutnya dengan Layang-Layang Batu atau umumnya dikenal dengan nama Pacific Swallow (Hirundo tahitica),  adalah burung yang umum kita lihat terbang melayang-layang di atas permukaan air sungai atau taman-taman perumahan.  berkejaran dengan teman-temannya menangkapi serangga yang terbang atas muncul di permukaan air.  Jika kita bermain ke taman Bintaro Jaya di sektor VII, dengan mudah kita bisa melihatnya melayang menyambar-nyambar di permukaan air. Di Bali,burung ini disebut dengan nama Kedis Sesapi. Kadang-kadang orang bingung membedakannya dengan walet, karena bentuknya serupa.

Burung berukuran kecil ini (paling sekitar 13-14 cm) memiliki kepala punggung dan sayap luar berwarna biru tua kehitaman, dengan  dahi, pipi dan kerongokan berwarna jingga, sementara dada dan perut serta sayap bagian dalam berwarna putih kotor. Sayapnya sangat panjang,dan bahkan lebih panjang dari ekornya, sehingga tampak sangat indah.

Saya beridiri di atas jembatan di atas sungai di taman Bintaro Jaya. Memandang  burung layang-layang ini terbang melayang-layang dengan riangnya di atas sungai, sementara angin mendesau lewat daun-daun pohon pinus di tepi sungai.  Teringat akan sebuah lagu kanak-kanak  ciptaan Pak A.T.Mahmud yang bercerita tentang Burung Layang-Layang ini:

Tampak jelas di langit biru jernih, sekawan burung layang-layang.

Dengan akrab terbang beriring- iring, dengan bebas melayang-layang.

Sungguh senang mereka terbang, turun naik berkeliling.

Berkejaran tak hentinya, damai tentram bercengkrama.“.

Kedamaian selalu datang ketika kita menikmati dan mensyukuri attraksi alam yang melintas di depan kita…

 

8 responses »

  1. Miirip nih mbak, waktu kecil juga saya tergantung sama perpustakaan sekolah untuk baca-membaca. Si Kuncung kurang begitu kenal, walau pernah juga baca. Saya lebih kenal dg Bobo. Kalo HC Andersen saya baca lewat komik. Biasa nyewa di tukang penyewaan komik. Waktu SMP saya beralih ke baca HAI. Kadang beli dari mengumpulkan uang jajan. Lebih sering sih pinjam ke teman yg lebih mampu beli.

    Salam,

  2. Kebetulan pada hari sabtu dan minggu kemarin (19 s/d 20 Okt 2013) saya menghadiri pesta pernikahan yunior saya di wonogiri.
    Saya nginap di pinggiran waduk gajah mungkur. Nah ternyata di bangunan induk penginapan ini adalah tempat bersarangnya burung layang-layang. Menurut salah seorang petugas, sarang burung ini dapat dipanen setiap dua bulan.
    Kebayang, betapa besarnya anugerah Sang Pencipta, kepada pemilik penginapan ini.a

  3. Saya sudah curiga, burung layang-layang ada kaitannya dengan “Thumbelina” aatau saya menyebutnya si putri jempol kah? ternyata benar.

    Mbaaak… saya juga penggemar kuncung, bobo, kartini, sinar harapan, HC Andersen yang selalu happy ending ama lagu-lagu AT. Makhmud.

    Berasa dapat ide buat para ponakan. Makasih Mbak, diingatkan

  4. Pingback: Ethos Kerja Si Burung Layang-Layang. | nimadesriandani

  5. Pingback: Danau Batur: Burung Layang-Layang Asia. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s