Floor Art : Halaman Rumah dan Rangoli.

Standard

Rangoli - BaliKetika sedang ceklak ceklik di timeline facebook kakak sepupu, saya melihat foto seorang keponakan saya sedang berdiri di halaman rumah siap mau berolahraga. Kakinya persis menginjak gambar dekorasi halaman. Berikutnya saya melihat foto lain yang diupload kakak saya –  masih di halaman  dan saya melihat lagi gambar  dekorasi itu. Lalu ada gambar kolam yang baru saja dikuras. Kata kakak saya seorang keponakan yang lain sedang deman, takutnya demam berdarah. Jadi ia kuraslah kolam itu.  Kebetulan kakak saya yang satu ini memang hobinya mendandani halaman rumahnya dan berkebun ria. Saya sering mengolok-oloknya sebagai si tukang kebun, walaupun sebenarnya saya suka mengagumi bakatnya yang natural itu.    Binatang peliharaannya juga banyak. Mulai dari anjing,monyet, musang, tupai, burung dan sebagainya, membuatnya menjadi lebih paham  tata cara merawat hewan dibanding adiknya yang dokter hewan ini.  Entah kenapa melihat photo keponakan dan halaman rumah yang didandani kakak saya itu, membuat perasaan kangen tiba-tiba melanda dengan berat ke hati saya. Homesick!.

Teringat masa kecil yang indah di sana. Saya dan kakak, adik dan  sepupu-sepupu saya – bermain-main bersama, tertawa bersama, berkelahi  lalu menangis dan kembali lagi tertawa. Bermain ke sawah, bersepeda di lapangan,  mandi di sungai, mengejar capung dan sebagainya. Ah, sayang sekali sekarang kami tinggal terpencar-pencar. Walaupun dulu sering bertengkar juga, tapi saya selalu tahu betapa saudara-saudara saya sangat menyayangi saya, sebagaimana saya menyayangi mereka. Keluarga! Adalah tempat dimana saya selalu mendapatkan kehangatan dan kasih sayang.  Memikirkan itu mata saya jadi berkaca-kaca. “Huaaaaaahh… kangen! Pengen pulang” kata saya kepada kakak saya itu di photo di timelinenya. Kakak saya hanya tertawa  aha.  Mudah-mudahan ia ingat janjinya akan mengajak saya makan ikan mujair ala tepi danau Batur jika saya pulang.

nanda

Saya melihat lagi ke foto keponakan saya itu. Ia tampak serius dengan kacamatanya.  Saya lalu memperhatikan tanaman hias di dekatnya. Dan kembali lagi terpaku pada gambar dekorasi di kaki keponakan saya itu.  Kenapa ya baru kali ini saya memperhatikan gambar itu dengan detail.  Apa mungkin kakak saya  baru habis merapikan atau barangkali mengecatnya ulang? Atau baru menggantinya dengan cone block hias yang  baru ya? Tapi tidak mungkin lah itu gambar baru – tentu saja saya sudah melihatnya berkali-kali setiap kali saya pulang. Wong warnanya saja sudah kelihatan agak luntur begitu. Apanya yang beda ya? Saya mencoba mencari-cari dan mengingat-ingat. Tapi tidak berhasil menemukan apapun. Ah, barangkali hanya kebetulan saja kaki keponakan saya itu pas berada di atasnya saat dipotret, sehingga mata saya tertarik melihatnya.

Tiba-tiba saya teringat akan gambar-gambar serupa di depan rumah-rumah penduduk di daerah Karnataka, India yang pernah saya ambil tahun yang lalu. Bentuknya sangat beragam,  ada yang berbentuk bunga dengan mahkota delapan, ada yang bergambar bunga lotus, ada yang  berbentuk swastika, empat sudut, mandala dan sebagainya.  Lalu gambarnya juga ada yang kosongan dan sederhana, hanya digambar dengan kapur tulis berwarna putih atau cat putih saja, namun  banyak juga yang padat dan penuh warna-warni dan sulur-sulur. Yang di halaman rumah kakak saya  gambarnya penuh warna. Sekarang saya menyadari  ada banyak persamaan antara seni yang berkembang di India dengan seni di Bali. Setidaknya jika kita memperhatikan design-design dekorasi halaman itu dengan seksama.

Itulah Rangoli.  Dekorasi lantai halaman maupun lantai rumah yang cantik – digunakan utamanya hanya sebagai penghias halaman.  Saya mendapatkan informasi, kalau di India sendiri Rangoli dipasang hanya untuk menyambut hari raya, atau acara tertentu seperti misalnya pernikahan dan sebagainya dan dimaksudkan sebagai area suci untuk menyambut  dewa dewi masuk ke rumah.  Sehingga saya banyak melihat digambarnya di depan pintu halaman. Selain itu rangoli digambar sebagai  tanda keberuntungan dan mencegah kesialan. Terelepas dari fungsinya itu, gambar-gambar itu memang sangat indah.

Sayapun memeriksa file foto-foto saya kembali . Sayang disayang- rupanya saya tidak ada menyimpan gambar rangoli yang berwarna-warni. Padahal banyak melihatnya saat saya di sana. Mungkin saya kelupaan memotret.

Saya lalu menghubungi kakak saya kembali dan meminta ia memotretkan Rangolinya dari arah yang lebih baik, sehingga saya bisa melihatnya dengan baik.  Rangoli-rangoli itu memang terlihat cantik dan menarik jika dipasang di halaman.

12 responses »

  1. Jadi itu namanya Rangoli, hihi.. baru tahuuu…
    Btw, Seni India yang mirip dengan bali (atau sebaliknya?) mungkin karena pengaruh agama hindu yg mayoritas dianut masyarakat keduanya ya, mbak…

  2. ooo namanya Rangoli ya Mb ?
    saya senang dengan bentuk seperti ini, apalagi kalau menggunakan batu yang menonjol.
    bagus untuk peredaran darah di telapak kaki dan kesehatan tubuh pada umumnya🙂

  3. ngegambarin halaman itu emang ada maksudnya ya, kirain cuma dekoratif doang. jadi kepikiran besok si ncit yang lagi keranjingan menggambar di tembok, suruh gambar bunga di halaman aja deh siapa tau ada dewa dewi yang berminat masuk
    *eh tapi halamanku masih tanah ding…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s