Gemerlap Malam di Sunway.

Standard

Sunway Light 9Salah satu tempat menarik di Malaysia yang selalu ingin saya ceritakan, tapi entah kenapa saya selalu lupa adalah Bandar Sunway, yang berlokasi antara Petaling Jaya dan Subang Jaya.  Karena kantor saya tidak jauh letaknya dari sana, maka sayapun cukup sering bermain ke tempat ini, entah hanya sekedar untuk melihat-lihat, jalan-jalan, makan malam  atau menginap di salah satu hotel yang ada di sana.  Tempat ini sebenarnya adalah sebuah kompleks yang terdiri atas Shopping Mall yang disebut Sunway pyramid, taman rekreasi Sunway Lagoon, hotels dan restaurant.  Berjarak tempuh kurang lebih sejam  naik taxi dari bandara International Kuala Lumpur (KLIA).

Mengapa tempat ini menarik? Menurut saya, tempat ini sangat indah. Walaupun secara umum sebenarnya saya kurang menyukai kehidupan kota yang gemerlap lengkap dengan hiruk pikuk soal pershoppingan dan gaya hidup yang memboroskan uang, namun tempat ini terasa agak berbeda dengan kompleks pertokoan-hotel yang pernah saya tahu di tempat lain.

Pada dasarnya adalah karena  tempat ini memang sengaja dibuat indah. Kompleks pertokoannya sengaja mengambil thema Egypt, dengan bentuk bangunannya yang menyerupai Pyramid lengkap dengan patung singa yang bergaya menyerupai Sphynx  sang penjaga pyramid. Pillar bangunannyapun ditatah dengan tulisan hyerogliph – pokoknya ala Mesir banget deh.  Hal menarik lain adalah karena Mall  ini memiliki  lapangan “ice skating’ indoor, sehingga ketika kita lelah berjalan-jalan, atau harus menunggu karena janjian dengan seseorang – maka untuk membunuh kebosanan, kita bisa melongok ke bawah untuk melihat aktifitas di Ice Skating ring. Selain tentunya toko-toko yang menjual barang-barang bermerk, sudah pasti berbagai jenis restaurant juga ada di situ.  Tempat rekreasinya juga sangat menarik. Kolam renang yang besar, perosotan air raksasa dan air terjun raksasa dengan latar belakang hutan buatan yang hijau.Tidak heran  pada hari Sabtu kemarin, kolam renang besar yang ada di sana tiba-tiba menjadi sangat padat  dan penuh dengan orang yang berdatangan mau berenang- hingga lalu lintaspun terganggu.

Suatu malam sepulang urusan kerja, saya janjian dengan teman saya untuk makan malam di sana. Sangat dekat dengan hotel tempat saya menginap. Cukup jalan kaki – semenit juga sampai.  Awalnya agak tidak punya ide untuk makan apa dan di restaurant apa, tapi kemudian kami memilih restaurant Taiwan saja.  Cocok untuk lidah saya yang Indonesia banget dan lidah Hongkongnya. Saya mencoba potato ball yang rupanya adalah ubi rambat kuning (sweet potatoes) yang dibuat bulat-bulat mirip bakso lalu digoreng, lalu saya juga memesan Jamur King Oyster goreng yang enak banget  dan sayuran Kecipir yang dimasak ala Taiwan. Hmm..lebih enak daripada yang biasanya saya masak. Kami mengobrol ke kiri dan ke kanan hingga larut malam.

Sehabis makan saya menemani teman saya melihat-lihat di sebuah toko sepatu wanita namun tak sempat memilih, karena toko itu keburu tutup. Dari sana sayapun keluar, lalu berjalan-jalan sebentar di bawah langit malam. Menikmati dekorasi cahaya yang menghiasi hotel-hotel dan pertokoan. Sungguh indah. Tengah malam, berdiri di halaman Sunway seorang diri – membuat kita serasa sedang berada di negeri dongeng Seribu Satu Malam.

Cahaya yang berpendar dari lampu jalanan yang berbentuk bintang dan bulan sabit, terasa sangat sejuk dan artistik.  Namun entah kenapa, ketika melamun terlalu jauh, saya jadi membayangkan akan keluar seorang penyihir yang terbang berputar-putra di langit malam itu dengan sapunya. Ups! Berharap ia tidak sedang melihat saya yang sedang usil memotret.

Lalu tirai-tirai cahaya yang dihiasi motif-motif bulatan-bulatan yang umum kita temukan pada bulu burung Merak biru yang berasal dari Srilanka ataupun India. Wahai alangkah indah dan cantiknya.  Gemerlap dalam lingkaran kuning, jingga ,hijau dan biru. Lalu ada patung-patung gajah yang temaram disinari cahaya redup, vas-vas bunga yang bercahaya, gading, bunga-bunga cahaya dan pilar-pilar yang bermandikan cahaya.  Semuanya terlihat indah, seolah saya sedang berada di halaman istana Maharaj.  Saya dikelilingi cahaya.! ooh.. Alangkah indahnya hidup ketika dikelilingi cahaya.

Seketika saya teringat, sebentar lagi hari Deepavali, the Festival of Light  yang jatuh pada tanggal 2 atau 3 Nov ini.  Festival ini konon dirayakan sebagai peringatan atas kembalinya Sitha dari Alengka ke pangkuan Rama suaminya di Ayodhya. Konon malam saat mereka pulang, jalanan sangat gelap sehingga para penduduk menyalakan lampu agar mereka bisa pulang dengan selamat.

Happy Deepavali…

13 responses »

  1. Tempat yang menjual culture seperti ini selalu bikin aku jatuh hati, Mbak Dani..Mungkin karena foto2nya keren juga kali ya..Jadi mupeng hehehe..

  2. ooh.. Alangkah indahnya hidup ketika dikelilingi cahaya…..Suksma Jeng, diingatkan untuk membuka hati agar merasakan sapaan cahaya.
    Cakep sekali Jeng Dani, foto2 yang mengabadikan kenangan Sunway. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s