Daily Archives: October 30, 2013

Bahasaku, Bahasa Indonesia Yang Dinamis.

Standard

BenderakuTergelitik oleh tulisan beberapa orang sahabat tentang Bahasa Indonesia dan bagaimana sebaiknya kita melestarikannya, serta mengingat bahwa kemarin tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda – saya juga tertarik untuk ikut bercerita dan sekalian menuangkan pemikiran saya tentang Bahasa kita tercinta itu.

Bahasa Daerah.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu saya sangat mencintai Indonesia, tanah air saya. Termasuk di dalamnya Bahasa Indonesia. Walaupun terus terang, Bahasa Indonesia adalah Bahasa kedua yang saya kuasai setelah bahasa Bali. Itu terjadi karena keluarga saya menggunakan Bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari, sedangkan di sekolah, Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar.

Dalam Bahasa Bali pun saya harus menguasai dua jenis sub bahasa.  Pertama adalah Bahasa Bali selatan yang dikenal sebagai Bahasa Bali biasa adalah bahasa umum yang digunakan oleh keluarga ibu saya. Dan kedua adalah Bahasa Songan,  adalah Bahasa yang umum digunakan oleh keluarga Bapak saya. Mengapa dua bahasa ini saya pisahkan? Karena walaupun serupa, Bahasa Songan hanya dituturkan oleh orang-orang dari desa Songan dan di sekitar tepi danau Batur, yang umumnya dikenal dengan nama Orang Bali Mula (penduduk asli di Bali sebelum jaman Majapahit). Memiliki sekitar 30-40% kosa kata yang sama sekali berbeda dengan Bahasa Bali.  Saya sebutkan beberapa contoh kata dalam Bahasa Songan yang tidak ada dalam bahasa Bali biasa,misalnya : anih = aduh; jitnika=cemburu; pancek=bodoh, panci=bagus; lajana = rupanya, nyerowadi= meniru dialek orang lain; seleh = habis-habisan; memanjang= menangis meraung-raung dengan irama, muun= jorok, kurang menjaga kebersihan, dan lain-lain masih banyak sekali. Saya sering bergurau dengan mengatakan bahwa saya bisa membuat sebuah kamus Bahasa Songan tersendiri saking banyaknya yang berbeda.

Sisanya sekitar 60-70% sama namun diucapkan dengan dialek yang sama sekali berbeda. Dimana  bahasa Bali Selatan umumnya menggunakan akhiran e, sedangkan Bahasa Songan menggunakan akhiran a. Misalnya ketika menterjemahkan  kata ‘di mana? (bahasa Indonesia)”, kita akan mengucapkan kata ‘di je?’ dalam Bahasa Bali selatan (walaupun dalam tulisan kita akan menuliskannya ‘di ja?”, sementara dalam Bahasa Songan kita akan mengucapkannya “jaa?” .   Walaupun serupa, tapi beda bukan? Juga ada beberapa kata yang jika dalam Bahasa Bali selatan diucapkan berakhiran e, akan diucapkan dengan akhiran i dalam Bahasa Songan. Misalnya, ‘ nyen adane? (siapa namanya?), maka jika diucapkan dalam Bahasa Songan akan menjadi ‘nyen adani?’.

Agar dapat berkomunikasi dengan baik dan akrab dengan saudara dan kerabat saya baik dari pihak Bapak maupun Ibu, saya tidak punya pilihan selain harus menguasai kedua sub bahasa Bali itu.

Bapak saya yang lama bersekolah di Jawa (baca: Semarang dan Yogyakarta) dan sangat fasih berbahasa Jawa,  terkadang mengajarkan saya beberapa kosa kata Bahasa Jawa. Sehingga secara umum saya mengerti Bahasa Jawa. Karena 90% kosa katanya ada dalam Bahasa Bali juga. Walaupun jika untuk berbicara, hingga kini saya tetap tidak pede, takut ketukar antara halus dengan kasarnya.

Bahasa Indonesia Yang Keren.

Karena Bahasa daerah sedemikian pentingnya dalam kehidupan masa kecil saya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua yang saya kuasai. Sekolah membuat saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia  dengan baik dan lancar. Karena pada saat saya kecil tidak semua orang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, maka memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik merupakan kebanggaan tersendiri.  Karena rasanya keren dan lebih modern dibandingkan dengan yang lainnya. Saya menggunakan Bahasa Indonesia hanya terbatas dengan teman-teman yang berasal dari luar Pulau Bali, atau hanya selama jam-jam pelajaran di sekolah. Tentu saja Bahasa Indonesia dengan dialek Bali yang sangat kental.  Dengan Bapak dan Ibu di rumah, saya tetap menggunakan Bahasa Bali halus. Sekali-sekali diselingi dengan Bahasa Indonesia. Sementara dengan kakak dan adik-adik saya menggunakan Bahasa Bali biasa (jabag) dengan porsi Bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak.  Semakin saya besar, penggunaan Bahasa Indonesia saya menjadi semakin banyak. Terutama sejak tinggal di Jakarta. Nyaris-nyaris saya hanya berbahasa Indonesia dalam pergaulan masyarakat. Saya mencintai Bahasa Indonesia sama banyaknya seperti saya mencintai Bahasa Bali.

Bahasa Asing.

Berasal dari daerah Kintamani yang cukup banyak dikunjungi tourist asing, mau tidak mau saya terpapar akan berbagai bahasa asing.   Bapak saya yang menguasai  dengan fasih beberapa bahasa asing, selalu mendorong saya untuk  mencoba berbahasa Inggris  dengan para tourist itu – namun terus terang saya tidak begitu bisa. Yang ada di luar kepala saya waktu kecil hanya dua kalimat. “Hellow, ho aryu?”  untuk menanyakan apa kabar turis yang sedang saya sapa (maksudnya ya…” Hallo, how are you?”).  Dan  berikutnya adalah  “Wer duyu kamprong?” (maksudnya “Where do you come from?”)  untuk menanyakan negara asal turis itu. Sisanya hanya “Yes” dan “No” saja.

Hingga masa kuliah saya praktis hanya menggunakan Bahasa Inggris secara pasif saja. Membaca buku text book, mau tidak mau karena buku-buku text book untuk Kedokteran Hewan hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Punya beberapa kawan berkebangsaan asing, namun lagi-lagi saya hanya mampu sedikit-sedikit ngobrol.  Sampai akhirnya saya bekerja di perusahaan asing. Karena tuntutan pekerjaan mau tidak mau saya harus berbahasa Inggris. Rapat dalam Bahasa Inggris, presentasi dalam Bahasa Inggris, ngomong dengan boss dan beberapa teman-teman expatriate ya berbahasa Inggris dan seterusnya.

Bahasa Indonesia yang Dinamis.

Jadi sekarang, sehari-hari  saya praktis menggunakan Bahasa Indonesia, dengan dicampur kosa kata Bahasa Inggris, Bahasa daerah dan bahasa gaul yang saya tahu – tergantung dengan siapa saya berbicara.  Terus terang, bahasa  Indonesia yang saya gunakan tentu jauh dari bahasa Indonesia baku.  Tapi apakah itu artinya saya kurang cinta pada Bahasa Indonesia saya?  Tentu saja tidak! Saya mencintai Indonesia dan akan tetap mencintai Indonesia hingga titik darah saya yang penghabisan.

Bagi saya, berbahasa Indonesia dengan selipan bahasa asing di sana sini, bukan berarti saya bermaksud kebarat-baratan. Atau jika saya menyelipkan beberapa kata bahasa daerah, bukan berarti saya sedang membangun primordialisme. Juga jika saya memasukkan satu dua kata gaul bukan berarti saya menjadi Alay.  Menggunakan bahasa dengan ragam yang tak baku terjadi karena kita menyerap kosa kata-kosa kata baru , baik yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing serta bahasa gaul yang lebih nyaman serta relevan digunakan. Hal yang sangat umum terjadi yang menandakan bahwa bahasa itu hidup. Dan punya kehidupan.

Bahasa, seperti halnya mahluk hidup memiliki kehidupan.  Ia tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan jaman. Ia hidup ketika masyarakatnya membicarakannya, dan mati jika masyarakatnya tidak membicarakannya. Ia tumbuh dan berkembang jika terjadi dinamika di dalam kosa katanya, dan ia menjadi mandek jika tidak ada pergerakan di dalam kosa katanya. Bahasa ibaratnya pohon,  dan daun adalah kosa katanya. Jika pohon itu berkembang, tentu akan selalu ada daun baru yang tumbuh dan tak pelak tentu ada juga daun kuning yang layu dan berguguran. Semuanya silih berganti. Demikian juga  kosa kata pada bahasa yang berkembang.  Akan selalu ada kosa kata baru, dan mungkin juga ada kosa kata lama yang terlupakan dan tak digunakan lagi oleh pembicaranya. Itulah hidup.

Tengoklah  Bahasa Indonesia kita tercinta! Darimanakah ia berasal? Secara resmi dikatakan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Namun bagaimanakah ia berkembang? Tak terkira banyaknya kosa kata bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Sansekerta, bahasa Inggris, Mandarin,Portugis, Tamil, Hindi, bahasa daerah dan sebagainya di dalamnya. Itu menandakan bahwa Bahasa Indonesia berkembang dan sangat dinamis. Nah jika kita pernah terbuka dan berkembang sebelumnya, mengapa kita harus menutup diri kedepannya?  Terbukalah. Biarkanlah kosa kata- kosa kata baru masuk dan memperkaya Bahasa kita sesuai dengan kenyamanan penuturnya. Karena demikianlah ia seharusnya hidup dan dituturkan oleh penuturnya. Bahasa yang dinamis.

Karena ini bulan Oktober, biarlah saya merenungkan Bahasa Indonesia saya.  Saya menengok kembali isi Sumpah Pemuda kita yang dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 itu:

Pertama:Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
 Kedoea:Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
 Ketiga:Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihatlah! Ada pergerakan yang telah terjadi dalam ejaan kita. Itu cukup membuktikan bahwa Bahasa kita memang dinamis. Dan dengan segala kedinamisannya hingga detik ini saya tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia!

I Love You, Indonesia!