Monthly Archives: October 2013

Markisa, Buah Dari Pinggir Kali.

Standard

MarkisaDi pinggir kali,  banyak hal yang menarik hati saya.  Setelah sebelumnya saya menulis tentang Oyong, sayuran dari pinggir kali, berikutnya saya mau bercerita mengenai Markisa, buah yang  tumbuh merambat di belakang rumah saya.

Pohon markisa ini, terus terang saya tidak tahu siapa yang menanamnya. Tapi ia tumbuh di belakang halaman rumah saya. Seperti biasanya, tanaman ini tidak ada yang merawat tapi tumbuh subur. Menjalar di dinding hingga memanjat ke pohon mangga tetangga.

Markisa atau yang disebut juga dengan nama Passion fruit (Passiflora edulis), merupakan tanaman yang banyak kita temukan di darah daerah tertentu,  misalnya di Medan, Sulawesi  atau di Bali. Buahnya  yang matang ada yang kuning, dan ada juga yang ungu. Saya pikir yang tumbuh di belakang rumah adalah jenis yang ungu.  Saat ini belum ada buahnya yang matang dan bisa dimakan, tapi sudah banyak yang bermunculan dan bergelantungan. Bulat-bulat berwarna hijau.  Di Medan & Sulawesi kita tahu kalau buah ini dikebunkan secara komersial untuk dijadikan syrop.  Saya selalu membeli syrop ini tiap kali saya ke Medan. Hm..syrop markisa saya paling suka.

Kalau di Bali, biasanya hanya dijual sebagai buah-buahan biasa saja. Banyak kita temukan di daerah Kintamani. Namun anehnya di Bali kok disebut dengan nama buah Anggur ya?  Anggur besar – karena anggur yang kecilpun disebut dengan anggur juga.  Saya coba mengira-ngira sendiri, darimana  ya asal muasal  nama Anggur ini. Mungkin karena warnanya sama-sama ungu? Tapi di Bali banyak juga yang berwarna kuning.  Jadi tidak ada hubungannya dengan warna. Atau barangkali karena tanaman ini merambat seperti anggur? Entahlah. Saya tidak tahu persis, tapi mungkin saja dari sana asal muasalnya.

Yang menarik dari tanaman ini adalah selain buahnya yang matang  memang sangat menggiurkan, bunganya juga sangat cantik. Bundar seperti cakram yang tersusun dari 10  lembar kelopak bunga berwarna putih , lalu dilapisi dengan mahkota benang-benang  yang panjang berwarna ungu tua bergradasi ke putih ke arah luar. Bentuknya bergelombang dan keriting pada ujungnya, dan jumlahnya banyak menghampar di atas kelopak bunganya.  Lalu putiknya yang berwarna hijau kekuningan, dengan tangkai putik yang agak besar, memiliki tangkai sari dan sari yang terlihat seperti antena alien.  Lucu juga tampangnya.  Saya sangat suka melihatnya.

Buah bulat sebesar telor ayam dan membesar menjadi sebesar telor angsa. Warnanya mulai dari hijau lalu bergerak ke ungu atau ke arah kuning dan jingga. Jika kita belah,di dalamnya terdapat biji-biji yang banyak mirip kecebong di dalam cairannya  yang berwarna kuning. Wanginya sangat menggiurkan. Rasanya sangat manis.

Daunnya berwarna hijau segar lebar-lebar dengan tiga bagian yang membentuk trisula. batangnya merambat.

 

Advertisements

Kualanamu International Airport, Bandara Baru Medan.

Standard

Kualanamu International AirportWow! Akhirnya tiba juga  saya di Kualanamu. Banyak yang bertanya, dimanakah itu Kualanamu?  Sepintas lalau kedengarannya seperti berada di negara seberang. Padahal tempat itu berada di negara kita sendiri. Yakni di Kabupaten Deli Serdang, kurang lebih sekitar 1.5 jam perjalanan dari Medan.

Bagi yang belum tahu, Kualanamu International Airport  adalah bandara baru kota Medan menggantikan bandara lama Polonia yang sudah sangat sesak karena ukurannya yang kekecilan dan letaknya di tengah kota.  Saya ingat beberapa kali datang ke Medan lewat Polonia, selalu mendapatkan bandara itu terlalu kecil untuk menampung jumlah penduduk yang bergerak melalui  pelabuhan itu. Bahkan terkadang hanya untuk mencari tempat istirahat dan duduk saja terasa agak susah. padahal kita semua tahu bahwa Medan adalah kota ketiga terbesar di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Suadah selayaknya memiliki bandara International yang besar.

Sebelumnya saya sudah mendengar bahwa bandara international baru ini dioperasikan sejak Juli yang lalu, namun baru kali ini saya memiliki kesempatan menginjakkan kaki saya di sana.  Tentu saja saya merasa sangat senang.  Karena penasaran ingin tahu seperti apa sih bandara terbesar ke dua  di Indonesia setelah Soekarna-Hatta di Cengkareng itu?

Pukul setengah dua belas malam, pesawat yang saya tumpangi merapat di Kualanamu. Sayang malam gelap dan hujan. Saya hanya bisa memandang  titik titik hujan dari jendela di lorong selepas garbarata.   Tidak bisa melihat-lihat ke arah luar. Di dalam sendiri, kelihatannya bandaranya sangat sepi. Mungkin karena sudah tengah malam. Lengang sekali. Seorang tukang taxi menghampiri, menawarkan jasa. Saya menggelengkan kepala dan memilih untuk menghubungi counter transportasi yang resmi.

Untunglah besoknya saat akan kembalike Jakarta,  saya tiba kembali di bandara itu saat hari masih terang dengan diantarkan oleh seorang teman. Komentar pertama saya tentang bandara ini adalah Bagus! Berdiri di atas lahan yang di kiri kananya dipenuhi kelapa sawit.  Saya pikir mungkin dulunya adalah kebun kelapa sawit. Bandara ini memiliki design yang sangat bagus. Ketika saya melihatnya dari kejauhan, ia terlihat seperti lukisan dengan latar belakang langit yang biru dan sedikit berawan. Ada main hall dengan sayap di kiri kanannya yang membuatnya terlihat sangat cantik.

Ruang -ruang tunggunya terlihat sangat cantik dilapis karpet, dengan bangku-bangku yang banyak untuk menambah kenyamanan calon penumpang. Duduk di situ sambil melepaskan pandangan ke luar jendela yang lebar menyaksikan pesawat berlalu lalang , serasa sedang berada di bandara negara-negara maju.

Selain cantik, bandara ini sangat besar dan luas. Memiliki landasan yang panjang  dan tentu saja bisa digunakan untuk mendarat bagi pesawat-pesawat besar seperti Boeing 747 atau Airbus A380.

Juga dilengkapi port untuk Kereta Api. Alasannya adalah karena bandara ini terus terang sangat jauh dari kota Medan. Saya menempuh perjalanan lebih dari sejam dari bandara ke tengah kota Medan dengan taxi. Mungkin akan lebih cepat jika saya tempuh dengan kereta.  Sayang saya belum sempat mencobanya. Taxi cukup mudah didapatkan.

Di dalam sendiri, beberapa outlets dan restaurant  sudah terlihat buka, lumayan bagi para calon penumpang untuk mengisi waktu sambil menunggu jadwalpenerbangan.  Saat saya dan teman saya melihat-lihat dan memotret  di sekitar, seorang karyawan dan temannya  yang sedang bekerja membersihkan bandara melihat kami dan berkomentar kalau merekapun ingin difoto juga.”Bu! Jangan hanya bandaranya saja dong! Kita juga mau difoto” katanya. Saya tertawa dan dengan  senang hati memenuhi permintaannya.  Saya  membdidikkan kamera saya ke arah mereka.  Ia menyebut namanya Arif dan temannya Amirhan. Mereka bangga dengan airportnya yang baru. Tentu saja!. Jangankan mereka, sayapun merasa sangat bangga karenanya. Akhirnya punya bandara yang tak kalah indah dan besarnya dengan bandara-bandara di negeri orang.

Semoga airport baru ini membawa keceriaan baik bagi penumpang maupun karyawan yang bekerja di dalamnya.

Top 10 Kupu-Kupu Di Bintaro Dan Sekitarnya.

Standard

Ketika menulis tentang Top 10  Burung Liar yang ada di Bintaro dan menyeleksi foto-fotonya, saya  menemukan banyak sekali foto-foto kupu-kupu di file saya.  Walaupun sebagian ada yang saya ambil di tempat lain, namun sebagian besar lagi saya ambil di wilayah Bintaro dan sekitarnya.  Banyak juga jenisanya. Dan banyak yang cantik cantik sayapnya.

Di bawah ini adalah 10 Kupu-kupu  yang saya pilih diantara yang paling sering saya jumpai di wilayah Bintaro dan sekitarnya.

1. Kupu-Kupu  Lingkaran Tahun (Ariadne  ariadne).

Kupu-kupu Ariadne ariadne

Kupu -kupu berukuran kecil ini sering saya lihat terbang rendah di rerumputan.  Hinggap dengan membuka sayapnya lebar-lebar,sehingga tidak terlalu sulit untuk difoto.  Warnanya coklat dengan level warna coklat yang bergradasi dari individu ke individu lainnya, sehingga ada yang tampak coklat terang agak ke jingga, dan ada juga yang  coklat agak gelap.  Yang menarik dari kupu-kupu ini adalah corak sayapnya yang bergaris dan memiliki alur-alur yang sepintas mirip dengan  irisan melintang batang kayu, dimana kita bisa melihat adanya  garis-garis lingkaran tahun  yang berulang dari kecil, membesar dan membesar. Saya membayangkan jika kupu-kupu ini -terutama yang warnanya coklat gelap  hinggap pada sebuah tonggak batang kayu yang terpotong melintang, pasti ia tidak akan kelihatan. Bahkan jika hinggap di tanah atau di rerumputan, mungkin saja pemangsanya menyangka itu adalah potongan kayu. Ada bintik putih pada bagian depan sayap depannya. banyak di area Pondok Aren.

2. Kupu-Kupu Segitiga Hijau (Graphium agamemnon).

Kupu Kupu Segitiga hijau

Sesuai namanya,  jika hinggap, sayap kupu-kupu ini mirip dengan segitiga.  Sebenarnya sangat banyak beterbangan dari bunga ke bunga.  Warna sayapnya hitam bertotol-totol hijau terang, mirip zebra terbang  berwarna hijau. Tapi karena terbangnya sangat cepat, tidak begitu mudah memotretnya dalam keadaan sayap yang terbuka.  Itu sebabnya kebanyakan fotonya di file saya adalah saat dia sedang hinggap.  Sayangnya kalau hinggap kupu-kupu ini menutup sayapnya rapat-rapat.  Sehingga yang terlihat hanya sisi bawah dari sayapnya  yang berwarna coklat kehitaman dan hijau.  pada ujung belakang sayapnya terdapat tonjolan yang menyebabkan kupu-kupu ini dimasukkan ke dalam kelompok kupu -kupu Swallowtail.  Sangat  menyukai bunga Jatropha, bunga kersen, dan sebagainya. Kupu-kupu ini menyebar di seluruh wilayah Bintaro dan sekitarnya.

3. Kupu-kupu  Segitiga Biru (Graphium sarpedon).

Kupu Kupu Graphium sarpedon 1

Kupu-kupu yang masih bersaudara dekat dengan Si Segitiga Hijau ini, juga  sangat banyak beterbangan di halaman rumah. Serupa dengan yang hijau, kepakan sayapnya juga sangat cepat, sehingga sangat jarang saya bisa memotretnya dalam keadaan sayap terbuka. Kebanyakan dari satu sisi saja dalam keadaan sayap tertutup. Kupu-kupu ini juga sering disebut dengan Blue Bottle. Paling mudah ditemukan di bunga zinnia, bunga kersen, jatropha dan sebagainya. Menyebar luas di seluruh wilayah Bintaro, Pondok Aren hingga ke Graha Raya.

4. Kupu-Kupu  Zebra Hitam Putih (Neptis hylas)

KupuKupu

Warnanya yang bergaris putih di atas hitam mengingatkan kita pada warna kuda Zebra. Ukurannya kecil . Hobinya terbang rendah di rerumputan. Menurut saya kupu-kupu ini tergolong jinak dan tidak terlalu takut pada manusia. Banyak terlihat berkeliaran di daerah Pondok Aren.

5. Kupu-Kupu Gagak Coklat ( Euploea crameri)

Kupukupu

The Crow!. Kupu kupu berukuran besar ini memiliki kepakan sayap yang lambat, sehingga relatif mudah untuk memotretnya dalam keadaan sayap terkembang. Warnanya coklat mirip warna burung gagak, dengan bintik-bintik  kecil berwarna putih. Penyebarannya sangat luas. Terlihat mulai dari pinggir jalan Tol Bintaro,  tanaman di sepanjang jalan Sektor I  hingga ke area Graha Raya.

6. Kupu-Kupu Bola Mata Biru (Junonia orithya).

buckeye-blue

Blue Buckeye Butterfly!. Sebelumnya saya tidak menemukan referensi nama Kupu-kupu ini,walaupun sepengetahuan saya Kupu-Kupu ini berasal dari keluarga Junonia.  Mungkin sebenarnya varietas lain dari Junonia coenia biasa yang umumnya berwarna coklat. Jadi sebelumnya saya menyebutnya sebagai Junonia  coenia saja – karena paling mendekati. namun belakangan saya mengetahui bahwa Kupu-Kupu ini ternyata bernama latyn Junonia orithya. Sayapun baru hanya menemukannya di sekitar Graha Raya Bintaro – daerah sektor IX dan sekitarnya, tapi populasinya cukup tinggi. Senang terbang rendah di rerumputan.  Menyukai bunga -bunga rumput dan tanaman penutup taman lainnya. Ada juga yang variantnya berwarna ungu, ketimbang biru.

7. Kupu-Kupu Renda (Hypolimnas bolina)

kupu-hypolimnas-betina

Kupu-kupu ini adalah dari jenis yang paling mudah difoto, karena sangat fotogenik dan sadar kamera.  Terbangnya di ketinggian yang sedang dengan kecepatan kepak sayap yang rendah, seolah  memarkan keindahan sayapnya yang sangat mirip dengan renda pada pakaian wanita. Sangat menyukai bunga Zinia. Juga menyebar di wilayah yang luas,mulai sari Graha hingga Pondok Aren.

8. Kupu-Kupu Jeruk ( Papilio demolius).

Kupu-Kupu Jeruk

Lime Butterfly!. Ini kupu-kupu favorit saya. Paling hobby datang bermain ke pohon jeruk nipis saya di halaman. Tapi ia bisa ditemukan dimana-mana. menyebar luas di wilayah Coraknya sangat cantik, berwarna krem dengan garis  garis warna hitam, dengan sapuan warna jingga pada sayap belakangnya. Sangat mudah dikenali. Saya mengetahui ada dua ukuran dari kupu-kupu ini, yakni ukuran sedang agak besar dan kupu-kupu kerdil. Tapi tampangnya sangat serupa.  photo  diatas adalah dari jenis yang kerdil.

9. Kupu-Kupu Hitam Besar (Papilio memnon)

great-mormon-black1

Disebut umum sebagai The Great Mormon, kupu-kupu ini terlihat sangat berwibawa diantara para kupu-kupu lain. Semua kupu-kupu lain tiba-tiba terlihat kecil dan minggir oleh aura kupu-kupu ini. Mungkin karena ukurannya yang besar dan warnanya yang gelap. Terbang tinggi dan seolah-olah tidak perduli. menyebar di seluruh area Bintaro dan sekitarnya.

10.  Kupu-Kupu Chocolate Pansy (Junonia iphita).

Kupu-kupu  Chocolate Pansy

Kupu-kupu ini   jika hinggap suka mengembangkan sayapnya yang coklat mirip minuman chocolate bercampur sedikit susu.  Punya corak yang mirip dengan tumpahan coklat/kopi yang menguap dan sudah kering.  Walaupun kupu-kupu ini cukup banyak, namun agak sulit dilihatnya, karena warnanya yang terlalu mirip dengan tanah atau bebatuan. Pada sayap belakangnya terdapat beberapa buah bulatan kecil yang berbaris  ke atas dan sedikit bersambung ke bagian sayap depannya. Beberapakali saya lihat hinggap di atas daun pisang dan di daun bunga Bougenville. Saya menemukan di area Bintaro Regency.

Sebenarnya masih banyak sekali jenis-jenis kupu-kupu yang mudah saya lihat di Bintaro – tapi tulisan ini hanya mengulas 10 jenis diantaranya.

Loofah, Sayuran Dari Pinggir Kali.

Standard

Masih cerita tentang  dunia pinggir kali. Berharap tidak bosan membacanya.

Buah Oyong.Pinggir kali merupakan tempat yang terbaik di dunia mungkin bagi puluhan jenis  mahluk hidup.  Mulai dari belalang, capung, kunang-kunang, kupu-kupu, burung, kadal, ular, biawak, bebek dan sebagainya.  Pinggir kali merupakan tempat terdapatnya sumber makanan yang berlimpah. Namun sebenarnya, pinggiran kali bukan hanya memiliki sumber makanan bagi hewan liar saja, beberapa tanaman liar yang tumbuh di sana juga sebenarnya bisa dimanfaatkan manusia untuk dimakan. Diantaranya yang saya perhatikan adalah pare liar, pucuk pepaya, biji petai cina, markisa dan ada satu lagi yang cukup menarik adalah sejenis buah Oyong  liar / gambas  yang disebut Loofah tumbuh tidak jauh dari belakang rumah saya.

Awalnya induk  tanaman Oyong  ini tumbuh di halaman belakang tempat saya menjemur pakaian. Batangnya merambat di dinding hingga ke kali . Tak pernah dirawat namun sangat subur.  Tapi buahnya jarang dimanfaatkan. Kebanyakan terbuang percuma begitu saja. Kadang-kadang  ada tukang arit rumput yang meminta  sebuah dua buah, tapi karena banyak jumlahnya, kebanyakan buahnya tumbuh  besar lalu matang dan kering sendiri. Kadang-kadang menjadi tempat tinggal serangga.  Tanaman itu kemudian terpotong oleh mesin pemotong rumput dan mati saat kami membersihkan halaman belakang & tempat jemuran.  Rupanya dari bijinya yang terbuang itu tumbuh lagi anaknya di pinggir kali.  Menjalar liar di sana dan lagi-lagi terbengkalai. Tak ada orang yang memelihara maupun memanfaatkan buahnya. Padahal kalau dipikir-pikir buahnya enak juga dimasak sup ataupun ditumis. Selain itu, secara traditional, buah ini juga dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit.

Oyong liar (Luffa cylindrica) atau yang disebut juga dengan Loofah (Chinese Okra, Vietnamese gourd) merupakan salah satu anggota keluarga pohon Timun (Cucurbitaceae).  Sangat serupa dengan Oyong  bersudut (Okra) yang umum kita temukan sehari-hari di tukang sayur.  Hanya yang ini bentuknya bulat silindris, sedangkan yang di tukang sayur bentuknya bersudut.  Namun keduanya sama-sama bisa dimakan. Dan kedua-duanya sama rasanya.  Enak. Tidak ada bedanya.  “Bisa dimakan?”. tanya anak saya.  Saya mengangguk. Anak saya melihat saya dengan pandangan tidak percaya.  “Mari kita coba !” ajak saya.

Bunganya berwarna kuning terang, dengan lima kelopak mahkota bunga. Muncul dari tangkai di mana biasanya terdapat beberapa kuntum calon bunga.  Saya melihat beberapa ekor kumbang terbang dan hinggap di bunga-bunga itu. Suaranya mendengung, memberi kehangatan pada pagi. Bentuk daunnya sama dengan bentuk daun labu siam pada umumnya, yakni berbentuk trisula tumpul. Batangnya juga merambat dan bersulur. Ada banyak sekali buah yang bergelantungan.

Lalu saya memetik tiga buah Oyong yang masih muda dan hijau. Oyong jenis ini paling enak dimasak saat masih muda, karena jika terlalu tua buahnya sudah keburu berserat dan keras.  Di beberapa tempat seratnya malah sengaja diambil untuk menggosok badan saat mandi.

Animal Behaviour: Tarian Kasmaran Si Burung Kipasan.

Standard

FANTAIL LOVE DANCE.

Burung Kipasan 6

Jatuh cinta! Setiap orang tentu pernah mengalaminya.  Seperti kata Titiek Puspa; Berjuta rasanya.  Setiap saat teringat akan si dia. Senyumnya, tawanya, tatapan matanya. Membuat dunia terasa lebih indah dari biasanya. Membuat dunia lebih wangi dari biasanya. Membuat dunia lebih berwarna dari biasanya. Semua karena Si Dia.  Rasanya, apapun bersedia kita lakukan untuk menyenangkan hatinya.

Rupanya perkara jatuh cinta ini tidak hanya melanda manusia saja. Burung pun mengalami hal yang sama.  Setidaknya itulah yang sempat saya amati pada suatu sore minggu yang lalu, terjadi  pada sepasang Burung Kipasan.  Saat itu saya baru saja membuka pintu pagar halaman belakang saya, berjingkat sedikit ke belakang dan melongokan kepala  lewat tembok perumahan.  Memandang lurus ke arah tembok di seberang sungai dimana ada beton penyangga dinding kali yang lama yang sekarang ditumbuhi rerumputan. Di dekatnya ada sebatang pohon yang belumterlalu besar.  Saya benar-benar terpana. Seekor burung Kipasan jantan tampak sedang  menari untuk menarik perhatian pasangannya. Sementara pasangannya bertengger di dahan pohon itu memandang pasangannya menari dengan penuh semangat.  Benar-benar real “Love Dance”. Sayapun berdiri kaku menahan keinginan saya untuk bergerak. Khawatir burung itu merasa terganggu dan terbang.

Sayang sekali saya tidak kepikiran untuk memvideokan tarian burung itu. Syukurnya walaupun jaraknya agak jauh, saya masih sempat memotret gerakan burung itu yang benar-benar seru dan kocak.

Nah bagi para penari…barangkali ada yang mau belajar  “Love Dance” ala Si Fantail ini ? Atau barangkali mau memanfaatkan tariannya untuk ide koreografi?

Kurang lebih begini : (anggap saja panggungnya adalah lintasan beton yang panjang , dan posisi saya berdiri adalah  penonton di depan panggung).

1. Hadap ke belakang, angkat kedua sayap, angkat  ekor setinggi-tingginya dan buka lebar-lebar. Kepala ditundukkan dan ekor diangkat dan posisi ekor ke depan panggung  (penonton hanya melihat bagian belakang ekor).

2. Dua langkah ke kanan,  sayap dan ekor tetap diangkat. Posisi masih agak ke depan.

3. Dua langkah ke kanan, sayap diturunkan, ekor setengah terangkat, posisi ekor di belakang.

4. Hadap ke depan.Sayap diturunkan. Ekor melebar di belakang, posisi rendah.

5. Kaki kanan ke depan agak miring,  muka miring ke depan kanan,  ekor ke kiri samping posisi rendah.

6. Kaki kiri ke depan. Wajah ke samping kiri agak  ke depan.

7.  Lompat maju kanan dua langkah. Ekor tetap di posisi rendah

8. Lompat maju selangkah ke kanan. Ekor ditegakkan.

9.  Lompat maju kanan selangkah lagi, ekor diturunkan.

10. Balik wajah ke belakang, ekor dilebarkan, posisi ekor  rendah menghadap penonton.

11. Angkat ekor tinggi-tinggi dan lebar-lebar ke penonton. Ekor digoyang.

12.  Ekor miring ke kanan depan,posisi diturunkan.

13.  Hadap kiri. Lompat  maju dua langkah ke kiri. sayap dan ekor di posisi  tengah.

14. Wajah ke belakang miring. Kaki kanan maju selangkah. Ekor dinaikan setengah dan dikibaskan.

15.  Wajah ke belakang full, ekor diangkat tinggi tinggi menghadap penonton. Goyangkan ekor.

16.  Tubuh direndahkan, badan dan ekor ikut diturunkan.

17. Hadap ke kiri. Maju dua langkah ke kiri.  Ekor posisi agak rendah.

18.  Maju  dua langkah lagi ke kiri. Ekor agak ditegakkan.

19. Hadap ke depan full.  Rundukkan kepala, hormat pada penonton, sambil ekor ditegakkan di belakang.

20. Hap ! Loncat sambil berputar 180º. Hadap ke belakang, hormat penonton dengan ekor tegak ke depan.

21. Hadap ke samping kiri.  Maju selangkah . Ekor diluruskan.

22. Kaki kanan ke depan, wajah dimiringkan. Sayap turun, ekor masih lurus

23. Hadap full ke depan , ekor diturunkan.

24. Maju ke kiri dua langkah.

24. Hadap ke belakang – ekor masih lurus.

25. Hadapke kanan,  maju dua langkah

26. Loncat sambil berputar 90º. wajah ke depan. Sayap diangkat ke atas punggung.

27. Hadap ke depan, sayap diturunkan, ekor diangkat.

28.  Kedua kaki sejajar. Bentangkan. Tundukkan kepala, hormat pada penonton.  Ekor diangkat. Goyangkan ekor.

29. Loncat ke kiri. Hap! Posisi kepala masih menunduk. Ekor ditegakkan tapi kuncup.

30. Loncat ke kanan. Hap! Posisi kepala masih menunduk. Ekor ditegakkan tapi kuncup.

31. Balik badan ke belakang sambil meloncat. Hap!.

dam seterusnya…. Masih panjang sekali gerakannya.  Seru ya? Tak terbayang deh bahagianya hati si burung betina menonton kekasih hatinya bergoyang ekor.

Saya berdiri dengan nafas tertahan selama beberapa saat, hingga akhirnya burung betinanya terbang.   Mungkin ia melihat saya yang sedang memotret.  Maka burung Kipasan jantan itupun berhenti menari dan ikut terbang bersamanya. Yahh..saya sudahmenjadi tukang pengganggu.

Saya benar-benar menyukai burung ini.  Goyang ekornya sangat seru dan sangat indah.  Mungkin akan lebih seru lagi jika diiringi musik. Shake! … Shake!…. Shake the booty!.

Di bawah adalah sebagian dari photo gerakan “Love Dance” nya Si Burung Kipasan.

Berjalan Di Atas Api: Tentang Keberanian & Kemauan.

Standard

???????????????????????????????Pernah suatu kali , saya ikut sebuah kelas  Mindful Leadership  dibawah bimbingan Dr Pramod Tripathi yang diakhiri dengan acara ‘firewalking’ alias berjalan di atas api.  Hah???!!! Berjalan di atas api???  Ya!. Dengan kaki telanjang!. Waduuuh! Kok kaya Debus ya? Atau Kuda Lumping yang makan api? Atau kalau di Bali juga ada kesenian sejenis yang disebut  Tari Sang Hyang Jaran. Para penarinya kesurupan dan bisa berjalan di atas api dengan selamat tanpa sedikitpun melepuh.  Addduuuh, bagaimana mungkin saya akan bisa melakukannya ya? Boro-boro berjalan di atas api, kena percikan minyak panas saat goreng ikan saja sudah melepuh kesakitan.

Saat pertama kali tahu bahwa saya harus menjalaninya, saya sangat terkejut.  Dan sudah pasti merasa sangat khawatir dan takut. Tak bisa membayangkan bagaimana saya akan melakukannya.  Karena tidak punya pilihan lain, maka sayapun berusaha bertanya ke kiri dan ke kanan. Bagaimana sih caranya agar orang bisa selamat jika disuruh berjalan di atas api? .

Rupanya berjalan diatas api ini memang sudah menjadi ritual sejak jaman dulu kala di India.  Dijadikan sebagai alat untuk melakukan test terhadap  Kemauan & Keberanian seseorang.  Juga sebagai alat test terhadap  Kejujuran seseorang.  Oh ya, saya ingat dalam Ramayana, juga dikisahkan bahwa Dewi Sita juga melakukan “Fire Test”  untuk menunjukkan kesucian diri dan kejujurannya terhadap Rama suaminya, setelah sempat dibawa kabur dan disekap oleh Rahwana sang raja raksasa di Kerajaan Alengka. Nah.. tentu saja saya bukan Dewi Sita. Lalu bagaimana saya harus melakukannya?  Karena jika dari penjelasan itu saja, saya belum menemukan penjelasan logis yang memuaskan hati saya.

Seorang teman memberi penjelasan ilmiah dibalik  kemampuan orang-orang yang mampu berjalan dengan selamat di atas bara api. Menurutnya, (belakangan saya mendapat konfirmasi kebenaran dari Om Google) – sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir atau takut jika berjalan di atas bara api kayu.

Pertama, karena bara api dari kayu yang digunakan dalam kegiatan Firewalk itu bukanlah penghantar panas yang baik. Setidaknya daya hantarnya tidak sebaik logam. Jadi sepanjang baranya adalah dari kayu, kita masih ada kesempatan aman berjalan di atasnya,asalkan kita tahu caranya. Jika baranya logam.. nah itu baru berbahaya.

Kedua,  bara api kayu itu sudah disiapkan sedemikian rupa, dimana sedikitnya sudah ada lapisan abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran itu. Dan abu adalah insulator yang baik. Lumayan buat mengurangi kemungkinan terbakar.

Ketiga, teori mengatakan bahwa jika ada dua benda yang memiliki temperatur berbeda bertemu (bara api vs telapak kaki),  benda yang lebih panas (bara api) akan mendingin, sdangkan benda yang lebih dingin (telapak kaki) akan memanas – hingga keduanya mencapai titik suhu yang  equal.  Nah kapan persamaan temperatur itu akan terjadi ?  Rupanya tergantung dari temperatur  masing-masing, tingkat kepadatan benda tersebut dan kemampuan konduktifitasnya.  Kata teman saya,  secara umum suhu equal antara bara dan telapak kaki kita itu akan terjadi dalam waktu 5 detik. Jadi jika kita berjalan biasa saja (jangan terlalu lambat atau terlalu cepat), umumnya kita akan selamat. Karena menurut teman saya itu jika kita berjalan normal, maka saat kaki kita menyentuh tanah itu waktunya kurang dari 5 detik sebelum kita angkat kembali.

Sekarang saya sudah paham penjelasan ilmiah itu. Jadi berjalan di atas api itu sungguh bukan sulap bukan sihir. Bukan pula Debus atau Jaran Kepang maupun Sang Hyang Jaran. Semua orang bisa melakukannya. Asal tahu caranya.  Berjalanlah normal atau sedikit lebih cepat dari biasanya. Jangan letakkan telapak kaki di bara terlalu lama. Maksimum 5 detik, lalu cepat angkat kembali. Sisanya biarkan bara dan abu itu  yang bekerja. Dijamin selamat dan tidak terbakar.

Jangan juga berlari kencang  yang menyebabkan tekanan terhadap bara api meningkat. Karena jika terpeleset, beberapa buah bara api mungkin saja bergeser posisinya atau bahkan naik ke permukaan kaki  yang menyebabkan kaki kita sedikit melepuh pada bagian atas.

Saya sudah tahu semuanya itu. Ketakutan saya rasanya agak berkurang. Namun kenapa saya masih deg-degan juga rasanya? Tetap saja khawatir rasanya. Walaupun memang tidak separah sebelumnya.  Tapi waktu yang tersisa cuma sedikit. Saya benar-benar tak punya waktu lagi untuk ragu -ragu. Tak punya pilihan lain. Simple question: mau atau tidak?.

Mau!!!. Saya harus bisa! Saya harus berani!. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian yang cuma secuil, sayapun menggulung celana panjang saya hingga di atas lutut agar tidak terjilat api, melepas sepatu dan memfokuskan diri saya ke jalur api.  Saya harus bisa melewatinya!. Kemudian saya berlari-lari kecil di tempat, mengambil ancang-ancang ….Ho ho ho!… Ho ho ho!.. Ho ho ho…  saya mendengar teman-teman saya  berteriak memberi semangat . Lalu…yiaaaatt…. sayapun berjalan cepat nyaris berlari di tas api. Yes!!!  Horre. Berhasil! Berhasil!. Teman-teman saya  bertepuk tangan.  Ternyata memang tidak terasa panas, saudara saudara!. Biasa saja, seperti berjalan di atas arang kering yang tidak menyala. Kaki saya tidak terbakar dan tidak melepuh. Jadi, saya membuktikan bahwa teori ilmiah teman saya itu benar.

Lalu mengapa saya setakut itu sebelumnya?

Ketidak tahuan akan sesuatu, membuat kita menjadi takut. Sebelumnya saya tidak tahu bahwa berjalan di atas bara itu cukup aman sepanjang kita hanya membiarkan telapak kaki kontak dengan bara tidak lebih dari 5 detik. Jadi saya sangat takut dan khawatir. Sama dengan hantu. Mengapa kita takut hantu? Karena kita tidak tahu dan tidak kenal dengannya. Tapi seandainya kita tahu, mungkin minimum setengah dari ketakutan itu akan berkurang. Sisanya tinggal bagaimana kita memastikan kemauan kita untuk menghadapinya dan menggalang keberanian kita untuk menuntaskan sisa ketakutan yang ada.  Memusatkan fikiran dan hanya berfokus pada apa yang kita lakukan, juga sangat membantu.

Jadi berjalan diatas api, bukanlah sesautu yang berkaitan dengan mistis, paranormal dan sebangsanya. Bisa dijelaskan secara ilmiah dan sangat logis. Semua orang bisa melakukannya asalkan punya kemauan dan keberanian.

Mengamati Burung Kipasan Di Alam.

Standard

Burung KipasanSalah satu burung penyanyi yang sangat mudah saya lihat keberadaannya adalah Burung Kipasan atau Paid Fantail (Rhipidura javanica) . Walaupun menurut beberapa sumber,populasi burung ini menurun secara umum, namun burung ini terlihat nyaris setiap hari di belakang rumah saya berceloteh dengan riangnya.  Terbang dari pohon kersen, pindah ke semak dipinggir kali, menclok di tembok perumahan,  terbang kembali ke pohon mangga, lalu berjingkat-jingkat menari di atas genteng rumah tetangga, lalu terbang dan ngoceh di daun talas kipas. Hampir setiap hari ada saja burung Kipasan yang menyita perhatian saya.

Sesuai dengan namanya, burung ini memiliki ekor cukup panjang yang sering dibuka lebar mirip kipas.  Berukuran sedang, kurang lebih 20 cm , namun karena ekornya sering dibuka lebar, menyebabkan burung ini terlihat seakan lebih besar dari ukuran tubuh burung- burung yang berukuran sedang lainnya.  Kipas ekor ini yang  juga menyebabkan burung semakin mudah terlihat.

Warna tubuh bagian atasnya hitam keabua-abuan atau coklat keabua-abuan. Kepalanya juga sama,dengan alis putih di atas matanya. Kerongkongannya berwana putih. Demikian juga perut bawahnya berwarna putih.  Ekornya yang panjang berwarna hitam abu-abu, dengan sedikit warna putih pada ujung-ujungnya, sehingga membuat ekornya mirip kipas belang yang sangat cantik saat dibuka lebar.  Matanya berwarna hitam. Demikian juga paruh dan kakinya, juga berwarna hitam.

Makanan utamanya adalah serangga yang bertebaran banyak di pingggir kali, seperti capung, belalang, ulat , kumbang dan lain sebagainya. Tempat terbaik bagi saya untuk mengamatinya adalah di bantaran kali. Karena burung ini sangat menyukai area terbuka, dengan pohon-pohon rendah /semak, yang memungkinkannya untuk mencari makanan sambil bertengger riang.  Kebiasannya adalah  meloncat dari satu ke dahan yang lain, sambil ribut dan mengipas-ngipaskan ekornya dengan centilnya.  Atau berjingkat-jingkat di atas tembok dengan gerakannya yang sangat lucu. Suaranya sangat khas, sehingga mudah dikenali bahkan dari kejauhan. ” cwit cu cu cwiit….cwitt  cu cu cwiit.. cwitt cu cu cwiit….”dan seterusnya berulang-ulang.

Burung ini saya lihat lebih sering berpasangan dibandingkan sendirian.  Kalaupun saya pergoki sedang sendirian,maka biasanya ia selalu ribut memanggil manggil temannya. Sehingga selalu saja ada burung Kipasan lain yang datang menemaninya.

Bunglon…

Standard

Bunglon 1Anak saya yang kecil baru saja habis belajar  Science pada bab Adaptasi Mahluk Hidup Terhadap Lingkungannya.  Sepulang kerja, saya memeriksa kesiapannya untuk menghadapi ulangan dengan memberikan pertanyaan random seputar  jenis-jenis paruh burung dan kaki burung yang berbeda-beda sesuai makanan dan habitatnya, cicak yang memutuskan ekornya, cumi-cumi yang mengeluarkan tinta, kupu-kupu yang memiliki bulatan mirip mata pada sayapnya, bunglon yang merubah warna kulitnya dan lain sebagainya untuk mempertahankan dirinya. Setelah saya rasa ia mampu menjawab semuanya, saya menyuruhnya tidur agar besok ia tidak bangun kesiangan atau ngantuk saat ulangan.

Hari Minggu-nya, saya  mengajaknya pergi ke bantaran kali di belakang rumah untuk mencari bunglon dan mengamati tingkah lakunya dari dekat.  Saya pikir jika ia bisa melihat bunglon dengan mata kepalanya sendiri, tentu ia tidak perlu mengulang pelajaran lagi, karena semua yang dilihatnya akan terekam di dalam otaknya sebagai sebuah pengalaman dan ingatan yang panjang.

Mimikri.

Bunglon (Bronchocela jubata), atau yang juga disebut dengan Baluan (Bahasa Bali), atau Kadal  Hijau Bersurai /Green Crested Lizard, merupakan salah satu kadal dari keluarga Agamidae yang umum bisa kita temukan di semak-semak yang rendah di Indonesia. Seperti kita tahu, bintang ini bisa merubah warna kulitnya mendekati warna lingkungan sekitarnya dengan maksud untuk menyamarkan diri entah saat menghindar dari musuhnya, maupun saat akan menyergap mangsanya.  Beberapa sumber mengatakan bahwa perubahan warna juga  dipicu oleh suhu udara, sinar matahari, mood bahkan musim berbiak.

Umumnya ia terlihat berwarna hijau saat berada di dedaunan, namun terkadang ia bisa juga terlihat abu-abu jika latar belakangnya kelabu atau berubah coklat jika latar belakangnya coklat. Itulah yang disebut dengan MIMIKRI. Saya menjelaskan lagi kepada anak saya, walaupun saya tahu ia sudah membacanya dari buku.

Tepat ketika  berdiri di dekat batang pohon pepaya yang masih kecil, sesuatu tampak bergerak diantara dedaunannya. Anak saya meloncat kaget. Kami melihat sejenis  Bunglon hijau bersurai dalam jarak yang sangat dekat.  Tubuhnya panjang, di bagian belakang kepalanya tampak bersurai pendek, warnanya  hijau abu-abu.  Saat itu ia hanya berdiam saja di sana. barangkali menunggu mangsanya lewat. Makanannya adalah serangga seperti kupu-kupu, belalang , kumbang atau capung.

Agak lama kemudian, ia bergerak perlahan menuju tembok perumahan. Saya melihat seekor lagi di batang pohon pepaya yang lain. Setelah puas melihat-lihat dan kaki menjadi bentol oleh gigitan nyamuk,  saya dan anak saya pulang  membawa cerita tentang Bunglon, hewan yang bermimikri.

Membunglon.

Walaupun secara umum, manusia mengagumi kemampuan Bunglon untuk mempertahankan diri dengan cara bermimikri, namun  kemampuan Bunglon bermimikri ini tidak selalu dipandang positif oleh manusia.  Misalnya jika ada yang berkata ” Dasar Bunglon lu!” Apa yang ada di pikiran kita?

Jika pernyataan ini ditujukan untuk kita, besar kemungkinan kita akan setuju untuk mengatakan bahwa disebut Bunglon itu tidak menyenangkan. Mengandung persepsi dan image yang negative, yang kurang lebih menganggap kita sebagai manusia yang plin plan. Yang tidak punya pendirian tetap. Tergantung situasi dan kondisi  – dalam pengertian negative. Dimana tempat yang paling menguntungkan baginya , kesanalah ia memihak.   Seseorang yang disebut Bunglon, selalu dianggap sebagai orang oportunistik yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan pribadinya.    Bukan memihak kepada kebenaran, melainkan memihak pada keuntungan.

Nah..kalau sudah begini yang kasihan Bunglonnya ya.  Ia tidak tahu menahu soal untung rugi maupun sikap yang plin plan, namun namanya ikut terbawa-bawa.

Top 10 Burung Liar Di Bintaro Dan Sekitarnya.

Standard

Bintaro dan sekitarnya yang sebenarnya sudah memasuki wilayah Tangerang Selatan  (Pondok Aren, Pondok Jagung, Paku Jaya), merupakan wilayah  yang mengalami perubahan sangat cepat. Berpuluh-puluh perumahan baru bermunculan yang pada akhirnya merubah drastis permukaan wilayah itu  yang dulunya adalah sawah ladang dan perkebunan serta kampung, menjadi perumahan modern dengan segala fasilitasnya.   Sudah pasti vegetasi dan juga hewan-hewan liar yang berhabitat di dalamnya juga ikut berubah. Entah jenisnya, maupun jumlahnya.  Untungnya area hijau juga masih ada walaupun sedikit, baik berupa taman-taman perumahan, bantaran sungai maupun upaya warganya untuk bertanam pohon – sehingga setidaknya kita masih bisa mengintip  kehidupan beberapa jenis satwa liar di alam bebas di wilayah ini.

Bagi saya, mengamati burung-burung liar di habitatnya merupakan salah satukegiatan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan pada akhir pekan bersama anak-anak.

Berikut adalah daftar 10  burung liar yang paling umum kita temukan di wilayah ini,  tentunya di luar Burung Gereja atau House Sparrow(Passer domesticus) yang bisa kita anggap sudah sebagai burung domestik ketimbang burung liar.

1.  Burung Terkwak ( Amaurornis phoenicurus).

Burung Terkwak 6

Burung yang hidupnya di badan-badan air ini, sering juga disebut dengan Burung Ayam-ayaman atau Ayam Air Berdada Putih /White Breasted Water Hen. Berhabitat di sepanjang sungai sungai kecil yang mengalir di wilayah  Bintaro Sektor IX hingga ke area Pondok Kacang. Sangat mudah menemukannya, karena populasinya yang cukup tinggi dan terutama karena bunyinya yang sangat ribut, terrrrr..kwaaakkkkk, terrrrr kwakkkk…

2. Burung Pipit (Lonchura leucogastroides)

Burung Pipit

Burung kecil pemakan padi dan biji rermputan ini  sering juga disebut dengan nama Burung Bondol Jawa /Javan Munia). Barangkali karena dulunya wilayah ini adalah areal sawah yang luas, sehingga populasi Burung Pipit ini masih cukup tinggi di sini. Sangat mudah kita temukan  di mana-mana, terutama di area terbuka yang belum tergarap dengan baik, di taman, di pinggir kali atau bahkan di pinggir jalan. Sibuk memakan biji-biji rerumputan sambil bercericit riang.

3. Burung Peking (Lonchura punctulata)

Burung Peking

Sama dengan burung Pipit, burung kecil  yang juga disebut dengan Bondol Dada Sisik /Scaly Breasted Munia  ini juga sangat mudah kita temukan di mana-mana di area yang berumput. Seringkali  bahkan mencari makan bersama dengan burung-burung pipit tanpa terlihat saling mengganggu.

4. Burung Kipasan (Rhipidura javanica)

Burung Kipasan 10

Burung lincah, centil dan energetic yang kadang disebut juga dengan nama Burung Murai Gila  ini sangat mudah kita temukan bernyanyi riang dan berkejar-kejaran dengan pasangannya sambi memamerkan keindahan ekornya yang sangat mirip dengan kipas.  Bermain dan hinggap di semak-semak berbunga dan pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi seperti misalnya pohon kersen, pohon lamtoro atau di lahan-lahan terbuka yang kiri kanannya bersemak.

5. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung pemakan buah-buahan dan serangga  yang sering juga disebut dengan Terucukan, Trocok, Crocokan atau Kutilang Dada Kuning / Yellow Vented Bulbul ini juga sangat mudah ditemukan di wilayah Bintaro. Burung ini menghuni pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Sangat mudah dipergoki sedang bertengger menikmati buah kersen yang matang. Sangat sering terlihat terbang berpasangan.

6. Burung  Cabe (Dicaeum trochileum)

Burung Cabe 1

Burung Cabe atau Burung Tabia -Tabia / Scarlet Headed Flower Pecker, juga merupakan burung yang cukup mudah ditemukan. Walaupun ukurannya kecil, namun karena warna jantannya merah  (walaupun tingkat kecemerlangan warnanya bisa berbeda dari satu burung ke burung yang lain).  Ia sangat sering berengger di tiang telpon/ listrik, selain di  pepohonan rendah yang banyak benalunya.

7. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)

Burung Madu Sriganti

Sesuai dengan namanya, burung ini adalah pengumpul nektar dari bunga ke bunga. Untuk menemukannya, kita bisa menyusuri pepohonan yang banyak bunga benalunya, atau pohon-pohon pepaya  yang sedang berbunga.

8. Burung Cinenen (Orthotomus sutorius).

Burung CinenenBurung yang juga digelari sebagai Burung Tukang Jahit ( Common Taylorbird) ini banyak bisa kita temukan di taman-taman yang memiliki perdu berbunga seperti bunga Asoka, bunga Kacapiring, Bougenville dan sebagainya. Sibuk berteriak    cuik, cuik, cuik…sambil mencari serangga di dahan-dahan yang rendah.

9. Burung Tekukur (Streptopelia chinensis)

TekukurBurung Tekukur atau yang sering juga disebut dengan Burung Balam.  Beberapa kali saya menemukannya sedang menclok di tembok perumahan di sekitar Bintaro atau sedang minum di pinggir kali atau sedang makan biji-bijian.

10. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster).

Burung KutilangBurung penyanyi  yang merupakan saudara dari Burung Cerukcuk ini biasanya bertengger di pucuk-pucuk pohon. Bernyanyi dari dahan-dahan yang tinggi. Karena ukuran tubuhnya yang lumayan besar, burung ini agak mudah terlihat.  Seringnya terlihat berpasangan.

Saya hanya bisa berharap, lingkungan hijau di sekitar Bintaro ini tetap bisa dipertahankan walaupun laju pembangunan sulit untuk dihentikan, sehingga burung-burung liar yang menarik ini tetap bisa lestari di alamnya.

Welcoming October 2013 -Hidup Penuh Bunga.

Standard

October 2013

Oktober selalu menjadi bulan favorit saya.  Saya selalu menyukainya setiap kali ia datang berkunjung bersama angin.

Membawa kegembiraan yang membuat bunga-bunga  bermekaran dengan penuh keindahan.  Udara seketika dipenuhi wangi surga, yang menguap dari  berjuta kelopak-kelopak kecil nan  elok di padang rumput maupun, di taman-taman  perumahan hingga dari semak-semak berbunga. Oktober membuat dunia menjadi sumringah penuh warna.  Hidup penuh bunga!.

Juga menebarkan kebahagiaan bagi kupu-kupu yang beterbangan dengan gemulai dari bunga ke bunga. Menyediakan madu berlimpah bagi para lebah untuk persediaan yang banyak di musim yang susah.   Dan memberi semangat  pada burung-burung pipit yang bercericit terbang dari rumput ke rumput  mencari biji-bijian di pinggir kali.

Selamat datang,Oktober!. Bulan penuh  bunga…