Kisah Pagi Dan Dua Ekor Bayi Bajing Kelapa.

Standard

Bayi Bajing Kelapa 1Hari libur! Pagi-pagi enaknya berjalan-jalan di sekitar perumahan. Menggerakkan kaki yang berhari hari terpaku di bawah kursi tanpa gerakan yang berarti. Ketika  melintas di gerbang depan, Satpam pintu gerbang menyapa saya dengan semangat. “Bu! Ibu!. Lihat nih Bu . Kami mendapat anak tupai” katanya. Sayapun mendekat untuk melihat. Dua ekor bayi bajing kelapa yang masih kecil tampak meringkuk di dalam sarang burung yang terbuat dari serat-serat tanaman.  Aiiiiih…. lucunya  Rasanya pengen menjawil.  Ukurannya segede bola pingpong. Warnanya coklat hijau zaitun Matanya merem tertutup, seolah-olah tak mau melihat manusia.Ia membenamkan wajahya ke dalams arang burung. Aduuh kasihanya.Tentulah  ia sangat ketakutan. Kemana ibunya ya…

Dapat darimana?” tanya saya kepada Pak Satpam.  “Jatoh, Bu. Dari pohon palem” Jelas satpam. “Itu noh, tempat ibu tadi berdiri” katanya dengan logat Betawi yang sangat kental sambil menunjuk pohon palem tinggi tak jauh dari posisi saya berdiri sekarang. Sayapun menengok. Tinggi juga jatuhnya. Untungnya kedua bayi kecil itu jatuh berikut sarangnya yang empuk, sehingga tidak cedera. “Kenapa tidak dikembalikan saja ke tempatnya?” tanya saya. Satpam menggeleng karena pohon palem itu memang terlalu tinggi untuk dipanjat. Sayapun berpikir. Lagipula jikapun berhasil diletakkan kembali  di sana setelah jatuh dan agak lama di bawah, belum tentu induknya tahu juga kalau anaknya sudah kembali ke atas.  Jika induknya tidak datang, tentu kedua bayi bajing itu bisa bertahan juga jika tidak ada yang memberi makan. Saya tidak bisa mematahkan teori itu. Bisa jadi benar.  Mereka menemukan bayi bajing itu saat pergantian jaga dengan Satpam sebelumnya. Jadi mungkin sebenarnya sudah jatuh sejak kemarin atau semalam, namun tak ada yang melihat.  Hm.. tak mungkin juga saya meminta Satpam untuk memajat pohon itu berkali-kali untuk memeriksa apakah  induknya datang atau tidak, atau untuk memberinya makanan. “Jadi?” Tanya saya.

Daripada mati, seorang dari Satpam itu akan memeliharanya. Memberinya susu dan merawat kesehatannya. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia juga pernah memelihara Bajing sejak bayi hingga besar. Demikian juga dengan anak burung Belekok. Dan binatang-binatang itu sangat jinak . “Kalaupun dilepas, akhirnya ia pulang lagi ke rumah” katanya.  Saya mengangguk-angguk dan  tak berkomentar lagi. Memang ada orang-orang yang puya kesabaran dalam memelihara binatang yang tertimpa kemalangan.

Akhirnya pagi itu diakhiri dengan ngobrol ke kiri dan ke kanan tentang Burung-Burung yang banyak berkeliaran di sekitar perumahan. Satpam mendemonstrasikan kepada saya, bagaimana cara memanggil burung agar berdatangan dengan rekaman suara burung tertentu. Benar saja. Tiba-tiba entah datang darimana belasan burung berdatangan dengan cepat dan bertengger di pohon di dekat tempat kami berdiri. Ada burung Kutilang, Cerukcuk, burung Cabe, burung Prenjak dan burung Madu. Sayapun memotret burung-burung itu.  Sangat menakjubkan! Bagaimana ya sebenarnya cara kerja suara burung itu? Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh burung di rekaman itu yang membuat burung-burung lain tiba-tiba berlomba-lomba datang mendekat? Seandainya saya mengerti bahasa burung.

Matahari merangkak naik. Sambil berjalan pulang saya  memikirkan betapa banyak hal yang tidak kita kuasai sebagai manusia. Yang masih tetap menjadi rahasia alam..

12 responses »

  1. Jadi inget pas putri saya lahir ada parkit nyasar dirumah. Sempat dipiara hampir 3 thn. Sebelum kami titipkan keteman yg punya peternakan parkit. Sampe dikasih nama Bejo oleh istri saya.🙂

  2. semoga ketemu induknya ya.. mbakkkk ku mo tanya nih, di rumah ada 3 anak burung, 1 masih mengapmengap, ku taroh di rumput dengan bungkusan daun.. kasih serbet juga.. makannya nasi dowang.. apa selain nasi ya?

    • anak burung apa ya itu? he he..bingung juga sih jawabnya. Paruhnya kaya gimana? Coba lihat. Kalau pendek dan tebal,kemungkinan pemakan biji-bijian. Dulu waktu kecil aku suka megulekkan beras lalu kumasukkan ke mulutnya pakai sendok dari daun pisang. Biasanya lebih tahan jika dibandingkan dengan diberi nasi.
      Tapi kalu paruhya tipis dan panjang,mungkin jenis pemakan serangga – mesti dikasih ulat atau cacing..

  3. Keasrian lingkungan tempat tinggal Jeng Ade menjadikan satwa betah.
    Kompakan dengan Pak Satpam yang juga pecinta satwa nih Jeng.
    Suka dengan penutupnya, betapa kita noktah kecil dari alam raya. Salam

  4. Mbak, saya sampai terhanyut baca cerita ini…bukan apa-apa, saya paling tidak tega kalau lihat bayi binatang yang terpisah dari induknya😦
    Smoga mereka mendapat perlindungan yang aman dan nyaman dari Pak satpam, dan siapa tahu, sang induk bisa ketemu lagi dengan mereka…

  5. Adik sy kmrn nemuin 2 ekor bayi bajing tp yg 1 dah mati,skrng tnggal 1 trs kmi rawat dan mknnya gk rewel buah apapun mau.Kmi beri nama piko,mga piko sehat smpai besar nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s