Menonton Pementasan Teater Koma: Ibu.

Standard

Teater Koma - IbuSetelah berhari-hari hanya berkutat dengan  urusan pekerjaan , akhirnya  semalam saya mendapat kesempatan untuk menonton  “Ibu”   yang dipentaskan oleh Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki di Cikini.  Ini adalah pementasan hari ke 9, karena naskah ini dimainkan sejak tanggal 1 November. Macet di daerah Pakubuwono dan Semanggi, banyaknya jalan yang ditutup dan membludaknya penonton yang datang ke TIM malam itu, membuat saya beberapa menit  terlambat datang.

Namun seperti halnya pementasan Teater Koma lain yang  banyak mendapatkan decak kagum penonton, pementasan yang  berdurasi 2,5 jam inipun mendapatkan apresiasi yang sama. Mengadaptasi naskah “Mutter Courage Und Ihre Kinder” – Mother Courage and Her Children – karya Bertolt Brecht, seorang dramawan  German, pementasan berkisah tentang seorang Ibu dari 3 orang anak (Elip, Fejos,Katrin)  yang gagah berani menjalani kehidupannya di tengah berkecamuknya perang Eropa yang berlangsung  di abad ke 17. Di panggung ini, dikisahkan bahwa yang berperang adalah pihak Matahari Hitam vs Matahari Putih.

Pada umumnya, jika perang berlangsung maka  rakyat kecillah yang menjadi korban.  Namun Si Ibu memutuskan ia tidak mau menjadi korban peperangan. Alih-alih menderita karena perang, ia memilih untuk megambil keuntungan dari peperangan dengan cara membuka kantin dan menyediakan barag-barang kebutuhan para prajurit  di kedua belah pihak. Jika Matahari Hitam sedang berjaya, maka ia berdagang di area Matahari Hitam dan memasang bendera Matahari Hitam. Sebalikya jika Matahari Putih sedang berjaya, iapun pindah ke area Matahari Putih dan memasang bendera Matahari Putih. Baginya tidak ada keharusan untuk setia pada satu pihak.

Dan iapun berusaha keras mencegah ketiga anakya agar jangan sampai terlibat dalam urusan perang (walaupun belakangan usahanya ini ternyata sia-sia juga). Prinsipnya tetap sama,  barangsiapa yang melibatkan diri dalam perang sudah pasti akan menderita. Mau menang ataupun kalah dari musuh, ujung-ujungnya tetap akan menderita oleh peperangan itu sendiri.

Oleh karenanya, ia tidak peduli degan bunyi senapan yang bergema. Yang penting tetap berdagang dan mengambil untung dari peperangan. Ia sangat berani. Itulah sebabnya mengapa ia disebut dengan Ibu Brani (Mother Courage) walaupun nama sesungguhnya adalah Anna.

Adopsi dan Adaptasi.

Satu hal yang saya lihat sukses dilakukan oleh sutradara N Riantiarno disini adalah adopsi dan adaptasi yang sangat baik dari sebuah naskah Eropa agar relevant dengan audience lokal. Pak Nano mengadaptasikan cukup banyak  hal, namun audience tetap mengerti bahwa setting cerita itu berlokasi di Eropa.  Misalnya dalam penyebutan nama pelakon, dibuat sesederhana dan semudah mungkin diucapkan dan didengar oleh telinga lokal.  Misalnya nama Eilif, ia adaptasikan hanya dengan nama Elip. Lalu ada Catherine menjadi Katrin. Chaplain mejadi Kaplan saja deh. Lalu ada lagi seorang pelacur yang bernama Ipit. Nah, yang ini berasal dari nama Yvette Pottier – ribet bukan? Daripada susah –susah, ya sudah… sebut saja Ipit. Si Ipit.

Penggambaran adegan per adegan cukup jelas beserta sekuensial waktunya. Karena ada narator yang menjelaskan apa yang terjadi  sambil membawa keterangan waktu. Misalnya 1629. Jadi kita tahu bahwa kejadian itu berlangsung pada tahun 1629. Tahun 1932, 1934, 1935 dan seterusnya. Properties panggung yang disiapkan juga sangat membantu penonton untuk ikut memahami dan merasakan dimana kejadian di dalam setiap adegan itu berlangsung. Carut-marutnya keadaan akibat peperangan digambarkan dengan sangat baik oleh pak Nano. Demikian juga ketegangan antara pihak Hitam dan Putih tergambar jelas tanpa harus menunjukkan  bentrokan fisik. Walaupun Tentara Hitan dan Putih  berada dalam satu panggung, namun tidak ada adegan adu jotos murahan terlihat di sana. Yang ada hanya defile dan lagu-lagu  mars yang sudah cukup menggambarkan suasana peperangan dengan anggun.

Yang juga menarik adalah peggunaan Hitam vs Putih yang biasanya berkonotasi Kejahatan vs Kebaikan di sini tidak terasa. Pak Nano seperti memiliki caranya sendiri untuk menetralisir kedua kata itu. Hitam dan Putih hanyalah dua belah pihak yang sedang berseteru dan dua-duanya menginginkan kemenangan. Itu saja.

Kejahatan dan Masalah Sosial Yang Dimaklumi.

Melalui pemain-pemainnya  serta dialog yang terjadi, ide-ide dan  pemikiran demi pemikiran mengalir dan terbangun dengan sangat baik, membuat para penonton diajak untuk memahami bahwa sebagian besar dunia ini  berada di zona abu-abu. Ya. Dunia ini memang bukan terdiri atas warna hitam dan putih murni saja. Namun kebanyakan campuran keduanya. Perang membuat hal itu semakin jelas terjadi. Perang melahirkan “kejahatan dan masalah sosial yang dimaklumi”.

Usaha penyuapan yang dimaklumi – saat Ibu Brani berusaha menyuap tentara Putih lewat pelacur Ipit agar melepaskan Fejos anaknya dari hukuman mati saat tertangkap membawa kotak gaji dari tentara hitam. Suap adalah suap, apapun penyebabnya tetap saja sebuah kejahatan. Namun di sini usaha suap menjadi dimaklumi karena itu dilakukan pihak Ibu Brani (pihak yang lemah dan memenangkan simpati) dalam rangka menyelamatkan nyawa anaknya yang tidak bersalah.

Korupsi oleh pejabat juga seolah dimaklumi dan dibiarkan saja. Karena tak seorangpun berdaya . Ada tentara yang berdemo dan kesal karena kejahatan korupsi itu merugikan dirinya, namun kemudian juga menyerah dan mengalah.Akhirnya…ya sudahlah.

Pelacuran yang dimaklumi, penggerogotan harta dengan cinta palsu, ketidaksetiaan masyarakat terhadap satu pihak demi uang, merampas ternak petani, dan banyak sekali degradasi moral lain yang terjadi dan dimaklumi dalam keadaan perang.

Karakter-Karakter Yang Menarik.

Sangat senang melihat pertunjukan ini, karena di sini kita bisa melihat berbagai karakter manusia yang berbeda-beda, dan tak selamanya 100% baik atau 100% jahat. Dan tentunya kekuatan karakter itu hanya akan tergambar dengan baik jika aktor dan aktrisnya melakukan peranannya dengan baik sesuai degan tuntutan skenario.

Ibu Brani dengan karakternya yang sangat kuat – diperankan oleh Sari Madjid dengan sangat baik .  Seorang ibu sekaligus kepala rumah tangga yang sangat melindungi anaknya, yang tak mau keluarganya  menjadi korban perang namun pada akhirnya mau tak mau harus mengakui bahwa perangpun tidak mengistimewakan dirinya. Ia harus menelan kenyataan bagaimana ia harus kehilangan satu per satu anaknya, dirampas oleh perang yang ganas. Terus terang saya sempat meneteskan airmata pada adegan dimana sang Ibu memeluk jenasah Katrin, putri bungsunya yang tertembak mati tentara ketika berusaha membangunkan penduduk. “..tidur, tidurlah anakku sayang…” . Tidak mudah membangun karakter wanita yang  memiliki keseimbangan baik  antara sisi feminin  sebagai wanita, kelembutan seorang ibu, dan kekuatan serta ketabahan seorang kepala keluarga secara konsisten dari satu adegan ke adegan lainnya. Bravo buat Sari Madjid.

Karakter lain yang juga sangat menarik adalah Katrin yang diperankan oleh Ina Kaka. Saya terkesan bagaimana Ina membangun sosok Katrin, gadis muda yang bisu , berkembang karakternya dari hanya seorang gadis yang pasif, hanya meunggu dan menerima perintah ibu,mejadi gadis yang ingin tahu, belajar dari sekeliling dan akhirnya menjadi pengambil keputusan  untuk dirinya sendiri dan penduduk sekitarnya.

Karakter-karakter yang lain juga banyak yang menarik dan dibangun dengan apik oleh para pemainnya. Disini saya harus memberi acungan jempol yang banyak.

Pertama adalah karena kesuksesannya  membangun karakter sesuai dengan tuntutan skenario.

Kedua untuk stamina-nya yang tinggi melakukan pertunjukan marathon yang direncanakan akan berlangsung selama 17 hari dari tanggal 1 Nov – 17 Nov’13.

Dan yang ketiga karena saya menganggap  bahwa orang-orang yang bekerja di panggung teater adalah para seniman sejati. Challenge yang dihadapi sungguh jauh berbeda dengan seniman untuk layar lebar maupun sinetron. Berakting di panggung teater tidak boleh salah – karena penonton berada persis di depan kita tepat pada saat yang sama.  Beda dengan akting di film atau sinetron, yang jika salah ya… cut ! Dan tinggal ulang lagi berakting hingga dapat yang disukai.Tingkat stress dan toleransi akan kesalahan tentunya jauh lebih rendah.

Secara keseluruhan saya sangat senang dengan pementasan Teater Koma ini. Rasanya tidak ada kekurangan yang ingin saya sampaikan di sini. Semuanya terlihat baik. Lightingnya membuat terlihat sangat artistik. Blocking panggungnya juga sangat efektif dan efisien. Tata rias, kostum nya bagus. Musiknya apalagi – sangat membantu membawa mood penonton ke suasana  yang diinginkan . Saya suka lagu-lagu dan joke-joke segar yang membuat grr penonton..

Sukses selalu untuk Teater Koma – semoga dunia perteateran di tanah air semakin berjaya!.

17 responses »

  1. wah, seru juga nonton teater budaya Eropa…
    menyaksikan pentas kebudayaan memang sangat menarik untuk diikuti. Jadi kan wawasan kita tidak hanya berkutat pada budaya bangsa sendiri, tapi juga budaya negeri luar. Great !!!
    oia mba, follow blog aku y… he

  2. Mbaaaak, saya jadi ingat bukunya Pearl S. Buck yang berjudul Three Daugters…ceritanya mirip-mirip dengan kisah Ibu ini, hanya lata belakangnya budaya Cina dan usaha yang dilakukan si ibu adalah rumah makan berkelas yang dijadikan tempat berkumpulnya para pejabat.

    Baca ringkasan pementasan cerita yang ditampilkan oleh Teater Koma ini, bikin saya penasaran buat menyaksikan adegan demi adegan secara langsung. Pasti keren ya, mbak!😀

  3. Menarik banget postingannya. Rasanya saya belum pernah menontong pementasan teater koma ini. Sementara saya puaskan dg melihat satu demi satu foto pd galeri foto diatas…

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s