Menyimak “Senggeger”, Menjenguk Dunia Imaginasi DG Kumarsana.

Standard

???????????????????????????????Ketika sibuk mencari buku kecil tentang Management di rak buku, saya  melihat sebuah buku tipis dengan cover merah hitam terhempas melintang di salah satu kotak rak itu. Judulnya “Senggeger” – sebuah kumpulan cerpen karya DG Kumarsana. O ya, sudah lama juga saya tidak melihat buku itu lagi.  Maka sayapun meraihnya dan berpikir, jika kesibukan pekerjaan saya ini agak berkurang saya akan membacanya kembali.

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi pada bulan Desember 2010  ini  tediri atas 15 buah cerpen yang tentunya tidak ada hubungannya satu sama lain. Namun jika kita membaca semuanya, kita bisa menangkap beberapa benang merah yang cukup jelas tentang apa yang menjadi perhatian penulisnya. Yakni seputar kehidupan sehari-hari masyarakat, tentang mitos, tentang wanita (kekasih, ibu) dan sedikit kritik akan kehidupan lembaga pemerintah  yang  disampaikannya dengan cara yang jenaka.

Sangat menarik untuk dibaca, dan  saya menyukainya. Setiap cerpen yang ada memiliki alasannya masing-masing untuk saya sukai.  Contohnya adalah cerpen ke-empat belas yang berjudul “Kambing”.  Sebuah flashback masa silam tentang seseorang yang demi usahanya memajukan pendidikan di desanya memutar otak menyikapi sikap korup yang dilakukan oleh pejabat-pejabat terkait. Alih-alih menghentikan upaya pejabat itu dalam memerasnya dengan meminta disediakan 2 ekor kambing tiap kali proposalnya disetujui, ia mengikuti saja apa permintaan sang pejabat. Lalu mendokumentasikan setiap kambing itu dalam album-albumnya. Pada akhir masa tugasnya, tak terbayang jumlah kambing yang menghiasi album itu. Albumnya ternyata penuh dengan foto kambing!. Ha ha . Kocak juga. Saya tersenyum geli membaca tulisan jenaka ini.

DG Kumarsana juga banyak berkisah tentang wanita. Wanita yang menduduki posisi sebagai kekasih, pacar, istri, teman dengan beragam tingkah lakunya yang sangat perempuan. Bagaimana tingkah laku wanita mempengaruhi pikiran pria, tergambar jelas dalam  cerpen “Istriku dan Senggeger”, “Wah”, “Suatu Ketika, Ayu”, “Ibu”, “Ibu Kapan Pulang?” ataupun pada cerpen “Rumah”.

Pada cepen “Rumah” misalnya , DG Kumarsana menulis bagaimana lamunan seorang pria bisa berjalan sedemikian jauh, tentang wanita pasanganya yang menuntut dibelikan rumah, sementara ia merasa galau dengan penghasilannya yang hanya pas-pasan untuk mengisi perut saja. Di sini saya merasakan sebuah kesenjangan yang tercipta akibat dua hal yang kurang menguntungkan: lelaki dengan penghasilan pas-pasan  versus wanita yang menuntut kesejahteraan.  Tapi apakah kebanyakan wanita memang seperti itu?Hmm..mungkin saja. Setidaknya itu adalah citra yang umum melekat pada kaum perempuan.

Dalam cerpen “Istriku Dan Senggeger”, DG Kumarsana menceritakan kekuatan magis yang disebut dengan Senggeger yang telah merenggut cinta istrinya tanpa belas kasihan dan membuatnya ketakutan tak berdaya. Saya membaca apa yang ada dalam pikiran pria ketika mendapati kenyataan bahwa istrinya berselingkuh dengan pria lain. Kegalauan, kekhawatiran dan rasa memiliki yang tinggi sebagai seorang lelaki dan akhirya lemah tak berdaya  oleh kekuatan lain yang tak mampu dikuasainya. Secara kreatif penulis memanfaatkan mitos tentang ilmu guna-guna  yang dilatar belakangi kepercayaan setempat dalam karya sastranya. Hal yang serupa juga kita lihat pada cerpen “Ayah” dan “Boneka Berdarah”. Terasa agak magis dan mistis. Walaupun sebagian tentu mengeryitkan dahi  membaca tulisan ini, namun  mitos-mitos seperti ini mungkin saja memang masih banyak beredar di masyarakat.

Cerita yang menarik lagi adalah tentang kematian. Saya melihat bagaimana DG Kumarsana  mengemasnya dengan sangat imajinatif. Kita jadi ikut membayangkan perjalanan sang mati  dalam menemukan kenyataan dirinya dalam kematian. Dan terus terang pada akhir cerita saya merasa agak berdegup juga membaca cerita tentang  Mati ini.  semua yang saya ceritakan di atas tentunya belum semua. Masih banyak lagi tulisan-tulisan DG Kumarsana lain yang tak kalah menariknya untuk dibaca.

Secara umum pendapat saya tentang tulisan-tulisan di buku ini adalah :Kreatif dan Imaginatif! Disinilah letak kekuatan DG Kumarsana sebagai seorang sastrawan. Ia memiliki kemampuan mengangkat hal-hal yang absurd dan kurang jelas dimasyarakat menjadi sesuatu yang lebih nampak.

Membaca karya tulis seseorang, membuat saya membayangkan diri memasuki dunia imajinasi penulisnya.  Dunia pikir yang yang teratur, tertata rapi, berantakan atau tunggang langgang. Dunia damai yang teduh, atau dunia yang dinamis dan berapi-api. Juga membuat kita membayangkan imajinasi liar penulisnya.  Sejauh mana imajinasi telah ter’stretch’ ke ujung semesta.Sejauh mana impian membawanya melambung ke angkasa . Juga sejauh mana sang penulis memberika segala kebermungkinan untuk tumbuh equal dalam pemikirannya dan atau sejenis campuran antara cara berpikir seseorang plus nilai-nilai yang dianut dalam hidupya. Demikian juga ketika saya membaca buku Senggeger ini. Saya merasa seakan-akan  saya ikut memasuki alam pikir DG Kumarsana yang sangat imajinatif. Sangat mungkin terjadi karena kepiawaian Kumarsana dalam pemilihan dan pengolahan kata-kata menjadi sebuah fiksi yang kaya fenomena termasuk realitas kehidupan sosial – seperti yang dikomentari oleh I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, seorang Penyair yang tinggal di Tabanan, Bali.

Lalu siapakah DG Kumarsana? Pada bagian ulasan tentang sang pengarang, saya melihat tertulis di sana bahwa Dewa Gede Kumarsana adalah seorang  penulis yang lahir di Denpasar  pada 13 April 1965 dan kini berdomisili di Labuanapi, Lombok Barat. Tidak mengherankan karya-karya sastranya banyak mengambil latar belakang budaya masayarakat Lombok dengan sedikit sentuhan akar budaya Bali sebagai tanah kelahiran sang sastrawan.  Setahu saya DG Kumarsana memang  seorang penulis yang cukup produktif.  Cerpen-cerpennya banyak dimuat di harian BaliPost, Nusa Tenggara, Karya Bakti, Majalah Ceria Remaja dan majalah bulanan Gema Karya.  Selain cerpen, DG Kumarsana juga menulis sajak, esai,prosa dan seputar catatan budaya. Pernah bergabung di Sanggar Persada Bali,Sanggar Minum Kopi bersama dr  Sthiraprana Duarsa. Juga pernah ikut meramaikan lalulitas sastra bersama Dige Amerta, Boping Suryadi, Reina Caesilia, K Landras, dll – juga mengisi lintas Gradag Grudug Bali Post Mingguan yang digerakkan oleh penyair Umbu Landu Paranggi (Motivator Presiden Malioboro). Ah… saya kenal baik dengan beberapa kawan yang namanya disebutkan di buku ini.

Saya sendiri mengenal Dewa Kumarsana dan keluarganya sebagai tetangga pada tahun  delapan puluhan saat saya nge-kos di daerah Gang Keris tak jauh dari kampus Kedokteran Hewan Udayana di Sudirman, Denpasar. Seingat saya pada tahun-tahun itu Dewa Kumarsana  bekerja di apotik Kimia Farma. Di mata saya ia adalah seorang pekerja keras yang tak segan-segan berangkat pagi dan pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaannya,  saat saya dan orang-orang lain  seumurnya  masih bermaja-manja, hanya tahunya kuliah dan  meminta uang pada orang tua saja. Semetara ia sendiri sudah bisa mandiri di umur itu.

11 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s