Sekali Lancung Ke Ujian, Seumur Hidup Tak Dipercaya.

Standard

???????????????????????????????Pulang dari kantor, ke dua anak saya sudah menunggu dengan wajah tidak sabar.  Jarang saya melihat mereka sedang menganggur tidak melakukan apa-apa  ketika saya sampai di rumah. Biasanya saya menemukan mereka sedang menonton TV, sedang bermain game, sedang menyiapkan buku untuk dibawa ke sekolah esok harinya, atau sedang belajar, sedang menyelesaikan prakaryanya atau sedang makan.  Wah! Ada apa ini?

“Maaf Ma! Boleh periksa tas Mama ya? Mama mungkin membawa dua charger komputer ke kantor” kata anak saya yang besar sambil menjelaskan bahwa batere laptopnya habis. Saya mengangguk, membolehkan anak saya memeriksa tas saya. Anak saya yang kecilpun menyusul mengatakan hal yang sama. Bahwa ia tidak bisa meyalakan laptopnya karena beterenya juga habis. Ouh! Begitu ya? Saya nggak ngeh kalau tanpa sengaja telah membawa lebih dari satu charger ke kantor. Waduuh, saya jadi kasihan sama anak-anak saya. Jadi dari tadi tentunya tidak bisa bermain game atau mengerjakan tugas sekolah yang membutuhkan komputer karena chargernya terbawa tanpa sengaja oleh saya.

Kedua anak sayapun dengan bergegas membuka tas laptop saya dan  wajahnya seketika kecewa ketika tidak menemukan charger lebih di sana. Hanya sebuah. “Wah?! Kok nggak ada  ya?. Jangan-jangan di kantong yang ini?!” anak saya lalu membuka kantong tas yang lainnya, namun tidak menemukan charger laptop mereka di sana. Masih belum berputus asa, mereka lalu memeriksa tas tangan saya. Masih tetap tidak bisa menemukan  apa yang dicarinya.”Hmmm..kemana ya?”  Keduanya tampak berpikir keras mencari tahu kemana gerangan chargernya.

Mengetahui itu sayapun ikut mengingat-ingat, apakah saya memang ada membawa charger lebih ke kantor. Rasaya sih tidak ya.Lalu kemana charger itu pergi?  Untuk urusan personal, saya dan suami sama-sama menggunakan komputer merk A di rumah. Sedangkan kedua anak saya menggunakan komputer merk B.  Jadi biasanya yang sering saling bertukar charger adalah saya dengan suami karena chargerya sama. Atau anak saya yang besar dengan yang kecil. Namun berhubung laptop dinas saya dari kantor adalah merk B juga, maka kadang-kadang charger kantor sayapun bisa tertukar dengan anak-anak.  Kalau habis dipinjam, charger kadang -kadang ketinggalan di rumah alias lupa tidak terbawa ke kantor. Ruwet deh!.

Masalah tambah ruwet, karena salah satu dari charger anak saya juga ketinggalan saat kami pulang kampung sebelumnya. Tidak terbawa ke Jakarta. Akibatnya sekarang ada tiga laptop dengan merk yang sama hanya menggunakan 2 charger. Kurang satu deh. Semakin seringlah charger saya dipinjam anak-anak. Atau kadang kalau charger saya dipakai oleh salah satu anak, maka saya yang meminjam charger anak yang satunya lagi. Itulah sebabnya ketika anak-anak menyangka bahwa sayalah yag  membawa charger mereka, saya tidak buru-buru menyangkal. Siapa tahu memang terbawa oleh saya? Walaupun dalam hati saya merasa tidak ada melihat 2 charger di dalam tas.

Nah lho?! Jadi kemana charger itu sekarang ya?

Karena baru pulang dari kantor dan merasa agak malas membongkar-bongkar, saya menyarankan agar anak-anak bertanya kepada si Mbak yang di rumah saja. Siapa tahu ia yang merapikan dan menyimpankan chargernya. Anak-anak pun menurut. Dan benar saja,  ternyata Si Mbak yang merapikan dan menyimpan charger itu di dalam laci meja belajar anak-anak. Waw..pantes aja. Karena tidak pernah menyimpan charger di sana, jadi anak saya tidak terpikir sama sekali bahwa chargernya sebenarnya ada di rumah. Mereka cuma puya satu dugaan kuat bahwa sayalah yang tanpa sengaja membawa charger itu ke kantor.

Ketika saya bertanya,mengapa anak-anak menyangka saya yang membawa dan bukannya mengubrek-ubrek laci meja belajarnya terlebih dahulu? Anak saya menjawab, bahwa mereka menduga begitu karena sebelumnya saya pernah tanpa sengaja membawa charger lebih dari satu ke kantor.  Oh ala..!Rupanya begitu ya?  Sekali berbuat salah, rupanya jadi dicurigai akan mengulangi hal yang sama lagi ya? Apalagi kalau berbuat curang, lain kali tentu tidak akan dipercayai lagi. Jadi lain kali berhati-hatilah.

Ini bisa terjadi pada segmen kehidupan kita yang lain juga. Di sekolah misalnya. Janganlah sekali-sekali mencoba mencontek. Karena jika sekali saja ketahuan mencontek, maka semua nilai bagus yang pernah kita dapatkan dari usaha murni dan jujur kita sebelumnya, jadi hilang semua. Karena sekarang semua teman-teman menyangka  bahwa kita mendapatkan nilai tinggi yang sebelumnya itu adalah hasil mencontek juga. Tidak menyenangkan, tentunya.

Itulah sebabnya mengapa ada pepatah “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya” . Tentunya tidak asing dengan pepatah lama ini bukan?

14 responses »

  1. pengingat untuk teliti dalam berkemas ya Jeng….
    pembelajaran “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya” yang berawal dari rumah.
    Suksma mBok Ade.

  2. hihihi kejadian sama.. selalu jadi tersangka utama kalu charger hilang, padahal disimpan si mbak.. kan bisa ditaroh pada tempatnya, kalu tempatnya beda bingunglah cari lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s