Daily Archives: November 29, 2013

Mengubah Rasa Benci Menjadi Lebih Positive.

Standard

Bunga Pukul Delapan 1Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, atau memposisikan diri saya sebagai seorang guru moral. Namun  lebih sebagai sebuah pendapat saya atas pertanyaan yang diajukan oleh seorang keponakan tentang bagaimana caranya menghapuskan rasa benci dan mengubahnya menjadi positive? Dan bagaimana caranya menghapuskan rasa cemburu? Saya share di sini, untuk dua alasan. Pertama, karena barangkali  usulan ini juga ada gunanya bagi mereka yang membutuhkan – jika tidak berguna, ya dilupakan saja. Kedua karena tulisan ini cukup panjang  jika ditulis  di status media sosial.

Terus terang pertanyaan ini sangat menggelitik pikiran saya, karena sama sekali bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Karena secara teori sangatlah mudah dan banyak petuah yang kita tahu agar jangan membenci orang lain karena tak ada gunanya, namun tidaklah mudah menyediakan saran langkah demi langkah yang harus diambil jika seandainya kita kepalang berada di posisi itu. Tapi saya pikir apapun yang katanya tidak mudah atau sulit, tetap memberikan peluang untuk berhasil kita selesaikan. Jadi saya merenung dan merekonstruksi pikiran saya,  sendainya hal itu terjadi pada diri saya. Di tulisan ini saya  hanya fokus pada pertanyaan tentang bagaimana caranya menghapuskan rasa benci dan mengubahnya  menjadi positive:

Menurut pendapat saya ada beberapa cara  yang bisa kita lakukan jika kita memang benar-benar serius menghilangkan rasa benci kita pada seseorang:

a. Melarutkan Tinta Dalam Air.

Setetes tinta yang hitam jika dituangkan dalam sedikit air putih, tentu akan membuat air itu mejadi hitam. Namun jika kita menambahkan air putih yang banyak, tentunya tingkat kepekatan tinta itu akan berkurang dan akhirnya hilang sama sekali.

1/.Tetaplah berhubungan dengannya. Jangan  berhenti atau menghindar. Ini akan membuat perasaan kita terhenti di puncak kebencian dan sulit untuk merubahnya.

2/. Carilah minimal 5 hal postitive tentang dia. Sangat ajaib, kebanyakan dari kita akan menemukan bahwa ternyata orang yang tidak kita sukai ternyata memiliki kebaikan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari keburukannya.

3/. Menyadari itu, biasanya dengan sendirinya rasa tidak suka kita akan larut. Dan tak ada lagi bekasnya. Ini sangat serupa dengan larutan tinta hitam yang berubah mejadi bening jika kita terus menambahkan air putih.

b. Meditasi/Berdoa.

1/. Setiap orang tentu melakukan upaya pendekatan diri pada Tuhan setiap hari (doa, sembahyang ataupun  meditasi)  sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing. Sangat mungkin kita menggunakan saat-saat ini untuk membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal negative seperti kebencian dan cemburu.

2/. Renungkan diri kita sendiri; segala pikiran, perkataan ataupun perbuatan yang dipicu oleh rasa benci atau cemburu yang ada pada diri kita. Beri perintah kepada diri kita untuk mengeluarkan dan membuangnya jauh-jauh.

3/Mohon perlindunganNYA agar hati, jiwa dan pikiran kita dibersihkan selalu dari hal-hal yang negative, termasuk rasa benci dan cemburu.

Meurut saya ini adalah cara yang paling ampuh untuk menghilangkan segala hal negative dalam diri kita.

c. Balanced Scoring.

1/. Buatlah “Daftar Jujur” di dalam pikiran kita tentang bagian-bagian dari diri kita  yang berinteraksi dengan orang lain.

  1. Secara Fisik (tubuh , diri sendiri  dan  hal-hal yang menyangkut kepemilikan kita)
  2. Secara Non Fisik (gaya berbicara, nada suara, keramahtamahan, isi kalimat, sopan santun, pengertian terhadap orang lain, cara menghargai orang lain, ketulusan hati dan sebagainya).

Bayangkan bagaimana orang-orang di sekeliling kira-kira akan memberikan ‘score’  kepada kita. Score dengan skala 1-10 (1 untuk sangat tidak suka , hingga 10 untuk sangat suka) untuk setiap element di atas. Lakukan sejujur-jujurnya.

2/.  Lakukan hal yang sama untuk orang yang kita benci/cemburui.

3/. Bandingkan score diri kita dengan dirinya. Ulangi excersise dengan lebih hati-hati dan lebih jujur lagi. Mungkin hasilnya berubah?

4/.Jika telah mengulang 2-3 kali dan mendapatkan hasil final yang lebih konstan, bandingkan setiap element. Di element mana kita mendapatkan score yang lebih baik/kurang.

Membandingkan Score di setiap element:

Fisik (Diri/Kepemilikan) :

  1. Jika score fisik  kita lebih tinggi, tidak usah dibanggakan. Mungkin kita terlalu narsis.  Orang lain belum tentu akan berpikir begitu.   Juga jika kita memiliki “kempilikan” yang lebih banyak atau lebih baik dari orang lain. Mungkin berpotensi membuat kita mejadi sok, sombong dan takabur.
  2. Jika score fisiknya lebih tinggi, mungkin berpotensi membuat kita iri terhadap kelebihannya. Mungkinkah rasa benci atau tidak suka itu datang dari rasa iri kepadanya?  Kita mungkin tidak mau mengakuinya,namun itu hal yang sangat umum terjadi. Untuk memastikan bahwa kita memang tidak iri, katakanlah pada diri sendiri bahwa itu adalah anugrah Tuhan yang tak bisa kita ganggu gugat. Kita tidak bisa meniru/mengambil hidung orang lain yang lebih mancung dan lebih indah dari hidung kita, bukan?Kecuali jika kita melakukan bedah plastik.Tapi itu bukan hidung asli kita. Itu hidung palsu. Apakah kita mau mejadi palsu ?

Jadi, lupakanlah!.  Jangan pernah membandingkan fisik kita dengan orang lain lagi. Cukup sekali ini saja. Karena kita sudah tahu jawabannya. Kalah atau menang tetap tidak ada gunanya. Terimalah diri apa adanya dan bersyukur bahwa kita masih dianugerahi anggota tubuh. Maksimum-maksimum yang bisa kita lakukan adalah merawatnya dengan baik, sedikit berdandan dan mematutkan cara berpakaian dengan bentuk fisik kita.

Non Fisik:

Nah ini adalah bagian  dari hal yang harus kita lihat baik-baik dan ambil action:

1.Jika ada score kita yang  lebih buruk darinya – kita harus segera merubah diri memperbaikinya hingga ke level minimum sama dengannya atau kalau bisa lebih baiklagi.

2.Jika ada score kita yang lebih baik darinya – tidak sepatutnya membuat kita merasa menang, karena pada akhirnya score ini bukan untuk  mencari kemenangan terhadap orang lain, namun untuk menaklukkan diri sediri.

Disinilah kita akan menyadari pada akhirnya bahwa rasa benci  itu akan lenyap sama sekali dengan sendirinya.