Monthly Archives: December 2013

Growing. We Do It Every Day.

Standard

pakisSeorang teman mengeluh karena merasa matanya mulai berkurang ketajamannya belakangan ini. Ah, sayapun mengalami masalah yang sama.Minus saya bertambah dari waktu ke waktu, sehingga sangat sulit bagi saya untuk melihat jarak jauh dengan baik. Namun teman saya itu rupanya ingin menceritakan hal yang berbeda. Semakin lama semakin sulit  baginya untuk melihat jarak dekat. Bisanya cuma jarak jauh. Ha ha.. Wah, kalau begitu itu sih urusannya dengan faktour “U” ya.  Namun  tentu tidak tega bagi saya untuk mengatakan bahwa ia semakin menua dan oleh karenanya matanya semakin rabun dekat “.ouw…just a normal sign that you are growing a little older…“kata saya sambil nyengir.  Teman saya tertawa.

Sebenarnya setelah itu sayapun ikut memikirkan selintas tentang usia saya yang berada di atas usianya itu.  Waktu cepat sekali berlalu. Entah apa saja yang telah saya lalui, tiba-tiba saja setengah abad nyaris lewat begitu saja. Dan tentunya gejala-gejala “pendewasaan’ itupun semakin jelas terlihat. Beberapa waktu  yang lalu ketika mengupload sebuah foto terakhir saya ke Face Book untuk saya jadikan profile, saya melihat kerut merut tampak jelas di wajah saya. Sayapun memperhatikan jemari tangan saya yang juga mulai berkerut-kerut. Waktu rupanya telah meninggalkan jejaknya dengan jelas di kulit saya. Itu pertanda bahwa selama ini saya mengalami pertumbuhan yang  baik setiap harinya.  Hmm… ya..memang!.Growing a little older every day. Ha ha!. Jadi teringat lagu Growing dari Barney yang suka saya nyanyikan ketika anak-anak masih kecil:

“Growing, we do it every day
We’re growing when we’re sleeping and even when we play
And as we grow a little older,
We can do more things because I’m growing and so are you.

Each day we grow a little taller
A little bigger, not smaller.
And we grow a little friendlier too.
We try to be a little nicer as we grow each day,
Because I’m growing and so are you”.

Saya suka menyanyikan lagu ini untuk anak-anak saya, karena saya menyukai kata-kata bahwa jika kita bertumbuh, maka kita akan semakin tinggi, semakin besar. Dan bukan hanya itu, tapi juga menjadi semakin bersahabat, semakin baik terhadap orang lain.  Saya berharap anak-anak saya mengerti dan mampu mencari jalannya sendiri untuk bisa beradaptasi, bertahan dan sukses dalam dunia yang akan dihadapinya kelak.

Kini,  satu tahun lagi kembali telah lewat. Anak-anak semakin besar. Semakin tinggi fisiknya. Semakin tajam pemikirannya. Semakin berkembang pengertian dan pemahamannya dalam hubungan sosial. Saya semakin menaruh harapan tinggi akan anak-anak saya. Sementara, apa yang terjadi dengan saya dalam setahun ini? Kata orang saya semakin matang * maksudnya semakin berkeriput*  Ha ha ha. tak apa-apalah. Saya selalu berpikir itu adalah bagian dari pertumbuhan!

Ya.. bagi setiap mahluk hidup, setiap hari, setiap minggu , setiap bulan dan setiap tahun –  sesungguhnya adalah batu perjalanan  dari sebuah proses pertumbuhan. Entah itu pertumbuhan fisik, pertumbuhan pengetahuan, pertumbuhan kebaikan maupun pertumbuhan kebijaksanaan.  Entah itu pertumpuhan ke atas, ke samping , ke depan, ke belakang ataupun ke bawah. Kita tumbuh ketika kita sedang tidur. Juga ketika kita sedang bekerja, atupun ketika sedang bersenang-senang. Semuanya memberi kesempatan kita untuk tumbuh, tanpa peduli kita sadari atau tidak.  Terkadang bisa saja kita mengalami gangguan kecil yang mungkin menyebabkan kita  sedikit terpeleset – namun asal saja kita mau bangkit dan mau berusaha berjalan kembali,  pertumbuhan baru ke arah yang positive pun pasti akan terjadi lagi. Percayalah, terpeleset adalah bagian dari proses bertumbuh.

Hari ini saya sedang berada di pegunungan. Saya melihat pucuk daun pakis yang baru tumbuh di sebelah tempat saya duduk. Ia mengembang dengan semangat setiap hari menyongsong matahari.  Walaupun kabut sedang turun, ia tetap semangat bertumbuh.  Jikapun gangguan terjadi menghampirinya sehingga ia tak bisa mengembang dengan sempurna, tentu akan keluar lagi pucuk daun baru yang lebih muda dan lebih bersemangat – sehingga menyebabkan pohon pakis itu tidak berhenti bertumbuh. Bayi yang baru belajar berjalan juga demikian. Bukankah terjatuh adalah merupakan salah satu bagian dari upayanya untuk maju,berkembang dan bertumbuh? Demikian juga dengan kita. Apapun yang terjadi di tahun 2013 ini,  yang menyenangkan hati kita ataupun yang kurang menyenangkan, semuanya memegang andil dalam proses kemajuan, perkembangan dan pertumbuhan kita.

Saya merasa sangat bersyukur akan semua hal yang telah saya alami dan lewati di tahun 2013. Dan saya menyongsong pertumbuhan ke arah positive yang lebih baik lagi di tahun 2014 yang akan datang ini.

Happy New Year!Selamat Tahun Baru 2014, para sahabat semua!.

 

Tofu Cabe Garem Kesukaan Anak.

Standard

Tahu Telor Cabe GaremMumpung di rumah ,  saya menenteng anak saya yang gede ke tukang sayur.  Tujuannya ganda. Pertama mengajak ia memilih sendiri bahan makanan kesukaannya. Kedua untuk membantu saya menenteng sebagian belanjaan dari tukang sayur. Sesampainya di tukang sayur di depan ruko , anak saya melihat-lihat apa saja yang dijajakan.  Saya sendiri  langsung melihat ke box  ikan dan menanyakan udang. Rupanya kami kesiangan. Udang sudah habis. Ada sekitar 1/2 kilo tersisa sudah menjadi pesanan Budhe Tukang Jamu. Jadi saya tidak kebagian.

Akhirnya mikir-mikir lagi, mau masak apa. Anak saya menunjuk tahu telor.  Oh ya ide yang bagus juga untuk memasak tahu telor hari ini.  Tahu telor atau tofu adalah tahu yang dihasilkan dengan cara mencampur susu kedelai dengan telor lalau memasaknya. Tesksturnya sangat empuk dan halus. Saya sangat menyukai tahu telor.Demikian juga anak saya. Dan Tahu Telor Goreng dengan Cabe Garem adalah kesukaannya. maka sayapun memutuskan untuk mebuat Tahu Telor Cabe Garem untuknya.

Bahan-bahanya: Sebuah tahu telor – bisa didapatkan di Supermarket umum, cabe merah atau paprika, garam, bawang merah, bawang putih dan kalau ada soun atau bihun.

Cara membuatnya sangat mudah.

1/.  Potong-potong tahu telor lalu goreng sampai warnanya kekuningan.

2/.  Untuk bumbu,  potong kecil-kecil  bawang merah, bawang putih dan cabe merah besar atau paprika, lalu goreng bersama garam.

3/. Untuk acessories, kalau ada bihun atau soun,  – goreng dengan minyak panas hingga garing.

Hidangkan tahu telor di atas piring saji. Taburi dengan  bumbu  dan bihun/soun goreng.  Enak dimakan dengan nasi hangat.

Tour Guide Yang Ikut Membangun Image Pariwisata.

Standard

Memandu WisataDi perjalanan pulang dari Gunung Padang,  anak-anak berceloteh tentang betapa baiknya Pak Yusuf, petugas dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala yang telah berhujan-hujanan mengantarkan kami ke atas dan memberi penjelasan yang cukup detail mengenai situs megalitik Gunung Padang itu. Sangat baik dan suka membantu.

Anak-anak berkomentar, tentu karena pada saat menuruni jalanan yang licin banyak dibantu oleh Pak Yusuf. Selain itu,  pada saat hujan deras turun, Pak Yusuf mempersilakan kami berlindung di balik pohon. Sedangkan Pak Yusuf sendiri bersama suami saya berhujan-hujanan di teras pertama.  Karena memang di teras itu tidak ada tempat berlindung yang lain. Walaupun dipersilakan untuk berlindung di balik pohon, beliau  tidak mau dan tetap mengutamakan memberikan tempat yang lebih terlindung dari air hujan untuk anak-anak terlebih dahulu. Tentu hal ini menimbulkan kesan tersendiri di hati anak-anak.

Pengetahuannya juga baik. Saat anak-anak dengan cerewetnya mengajukan berbagai pertanyaan, Pak  Yusuf menjawab semuanya dengan sabar dan telaten. Apa yang ditanyakan selalu dijawab dengan baik dan jelas. Selain itu Pak Yusuf juga memberi tahukan hal-hal yang boleh dilakukan dan yang tidak. Misalnya jangan mengangkat batu untuk tujuan yang tak jelas, agar jangan jatuh dan patah. demikian juga Pak Yusuf memberitahukan agar jangan duduk di atas batu menhir yang berdiri tegak,maksudnya adalah agar posisi batu itu tidak bergeser ataupun patah. Sayang sekali, tentu kita tidak mau situs sejarah penting bangsa kita itu cepat rusak, bukan?. Pak Yusuf juga memberi contoh, memunguti sampah-sampah yang berserakan di dekat situs, yang dibuang oleh entah siapa – tentu salah seorang pengunjung yang datang sebelum kami sampai di sana.  Lalu membuangnya di tempat sampah yang tersedia.

Pak Yusuf, Pemandu Gunung Padang.Mengingat hal-hal itu, sayapun setuju dengan komentar anak-anak saya bahwa Pak Yusuf yang memandu kami selama di Gunung Padang sangatlah baik. Dan itu membuat keseluruhan kunjungan kami ke situs sejarah itu menjadi sangat berkesan.

Komentar itu membuat saya berpikir tentang betapa pentingnya keberadaan seorang pemandu wisata yang handal di sebuah lokasi pariwisata.  Terutama jika lokasi wisata itu adalah lokasi sejarah, dimana selain untuk berlibur, sebenarnya banyak orang berkunjung sekalian untuk belajar.  Penjelasan yang benar dan detail dari seseorang yang memahami situs itu tentu sangat dibutuhkan.  Bisa dibayangkan betapa mengecewakannya jika tour guide yang tersedia sangat tidak handal dan tidak menguasai dengan baik detail mengenai tempat wisata yang ditanganinya.

Memasarkan sebuah tempat wisata, tidaklah mungkin terlepas dari upaya pembangunan citra yang baik dari tempat wisata tersebut. Lokasi yang aman, akses yang mudah, sarana dan fasilitas yang memadai – termasuk di dalamnya adalah keberadaan tour guide yang handal ini.

Citra yang positive dari seorang  tour guide setempat berkorelasi langsung dengan citra dari lokasi wisata tersebut. Seorang guide perlu menyadari bahwa dirinya adalah representative dari tempat wisata yang diwakilinya.  Misalnya, tour guide situs Gunung Padang, tentu merupakan representative image dari situs Gunung Padang itu sendiri. Jika guidenya tidak handal, tentu pengunjung akan berpikir bahwa tempat wisata itu kurang menarik. Sebaliknya jika guidenya handal dan memahami apa yang harus dipahaminya serta mampu menjelaskan dengan baik ke pengunjung, tentu dengan sendirinya citra dari situs sejarah ini terangkat naik.

Jadi idealnya, seorang tour guide  perlu untuk menguasai  sejarah tempat  terkait dan menguasai setiap titik yang ada di lokasi itu yang memiliki keterkaitan dengan sejarah setempat.  Terutamanya jika tempat pariwisata tersebut adalah tempat bersejarah, semacam Gunung Padang ini, maka pemahaman yang detail seorang tour guide tentang sejarah tempat itu menjadi tuntutan yang sangat penting.  Berikutnya ia kemudian perlu  memiliki ketrampilan untuk menceritakan sejarah setiap titik itu dengan  cara yang menarik dan mudah dicerna oleh pengunjung.

Dengan demikian, maka setiap pengunjung yang datang merasakan betapa banyak pengetahuan baru yang ia dapatkan saat mengunjungi tempat wisata tersebut. Karena terkadang tanpa bantuan guide, bisa saja kita berkunjung di tempat yang sama, namun hanya sekedar lewat begitu saja. Kita tidak pernah tahu, bahwa ternyata batu kecil  di Gunung Padang yang sepintas lalu kelihatannya tidak ada artinya apa-apa, ternyata mengandung sejarah yang tinggi. Tugas tour guidelah untuk membuat pengunjung jadi memahami semua itu. Tour guide yang baik, akan membantu membangun citra tempat pariwisata yang baik.

Jadi, salah satu upaya pemasaran yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke suatu tempat adalah  dengan mengembangkan kemampuan para tour guide ini.

Di Puncak Gunung Padang.

Standard

Gunung Padang 12Apa yang bisa dilihat di Puncak Gunung Padang? Pertanyaan yang wajar. Karena setelah bersusah payah naik, anak-anak tentu semua penasaran akan hal yang bisa dilihat sebagai upahnya. Kebetulan begitu sampai di puncak, hujan turun dengan derasnya.  Saya mengajak anak-anak untuk berteduh di bawah pohon tua yang ada di teras pertama. Saya dan kedua anak saya berlindung di balik batang pohon, di bawah payung yang terlalu kecil untuk melindungi kami bertiga.  Tak urung baju kami sebagian basah kuyup juga. Sementara suami saya dan Pak Yusuf berdiri di bawah hujan yang deras sambil ngobrol. Anak-anak menyimak dengan baik penjelasan Pak Yusuf sambil sesekali melemparkan pertanyaan ingin tahu lebih lanjut.

Pak Yusuf menjelaskan mengenai keberadaan teras di puncak itu. Ada 5 teras. Saat itu kami berada diteras pertama yang paling rendah. Teras itu jaman dulunya konon digunakan sebagai tempat penyambutan pengunjung yang baru tiba di puncak. Ada sebuah ruang persegi panjang yang dipagari dengan batu-batu menhir.  Ada sebuah pintu masuk ke ruang itu yang dibatasi dengan batu menhir tegak  yang agak lebih besar. Di salah satu sudut  ruang persegi panjang itu terdapat sebuah batu dolmen. Dasar ruangan itu adalah batu-batu andesit yang disusun mendatar dan rapi. Apa gunanya ruangan itu? Ada yang mengatakan itu sebagai ruang pertemuan, ada juga yang mengatakan sebagai ruang hiburan.  Karena tak jauh dari sana, terdapat batu musik yang bisa mengeluarkan nada musik traditional Sunda, da mi na ti la da.

Di sebelah kanan ruangan persegi panjang berpagar batu menhir itu, terdapat juga sebuah ruangan yang dibatasi oleh batu-bau yang lebih pendek.  Lalu di sebelah kiri ada tumpukan batu yang terlihat seperti bekas reruntuhan sebuah bangunan penting.  Di depan, terdapat reruntuhan dinding beserta  tangganya untuk menuju ke teras ke dua.

Menurut Pak Yusuf,  sebenarnya ada lima tangga  yang aslinya menuju ke teras ke dua. Hanya saja  karena sudah runtuh,bentuknya sudah tidak terlalu jelas lagi. Saya melihatnya dan masih bisa mengenali salah satunya.

Di teras ke dua, terdapat pohon Kemenyan yang menurut Pak Yusuf  selalu bergantian mengalami kekeringan dan menggugurkan daunnya. Jika yang kanan kering, maka yang kiri akan subur.Demikian juga sebaliknya. Itu terjadi sejak jaman dulu, sejak Pak yusuf masih kecil sudah begitu.  Semacam keseimbangan dan penyeimbangan diri.  Saling menjaga dan saling menguatkan satu sama lain. Di bawah pohon itu terdapat batu-batu besar yang berdiri dan kelihatannya dulunya digunakan untuk duduk-duduk. Barangkali sejenis tempat pertemuan untuk berembug sesuatu. Atau melepaskan lelah.  Bentuknya memang sangat menarik dan meyakinkan sebagi tempat diskusi.

Saya lupa entah di teras ke dua atau ke tiga  saya ditunjukkan oleh Pak Yusuf sebuah batu dengan cekungan yang mirip dengan bekas telapak kaki harimau. Juga ada sebuah batu dengan cekungan berbentuk seperti kujang, senjata traditional tanah pasundan.  Lalu di teras keempat terdapat sebuah ruang lagi di bawah pohon yang tadinya terdapat sebuah batu yang disebut dengan Batu Kanuragan. Karena sering disalah gunakan, akhirnya batu tersebut sekarang diamankan di tempat lain.

Di teras ke lima  yang merupakan teras tertinggi, terdapat sebuah ruang lagi berbentuk lingkaran tak sempurna yang berpintu yang disebut dengan  altar. Dulunya tempat iu merupakan tempat untuk melakukan doa ataupun semedi. Konon jika kita berada di tempat itu, angkasa akan terasa lebih dekat dengan kita.  Ketika hujan berhenti- sayapun bertanya apakah saya boleh masuk ke sana? Kata Pak Yusuf boleh saja.Maka sayapun mencoba berdiri di situ dan mendongak ke langit. Eh, jarak langit  memang terasa lebih pendek dari tempat saya berdiri itu. Mungkin halusinasi ya? Barangkali karena saya tadi terpengaruh mendengar cerita-cerita Pak Yusuf he he. Karena logikanya, mana ada sih langit jaraknya lebih pendek?.  Lebih pendek beberapa ratus meter doang di atas permukaan laut sih ya. Karena saya berada di ketinggian. Tentu saja.

Setelah puas melihat-lihat dan bertanya ini itu, kamipun memutuskan untuk turun. Mumpung hujan sudah reda. Kami harus berjalan menuruni tangga dengan extra hati-hati, karena khawatir  tergelincir akibat jalanan yang licin. Pak Yusuf dengan proaktif membantu kami menuntun anak-anak agar jangan sampai tergelincir.

Tapi secara keseluruhan, berada di tempat itu sungguh menyenangkan. Tempat yang tinggi, dengan desir angin yang sejuk dan pemandangan yang sangat indah.  Saya mengagumi tempat itu . Sang arsitek dan karyanya, siapapun beliau itu. Dan entah kapanpun beliau menjalankan kehidupannya di dunia ini, namun karyanya tetap abadi.  Saya sangat senang akhirnya bisa mengunjungi tempat itu.

Selain itu anak-anak saya bisa belajar sesuatu yang baru  dari apa yang dilihatnya, dirasakan dan didengarnya secara langsung. Sesuatu yang berbeda dengan apa yang bisa ia pelajari dari bangku sekolah atau dari browsing di internet saja.

Setelah mengucapkan terimakasih kepada Pak Yusuf atas bantuan informasinya, maka kamipun pulang. Membawa kenangan dan kekaguman akan situs megalitik itu.

Mengunjungi Situs Gunung Padang

Standard

SumurGerimis turun tipis. Kami memutuskan untuk naik ke atas sebelum gerimis berubah menjadi deras. Pak Yusuf petugas dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala yang juga adalah penduduk setempat, bersedia mengantarkan kami ke atas dan sekaligus memberikan bantuan informasi yang akan kami butuhkan.

 Beliau menjelaskan bahwa ada dua jalur menuju ke atas. Pertama jalur asli yang umurnya sudah tua dan lebih pendek, namun lebih curam – panjangnya hanya sekitar 100 meter dengan sekitar 300 buah anak tangga. Jalur e dua, yang baru-baru ini dibuat, memiliki panjang 300 meter dengan 709 anak tangga dibuat lebih landai. Kedua jalur itu sekarang sudah dipasangi pegangan tangan, agar pengunjung bisa lebih mudah dan lebih aman saat melakukan pendakian. Walaupun ingin mencoba jalur yang asli, namun akhirnya saya memilih jalur yang landai saja.

Persis di bawah anak tangga di jalur yang  asli, ada sebuah sumur berdinding batu dengan air yang sangat jernih. Saya menduga tempat itu dahulunya adalah sebuah Petoyan –tempat orang mengambil air untuk menyucikan diri sebelum naik ke atas – yang diiyakan oleh Pak Yusuf.  Mengingat bahwa tentunya bangunan di puncak bukit itu tentulah tempat suci.   Menurutnya, sekarang air itu disalurkan ke rumah-rumah penduduk dan dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari.

Mendaki Gunung PadangSaya mulai menaiki anak tangga itu. Sesekali berhenti untuk menenangkan nafas, sambil melihat-lihat pemandangan di sekeliling. Indah sekali. Dalam gerimis, saya masih bisa melihat lembah dan bukit  serta gunung yang mengelilingi Gunung Padang. Juga banyak suara anak burung Kedasih yang disebut sebagai Burung Uncuing oleh Pak Yusuf  terdengar dari balik semak-semak. Sangat membantu membuat pendakian menjadi sangat menyenangkan. Anak-anak naik dengan lebih cepat. Di kiri kanan tampak batu-batu menhir yang dipasang memagari jalan. Sambil berjalan Pak Yusuf menceritakan mengenai beberapa penelitian yang telah dilakukan di tempat itu yang melibatkan berbagai kalangan seperti arsitek, ahli purbakala,ahli geology dan sebagainya.

Setelah beberapa menit, dengan nafas yang ngos-ngosan sampailah saya di leher gunung itu. Istirahat sejenak untuk memulihkan nafas. sebenarnya, secara umum pendakian ini tidak terlalu berat. Terutama karena telah disediakannya jalur landai yang sangat bersahabat bagi pengujung.

Saya mendongak ke atas. Tinggal menaiki beberapa tangga batu yang cukup tinggi, akhirnya saya tiba juga di puncak Gunung Padang. Wow!. Sangat mencengangkan.

reruntuhan batu di Gunung PadangBanyak sekali batu-batu panjang berserakan di sana. Terlihat seperti bekas bangunan runtuh. Batu-batu panjang berukuran lebih dari semeter,dengan tampilan serupa walaupun tidak seragam. Sangat mirip tumpukan potongan kentang goreng yang kita beli dari restaurant fast food. Bertumpuk-tumpuk. Ada yang miring, ada yang mendatar rebah, ada yang berdiri. Ada yang rapi dan membentuk pola jalan atau dinding,tapi lebih banyak lagi yang berserakan.

Bagi orang awam, melihat itu tentu seketika mencuatkan berbagai pertanyaan di kepala. Apa sebenarnya batu-batu itu? Mengapa bentuknya seperti itu? Apakah itu hasil potongan manusia atau memang bentukan alam? Mengapa dan bagaimana ia bisa  ada di sana? Siapa yang membawa ke sana? Dari mana asalnya? Untuk apa? Siapa yang membuatnya? Kapan dibuatnya? Lalu bekas bekas bangunan itu sebenarnya apa? Mengapa berserakan? Bagaimana susunan aslinya? Dan puluhan pertanyaan lagi.

Seperti yang saya duga, pertanyaan-pertanyaan itulah yang diajukan oleh anak-anak saya.  Sungguh sangat beruntung, saya dibantu oleh Pak Yusuf  dalam memberikan anak-anak jawaban yang terbaik yang bisa diberikan. Walaupun memang saya sadari bahwa tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban yang pasti pada saat sekarang ini.

Situs Gunung Padang ini telah diteliti oleh banyak ahli. Sebagian misterinya telah dijawab. Walaupun tentunya masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab juga hingga saat ini.  Dan masih banyak kontroversi.

Setelah  ngobrol dengan Pak Yusuf, dan sebelumnya membaca sedemikian banyaknya tulisan yang bertebaran di internet baik tentang situs itu maupun tentang batuan alam dan melihat sendiri tempat itu, sebagai orang awam yang bukan ahli apapun juga, inilah pemahaman saya tentang Situs Gunung Padang saat ini.

1/. Mengenai Batu-Batu itu.

batu gunung padangBatu-batu itu sudah pasti adalah batu andesit. Batu alam yang memanjang dan berbentuk irisan kentang goreng karena bentukan alam. Umum disebut dengan Columnar Joints. Bentukan batu alam seperti ini juga ada di banyak tempat lain di dunia. Jadi kelihatannya memang bukan dibentuk atau dipotong manusia.  Saya pikir ia ada disana, bukan karena dibawa orang dari tempat lain tapi memang terbentuk secara alamiah di sana.  Mengapa saya berpikir begitu? Karena batu andesit itu sungguh sangat berat. Tiga ratusan kilogram per potongnya. Untuk menggotong sebuah batu saja barangkali membutuhkan 5-6 orang tenaga manusia. Nah bagaimana caranya menggotong batu dengan ukuran dan bentuk serupa yang jumlahnya ribuan itu dari tempat lain? Berapa tenaga yang dibutuhkan? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Rasanya amat tidak mungkin mendatangkannya dari tempat lain, kecuali jika saat itu nenek moyang kita telah memiliki teknologi canggih untuk memindahkan benda berat yang tidak diwariskannya kepada kita.

Walaupun Pak Yusuf ada juga menyampaikan pemikirannya, bahwa mungkin saja batu-batu diambil dari sebuah bukit yang bernama Gunung Batu yang tak jauh dari tempat itu.

2/. Bukit Alam atau Bukit Buatan?

Batu di badan bukitMasih terjadi perdebatan di kalangan para ahli. Ada yang mengatakan itu adalah bukit buatan dan ada juga yang mengatakan itu bukit alam. Tapi saya yang awam, cenderung berpikir bahwa Gunung Padang ini adalah bukit yang setengah alami dan diatasnya memang buatan manusia. Mengapa alami, karena saya pikir batu-batu itu memang berasal dari sana – lalu  di susun-susun menjadi bangunan. Batu-batu andesit yang sama juga saya lihat tersingkap keluar dari  badan bahkan dari kaki bukit itu. Mungkin sebelumnya bukit batu itu memang sudah ada di sana secara alami.  Sementara saya tetap akan berpikir begini, sampai ada perkembangan selanjutnya dari para ahli itu.

Saya percaya bahwa Gunung Padang mungkin terbangun dalam 3 fase sejarah yang senjang waktunya cukup panjang satu sama lain. Mengingat hasil pengujian geologi yang dilakukan oleh para ahli mengatakan bahwa umur material pada kedalaman  yang berbeda ternyata berbeda juga.  Itulah sebabnya mengapa ada tiga strata waktu yang berbeda. Sample yang terdalam mengatakan bahwa umur dari sample material itu berkisar sekitar 14.500  tahun yang lalu. Jika memang itu adalah bangunan manusia, tentu bangunan itu jauh lebih tua dari Pyramida yang ada di Mesir.  Tapi jika yang diambil samplenya adalah batuan alami biasa..ya saya pikir itu wajar wajar saja berumur sedemikian tua.

Juga ada berita-berita terkait dengan bangunan di dalam bukit, serta pintu masuknya. Kita juga masih menunggu pembuktian para ahli tentang hal itu. Untuk saat ini , sebagai masyarakat awam saya cukup puas dengan hanya menyaksikan bangunan berundak yang ada dipuncaknya saja.

3/. Bangunan Suci. 

batu gunung padang 2Gunung Padang, atau yang disebut juga dengan nama Gunung Manik Lampegan sangat mungkin merupakan tempat suci pada jaman dulu. Dan mungkin telah digunakan sebagai tempat suci lintas generasi.

Puncak Gunung Padang berupa dataran dengan 5 teras yang bertingkat.  Dan belakangan juga diketahui, bahwa ternyata situs ini bukan hanya terdiri atas 5 tingkat yang di permukaan saja, namun juga beberapa undakan yang ditemukan di bawahnya. Jadi keseluruhan bukit itu adalah bangunan suci.Keberadaan sumur untuk tempat penyucian yang berada di bawah tangga naik itu memperkuat dugaan saya itu.

Menelusuri Jalan Ke Situs Megalitik Gunung Padang.

Standard

 

Situs Gunung Padang = AltarPertama kali tahu tentang situs Megalitik Gunung Padang ini, adalah ketika tanpa sengaja menemukan sebuah tulisan  berkaitan dengan situs ini di internet. Saya tertarik membacanya, karena tulisan ini menyingkap keberadaan situs purbakala ini dengan pendekatan yang sangat ilmiah. Setelah itu saya menelusuri berbagai tulisan lain di internet mengenai situs ini. Dan kebetulan karena ke dua orang anak saya sedang tertarik belajar tentang peradaban kuno, maka saya berpikir untuk mengajak mereka untuk belajar dan melihat dari dekat situs purbakala yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur ini. Tepatnya di desa Karyamukti, kecamatan Campaka.

 

Mengetahui rencana ini, anak-anak pun sangat bersemangat untuk pergi. Nah, tinggal sekarang membujuk suami untuk mengantar. Dan kebetulan suami saya juga setuju. Walaupun di depan ia mewanti-wanti, apakah saya akan sanggup untuk naik atau tidak, karena setelah membrowsing di internet ada yang menginfokan bahwa jalan ke situs itu  sangat curam dan terjal. Tapi saya dan anak-anak tetap bertekad mau ke sana.

 

Maka kemarin, setelah melewati Puncak Bogor, kamipun turun ke Cipanas dan memasuki wilayah Cianjur. Sesuai dengan petunjuk dari karyawan hotel di Puncak, pertama kami harus mencari wilayah Warung Kondang terlebih dahulu. Karena di tempat itulah letaknya jalan desa untuk masuk ke Gunung Padang. Papan petunjuk mengatakan bahwa jarak ke Gunung Padang adalah 20km dari sana. Kami menelusuri jalan desa.  Lumayan bisa papasan untuk 2 kendaraan. Sebenarnya jalannya sudah beraspal, namun beberapa ruas jalan sudah ada yang terkelupas.

Pemandangan Sawah ke Gunung PadangPemandangan di kiri kanan jalan sangat menarik. Sawah dan ladang serta perkampungan penduduk.  Saya jadi teringat pada lukisan-lukisan pemandangan alam pada jaman dahulu. Bukit-bukit yang hijau,pohon kelapa dan sawah luas yang membentang.  Indah sekali. Kami hanya menelusuri jalan desa yang ada dan mengikuti dua buah kendaraan yang melaju di depan kami. Beberapa kali sempat juga  turun untuk mendapatkan kepastian dari penduduk setempat apakah jalur yang kami tempuh sudah benar. Dan jawabannya selalu benar. 

Setelah menempuh jalan sekitar 10km, kami diberitahu, agar terus saja berjalan dan kelak jika bertemu dengan rel kereta api agar berbelok ke kiri.  Kamipun berjalan lagi. Matahari bersinar sangat cerah, walaupun langit agak berawan. Kami sempat melihat papan petunjuk berwarna biru di pinggir jalan yang menginformasikan bahwa Situs Gunung Padang  jaraknya 8km  dari sana. Tambah yakin bahwa jalan yang kami tempuh adalah benar.  

jalan berliku ke Gunung PadangKami berjalan terus  hingga akhirnya tiba di sebuah rel kereta api.  Di sana ada papan petunjuk lagi. Situs Gunung Padang tinggal 6km lagi. Berbelok kekiri, ternyata kami memasuki wilayah perkebunan yang kelihatannya sudah tua. Ada banyak pohon karet di kiri kanan jalan. jalan agak berbelok-belok.  

Setelah itu kami memasuki wilayah Perkebunan Teh Lampegan.  Udara sangat sejuk dan pemandangan luar biasa indahnya. Sekarang kami sudah semakin yakin.Tapi  yang namanya juga jalanan di perkebunan, tentu jalanannya tidak begitu lebar. Kita perlu memperlambat jalan jika hendak berpapasan dengan kendaraan lain.  Di sana ada petunjuk lagi. Situs Gunung Padang tinggal 3km. Ada petunjuk untuk masuk ke kiri.  Sekarang kami berada di jalan di dalam perkebunan teh itu. Cihuyyy! Rasanya seperti menjadi pramuka penggalang yang sedang mencari jejak. 

 

Petunjuk ke Gunung PadangTak lama kemudian ada petunjuk papan biru lagi. Situs Gunung Padang 2km lagi.  Didekatnya berdiri sebuah warung sederhana beratapkan plastik terpal biru. Barangkali menjual kopi, teh atau mi instan kepada para pelalu lalang atau para karyawan perkebunan teh.  

Mata saya tertuju lagi ke papan petunjuk yang berwarna biru itu. Terus terang keberadaan papan -papan petunjuk seperti ini sangat membantu kami para petualang untuk bisa mencapai tempat tujuan dengan baik. Kami berbelok ke kanan dan hanya mengikuti jalan-jalan perkebunan teh di lereng bukit itu. 

Pemandangan kebun teh  itu sangat menawan. Rasanya tenang dan damai berada di sana. Saya membayangkan berdiri di sana menikmati desau angin pegunungan yang sejuk. Beberapa orang ibu-ibu mungkin habis memetik daun teh tampak lewat berjalan di sana.

kebun tehAwan gelap menggantung di langit. Makin lama makin mendekat. Kemungkinan awan cumulonimbus itu akan segara pecah menjadi hujan begitu kami tiba di Gunung Padang. Saya sedikit merasa khawatir. Wah..apa jadinya jika hujan turun deras? Akankah kami bisa mendaki?.  

Namun demikian,kami terus berjalan. Menelusuri jalan berkelok-kelok di punggung bukit itu. Setelah sempat ragu sejenak di sebuah persimpangan jalan karena tak ada papan petunjuk, saya meminta suami saya untuk mengambil jalan lurus saja yang menanjak dan berbatu mengikuti feeling saja. Saya rasa, jika tidak dipasang papan petunjuk, tentu maksudnya ya kita berjalan lurus saja. Tidakusah berbelok. 

Benar saja, tak lama kemudian saya melihat dari kejauhan sebuah papan petunjuk berwarna biru yang sama dengan papan papan petunjuk sebelumnya. Dengan girang kamipun menghampiri papan itu. Kami diarahkan untuk berbelok ke kiri, masuk ke jalan kecil yang ada. Situs Gunung Padang tinggal 1 km lagi. Kamipun berjalan. Keluar dari areal perkebunan,lalu masuk ke perkampungan dan jalan terus akhirnya tampaklah oleh kami sebuah gapura kecil yang tampaknya baru dibangun.

 

“ Situs Megalitik Gunung Padang”.

Rasanya lega sekali. 20km dari Warung Kondang. Jarak yang lumayan juga.

 

Ada sebuah lapangan parkir dan toilet umum yang kelihatannya baru dibangun. Namun sepi. Tak sebuah kendaraan pun yang tampak parkir di sana.  Wah jangan-jangan pengunjungnya cuma kami berempat. Seorang penduduk menjelaskan bahwa kami masih bisa membawa kendaraan sekitar 500 meter ke atas lagi. Pakir di atas saja – katanya. Kamipun naik. Jalanannya agak berbatu.  Tibalah kami dipelataran parkir di kaki situs Gunung Padang itu. Memang benar, di sana ada juga tempat parkir. Sekarang kami melihat ada juga beberapa pengunjung lain yang hendak naik ke atas. 

 

Gunung Padang

Kami mencari tahu apakah ada yang bisa mengantarkan ke atas dan membantu memberi penjelasan tentang situs itu kepada kami. Saya membutuhkan bantuan, terutama mengingat bahwa anak-anak saya tentu akan mengeluarkan banyak pertanyaan yang belum tentu akan mampu saya jawab sendiri, walaupun saya telah membaca referensi tentang situs ini sebelumnya.

Hujan mulai turun bergerimis.  Kami membersihkan diri, lalu melihat-lihat foto-foto serta beberapa keterangan mengani situs itu di kantor Pusat Informasi Wisata yang ada.

 

 

 

Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro II.

Standard

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang bertajuk Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro bagian I,  saya  kembali menulis kupu-kupu yang saya temukan di area-area terbuka dan berumput dari Bintaro Jaya yang sudah dibebaskan namun belum sempat dibangun yang saya istilahkan dengan Padang Rumput. Pada bagian ke dua ini, kupu-kupu yang saya tuliskan adalah dari jenis yang lebih kecil ukurannya dari kupu-kupu yang saya sebutkan di bagian I.

1/. Kupu-Kupu Teluk.

Kupu Kupu Teluk -Agraulis vanillaeKupu-kupu yang dalam bahasa latin bernama Agraulis vanillae ini sebenarnya merupakan penghuni padang rumput Bintaro yang cukup menarik perhatian. Jumlahnya tidak banyak. Namun karena warnanya jingga sangat cemerlang ditimpa sinar matahari, maka keberadaannya terasa sangat menyolok mata. Kalau kita lihat terbang dari kejauhan, kadang-kadang kita bisa terkecoh dan menyangkanya sebagai Kupu-Kupu Junonia jingga yang memiliki warna serupa. namun setelah kita dekati, segera kita menyadari bahwa kupu-kupu ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan berbeda dengan Junonia jingga (Junonia almana).

Selain tubuhnya dan bagian ujung sayap belakangnya yang berwarna hitam berbercak putih, keseluruhan kupu-kupu ini nyaris hanya terdiri atas warna jingga dan sedikit hitam  saja.  Sayap depannya memiliki ukuran yang signifikan lebih pajang dari sayap belakangnya.  Warnanya jingga dengan tepi garis berwarna hitam dan beberapa bercak yang terdiri atas empat kelompok juga berwarna hitam.

Sayap bagian belakang terlihat sangat artistik, karena adanya pita hitam dengan bulatan-bulatan putih mirip bando pada ujungnya. Sisanya berwarna jingga cerah dengan sedikit bercak bercak hitam.

Jenis kupu-kupu  ini terbang cepat di atas bunga-bunga rumput dan kurang ‘friendly’ jika didekati.  Buru-buru pergi. Menyukai bunga pukul delapan.

2/. Kupu-Kupu Ksatria Kelabu.

Dusky KnightKupu-kupu berwarna coklat debu ini berukuran sangat kecil. Saya pikir jika sayapnya dibentangkan tentu tidak akan melebihi 3 cm. Umum disebut dengan nama Dusky Knight Butterfly (Ypthima arctous).

Kupu-kupu ini memiliki warna yang sama, baik jika kita lihat dari atas mapun dari bawah. Sama saja. Coklat mirip abu pembakaran.  Sangat serupa dengan warna tanah dan warna rumput-rumpit yang mati.  terelbih dengan ukurannya yang kecil, agak sulit bagi kita untuk melihatnya. Kecuali pada saat kupu-kupu ini bergerak barulah mudah bagi kita untuk melihatnya.

Sayap depannya  memiliki sebuah bulatan besar mirip mata yang berwarna hitam dengan bingkai coklat kekuningan. Sedangkan sayap belakangnya memiliki masing masing dua  bulatan kecil berwarna sama dengan bulatan besar di sayap depannya.

Kupu-kupu ini paling hobby hinggap di bunga puteri malu dan bunga rumput lainnya yang kecil-kecil.

3/. Kupu-Kupu Biru Kecil.

Kupu Kupu Kecil Biru -Common Little Blue Butterfly1Kupu-kupu ini berukuran bahkan lebih kecil lagi dari Kupu-Kupu Ksatria Kelabu. Saya rasa mungkin tidak akan lebih dari 2.5 cm. Umum disebut dengan nama Common Little Blue Butterfly (Cupido minimus).

Secara umum warna kupu-kupu ini memang biru kelabu, dengan warna yang lebih biru pada pangkalnya,lalu dilanjutkan dengan lapisan warna kelabu dan diakhiri dengan garis tipis putih membingkai sayapnya.

Tidak ada bulatan-bulatan yang saya temukan pada sayapnya. hanya warna biru dan sedikit coretan dengan warna senada. Tubuhnya juga berwarna biru kelabu.

Kupu-kupu  ini menyukai bunga rumput yang mungil-mungil. Terbangnya zigzag di atas rerumputan.

Kupu-Kupu Penghuni Padang Rumput Bintaro I.

Standard

InsectsSeperti halnya wilayah lain yang sedang mengalami pembangunan,  Bintaro dan sekitarnya juga mengalami perubahan yang sangat pesat.  Cluster-cluster  perumahan bermunculan di sana-sini menggantikan lahan-lahan  yang dulunya merupakan tanah ataupun rumah penduduk setempat. Tentu saja saya tidak akan membahas mengenai masalah pembangunan di sini.

Karena saya adalah seorang pengagum keindahan alam, maka  saya akan bercerita tentang keindahan padang rumput  Bintaro. Hah?!? Bintaro memiliki padang rumput? Saya terbayang para sahabat pembaca tentu akan bertanya-tanya sejak kapan Bintaro mempunyai Padang Rumput?  Yap! Bintaro memiliki beberapa padang rumput kecil-kecil yang sifatnya sementara.  Terbentuk dari lahan-lahan penduduk yang sudah dibebaskan, tapi mungkin sudah diratakan, namun belum dibangun.  Beberapa ada juga yang belum diratakan. Jadi nanti, ketika lahan ini sudah dibangun menjadi  pertokoan, perkantoran maupun perumahan,  tentunya tak bisa lagi kita sebut sebagai padang rumput.

Jadi sebelum dibangun, saya suka melihat-lihat padang rumput ini dan menikmati bunga-bunga liar yang indah serta berbagai insekta yang terbang mencari makan ataupun hanya sekedar bermain-main di sana.

Saya mencatat jenis-jenis kupu-kupu yang ada dan sangat suka menuliskannya, sebagai catatan saya tentang  species yang pernah exist di wilayah ini di tahun 2013.

Junonia jingga.1.  Kupu- Kupu Junonia Jingga.

Kupu-kupu ini disebut juga dengan Kupu-kupu Merak Jingga, Peacock Pansy Butterfly (Junonia almana). Mengidentifikasi Kupu-kupu berukuran sedang ini tentu cukup mudah. Warna keseluruhan tampak atasnya yang jelas adalah orange (jingga) yang sangat terang.   memiliki masing-masing sebuah bulatan mirip mata di sayap depannya. Dan dua bulatan mata – satu besar dan satu kecil pada sayap belakangnya.

Mata yang besar di sayap belakang,  berwarna coklat bergradasi hitam dengan dikelilingi cincin  putih dan hitam yang mebuatnya terlihat sangat mengesankan. Selain bulatan mirip mata, sayap depan kupu-kupu ini memiliki design berupa 3 blok  tebal dan 2 garis tipis yang bergelombang berwarna coklat gelap.  Diluar itu, di tepian sayapnya, baik yang  depan maupun belakang memiliki  3 baris garis yang membentuk renda  berwarna coklat.

Kupu-kupu ini hobbynya terbang rendah di atas bunga-bunga rumput. Berhenti dengan mengembangkan sayapnya dengan cukup sempurna.  Ia senang mampir di bunga rumput pukul  delapan, bunga kacang-kacangan, puteri malu, maupun jenis bunga  rumput lainnya.

Tubuhnya sendiri berwarna coklat.

Kupu-kupu ini termasuk berukuran sedang, sekitar 4-5 cm jika sayapnya kita bentangkan.

2. Kupu-Kupu Junonia Biru.

Junonia BiruKupu-kupu berwarna biru ini masih sekeluarga dengan Kupu-Kupu Merak Jingga. Sering juga disebut dengan Kupu-Kupu Mata Biru , Blue Buckeye Butterfly, Blue Pansy  Butterly (Junonia orithya).  Sangat serupa dengan saudaranya Junonia almana, sepintas lalu Kupu-kupu ini terlihat didominasi oleh warna biru.

Tampak atas sayap depan kupu-kupu ini  berwarna hitam pangkalnya dengan ujung berwarna krem yang terang. Dihiasi dengan dua bulatan berwarna jingga dengan inti hitam mirip mata. Pinggir sayapnya dihiasi dengan 3 baris garis berwarna coklat  gelap.  Di dekat pangkal sayapnya terdapat dua goresan berwana jingga.

Sayap belakang kupu-kupu ini didominasi warna biru (kadang ungu) dengan usapan warna hitam pada pangkalnya. Ada dua bulatan masingmasing pada sayap belakang kiri dan kanannya. Satu bulatan penuh berwarna hitam. Dan satu bulatan lagi berwarna jingga dilapis hitam, dengan iti berwarna hitam dan putih. benar-benar mirip mata.

Bagian bawah sayapnya didominasi warna krem dengan corak berawna coklat pucat. Tubuhnya berwarna hitam.

Sama seperti saudaranya di atas, kupu-kupu ini juga sangat suka terbang rendah dan hinggap di bunga-bunga rerumputan.  Ia bahkan terkadang hinggap di atas rumput atau di tanah.

Ukurannya kurang lebih sama dengan yang jingga.  Walaupun sbeberapa kali saya  pernah juga melihat yang berukuran kerdil.

3. Kupu-Kupu Junonia Coklat.

Kupu Kupu Junonia CoklatKupu-kupu berwana coklat ini sudah pasti berkeluarga dengan dua Kupu-Kupu  merak di atas. Sering disebut dengan Common Buckeye Butterfly atau  Junonia coenia, karena memang paling banyak dijumpai di mana-mana.

Jika kita lihat dari atas dimana kupu-kupu ini membentangkan sayapnya lebar-lebar, maka yang kita tangkap adalah warna colat dengan ujung berwarna krem dan delapan  buah mata yang mencolok. Setiap sayap memiliki bulatan mata masing-masing dua buah. Lumayan banyak untuk menakut-nakuti musuh yang hendak menyerang.

Jika kita perhatikan sayap depanya – sangat serupa dengan Kupu-Kupu Junonia biru, hanya saja pangkalnya berwarna coklat dan bukan hitam.  Bulatan matanya juga serupa dan ada dua, hanya saja pada Kupu-Kupu ini, bulatan mata terlihat lebih sempurna. Dua goresan warna jingga juga menghiasi bagian depan daris ayap depan kupu-kupu ini. Dan tiga baris garis yang serupa juga dimilikinya di ujung sayap.

Sayap belakangnya juga demikian. Pangkalnya didominasi warna coklat dan memudar ke arah krem di ujungnya yang memiliki 3 baris garis. Lalu ada dua bulatan mata di masing-masing sayapnya yang sangat jelas. Tubuhnya berwarna hiatm kelabu.

Ukurannya sama dengan ke dua saudaranya di atas.

 

Sup Jagung Panas Ala Jineng Untuk Musim Hujan.

Standard

Sup JagungHoree! Liburan telah tiba. Sebenarnya sih bukan liburan buat saya ya. Tapi liburan buat anak-anak. Namanya anak sedang di rumah, pasti kita pun ingin ikut ada di rumah bersama mereka.  Jadi apalah salahnya ikut mengajukan cuti beberapa hari, meliburkan diri sekali-sekali.  Leyeh-leyeh, bermalas-malasan  dan menyediakan waktu penuh untuk keluarga.  Saya bilang saya ingin istirahat beberapa hari sama boss saya. Dan syukur sekali si boss langsung acc. Yes!

Tapi setelah itu, ternyata si Mbak yang membantu di rumah juga tidak mau kalah.   Ia juga memaksa minta liburan pulang kampungnya. Yah…  nggak jadi deh acara bermalas-malasannya.  Tapi pikir-pikir,  dia kan sama seperti kita juga ya?  Ingin punya waktu bersama keluarganya juga. Ya sudahlah.  Masak dilarang? Akhirnya pulanglah ia kemarin ke kampungnya.

Bagus juga menikmati suasana rumah tanpa kehadiran orang lain. Hanya saya, suami dan anak-anak. Untungnya anak-anak sudah mulai besar dan sudah mulai bisa disuruh-suruh. Bantuin  membersihkan meja makan. Bantuin membersihkan sayuran. Bantuin ngangkat piring kotor. Tolong beli telor ke ruko. Anterin ke tukang sayur (maksudnya buat nentengin belanjaan).  Dan sebagainya kalimat perintah. Lumayan deh. Anak saya baik-baik semuanya.

Sebagai imbalannya tentu saya merasa perlu meyediakan masakan favoritnya yang lain dari biasanya. Setiap ibu di dunia ini tentu ingin dinilai sebagai “The Best Chef In The World” oleh anaknya * walaupun sudah tentu orang lain tidak berkata begitu*.

Hari ini adalah hari pertama di rumah. Pertama, tentu saya harus membuka isi lemari es. Ada apa ya?  Sebuah jagung manis dan telor. Lumayan. Setidaknya bisa dibikin salah satu, entah itu Perkedel Jagung , Bakwan Jagung, Sup Jagung, Tumis Jagung atau Sayur Bening Jagung. Saya menimbang-nimbang sebentar. Mana yang kira-kira paling menarik minat anak saya?. Sup Jagung!.

Nah, Sup Jagung untuk menu pembuka yang enak dimakan panas-panas kala musim hujan seperti ini, adalah salah satu menu andalan saya  dalam rangka mewujudkan impian menjadi The Best Chef In The World di mata  anak-anak saya ini.

Ada yang mau tahu bagaimana saya membuatnya nggak?

Bahan-bahan yang saya gunakanJagung Manis

1/. Sebuah jagung

2/. Sebutir telor ayam

3/. Seiris dada ayam

4/. Bawang merah 3 siung

5/. Bawang Putih 5 siung.

6/. Merica – beberap butir

7/. Kaldu ayam

8/. Tepung Maizena – 2 sendok makan

9/. Garam secukupnya

10/. Gula secukupnya.

11/. Bawang bombay 1/2 butir.

 

Bagaimana cara saya memasaknya.Sup Jagung 1

1/. Bersihkan ayam. Ambil sedikit bagian dadanya lalu dipotong kecil kecil berbentuk dadu.

2/. Buat kaldu ayam, dengan cara merebus tulang/kaki  ayam  hingga mendidih beberapa saat dan keluar kalduya, lalu saring dan ambil air kaldunya saja. Masukkan ke dalam panci dan tetap direbus.

3/. Bersihkan bawang merah dan bawang putih, lalu ulek bersama dengan merica dan garam hingga membentuk pasta.

4/. Masukkan  bumbu ulek ke dalam kaldu  sambil terus direbus.

5/. Bersihkan dan iris tipis bawang bombai – lalu masukkan ke dalam kaldu.

6/. Masukkan potongan daging ayam.

7/. Iris jagung manis – lalu masukkan ke dalam rebusan kaldu.

8/. Ambil telor – lubangi sedikit dengan ujung pinggir garpu di bagian atasnya. Lalu masukkan lidi yang bersih ke dalam lubang telor, aduk-aduk hingga putih dan kuning telor bercampur rata di dalam cangkang telor.

8/. Tuangkan telor perlahan-lahan ke dalam  panci yang mendidih. Aduk-aduk .

9/. Tambahkan gula secukupnya.

10/ Ambil tepung maizena, tambahkan dengan air lalu aduk merata. Tuangkan cairan maizena perlahan-lahan ke dalam panci. Aduk-aduk hingga rata dan pastikan tidak ada yang menggumpal.

11/.  Rebus terus hingga sup mengental.  Lalu dinginkan. Sup Jagung sudah siap.

12/. Hidangkan dalam keadaan hangat.

 

 

Kampid Dedalu: Dongeng Tentang Laron Dan Sayap Pinjamannya.

Standard

DedaluMusim penghujan! Gerimis turun satu per satu. Saya memandang lewat jendela. Ada pemandangan menarik di luar.  Ratusan atau bahkan mungkin ribuan laron  beterbangan membubung tinggi mendekati cahaya lampu jalanan. Mereka berputar-putar dengan gerakan yang bisa diikuti mata.  Sayapnya gemerlap tertimpa cahaya di antara butir-butir air hujan  yang  mirip tirai berkilau.  Sungguh  pemandangan yang sangat indah. Memandangnya, membuat saya terasa berada di negeri dongeng. Terasa ikut terbang menuju sumber cahaya bersama laron-laron itu.

Sebentar lagi para laron ini tentu kelelahan terbang berputar-putar seperti itu. Sayapnya akan rontok satu per satu dan akhirnya iapun akan kembali jatuh ke tanah. Sebagian ada yang beruntung menemukan pasanganya. Membangun kerajaan rayap yang baru, di mana mereka yang akan menjadi raja dan ratunya.  Namun sebagian lagi mungkin akan menemui ajalnya begitu saja. Mati sia-sia terendam air hujan. Atau mati bermanfaat  bagi mahluk lain , menjadi sarapan kelelawar, burung  hantu, kodok , cicak atau bahkan manusia.

Di Bali, binatang kecil bernama Laron ini disebut dengan nama Dedalu.  Ada sebuah dongeng, cerita rakyat Bali  yang saya ingat tentang Dedalu ini.

*****

Kampid Dedalu

Pada jaman dulu  terdapatlah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja dan seorang Ratu yang memiliki tiga  anak . Yang pertama diberi nama  I Dedalu. Anak kedua bernama I Prajurit  dan anak yang ketiga diberi nama  I Tetani. Dedalu,  diberi tugas oleh orangtuanya untuk mengumpulkan remah-remah kayu untuk persediaan makanan. I Prajurit diberi tugas oleh ayahnya untuk berjaga-jaga di luar dan menghajar pasukan semut api yang datang menyerbu. Sedangkan  Tetani yang  merupakan pekerja keras dan handal diberi tugas oleh  ibu mereka untuk membangun dan memperluas sarang.

Mereka tinggal di sebuah lembah yang subur.  Namun mereka sangat menderita. Karena  mereka bermusuhan dengan semut api yang menjadi  tetangganya. Belakangan, seringkali pasukan semut  tiba-tiba datang dan menyerang mereka dengan mendadak. Walaupun mereka selamat dan berhasil melarikan diri, tapi tak urung banyak  kerugian yang mereka derita.  Banyak bahan makanan mereka yang disita oleh pasukan semut api. Demikian juga sarang mereka.Sebagian ada yang dirusak.

Sang Raja lalu memanggil ke tiga anaknya. Ia berkata bahwa mulai sekarang, sebaiknya mereka perlu  melakukan patroli berkeliling untuk memantau pasukan musuh.  Sehingga bisa bersiap-siap sebelum meraka datang. Semua setuju. Disepakati bahwa I Tetani lah yang akan berangkat untuk melakukan patroli. Karena I Tetani yang paling awas dan teliti diantara mereka. Untuk tugas itu  I Tetani dihadiahi empat buah sayap (kampid = bahasa Bali) oleh ayahnya, agar ia bisa terbang dan memantau pasukan semut dari udara.

I Tetani menerima tugas dengan baik. Setelah menerima sayap itu, maka berangkatlah ia melakukan patroli. Tiga kali sehari.    Ia terus melakukannya dengan rajin. Setiap kali  si semut api bermaksud menyerang, I Tetani sudah tahu lalu memberitahukan hal ini kepada sang raja. Raja pun memerintahkan I Prajurit untuk berjaga di luar  dan menyerang si Semut Api sebelum mereka sempat mendekati sarang mereka. Sejak saat itu,  rumah mereka pun aman dari serbuan semut api.

I Tetani tetap melakukan patroli udara ke luar rumah secara berkala walaupun sudah aman. Jika ia di rumah,maka ia mengerjakan sarang. Sementara jika ia berpatroli, maka tugasnya membangun sarang digantikan oleh I Dedalu.  Lama kelamaan I Dedalu merasa iri. Ia merasa cape menggantikan tugasnya. Ingin sekali-sekali  bermain dan terbang bebas di luar sana. Ke luar dari rutinitas pekerjaannya. Ia menggerutu. Kenapa sang Raja tidak menugaskan dirinya saja yang berpatroli.

Suatu malam, ia memandang ke luar sarang. Dan melihat betapa  bulan purnama  yang penuh bersinar terang, naik ke langit perlahan-lahan. Menyinari malam dengan sangat indahnya. ooh..betapa inginnya ia ke sana. Terbang dan menari-nari menuju bulan.  Seandainya ia mempunyai sayap.  Tentu ia akan membubung tinggi ke bulan. Melakukan pesta malam yang gemerlap di udara malam. Ia pun membayangkan dirinya  terbang berlenggak lenggok dengan sayapnya. Tentu semua mahluk akan mengaguminya.  Maka  tanpa sepengetahuan sang Raja, iapun pergi menemui I Tetani dan mengutarakan maksudnya untuk meminjam sayap.

Awalnya I Tetani tidak mengijinkan. Namun karena didesak terus oleh I Dedalu, maka iapun meminjamkan sayapnyakepada I Dedalu  dengan catatan segera mengembalikannya sebelum  tengah malam tiba. Karena ia sudah harus melakukan tugas patroli kembali. I Dedalu pun setuju. Dan bergegas mengenakan sayap itu di punggungnya.  Tidak terlalu pas. Sayapnya agak berat dan kebesaran. Namun I Dedalu tetap memaksa terbang dengan sayap yang bergetar karena tidak pas di tubuhya. Ia terbang semakin ke atas dan semakin ke atas. Ke arah rembulan yang bercahaya. Di udara malam ia menari, bernyanyi dan bersuka ria di bawah cahaya bulan. Ia memamerkan sayap I Tetani  yang indah dan berkilau di timpa cahaya bulan kepada semua mahluk yang melihatnya.

Tanpa disadarinya, seekor burung hantu yang lapar melihatnya dan segera menyambar dirinya. I Dedalu meronta-ronta dan menangis meminta pertolongan. Angin datang menolong. Iapun lepas dari cengkeraman burung hantu dan hinggap di dahan pohon asam. Namun sayapnya patah sebuah.  Ketika beristirahat di sana, tiba-tiba seekor cicak menyerangnya.  Sayapnya rontok sebuah lagi. Ia terbang kembali dengan miring karena sayapnya kini tinggal dua buah.  Di tengah jalan seekor kodok keluar dari persembunyiannya di balik semak dan menyerangnya. I Dedalupun berlari dengan cepat. Namun tak urung sebuah sayapnya lepas lagi. Tinggal lah sebuah. Kini ia teringat kepada I Tetani, adiknya. Ia berjanji akan mengembalikan ke empat sayap itu sebelum tengah malam.  Ia berjalan merayap di tanah dan mencoba mencari jalan pulang. ia ingin meminta maaf dan mengembalikan sayap yang tinggal sebuah itu. Tanpa disadarinya ia malah mendekati sarang pasukan semut yang menjadi musuh bebuyutan keluarganya. Iapun dikejar-kejar semut. Sayapnya yang terakhir pun lepas dan tertinggal di dekat sarang semut.  I Dedalu berjalan terus dan terus dengan sedihnya.  Ia tak menemukan jalan pulang ke rumah orang tuanya.

Karena sudah tidak aman gara-gara tidak memiliki lagi sayap untuk berpatroli, sejak saat itu maka keluarga itupun menyelamatkan diri ke dalam tanah dan berubah mejadi rayap. Sang raja dan ratu berubah mejadi Raja dan Ratu Rayap.I Tetani beranak pinak dan menjadi rayap. demikian juga dengan I Prajurat, akhirnya berkembang mejadi rayap Prajurit yang memiliki rahang yang besar dan tajam. Dan I Dedalu berubah mejadi  Laron.

Konon itulah sebabnya mengapa  I Dedalu (Laron) selalu terbang gemeteran dengan kagoknya – karena sayapnya tidak pas, karena sebenarnya sayap  itu milik I Tetani (Rayap) yang dipinjamnya. Itulah pula sebabnya mengapa Laron selalu ingin mendatangi sumber cahaya, dan sayapnya selalu patah satu per satu sehingga ia tidak bisa menemukan jalan pulang.

*****

Namanya juga dongeng, tentu cerita ini adalah hasil karangan semata. Namun yang namanya dongeng, tentu selalu mengandung pesan moral yang disampaikan oleh orang tua kepada anak cucunya.  Salah satu pesan moral yang dipetik dari cerita ini disampaikan dalam bentuk Sesenggakan (Perumpamaan).

Kadang-kadang disela-sela pembicaraan, mungkin kita akan mendengar ada orang tua memberi nasihat kepada anak keponakannya seperti ini “Apang eda buka dedalune, mekeber nganggon kampid baan nyilih” – terjemahan ” Agar jangan sampai seperti laron, hendak terbang tapi menggunakan sayap hasil pinjaman dari orang lain”. Tentu saja petuah ini mengacu pada dongeng rakyat tentang “Kampid Dedalu” di atas.

Petuah itu  bermakna, agar anak anak pandai-pandai membawakan diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan serta kemampuan ekonomi yang ada. Bersikap rendah hati  dan bukan rendah diri. Apa adanya dan tidak berlebihan. Jangan memerkan hal-hal yang  bukan milik kita sendiri. Mau menggunakan pakaian dan perhiasan yang gemerlap namun hasil meminjam dari orang lain. Memamerkan mobil  baru yang mewah, namun hasil pinjaman atau malah hasil korupsi.  Dan sejenisnya.  Tampillah apa adanya. Kalau memang tidak punya, jangan sok kaya.

Saya tidak tahu, apakah petuah seperti ini masih berlaku dan dihargai untuk jaman sekarang ya?