Kisah Sebatang Pohon Kersen.

Standard

pohon kersenDi halaman depan sebuah toko bahan bangunan  hiduplah sebatang pohon kersen (Muntingia calabura) yang rindang. Toko bahan bangunan itu berada di jalan kecil yang sering saya lewati jika saya memotong jalan dari Sektor IX  ke arah Graha Bintaro. Pohon yang juga sering disebut dengan pohon cherry itu *padahal bukan pohon cherry* terlihat  jelas dari jalan raya.  Dan memang sangat menarik.

Batangnya cukup besar, dahannya juga rindang dan daunnya banyak. Demikian juga bunganya yang putih kecil-kecil sangat banyak menyembul dari dedaunan yang hijau.  Itulah sebabnya banyak kupu-kupu, kumbang  dan burung madu datang ke sana untuk menghisap nektar.  Dan yang lebih menarik lagi adalah buahnya yang kecil-kecil dan  banyak sekali. Mulai dari yang berwarna hijau, kuning, jingga hingga merah dan maroon.  Mengundang burung-burung pemakan buah berdatangan.

Karena berkali-kali lewat, maka sayapun jadi memperhatikan ketika selembar daun benalu pada suatu hari menyembul diantara kerimbunan dedaunannya. Walaupun tak mudah terlihat,  namun bagi saya yang sering memperhatikan pohon itu – tetap saja terlihat. Karena daun benalu lebih lebar dan lebih halus permukaannya dibandingkan daun kersen. Bentuknya pun lebih membulat.

Rupanya ada sebatang pohon benalu yang mulai numpang hidup di sana. Barangkali tumbuh dari biji benalu yang terbawa tanpa sengaja oleh burung ke sana. Biji benalu memang agak lengket. Jika misalnya tanpa sengaja tersentuh  oleh burung yang bertengger, maka iapun akan menempel pada burung dan  terbawa ke pohon berikutnya. Pohon benalu itu tumbuh dengan subur. Tentu saja ia menancapkan akar-akarnya ke batang pohon kersen itu dan mengisap sari-sari makanannya untuk pertumbuhannya sendiri.  Makin lama iapun semakin besar.

Kali berikutnya lewat di sana, saya melihat lagi sebuah pohon benalu lain muncul di dahan yang lain dari pohon kersen itu.  Jadi sekarang ia punya dua buah pohon benalu di tubuhnya yang mengisap sari-sari makanan yang dikumpulkannya. Kedua benalu itu makin lama makin besar dan bahkan mulai bercabang-cabang serta berbunga. Namun pohon kersen itu tampak sehat-sehat saja. Daunnya tetap masih banyak dan dahannya rindang. Semakin banyak lagi kupu-kupu dan berbagai burung mampir ke sana.  Tak terlihat jika ia terganggu oleh kehadiran benalu itu. Ia seolah tak berkeberatan dan tetap memberinya makan tanpa mengeluh.

Lalu berikutnya sayapun melihat benalu yang ke tiga,ke empat dan seterusnya bermunculan di  dahan-dahan pohon kersen itu. Makin lama makin banyak. Dan makin lama makin besar. Lalu saya melihat pohon kersen itu mulai agak mengurus.  daun-daunnya mulai lebih jarang. .  Sehingga pohon benalu dengan bonggol-bonggolnya yang gendut itu malah lebih terlihat jelas. Daun-daun benalu tampak mengkilap, sehat, gendut membulat dan hijau segar. Sementara daun kersen di sekitarnya  tampak kusam, kurus lancip  dan menguning. Satu per satu daunnya gugur.

Makin lama pohon kersen itu makin kurus, dan dahan serta rantingnya yang banyak dan kering itupun jadi tembus pandang, karena tidak ada banyak daun lagi yang menutupi. Hanya satu dua. Itupun mulai kuning pula.  Benar-benar mengenaskan.  Sebatang pohon kersen yang nyaris mati. Yang dominan hanya beberapa bonggol benalu dengan daunnya yang subur, hijau segar dan sehat.  Saya merasa sangat kasihan pada pohon kersen itu.

Hari Sabtu kemarin, saya lewat kembali di jalan itu setelah cukup lama tidak lewat. Pohon kersen itu saya lihat sudah mati. Batangnya terlihat menghitam dan agak gosong terpanggang matahari. Pohon-pohon benalu yang numpang hidup di dahannya pun sekarang mengecil dan kurus. Ikut menderita  dan menjadi tidak sehat karena pohon semangnya sudah mati dan tak mampu lagi mensuplay-nya dengan nutrisi yang baik.  Saya seperti melihat sebuah drama kehidupan yang berakhir menyedihkan.

Pohon itu telah memberi dengan semaksimal mungkin. Sedemikian banyaknya mahluk yang datang kepadanya dan hanya mengambil darinya. Tanpa sedikitpun mengembalikan.  Pohon itu hanya memberi dan memberi. Tak seorangpun yang peduli ketika ia juga kekurangan nutrisi untuk dirinya sendiri karena habis dibagikan kepada orang lain.  Tak seorangpun yang peduli ketika akhirnya ia sakit. Dan mati. Tidak benalu itu.  Tidak juga kupu-kupu ataupun burung-burung yang biasanya singgah ke sana. Tak ada seekorpun yang mampir lagi. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang  tak ada yang tampak peduli. Ia mati dalam kesendiriannya. Walaupun pada akhirnya benalu itupun akan ikut mati juga karena tak ada yang memasokya dengan makanan lagi.

Saya menarik nafas saya dengan penuh kesedihan. Memikirkan nasib pohon itu.

Namun barangkali juga, sebenarnya saya sedang diberi kesempatan yang baik untuk menyaksikan secara langsung, sebuah demonstrasi  keikhlasan dalam menjalani hidup yang sebaiknya dilakukan.

Pohon kersen itu, sepanjang hayatnya telah memberikan kehidupan, bukan saja kepada dirinya sendiri, namun juga kepada banyak mahluk lain seperti kupu-kupu, kumbang, lebah, tawon, semut, burung-burung dan tentunya pohon benalu.  Atau bahkan manusia yang ikut memakan buahnya yang manis itu. Memberi hingga mati – seolah menjadi swadharma dalam hidupnya. Barangkali demikianlah semesta telah memberinya tugas dan fungsi dalam menyokong kehidupan lain di bumi ini. Mengambil nutrisi  dari tanah, sang ibu pertiwi dengan akar-akarnya. Lalu membantu mengolah zat hidup itu agar bisa dimanfaatkan oleh mahluk hidup lain yang tak mampu mengambil dan mengolahnya sendiri dari dalam tanah.  Barangkali pohon itu justru sekarang sedang berbahagia. Karena ia telah menjalankan tugasnya di dunia dengan baik. Dengan penuh keikhlasan hati tanpa pamrih.  Barangkali rohnya telah kembali ke sorga dan menyatu denganNYA. Pohon itu telah berbahagia.

Sambil melintas di depannya, maka sayapun memberikan penghormatan saya kepada  pohon kersen yang telah memberi  saya pelajaran berharga tentang arti sebuah keikhlasan pagi itu. Saya melirik ke bawah batang pohon itu . Barangkali biji-biji buah kersen akan segera keluar dari dalam tanah dibantu hujan, dan muncul sebagai anak-anak pohon kersen yang sehat di halaman toko bangunan itu

45 responses »

  1. Jadi inget saat SMP didepan kelas ada pohon kersen yang kalo berbuah selalu diperebutkan buahnya rame2 bareng temen. “pelajaran” yang jadi inspirasi di pagi ini, terima kasih untuk postingannya🙂

  2. itulah siklus hidup ya mbak…, tak ada yg abadi di dunia ini..
    aku lihat sifat benalu itu kl dianalogikan ke sifat manusia yg terlalu serakah pd akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri

  3. ada orang mengatakan alam adalah guru yang bijak mbok dekyach…terlalu banyak hal yang dapat kita nikmati dari pelajaran alam mbok..karenaitulah kita selalu diingatkan untukmenjaga 3hal…mbok dek pasti inget🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s