Burung Kedasih Dan Nyanyiannya.

Standard

KedasihNyanyian burung Kedasih  yang memilukan terdengar beberapa kali di belakang rumah. Tiiiirrrrr….. tir tir tir tir tir…… Tiiiirrrr… tir tir tir tir… Saya membayangkan beberapa orang yang tinggal di dekat perumahan tentu ada yang berpikir bahwa salah seorang kerabat, sahabat atau handai taulannya yang meninggal dunia.  Suara dari Burung Kedasih ini memang sangat menyedihkan. Tidak heran jika banyak orang percaya bahwa burung ini pembawa berita duka.

Saya ingat, ketika kecil  mendengar suara burung itu dari pohon Boni di halaman belakang rumah tetangga, saya bertanya kepada ibu saya.  “Mengapa burung itu suaranya sedih sekali?”. Ibu saya menjawab “Burung itu sedih karena ia ingin bertemu dengan ibunya” kata ibu saya sambil duduk di kursi dapur membersihkan sayuran yang akan dimasak. “Tapi mengapa ia tidak bertemu ibunya? Ibunya kemana?”  Ibu saya lalu bercerita bahwa induk  burung itu sangatlah malas. Ia tidak mau bekerja keras membuat sarangnya sendiri. Dan juga terlalu malas untuk merawat dan memberi makan bayinya sendiri. Jadi ia menitipkan telornya di sarang burung lain yang juga memakan serangga. Biasanya sarang Kedis Kecinglar (Burung Prenjak). Agar burung tuan rumah tidak curiga, mengapa jumlah telornya bertambah, maka ibu burung Kedasih biasanya mencuri dan memakan telor burung Prenjak itu. Lalu ia menggantinya dengan telornya sendiri sehingga jumlahnya sama. Saya mendengarkan dengan khidmat cerita ibu saya itu.

Ketika anak burung Kedasih itu menetas, maka ia diberi makan dan dibesarkan oleh induk burung Prenjak” lanjut ibu saya.  Anak burung Kedasih ini cepat besar dan kadang-kadang bersifat rengka (bahasa Bali untuk sifat yang ingin menang sendiri, tamak dan rakus). Ia menghabiskan makanan lebih banyak, sehingga ia cepat besar dan gendut, sementara anak burung lain kurus-kurus. Terkadang ia malah sangat jahat menendang telor-telor atau bayi burung lain keluar dari sarangnya. Sehingga hanya dirinya sendiri yang tinggal di dalam sarang dan disuapi oleh induk Prenjak. Perilaku jahat sejak masih bayi.  Biasanya perbuatan jahat itu tidak disadari oleh induk Prenjak sampai Burung Kedasih itu besar dan bisa terbang serta mencari makan sendiri.

Namun kadang-kadang, ada juga induk Prenjak yang memergoki perbuatan jahat dan rakus dari anak burung Kedasih ini. Lalu mulai menyadari bahwa anak jahat itu bukan anaknya sendiri. Jadi kadang-kadang ada Burung Prenjak yang marah dan akhirnya mengusir  anak  Kedasih itu. Ibu saya bercerita, anak Kedasih itu pun akhirnya terpaksa pergi dari sarang Prenjak. Mencari-cari ibu kandungnya yang pergi entah ke mana. Ia memanggil-manggil dengan sedihnya “Tiiiirrrrr….. tir tir tir tir tir…… Tiiiirrrr….. tir tir tir tir… “ namun ibunya tak pernah kujung datang.  Begitulah konon riwayat nyanyian sedih si Burung Kedasih, menurut versi ibu saya.   Cerita itu sangat meresap ke dalam pikiran saya.

Tentu saja waktu kecil saya tidak tahu apakah cerita itu adalah kenyataan ilmiah atau dongeng. Tapi setelah besar saya baru tahu, ternyata Burung Kedasih tidak hanya bisa bernyanyi sedih. Ia juga bisa bernyanyi riang dengan nada yang heboh juga: “Twiiit tut twiiiit…. tut twiiit tut twiiit…/  Twiiit tut twiiiit…. tut twiiit tut twiiit….dst” makin lama makin tinggi dan makin kencang.   Sehingga tidaklah mengherankan, mengapa warga Betawi menyebut burung ini dengan nama Burung Tit Tut Tit. Ya,karena  suara riangnya  yang nadanya menanjak itu.

Yang saya belum tahu hingga kini adalah, kapan sebenarnya si Burung Kedasih akan bernyanyi riang dan kapan ia bernyanyi dengan nada sedih. Apakah nada suara yang terdengar sedih di telinga kita manusia, juga sebenarnya berarti itu adalah refleksi kesedihan hati si burung? Atau jangan-jangan sebaliknya?  Suara sedih itu ternyata suara memanggil pasangan? Entahlah. Semoga ada  ahli burung alias  ornitologist yang bisa membantu menjawab pertanyaan saya ini.

Burung Kedasih, dipanggil dengan banyak nama. Burung Tit Tut Tit, Burung Wiwik  Kelabu, Burung Emprit Gantil atau  jika di luar disebut juga dengan nama Plaintive Cucko (Cocomantis merulinus) adalah salah satu jenis burung yang sering singgah di kali belakang rumah saya. Tak terhitung seringnya saya mendengar suaranya dan entah beberapakali saya memergokinya sedang bertengger di batang pohon Petai Cina, di pagar tembok sungai ataupun di cabang pohon Sukun. Kalau sudah menemukan tempat yang aman untuk bertengger,umumnya burung ini akan diam cukup lama di posisi itu.  Kalau terbang, saya melihat kepakan sayapnya agak lambat, sehingga cukup mudah diikuti mata.

Yang saya perhatikan dari burung ini adalah tampilanya yang berbeda. Burung  Kedasih dewasa memiliki warna  kepala dan punggung kelabu dengan sayap berwarna coklat dan hitam bergaris-garis.  Demikian juga dengan ekornya yang cukup panjang. Warnanya loreng hitam-coklat atau hitam-putih.   Perutnya berwarna coklat terang.  Paruhnya berwarna jingga dan lancip seperti halnya burung pemakan serangga lainnya. Sorot matanya tajam.

Saat masih kecil burung ini memiliki warna yang jauh lebih terang dari burung yang dewasa.  Dadanya putih bergaris-garis halus. Sehingga banayk yang mengira bahwa itu adalah jenis burung lain.

Burung ini sebenarnya berukuran kecil  (paling banter sekitar 20-21 cm) namun karena ekornya relative pajang, jadi lumayan membantu tampilannya menjadi terlihat agak lebih besar. Makanannya adalah serangga kecil yang bertebaran banyak di tepi sungai, dan juga buah-buahan kecil.

Setidaknya saya tahu kalau burung ini tersebar di pulau Jawa dan Bali.

28 responses »

  1. Sebagai orang yang berasal dari kampung lereng semeru, saya langsung membayangkan suara kedasih yang tuit … tuit … twittwit twit yang mendayu bagian akhirnya. Dan burung ini memang aneh sekali menggambarkan perilaku curang dari dunia ‘kebinatangan’, males makanya pantas disebut sebagai ratunya males dan ratunya tega karena nggak mau ngurus anaknya sendiri dan cenderung parasit pada indukan lain

  2. Waaah. Ternyata di istana hewan ada yang seperti itu ya mba made (kalau mempertimbangkan ceritanya benar ya). Makasih mba, bisa jadi bahan cerita ke Aaqil.🙂

  3. kasihan sekali. burung yang tak tahu apa-apa jadi dituduh pembawa berita kematian dan malapetaka.dia kan gak pingin suara sedih?
    dia gak memilih lagu itu. dia hanya bernyanyi untuk menunjukkan ekspresi nalurinya.

  4. wah, baru tahu kalau ada induk burung yg malas ngasih makan anaknya, mbak dani…..sampai pakai dititipkan ke induk burung lainnya. rupanya di dunia burung ada jg yg namanya tempat penitipan anak🙂

  5. wahh burug kedasih mengingatkan pada kisah2 sinetron tntang ibu yang meninggalkan anaknya, anak pungut yang malah durhakan dan lain-lain…

    burung kedasih itu burung emprit ya mbak ? .. bunyinya memany nyaring.. kalo gak baca blog ini lia gak tau sifatnya..
    maaf ya mbak baru bisa mampir

  6. Burung kedasih itu sama dengan Murai gak sih, Mbak Dani. Di kampungku kalau murai berbunyi juga dijadikan pertanda akan ada yang wafat atau ada yang meninggal.

  7. Mba, saya tidak faham masalah perburungan. Hanya suka lihat tetangga kontrakan yg memelihara burung dlm sangkar. Kadang saya sedih melihatnya krn burung itu tak lagi punya kebebasan. Kadang seneng juga denger suara cuitnya tiap pagi.

    Selalu menarik posting-posting mba ini…

    • Burung itu masih kudengar tiap pagi dan sore dekat rumah saat ini. Aku ketakutan saat masih kanak-kanak dulu tiap kali mendengar suaranya diatas pohon besar samping rumahku. Kini aku baru tahu cantik dan indahnya mereka dng suara yang sangat nyaring. Aku pelihara 2 ekor setelah bertahun tahun mencari di pasar burung tak ada yg jual. Aku akan melepas mereka setelah kuat terbang nanti. Burung itu cantik.tidak ada kesalahan. alam membuat keseimbangan. kedasih memang parasit dlm hal menitip telur .tapi itu keunikan alam. kakipun lain dari burung biasa,du jari di depan dua lagi mencengkram di bagian belakang (atau itu mungkin alasan kenapa burung itu ngga betah mengengkrami telurnya?). kita jangan benci atau takut dengan suaranya. hilangkan mitos di jaman canggih ini.

  8. Sdh bbrpa hari ini baik pagi maupun malam saya selalu mendengar suara burung ini, membuat saya penasaran shg googling dan walah….cukup surprise dg apa yg saya dapatkan ttg prilaku burung kedasih.
    Mahluk malaspun bisa tetap bertahan hidup,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s