Kampid Dedalu: Dongeng Tentang Laron Dan Sayap Pinjamannya.

Standard

DedaluMusim penghujan! Gerimis turun satu per satu. Saya memandang lewat jendela. Ada pemandangan menarik di luar.  Ratusan atau bahkan mungkin ribuan laron  beterbangan membubung tinggi mendekati cahaya lampu jalanan. Mereka berputar-putar dengan gerakan yang bisa diikuti mata.  Sayapnya gemerlap tertimpa cahaya di antara butir-butir air hujan  yang  mirip tirai berkilau.  Sungguh  pemandangan yang sangat indah. Memandangnya, membuat saya terasa berada di negeri dongeng. Terasa ikut terbang menuju sumber cahaya bersama laron-laron itu.

Sebentar lagi para laron ini tentu kelelahan terbang berputar-putar seperti itu. Sayapnya akan rontok satu per satu dan akhirnya iapun akan kembali jatuh ke tanah. Sebagian ada yang beruntung menemukan pasanganya. Membangun kerajaan rayap yang baru, di mana mereka yang akan menjadi raja dan ratunya.  Namun sebagian lagi mungkin akan menemui ajalnya begitu saja. Mati sia-sia terendam air hujan. Atau mati bermanfaat  bagi mahluk lain , menjadi sarapan kelelawar, burung  hantu, kodok , cicak atau bahkan manusia.

Di Bali, binatang kecil bernama Laron ini disebut dengan nama Dedalu.  Ada sebuah dongeng, cerita rakyat Bali  yang saya ingat tentang Dedalu ini.

*****

Kampid Dedalu

Pada jaman dulu  terdapatlah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja dan seorang Ratu yang memiliki tiga  anak . Yang pertama diberi nama  I Dedalu. Anak kedua bernama I Prajurit  dan anak yang ketiga diberi nama  I Tetani. Dedalu,  diberi tugas oleh orangtuanya untuk mengumpulkan remah-remah kayu untuk persediaan makanan. I Prajurit diberi tugas oleh ayahnya untuk berjaga-jaga di luar dan menghajar pasukan semut api yang datang menyerbu. Sedangkan  Tetani yang  merupakan pekerja keras dan handal diberi tugas oleh  ibu mereka untuk membangun dan memperluas sarang.

Mereka tinggal di sebuah lembah yang subur.  Namun mereka sangat menderita. Karena  mereka bermusuhan dengan semut api yang menjadi  tetangganya. Belakangan, seringkali pasukan semut  tiba-tiba datang dan menyerang mereka dengan mendadak. Walaupun mereka selamat dan berhasil melarikan diri, tapi tak urung banyak  kerugian yang mereka derita.  Banyak bahan makanan mereka yang disita oleh pasukan semut api. Demikian juga sarang mereka.Sebagian ada yang dirusak.

Sang Raja lalu memanggil ke tiga anaknya. Ia berkata bahwa mulai sekarang, sebaiknya mereka perlu  melakukan patroli berkeliling untuk memantau pasukan musuh.  Sehingga bisa bersiap-siap sebelum meraka datang. Semua setuju. Disepakati bahwa I Tetani lah yang akan berangkat untuk melakukan patroli. Karena I Tetani yang paling awas dan teliti diantara mereka. Untuk tugas itu  I Tetani dihadiahi empat buah sayap (kampid = bahasa Bali) oleh ayahnya, agar ia bisa terbang dan memantau pasukan semut dari udara.

I Tetani menerima tugas dengan baik. Setelah menerima sayap itu, maka berangkatlah ia melakukan patroli. Tiga kali sehari.    Ia terus melakukannya dengan rajin. Setiap kali  si semut api bermaksud menyerang, I Tetani sudah tahu lalu memberitahukan hal ini kepada sang raja. Raja pun memerintahkan I Prajurit untuk berjaga di luar  dan menyerang si Semut Api sebelum mereka sempat mendekati sarang mereka. Sejak saat itu,  rumah mereka pun aman dari serbuan semut api.

I Tetani tetap melakukan patroli udara ke luar rumah secara berkala walaupun sudah aman. Jika ia di rumah,maka ia mengerjakan sarang. Sementara jika ia berpatroli, maka tugasnya membangun sarang digantikan oleh I Dedalu.  Lama kelamaan I Dedalu merasa iri. Ia merasa cape menggantikan tugasnya. Ingin sekali-sekali  bermain dan terbang bebas di luar sana. Ke luar dari rutinitas pekerjaannya. Ia menggerutu. Kenapa sang Raja tidak menugaskan dirinya saja yang berpatroli.

Suatu malam, ia memandang ke luar sarang. Dan melihat betapa  bulan purnama  yang penuh bersinar terang, naik ke langit perlahan-lahan. Menyinari malam dengan sangat indahnya. ooh..betapa inginnya ia ke sana. Terbang dan menari-nari menuju bulan.  Seandainya ia mempunyai sayap.  Tentu ia akan membubung tinggi ke bulan. Melakukan pesta malam yang gemerlap di udara malam. Ia pun membayangkan dirinya  terbang berlenggak lenggok dengan sayapnya. Tentu semua mahluk akan mengaguminya.  Maka  tanpa sepengetahuan sang Raja, iapun pergi menemui I Tetani dan mengutarakan maksudnya untuk meminjam sayap.

Awalnya I Tetani tidak mengijinkan. Namun karena didesak terus oleh I Dedalu, maka iapun meminjamkan sayapnyakepada I Dedalu  dengan catatan segera mengembalikannya sebelum  tengah malam tiba. Karena ia sudah harus melakukan tugas patroli kembali. I Dedalu pun setuju. Dan bergegas mengenakan sayap itu di punggungnya.  Tidak terlalu pas. Sayapnya agak berat dan kebesaran. Namun I Dedalu tetap memaksa terbang dengan sayap yang bergetar karena tidak pas di tubuhya. Ia terbang semakin ke atas dan semakin ke atas. Ke arah rembulan yang bercahaya. Di udara malam ia menari, bernyanyi dan bersuka ria di bawah cahaya bulan. Ia memamerkan sayap I Tetani  yang indah dan berkilau di timpa cahaya bulan kepada semua mahluk yang melihatnya.

Tanpa disadarinya, seekor burung hantu yang lapar melihatnya dan segera menyambar dirinya. I Dedalu meronta-ronta dan menangis meminta pertolongan. Angin datang menolong. Iapun lepas dari cengkeraman burung hantu dan hinggap di dahan pohon asam. Namun sayapnya patah sebuah.  Ketika beristirahat di sana, tiba-tiba seekor cicak menyerangnya.  Sayapnya rontok sebuah lagi. Ia terbang kembali dengan miring karena sayapnya kini tinggal dua buah.  Di tengah jalan seekor kodok keluar dari persembunyiannya di balik semak dan menyerangnya. I Dedalupun berlari dengan cepat. Namun tak urung sebuah sayapnya lepas lagi. Tinggal lah sebuah. Kini ia teringat kepada I Tetani, adiknya. Ia berjanji akan mengembalikan ke empat sayap itu sebelum tengah malam.  Ia berjalan merayap di tanah dan mencoba mencari jalan pulang. ia ingin meminta maaf dan mengembalikan sayap yang tinggal sebuah itu. Tanpa disadarinya ia malah mendekati sarang pasukan semut yang menjadi musuh bebuyutan keluarganya. Iapun dikejar-kejar semut. Sayapnya yang terakhir pun lepas dan tertinggal di dekat sarang semut.  I Dedalu berjalan terus dan terus dengan sedihnya.  Ia tak menemukan jalan pulang ke rumah orang tuanya.

Karena sudah tidak aman gara-gara tidak memiliki lagi sayap untuk berpatroli, sejak saat itu maka keluarga itupun menyelamatkan diri ke dalam tanah dan berubah mejadi rayap. Sang raja dan ratu berubah mejadi Raja dan Ratu Rayap.I Tetani beranak pinak dan menjadi rayap. demikian juga dengan I Prajurat, akhirnya berkembang mejadi rayap Prajurit yang memiliki rahang yang besar dan tajam. Dan I Dedalu berubah mejadi  Laron.

Konon itulah sebabnya mengapa  I Dedalu (Laron) selalu terbang gemeteran dengan kagoknya – karena sayapnya tidak pas, karena sebenarnya sayap  itu milik I Tetani (Rayap) yang dipinjamnya. Itulah pula sebabnya mengapa Laron selalu ingin mendatangi sumber cahaya, dan sayapnya selalu patah satu per satu sehingga ia tidak bisa menemukan jalan pulang.

*****

Namanya juga dongeng, tentu cerita ini adalah hasil karangan semata. Namun yang namanya dongeng, tentu selalu mengandung pesan moral yang disampaikan oleh orang tua kepada anak cucunya.  Salah satu pesan moral yang dipetik dari cerita ini disampaikan dalam bentuk Sesenggakan (Perumpamaan).

Kadang-kadang disela-sela pembicaraan, mungkin kita akan mendengar ada orang tua memberi nasihat kepada anak keponakannya seperti ini “Apang eda buka dedalune, mekeber nganggon kampid baan nyilih” – terjemahan ” Agar jangan sampai seperti laron, hendak terbang tapi menggunakan sayap hasil pinjaman dari orang lain”. Tentu saja petuah ini mengacu pada dongeng rakyat tentang “Kampid Dedalu” di atas.

Petuah itu  bermakna, agar anak anak pandai-pandai membawakan diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan serta kemampuan ekonomi yang ada. Bersikap rendah hati  dan bukan rendah diri. Apa adanya dan tidak berlebihan. Jangan memerkan hal-hal yang  bukan milik kita sendiri. Mau menggunakan pakaian dan perhiasan yang gemerlap namun hasil meminjam dari orang lain. Memamerkan mobil  baru yang mewah, namun hasil pinjaman atau malah hasil korupsi.  Dan sejenisnya.  Tampillah apa adanya. Kalau memang tidak punya, jangan sok kaya.

Saya tidak tahu, apakah petuah seperti ini masih berlaku dan dihargai untuk jaman sekarang ya?

 

 

14 responses »

  1. Itulah kehebatan para leluhur kita yang mampu menyerap setiap kejadian yang ada di sekitar kita untuk dijadikan sebagai pembelajaran hidup dalam membangun moral positip untuk generasi yang dididiknya.

  2. Kalau ingin terbang gunakan sayap sendiri. Kalau pengen sesuatu beli pakai uang hasil jerih payah sendiri. Nilai-nilai universal yang belum lekang sakalipun jaman sudah banyak berubah sejak I Dedalu ya Mbak Dani

  3. Hal baru. Dongeng laron, petuah laron. Dua-duanya baru tau. Sepertinya dongeng dan petuah khas Bali ya?
    Sepertinya petuah tersebut sudah tidak terlalu cocok dengan situasi sekarang. Siapapun pastinya tidak mau terbang menggunakan sayap orang lain. Tapi kalau ga punya sayap? ya terpaksa minjam.:mrgreen:

  4. Saya suka bangat dongengnya Mba Made… apalagi ada pesan moralnya seperti ini… masih cocok untuk anak jaman sekarang… Makasiih Mba Sudah Share dongeng ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s