Di Puncak Gunung Padang.

Standard

Gunung Padang 12Apa yang bisa dilihat di Puncak Gunung Padang? Pertanyaan yang wajar. Karena setelah bersusah payah naik, anak-anak tentu semua penasaran akan hal yang bisa dilihat sebagai upahnya. Kebetulan begitu sampai di puncak, hujan turun dengan derasnya.  Saya mengajak anak-anak untuk berteduh di bawah pohon tua yang ada di teras pertama. Saya dan kedua anak saya berlindung di balik batang pohon, di bawah payung yang terlalu kecil untuk melindungi kami bertiga.  Tak urung baju kami sebagian basah kuyup juga. Sementara suami saya dan Pak Yusuf berdiri di bawah hujan yang deras sambil ngobrol. Anak-anak menyimak dengan baik penjelasan Pak Yusuf sambil sesekali melemparkan pertanyaan ingin tahu lebih lanjut.

Pak Yusuf menjelaskan mengenai keberadaan teras di puncak itu. Ada 5 teras. Saat itu kami berada diteras pertama yang paling rendah. Teras itu jaman dulunya konon digunakan sebagai tempat penyambutan pengunjung yang baru tiba di puncak. Ada sebuah ruang persegi panjang yang dipagari dengan batu-batu menhir.  Ada sebuah pintu masuk ke ruang itu yang dibatasi dengan batu menhir tegak  yang agak lebih besar. Di salah satu sudut  ruang persegi panjang itu terdapat sebuah batu dolmen. Dasar ruangan itu adalah batu-batu andesit yang disusun mendatar dan rapi. Apa gunanya ruangan itu? Ada yang mengatakan itu sebagai ruang pertemuan, ada juga yang mengatakan sebagai ruang hiburan.  Karena tak jauh dari sana, terdapat batu musik yang bisa mengeluarkan nada musik traditional Sunda, da mi na ti la da.

Di sebelah kanan ruangan persegi panjang berpagar batu menhir itu, terdapat juga sebuah ruangan yang dibatasi oleh batu-bau yang lebih pendek.  Lalu di sebelah kiri ada tumpukan batu yang terlihat seperti bekas reruntuhan sebuah bangunan penting.  Di depan, terdapat reruntuhan dinding beserta  tangganya untuk menuju ke teras ke dua.

Menurut Pak Yusuf,  sebenarnya ada lima tangga  yang aslinya menuju ke teras ke dua. Hanya saja  karena sudah runtuh,bentuknya sudah tidak terlalu jelas lagi. Saya melihatnya dan masih bisa mengenali salah satunya.

Di teras ke dua, terdapat pohon Kemenyan yang menurut Pak Yusuf  selalu bergantian mengalami kekeringan dan menggugurkan daunnya. Jika yang kanan kering, maka yang kiri akan subur.Demikian juga sebaliknya. Itu terjadi sejak jaman dulu, sejak Pak yusuf masih kecil sudah begitu.  Semacam keseimbangan dan penyeimbangan diri.  Saling menjaga dan saling menguatkan satu sama lain. Di bawah pohon itu terdapat batu-batu besar yang berdiri dan kelihatannya dulunya digunakan untuk duduk-duduk. Barangkali sejenis tempat pertemuan untuk berembug sesuatu. Atau melepaskan lelah.  Bentuknya memang sangat menarik dan meyakinkan sebagi tempat diskusi.

Saya lupa entah di teras ke dua atau ke tiga  saya ditunjukkan oleh Pak Yusuf sebuah batu dengan cekungan yang mirip dengan bekas telapak kaki harimau. Juga ada sebuah batu dengan cekungan berbentuk seperti kujang, senjata traditional tanah pasundan.  Lalu di teras keempat terdapat sebuah ruang lagi di bawah pohon yang tadinya terdapat sebuah batu yang disebut dengan Batu Kanuragan. Karena sering disalah gunakan, akhirnya batu tersebut sekarang diamankan di tempat lain.

Di teras ke lima  yang merupakan teras tertinggi, terdapat sebuah ruang lagi berbentuk lingkaran tak sempurna yang berpintu yang disebut dengan  altar. Dulunya tempat iu merupakan tempat untuk melakukan doa ataupun semedi. Konon jika kita berada di tempat itu, angkasa akan terasa lebih dekat dengan kita.  Ketika hujan berhenti- sayapun bertanya apakah saya boleh masuk ke sana? Kata Pak Yusuf boleh saja.Maka sayapun mencoba berdiri di situ dan mendongak ke langit. Eh, jarak langit  memang terasa lebih pendek dari tempat saya berdiri itu. Mungkin halusinasi ya? Barangkali karena saya tadi terpengaruh mendengar cerita-cerita Pak Yusuf he he. Karena logikanya, mana ada sih langit jaraknya lebih pendek?.  Lebih pendek beberapa ratus meter doang di atas permukaan laut sih ya. Karena saya berada di ketinggian. Tentu saja.

Setelah puas melihat-lihat dan bertanya ini itu, kamipun memutuskan untuk turun. Mumpung hujan sudah reda. Kami harus berjalan menuruni tangga dengan extra hati-hati, karena khawatir  tergelincir akibat jalanan yang licin. Pak Yusuf dengan proaktif membantu kami menuntun anak-anak agar jangan sampai tergelincir.

Tapi secara keseluruhan, berada di tempat itu sungguh menyenangkan. Tempat yang tinggi, dengan desir angin yang sejuk dan pemandangan yang sangat indah.  Saya mengagumi tempat itu . Sang arsitek dan karyanya, siapapun beliau itu. Dan entah kapanpun beliau menjalankan kehidupannya di dunia ini, namun karyanya tetap abadi.  Saya sangat senang akhirnya bisa mengunjungi tempat itu.

Selain itu anak-anak saya bisa belajar sesuatu yang baru  dari apa yang dilihatnya, dirasakan dan didengarnya secara langsung. Sesuatu yang berbeda dengan apa yang bisa ia pelajari dari bangku sekolah atau dari browsing di internet saja.

Setelah mengucapkan terimakasih kepada Pak Yusuf atas bantuan informasinya, maka kamipun pulang. Membawa kenangan dan kekaguman akan situs megalitik itu.

19 responses »

  1. Suka banget Mba Made sama seri mendaki Gunung Padang ini. Jadi kepengen bawa Aaqil ke situs-situs sejarah sambil dengar penjelasan dari penjaga di sana juga biar gak jadi benci pelajaran sejarah kayak saya dulu..

  2. Kebetulan saya dulu sekolah di bidang ilmu kebumian. Melihat “penampakan” dan singkapan batuan2 yang ada, Saya yakin bahwa itu adalah artifisial. Buatan manusia, sebagai penanda peradaban.

    • Nada suara yang dikeluarkan juga nada Sunda. Da Mi Na Ti La Da. Kalau Batu musik itu di Bali mungkin nada suaranya menjadi Dung Dang Dung Deng Dung Dang Ding Dong, Ding Dung Deng Dong. Dung Dang Ding Dung Ding Dang, Dung Ding Dang Ding Dang Dung… he he. Suka megambel, Bud?
      Batu Kanuragan itu rumornya sih banyak digunakan orang untuk menguji kekuatan atau memohon kesaktian / kekebalan tubuh.. tapi tidak ada yang tahu kebenarannya. Sebelumnya banyak juga sih yang ke sana mencoba menguji kekuatannya dengan mencoba mengangkat batu itu. Katanya sih belum tentu orang dewasa yang badannya besar bisa ngangkat, malah beberapa kali ada pengunjung yang masih anak kecil yang bisa ngangkat batu itu dengan entengnya. Jadi orang semakin penasaran. Tapi lama-lama mungkin dikhawatirkan batu itu rusak/patah karena digotong ke sana ke mari dan dicoba-coba, akhirnya diamankan saja oleh petugas.

    • Ya itu Pak. Ada rumor yang beredar bahwa Batu Kanuragan itu ada kaitannya dengan ‘kekuatan fisik’. Batu itu sangat berat dan sulit diangkat orang. Namun beberapa pengunjung ada juga yang berhasil mengangkatnya. Orang dewasa dengan tubuh yang kekar dan besar tidak menjadi jaminan bisa mengangkat batu itu. Bahkan katanya beberapa pengunjung yang masih anak kecil malah terbukti ada yang bisa mengangkat batu itu dengan enteng. Ini membuat semakin banyak orang datang ke sana dengan maksud untuk menguji kekuatan atau bahkan ada yang datang untuk memohon kekebalan/kesaktian. Nah inilah yang dimaksudkan sebagai penyalahgunaan. Petugas sudah menjelaskan bahwa batu itu tidak ada kaitannya dengan kesaktian – hanya yang bisa mengangkat berarti ya dia kuat, atau barangkali teknik mengangkatnya yang tepat – itu saja . Tapi rupanya orang-orang tetap penasaran. Akhirnya daripada batu itu jatuh, pecah ataupun rusak karena digotong orang ke sana ke mari, akhirnya oleh petugas diamankan, Pak Chris.

  3. Dahsyat mba posting berseri ini.

    Saya cuma bisa membayangkan betaa asiknya berdisri diatas ketinggian di puncak gunung padang itu.
    Gunung padang ini masih meyiman misteri sampai saat ini. Berbagai informasi memang saya dapatkan dari internet. Pernah ngobrol dengan beberaa teman2 komunitas di sukabumi kalau diduga ada kandungan emas di situs gunung padang ini. Selain ada juga yg bilang ada semacam piramida yg terkubur didalamnya. Entah teman2 itu bercanda. Tapi saya curiga tentang kandungan emas itu. Konon sih ada gerakan2 untuk menggalinya untuk kepentingan politis tertentu.

    Terimakasih sharenya ttg gunung padang ini, mba. Sebagian rasa kepenasaran saya hilang. Walau saya tetap berniat ingin mengunjunginya satu saat nanti.

    Salam,

    • ya Pak. harus ke sana. Sebagai orang yang masih tinggal di Wewengkon Gunung Gede dan sekitarnya , sangat perlu datang ke sana. Nggak terlalu jauhlah kalau dari Warung Kondang. ya saya juga denger cerita tentang pyramid dan emas yang ada di sana. Cuma tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s