Mengunjungi Situs Gunung Padang

Standard

SumurGerimis turun tipis. Kami memutuskan untuk naik ke atas sebelum gerimis berubah menjadi deras. Pak Yusuf petugas dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala yang juga adalah penduduk setempat, bersedia mengantarkan kami ke atas dan sekaligus memberikan bantuan informasi yang akan kami butuhkan.

 Beliau menjelaskan bahwa ada dua jalur menuju ke atas. Pertama jalur asli yang umurnya sudah tua dan lebih pendek, namun lebih curam – panjangnya hanya sekitar 100 meter dengan sekitar 300 buah anak tangga. Jalur e dua, yang baru-baru ini dibuat, memiliki panjang 300 meter dengan 709 anak tangga dibuat lebih landai. Kedua jalur itu sekarang sudah dipasangi pegangan tangan, agar pengunjung bisa lebih mudah dan lebih aman saat melakukan pendakian. Walaupun ingin mencoba jalur yang asli, namun akhirnya saya memilih jalur yang landai saja.

Persis di bawah anak tangga di jalur yang  asli, ada sebuah sumur berdinding batu dengan air yang sangat jernih. Saya menduga tempat itu dahulunya adalah sebuah Petoyan –tempat orang mengambil air untuk menyucikan diri sebelum naik ke atas – yang diiyakan oleh Pak Yusuf.  Mengingat bahwa tentunya bangunan di puncak bukit itu tentulah tempat suci.   Menurutnya, sekarang air itu disalurkan ke rumah-rumah penduduk dan dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari.

Mendaki Gunung PadangSaya mulai menaiki anak tangga itu. Sesekali berhenti untuk menenangkan nafas, sambil melihat-lihat pemandangan di sekeliling. Indah sekali. Dalam gerimis, saya masih bisa melihat lembah dan bukit  serta gunung yang mengelilingi Gunung Padang. Juga banyak suara anak burung Kedasih yang disebut sebagai Burung Uncuing oleh Pak Yusuf  terdengar dari balik semak-semak. Sangat membantu membuat pendakian menjadi sangat menyenangkan. Anak-anak naik dengan lebih cepat. Di kiri kanan tampak batu-batu menhir yang dipasang memagari jalan. Sambil berjalan Pak Yusuf menceritakan mengenai beberapa penelitian yang telah dilakukan di tempat itu yang melibatkan berbagai kalangan seperti arsitek, ahli purbakala,ahli geology dan sebagainya.

Setelah beberapa menit, dengan nafas yang ngos-ngosan sampailah saya di leher gunung itu. Istirahat sejenak untuk memulihkan nafas. sebenarnya, secara umum pendakian ini tidak terlalu berat. Terutama karena telah disediakannya jalur landai yang sangat bersahabat bagi pengujung.

Saya mendongak ke atas. Tinggal menaiki beberapa tangga batu yang cukup tinggi, akhirnya saya tiba juga di puncak Gunung Padang. Wow!. Sangat mencengangkan.

reruntuhan batu di Gunung PadangBanyak sekali batu-batu panjang berserakan di sana. Terlihat seperti bekas bangunan runtuh. Batu-batu panjang berukuran lebih dari semeter,dengan tampilan serupa walaupun tidak seragam. Sangat mirip tumpukan potongan kentang goreng yang kita beli dari restaurant fast food. Bertumpuk-tumpuk. Ada yang miring, ada yang mendatar rebah, ada yang berdiri. Ada yang rapi dan membentuk pola jalan atau dinding,tapi lebih banyak lagi yang berserakan.

Bagi orang awam, melihat itu tentu seketika mencuatkan berbagai pertanyaan di kepala. Apa sebenarnya batu-batu itu? Mengapa bentuknya seperti itu? Apakah itu hasil potongan manusia atau memang bentukan alam? Mengapa dan bagaimana ia bisa  ada di sana? Siapa yang membawa ke sana? Dari mana asalnya? Untuk apa? Siapa yang membuatnya? Kapan dibuatnya? Lalu bekas bekas bangunan itu sebenarnya apa? Mengapa berserakan? Bagaimana susunan aslinya? Dan puluhan pertanyaan lagi.

Seperti yang saya duga, pertanyaan-pertanyaan itulah yang diajukan oleh anak-anak saya.  Sungguh sangat beruntung, saya dibantu oleh Pak Yusuf  dalam memberikan anak-anak jawaban yang terbaik yang bisa diberikan. Walaupun memang saya sadari bahwa tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban yang pasti pada saat sekarang ini.

Situs Gunung Padang ini telah diteliti oleh banyak ahli. Sebagian misterinya telah dijawab. Walaupun tentunya masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab juga hingga saat ini.  Dan masih banyak kontroversi.

Setelah  ngobrol dengan Pak Yusuf, dan sebelumnya membaca sedemikian banyaknya tulisan yang bertebaran di internet baik tentang situs itu maupun tentang batuan alam dan melihat sendiri tempat itu, sebagai orang awam yang bukan ahli apapun juga, inilah pemahaman saya tentang Situs Gunung Padang saat ini.

1/. Mengenai Batu-Batu itu.

batu gunung padangBatu-batu itu sudah pasti adalah batu andesit. Batu alam yang memanjang dan berbentuk irisan kentang goreng karena bentukan alam. Umum disebut dengan Columnar Joints. Bentukan batu alam seperti ini juga ada di banyak tempat lain di dunia. Jadi kelihatannya memang bukan dibentuk atau dipotong manusia.  Saya pikir ia ada disana, bukan karena dibawa orang dari tempat lain tapi memang terbentuk secara alamiah di sana.  Mengapa saya berpikir begitu? Karena batu andesit itu sungguh sangat berat. Tiga ratusan kilogram per potongnya. Untuk menggotong sebuah batu saja barangkali membutuhkan 5-6 orang tenaga manusia. Nah bagaimana caranya menggotong batu dengan ukuran dan bentuk serupa yang jumlahnya ribuan itu dari tempat lain? Berapa tenaga yang dibutuhkan? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Rasanya amat tidak mungkin mendatangkannya dari tempat lain, kecuali jika saat itu nenek moyang kita telah memiliki teknologi canggih untuk memindahkan benda berat yang tidak diwariskannya kepada kita.

Walaupun Pak Yusuf ada juga menyampaikan pemikirannya, bahwa mungkin saja batu-batu diambil dari sebuah bukit yang bernama Gunung Batu yang tak jauh dari tempat itu.

2/. Bukit Alam atau Bukit Buatan?

Batu di badan bukitMasih terjadi perdebatan di kalangan para ahli. Ada yang mengatakan itu adalah bukit buatan dan ada juga yang mengatakan itu bukit alam. Tapi saya yang awam, cenderung berpikir bahwa Gunung Padang ini adalah bukit yang setengah alami dan diatasnya memang buatan manusia. Mengapa alami, karena saya pikir batu-batu itu memang berasal dari sana – lalu  di susun-susun menjadi bangunan. Batu-batu andesit yang sama juga saya lihat tersingkap keluar dari  badan bahkan dari kaki bukit itu. Mungkin sebelumnya bukit batu itu memang sudah ada di sana secara alami.  Sementara saya tetap akan berpikir begini, sampai ada perkembangan selanjutnya dari para ahli itu.

Saya percaya bahwa Gunung Padang mungkin terbangun dalam 3 fase sejarah yang senjang waktunya cukup panjang satu sama lain. Mengingat hasil pengujian geologi yang dilakukan oleh para ahli mengatakan bahwa umur material pada kedalaman  yang berbeda ternyata berbeda juga.  Itulah sebabnya mengapa ada tiga strata waktu yang berbeda. Sample yang terdalam mengatakan bahwa umur dari sample material itu berkisar sekitar 14.500  tahun yang lalu. Jika memang itu adalah bangunan manusia, tentu bangunan itu jauh lebih tua dari Pyramida yang ada di Mesir.  Tapi jika yang diambil samplenya adalah batuan alami biasa..ya saya pikir itu wajar wajar saja berumur sedemikian tua.

Juga ada berita-berita terkait dengan bangunan di dalam bukit, serta pintu masuknya. Kita juga masih menunggu pembuktian para ahli tentang hal itu. Untuk saat ini , sebagai masyarakat awam saya cukup puas dengan hanya menyaksikan bangunan berundak yang ada dipuncaknya saja.

3/. Bangunan Suci. 

batu gunung padang 2Gunung Padang, atau yang disebut juga dengan nama Gunung Manik Lampegan sangat mungkin merupakan tempat suci pada jaman dulu. Dan mungkin telah digunakan sebagai tempat suci lintas generasi.

Puncak Gunung Padang berupa dataran dengan 5 teras yang bertingkat.  Dan belakangan juga diketahui, bahwa ternyata situs ini bukan hanya terdiri atas 5 tingkat yang di permukaan saja, namun juga beberapa undakan yang ditemukan di bawahnya. Jadi keseluruhan bukit itu adalah bangunan suci.Keberadaan sumur untuk tempat penyucian yang berada di bawah tangga naik itu memperkuat dugaan saya itu.

6 responses »

  1. Terimakasih Mba Made. Banyak banget belajar dari postingannya. Mba Made suka sejarah pasti ya dan pengetahuannya luas. Sampe bisa jelasin jenis-jenis batu gitu. Dulu waktu pelajaran sejarah dan antropologi langsung pusing baca penjelasannya. Tapi baca di sini jadi seru rasanya.😀

    • Saya suka sama pelajaran sejarah, karena waktu kelas IV SD, guru kelas saya sangat menyenangkan dan enak kalau ngajar. Semua mata pelajaran diceritakan seperti bercerita, jadi murid-murid mudah mencernanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s