Monthly Archives: January 2014

Kita Bikin Sendiri Yuk!

Standard

Satu hal yang saya selalu percayai dalam hidup saya adalah bahwa “Jika ada orang lain yang bisa membuat sebuah benda, maka sebenarnya kita bisa membuatnya juga, asalkan ada niat membuatnya, mau melakukannya, kita tahu cara membuatnya dan kita memiliki alat untuk membuatnya”. Itulah sebabnya saya sering mencoba membuat benda-benda yang saya sukai dengan maksud untuk membuktikan bahwa saya ternyata bisa membuatnya.  Mungkin hasil buatan kita sama bagusnya dengan jika kita membeli, kadang kurang bagus atau bahkan beberapa kali malah lebih bagus dibanding dengan benda yang dijual umum.  Buat saya mau lebih bagus, sama bagus atau kurang bagus adalah masalah ke dua. Kalau lebih bagus atau sama bagus, ya tentunya saya senang. Kalau kurang bagus, kan juga bisa diperbaiki nanti jika kita lebih mengerti lagi tata cara pembuatannya dengan lebih baik. Jadi saya tetap mencoba membuat dan membuat lagi untuk menyenangkan hati saya.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan bahwa seringkali jika kita membuat sendiri benda-benda kesukaan kita, ternyata juga membuat pengeluaran kita menjadi lebih irit.  Terutama jika kita membuat dalam jumlah banyak. Karena ternyata ongkos membuat  sendiri, lebih murah dibandingkan jika kita membeli. Ada beberapa contoh benda yang sering saya buat sendiri dan menurut saya ongkosnya jauh lebih murah dibandingkan membeli.

1/. Benang dan kain. 

Menyulan & merendaSaya  senang membuat sendiri benda-benda yang terbuat dari benang dan kain. Sejak remaja, saya suka menjahit sendiri baju-baju saya. Saya beli kainnya di pasar, lalu saya lihat modelnya di majalah-majalah remaja, saya ukur badan saya sendiri, buat polanya sendiri, lalu jahit dan paskan dengan badan saya… jadi deh.  Saya juga suka membuat sendiri topi, baju tidur, atau sprei  buat diri saya sendiri. Saya menemukan setidaknya kita bisa irit 25% – 50%  atau bahkan lebih jika kita buat sendiri, ketimbang jika kita beli. Lumayan kan?

Saya juga suka mennggambar dan menyulam sendiri untuk membuat jahitan saya terlihat lebih manis. Selain itu saya juga cukup sering membuat bantal kursi, taplak meja dan acessories lain yang tebuat dari benang. Saya kadang-kadang merenda sendiri apa yang ingin saya buat.  Benda-benda yang saya perlihatkan di foto ini akan menjadi cukup mahal jika kita beli dari toko.  Tapi kalau buat sendiri? Sudah pasti jauh lebih irit.

2/ Pengharum ruangan.

PotpourriPengharum ruangan traditional (potpourri) bisa kita bikin sendiri. Terkadang  saya juga bikin sendiri. Caranya sederhana. Hanya dengan memetik bunga-bunga wangi yang mekar di halaman (frangipani, kacapiring, mawar, melati, dsb) dicampur dengan irisan kulit jeruk, pekak, adas, pala,cengkeh dsb bahan bahan alam yang memang wangi dari sononya  dan mengeringkannya, lalu saya tambahkan dengan biang parfum dan simpan dalam toples.  Wangi akan keluar sesuai dengan benda-benda yang kita campur di dalamnya. Jika pengeringan dan proses dilakukan dengan baik, maka pengharum ruangan ini akan mampu bertahan hingga beberapa bulan. Kadang lebih dari 6 bulan.

Membuat potpouri sendiri ini sangat menarik lho. Dan juga murah. Soalnya yang dipakai hanyalah bunga-bunga kering dan irisan bahan lain yang mudah didapat seperti misalnya kulit jeruk (saya hanya menggunakan kulit jeruk yang buahnya saya makan – saya iris tipis tipis dan saya jemur), pala dan sebagainya. Jadi benar-benar irit tentunya dibandingkan dengan jika kita membeli.

3/Hiasan Kamar.

MelukisHiasan kamar bisa jadi sangat mahal. Tapi kita bisa menyiasatinya dengan membuatnya sendiri. Saya senang menggambar dan mendorong anak-anak saya untuk ikut  melukis dan memajang hasil karyanya di dinding. Buat saya, memasang hasil gambar anak-anak bukan saja membuat anak-anak semangat berkereasi  serta bangga akan karyanya sendiri, namun juga lumayan untuk mengirit pembelian pajangan.

Caranya ya tinggal siapkan buku gambar atau kanvas, pensil ataupun cat minyak, krayon, cat acrylic dan sebagainya. Biarkan anak-anak belepotan. Biarkan anak-anak menggambar semaunya. Dan hasil lukisannya kita bingkai dengan baik,  lalu pajang di dinding.  Saya tidak pernah khawatir dengan gambar jelek.  Gambar anak-anak yang dijiwai oleh semangat yang tinggi selalu bagus. Kalaupun gambarnya jelek, tidak apa-apa juga. Gambar jelek tapi hasil karya sendiri masih jauh lebih baik daripada memajang gambar bagus hasil karya orang lain he he. Selain itu sudah pasti lebih irit dibandingkan membeli lukisan di galery.

4/ Mainan Anak

Membuat mainan sendiriMainan anak juga tidak semuanya harus dibeli. Bisa bikin sendiri dan lebih asyik. Sejak anak-anak masih kecil saya selalu membiasakan diri membuat sendiri mainan anak-anak.  Mulai dari membuat berbagai jenis binatang dari kain flanel maupun dari benang, membuat sendiri gelembung sabun, membuat sendiri terompet,pancing dan berbagai mainan lain yang bisa dimainkan oleh anak-anak saya dengan hati senang.  Anak-anak saya sangat suka dengan mainan hasil buatan tangan saya sendiri. Bahkan sering promosi dengan bangga ke teman-temannya bahwa” mamaku pintar membuat mainan lho..”. Apesnya… anak-anak tetangga jadi minta dibuatkan juga. Tidak apa-apa sih. Yang menarik adalah, beberapa ibu-ibu tetangga jadi ikut belajar membuat mainan juga, gara-gara anak-anaknya merengek meminta dibuatkan mainan he he. Kalau lihat sisi positivenya adalah, kegiatan saya lumayan berhasil mendorong kreatifitas ibu-ibu lain *bangga*.

Walaupun banyak juga mainan jenis lain  yang tetap dibeli oleh anak saya,  namun dengan adanya mainan buatan sendiri, setidaknya keperluan membeli mainan komersial jadi sedikit bisa dikurangi.  Anak-anak bisa memainkannya bergantian.

Selain sedikit lebih irit, karena sering melihat emaknya membuat mainan sendiri, anak-anak juga jadi ikut terdorong pengen mencoba membuat mainan mereka sendiri juga. Kadang-kadang merekapun cukup kreatif membuat maianannya sendiri. Sering juga anak-anak mencoba membuat robot-robotan sendiri,membuat mobil-mobilan, mencoba merakit sendiri mainannya yang membuat saya merasa senang. Setidaknya walaupun nilai iritnya tak seberapa, saya senang karena bisa mendorong sisi kreatifitas anak-anak bertumbuh dengan baik.

5/. Memasak Sendiri.

MemasakMakan di restaurant tentunya selalu menyenangkan. Hanya saja harganya yang mahal membuat kita berpikir juga jika sering-sering pergi ke sana. Membuat makanan sendiri! Sudah pasti buat saya itu adalah cara mengirit tersendiri. Jika saya menemukan makanan yang enak dan menarik perhatian saya, atau jika saya tahu anak-anak maupun suami saya menyukai jenis masakan tertentu yang disajikan di sebuah restaurant,  dan terutama jika harganya mahal, maka saya  pasti akan berusaha membuatnya sendiri.  Mencoba membuat sendiri makanan favorit sebenarnya cukup mudah.  Saya sering melakukannya.

Contohnya adalah membuat Tom Yum Goong , membuat pizza,membuat chocolate ball, membuat banana split, membuat cream sup dan lain sebagainya. Saya coba-coba saja sendiri dengan menebak bumbu yang digunakan. Jikapun ragu, maka jaman sekarang sungguh sangat mudah mendapatkan informasi cara pembuatannya. Tinggal browsing saja di internet, lalu coba. Jika tidak happy dengan hasilnya, coba-coba lagi dengan mengotak-atik bumbunya, sampai kita menemukan yang pas dengan selera kita atau yang mendekati rasa yang dihidangkan di restaurant favorite kita.

Cara irit yang lain,  juga dengan memasak dan membawa sendiri bekal makan siang ke kantor. Yang ini dijamin irit deh. Karena saya sering melakukannya.

Sebenarnya masih banyak lagi cara saya melakukan penghematan – namun “Cara Berhemat dengan Membuat Sendiri” adalah cara penghematan yang paling saya sukai. Karena penghematan dengan cara begini bukan saja memberi benefit dalam bentuk biaya yang lebih sedikit, namun yang lebih penting lagi buat saya adalah membuka peluang bagi diri kita dan anak-anak untuk menjadi  lebih kreatif dan percaya diri.  Dan  tentu saja, cara irit seperti ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pelit, lho!.

Yuk kita buat sendiri! Lebih Irit, Lebih Kreatif Dan Tidak Pelit!.

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin.

Menelisikin Bulu, Menelusuri TiapTitik Perbuatan Kita.

Standard

Menyisir Bulu 1Senja. Sehabis hujan. Saya keluar rumah dan memandang ke sekeliling. Sisa-sisa sinar matahari yang tadinya tertutup mendung sekarang mulai terkuak dan memantul dari pucuk-pucuk pohon keluwih di belakang rumah. Membuat segala sesuatunya terlihat lebih merah dari biasanya.  Senja yang hangat.

Saya mendongak ke atas. Empat ekor burung balam tampak sedang bertengger di dahannya yang mati. Wah..banyak sekali. Saya belum pernah melihat ada empat ekor burung yang sama bertengger di pohon yang sama saat bersamaan. Kecuali burung gereja, burung pipit atau burung peking yang memang hobinya bergerombol. Burung-burung itu berdiang menikmati kehangatan sinar matahari sore.  Sebagian ada yang bercanda saling mengangguk dengan temannya, namun ada juga yang memanfaatkan diri menyisir bulunya satu per satu.

Barangkali hujan telah membuat sayapnya basah kuyup dan kusut. Sehingga ia merasa perlu menyisir dan meminyakinya agar rapi dan mengkilap kembali. Selain itu barangkali hujan juga telah membuat sarangnya lembab dan banyak kutu dan kuman yang mungkin saja mengkontaminasi kesehatan bulunya.

Saya salut dengan kerajinan para burung membersihkan dirinya setiap kali ada kesempatan.  Ia menyisir mulai dari bulu-bulu lehernya, dadanya, perutnya, bagian bawah sayap kirinya, bagian atas sayap kirinya, punggungnya, dan sebagainya. Satu per satu. Helai demi helai, sehingga tak ada satupun yang terlewat. Tak ada kutu atau kuman yang tertinggal,tidak ada kekusutuan dan tidak ada kekusaman. Semuanya rapi dan mengkilap kembali.

Menyisir bulu seperti yang dilakukan oleh burung ini,kalau di Bali diistilahkan dengan “Menelisikin Bulu“. Artinya sama. Yakni menelusuri setiap titik dan helai satu per satu tanpa ada yang terlewatkan. Dan sekaligus membersihkan serta memperbaiki  jika menemukan ada sesuatu yang salah dengan helaian bulu itu, misalnya kusut, kusam, ada kotoran ataupun ada kuman dan jamur.  Dengan demikian, setelah kegiatan menelisikin bulu ini selesai, maka dipastikan surung akan kembali memiliki sayapnya yang bersih, rapi, indah dan mengkilap.

Menelisikin Bulu, tidak hanya berlaku untuk burung. Tetapi juga untuk manusia yang tidak memiliki bulu sebanyak burung. Istilah “Menelisikin bulu“, digunakan ketika seseorang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Misalnya – untuk sekedar contoh, seorang teman tiba-tiba marah kepada dirinya namun ia tidak tahu persis apa salahnya. Mengapa temannya itu bisa marah kepadanya?. Maka biasanya orang yang bersangkutan akan segera “menelisikin bulu’. Mengambil jeda sejenak, mencari waktu untuk melakukan refleksi diri, menelusuri satu per satu perbuatannya dari awal hingga akhir untuk mencari tahu, apakah ada diantara perkataan ataupun perbuatannya itu yang tanpa sengaja telah menyakiti hati orang lain (temannya). Persis seperti burung yang mencari kotoran yang menyelip di sela-sela bulunya. Jika ada, maka ia perlu membersihkannya, entah dengan cara meminta maaf, atau memberi klarifikasi  kepada yang bersangkutan, atau memperbaiki sikap dan sebagainya.  Dengan demikian, selayaknya burung, maka ia akan mejadi lebih lega, karena setidaknya ia telah berhasil menemukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Demikianlah orang -orang yang  secara reguler ‘menelisikin bulu’ ini membuat dirinya menjadi cemerlang dalam kebahagiaan, karena tidak membiarkan kotoran dan debu mencemari tingkah lakunya. Jika ia mendapati dirinya kotor, maka dengan kesadaran penuh iapun berusaha membersihkannya.

Ada cukup banyak orang yang suka ‘menelisikin bulu’ secara berkala. Namun yang namanya isi dunia tentu saja beragam. Ada banyak orang juga yang tidak mau menelisikin bulu. Tidak  mau merefleksikan diri dan perbuatannya,  tidak berusaha mencari tahu apakah dirinya benar atau salah, dan apapun orang katakan, ia selalu merasa benar sendiri.

Hidup selalu memberikan kita berbagai pilihan untuk kita pilih.

 

Ketakutan.

Standard

timbangan 1Anak si Mbak yang berumur 4 tahun ikut ibunya yang saya suruh berbelanja ke ruko depan rumah. Waktu kembali pulang, ia bercerita kepada saya  kalau dia bertemu anjing di jalan dan sangat ketakutan “ana mbaung… warnane ireng..nyong wedhi nemen ..karo Mbaung ” ceritanya terbata-bata.  Ia memperagakan mimik anjing itu dan sekaligus juga ia memperagakan ketakutannya.  Tidak terlihat takut, tapi lucu. Saya tertawa melihat peragaannya. Tertarik mendengar ceritanya tapi saya bisa mengerti. Walaupun ada banyak orang yang suka pada anjing, tapi ada cukup banyak orang juga yang saya tahu takut  pada anjing.

Saya ingat dulu seorang baby sitter yang membantu mengasuh anak saya pernah saya ajak bermain ke rumah seorang sepupu saya yang punya anjing. Saya ingat ia langsung naik dan berdiri di di atas kursi tamu, gara-gara ada seekor anak anjing peking melintas di dekat kursi. Tapi ia memang sangat takut. Karena kasihan melihat ia begitu ketakutan, akhirnya buru-buru saya pamit dari rumah sepupu saya.

Seorang keponakan suami saya  sangat takut pada tikus. Pernah suatu kali ada tikus masuk ke dapur. Saya ingin mengeluarkan tikus itu lewat pintu belakang. Lalu saya ingin meminta tolong keponakan itu untuk mengatur pintu. Dibuka saat tikus ada di dalam dan ditutup saat tikus sudah keluar. Eh..malah ia lari masuk ke kamar  dan menutup pintu sambil berteriak-teriak ketakutan. Awalnya saya pikir ia bercanda. Tapi ternyata ia memang serius sangat takut pada tikus.

Seorang keponakan yang lain dari suami  ada yang takut pada ketinggian.Setiap kali hendak menyeberang lewat jembatan layang, ia malah menutup matanya dengan sangat stress. Kalau melihatnya menyeberang jembatan layang tentu seperti melihat orang buta berjalan, karena ia menutup matanya, berjalan selangkah demi selangkah pelan pelan,sambil tangannya meraba-raba besi pegangan.

Ada seorang teman baik saya yang takut pada karet gelang. Saya bingung. Di mana ya letak ketakutannya?  Kok karet gelang. Nggak masuk akal kan? Tapi teman saya menjelaskan bahwa dulu waktu kecil pernah tanpa sengaja memegang karet gelang yang sudah tua dan getas karetnya… sangat mirip cacing dan terasa lengket!. Ia kaget dan sampai sekarang merasa takut pada karet gelang.

Seorang teman anak saya ada yang sangat takut pada kucing dan kelinci.Hah? Saya heran. Masa takut pada kucing? Apalagi kelinci? Itu aneh banget! kan bintangnya lucu? Komentar saya pada anak saya. Tapi anak-anak saya menjelaskan bahwa temannya itu memang seriously takut pada “any” binatang. Kenapa? karena pada waktu kecil pernah dicakar kucing. Ooh…

Suatu kali anak saya berkata kepada saya “Mama,kayanya mama tambah gendut deh” kata yang besar. “Berat badannya mama berapa sekarang?“lanjut yang kecil. Saya menyadari bahwa berat badan saya bertambah. Tapi saya tidak mau share kepada anak saya tentang berapa berat badan saya saat ini. Pertama kali tidak saya jawab, anak saya tidak terlalu mendesak. Tapi yang namanya anak-anak, mereka selalu penasaran. Ingin tahu.

Mereka tak bosan bosan memberi komentar tentang betapa gendutnya saya. “Kalau aja mama agak langsing dikit, pasti mama cantik banget” katanya. Terus lanjutannya “Memang berat badannya sekarang berapa, Ma?“. Huah.. No comment!. Rahasia dong!.  Atau “Mama sebenarnya cantik ya, tapi sayang gendut… ”  kata anak saya. Saya mendelik “Maksud lo?” Anak-anak saya tertawa melihat saya memasang wajah manyun.  Nggak enak dong begitu. Dipuji terus dibanting. Makin tinggi pujiannya, makin sakit bantingannya. He ehe. “ Jadinya… cantiknya agak kurang ” kata anak saya cekikikan.

Lalu mereka punya ide gila. Membawa timbangan badan ke dekat saya dan menarik-narik tangan saya agar bersedia ditimbang. Lah? Apa-apain ini?!. “Nggak. Nggak mau.Nggak mau” kata saya meronta. Tapi anak saya tetap memaksa saya ditimbang. Sekarang mereka kompak berkolaborasi mendorong badan dan kaki saya agar bisa ditimbang. Saya terus meronta dan bertahan. Aduuh.. kacau ini anak anak!.

Karena saya tetap tidak mau ditimbang, anak saya yang kecil menangis berguling-guling dan merasa bahwa saya berlaku curang dan tidak adil. Mengapa semua orang di keluarga ini bersedia ditimbang, cuma saya saja yang tidak bersedia. Aduuuh… kaypo banget sama urusan mamanya!. Akhirnya anak saya yang besar berkata pada adiknya agar jangan memaksa saya, karena  memaksa orang itu tidak baik. “Mungkin saja mama malu kalau berat badannya diketahui oleh kita semua” katanya. Untunglah adiknya mau berhenti menangis. Tapi anak saya yang besar  berkomentar  pada saya “Aku ini sangat heran deh, Ma! Aku tahu ada orang yang takut pada jarum suntik. Aku tahu ada orang yang takut pada tikus. Aku juga tahu ada orang yang takut pada anjing. Nah… ini aku baru tahu kalau ada orang yang takut pada…TIMBANGAN!” Dalam kemanyunan, sayapun tak bisa menahan tawa saya.

Dan hingga sekarang, setiap kali bertemu dengan teman atau keluarga saya, anak saya suka bercerita sambil senyam-senyum” Tante, tahu nggak ? Mamaku itu takut  bener lho, sama timbangan …”  .

Pizza Making Competition.

Standard

Making Piza CompetitionHari Minggu. Waktunya bersama anak-anak. Ngapain ya biar seru dan menyenangkan? Saya sudah merencanakan untuk mencoba memanggang pizza sendiri. Anak-anak mungkin akan senang, jika mendapatkan piza hasil panggangan emaknya sendiri dan bukan membeli di gerai -gerai pizza di Bintaro.

Terus terang saya tidak bisa membuat pizza dan belum pernah membuat pizza. Selain karena lidah kampung saya agak sulit menyesuaikan diri dengan makanan Non Asia, juga saya tidak pernah makan daging sapi sama sekali sejak kecil. Saya lebih banyak makan sayur. Karena secara umum, kebanyakan orang-orang di Bali memang tidak memakan daging. Dan saya lahir dan besar di situ. Kedua anak saya yang lahir dan besar di Jakarta memakan daging sapi. Sementara kebanyakan pizza menggunakan daging sapi untuk toppingnya. Sehingga makan di restaurant Pizza bukanlah favorite saya.  Walaupun kadang-kadang ikut makan di restaurant Pizza untuk menghormati teman-teman saya atau anak-anak yang ingin makan pizza, biasanya saya memilih yang vegetarian. Atau paling jauh yang seafood atau chicken saja. Tapi anak-anak sangat menyukai Pizza.

Walaupun belum pernah membuat, tapi saya pikir, kalau ada orang lain yang bisa membuat tentu sebenarnya kita punya potensi untuk bisa membuatnya juga. Semua tergantung niat dan usaha.  Saya coba mengingat-ingat,kira-kira apa yang dibutuhkan untuk membuatnya. Dari tampangnya, kayanya bisa ditebak.   Saya menemukan “Pizza Dough” yang siap pakai di sebuah Supermarket,  ah…ini akan sangat membantu saya untuk mempercepat  pembuatannya. Lalu saya tinggal membeli bahan untuk toppingnya. Bawang bombai, Jamur Portabella, Paprika,  keju Mozarella, Tomat,  Dada ayam, Sosis ayam, Margarine. Saya coba mencari olive dan oregano,  tapi tidak ketemu.  Lagi kosong.  Tapi saya punya  Basil dan saus cabe. Lalu untuk anak saya yang makan daging sapi saya membelikan  corned beef, sosis sapi dan beef burger.

 

Walaupun bangunnya siang dan masih bermalas-malasan dulu di tempat tidur, akhirnya Andre anak saya yang besar meloncat bangun dari tempat tidurnya dan siap membantu saya membuat piza dan memanggangnya. Karena saya tidak makan beef, anak saya mendorong kami hanya membuat Non Beef Pizza. Saya bilang “Tidak apa-apa, tidak harus  mikirin mama.” kata saya.  Kalau ia ingin Beef Pizza, semua bahan juga sudah tersedia. Tapi ia berkeras ingin membuat Pizza yang kami semua bisa makan. Okelah kalau begitu.

Lalu ia mengeluarkan Dough, mengolesinya dengan margarin, memberi sedikit saus cabe. Ia meminta tolong saya untuk memasak dulu irisan ayam dan sosis  biar matang*anak saya yang besar ini sangat concern akan kontaminasi kuman pada makanan*.  Lalu ia mulai menata Irisan Jamur, irisan bawang bombay, irisan dada ayam, irisan sosis ayam dan irisan keju Mozarella.  Tak lupa ia menaburkan sedikit basil di atasnya. Saya membantu menambahkan irisan keju Mozarella lagi .

Membuat topping piza Andre mendandani pizzanya.

Tiba-tiba Aldo anak saya yang kecil datang, habis main dari rumah tetangga. Ia melihat ke kakaknya yang sedang mendandani pizza.”Aku juga mau” katanya sambil meletakkan laptopnya yang sedari tadi ia bawa-bawa bermain. “Tapi aku mau Beef Pizza” katanya. “Bikinlah sendiri” kata kakaknya. Sayapun menganjurkan hal yang sama. Akhirnya ia pun mengabil selembar Dough, mengolesinya dengan margarin, menambahkan saus cabe banyak-banyak, menambahkan corned beef, irisan sosis sapi, potongan burger sapi dan menyusun irisan keju Mozarella di atasnya. Saya membantunya dengan menambahkan keju hingga ke pinggir. Namun ia tidak setuju. “Nanti meleleh keluar terlalu banyak” katanya menolak. Okey sayapun mengalah. “Ini akan menjadi lebih enak” katanya penuh percaya diri. “Oke. kalau begitu kita akan berkompetisi. Dan papa yang akan menjadi jurinya“. kata saya. Anak-anak setuju dan melapor pada bapaknya bahwa kami sedang membuat pizza, dan akan berkompetisi, mengharap kesediannya menjadi Juri. Papanya setuju.

Setelah itu saya menyalakan oven. Memoles nampan panggangnya dengan margarin.  Sebenarnya saya bingung, harus berapa lama ya? Dan berapa suhu yang bagus untuk memanggang pizza? Akhirnya saya coba api atas bawah, 200°C, 20 menit.  Di tengah jalan, saya turunkan suhunya ke 170°. Keju meleleh dengan baik dan aroma yang lezat pun tercium.

Tdlara! Pizza pun sudah jadi. Saya mengangkatnya keluar dan menempatkannya di piring saji.

Chicken PizaIni Chicken Pizza buatan Andrei

Pizza Andre terlihat sangat menarik. Warnanya krem didominasi warna putih dari lelehan keju Mozarella yang banyak, menutupi irisan dada ayam, sosis ayam , bawang bombay dan paprika yang muncul mal-malu. Ada sedikit lelehan keju yang keluar dari rotinya ” Ini gosong” kata Aldo sambil tertawa.  Kakaknya ikut terawa sambil berkata ” I’ll blame mom, for the cheese excess” . ha ha.,saya tertawa. Itu memang saya yang  meletakkan banyak keju hingga ke pinggir dan ketika dipanaskan rupanya ada yang meleleh sampai keluar. tapi secara umum tampilannya keren juga.

Beef PizaIn Beef Pizza buatan Aldo

Pizza Aldo terlihat sangat menawan tampilannya.  Warnanya krem dengan bercak-bercak merah saus cabe, potongan sosis dan potongan beef burger di sana sini, terlihat menonjol diantara lelehan keju Mozarella yang memutih. Sangat mirip dengan Pizza commercial keluaran restaurant pizza terkenal. Nah..tinggal deg-degannya sekarang. Dari sisi rasa, siapakah pemenangnya? Andre atau Aldo?. Sang juri mencoba. Hmm..nyam nyam. pemenangnya adalah… Aldo!.

Tentu saja selain karena tampang pizanya kelihatan lebih profesional, juga rasanya pasti lebih enak bagi penggemar beef. Wah! Tapi Aldo sangat hebat.  Ia tidak pernah membuat pizza, tidak mengerti cara membuat pizza, tidak tertarik urusan membuat makanan, tapi bisa memenangkan  kompetisi dengan baik. Enjoying Piza

Aldo menikmati pizza buatannya sendiri yang menang kompetisi.

Andre menerima kekalahannya dengan baik. Saya tahu kekalahannya tentu akibat dari upayanya membuat pizza yang bisa dinikmati juga oleh ibunya. Walaupun ia sendiri sebenarnya adalah penggemar Beef. Sementara jurinya sendiri adalah penggemar beef juga. Ia kalah, tapi ia tahu bahwa hanya pizza buatannyalah yang bisa dinikmatinya bersama ibunya. Saya terharu dengan kebijakan hati anak saya. Setelah itu, karena ia masih lapar dan penasaran, maka iapun membuat pizzanya yang ke dua. Kali ini berjudul : Meat Lover. Dengan segala urusan daging dimasukkannya. Ia memanggang untuk ia makan berdua dengan adiknya.

Piza ke dua

Ini pizza ke dua buatan Andre – Meat Lover.

Saya senang, ke dua anak saya mengerti bahwa ini bukan soal menang kalah. Namun soal bagaimana kita menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan. Bagi saya pemenangnya adalah keduanya. Kedua orang anak saya adalah Chef yang baik. Saya senang karena sudah berhasil membuat kedua anak saya senang.

Hari Minggu yang indah!

Nasi Goreng Kencur, Lebih Alami & Lebih Sehat.

Standard

Nasi Goreng KencurSaya seorang penggemar Nasi Goreng.  Walaupun berkali-kali saya dinasihati agar  jangan sering-sering makan Nasi Goreng, mengingat bahwa nasi yang  tadinya cuma dimasak dengan air sekarang jadi mengandung minyak akibat digoreng, entah kenapa saya tetap menyukainya juga.  Ada banyak jenis Nasi Goreng , namun Nasi Goreng favorit saya tetaplah Nasi Goreng  ala kampung yang disebut dengan Nasi Goreng Kencur.  Karena Nasi Goreng ini adalah salah satu menu andalan ibu saya pada hari minggu pagi.

Hampir semua anak di seluruh dunia menganggap ibunya adalah ‘the best chef in the world’. Termasuk saya. Alasannya adalah, karena masakan ibulah yang dicekokin ke mulut anaknya sejak lahir hingga dewasa, mau tidak mau makanan paling enak yang kita tahu tentulah masakan ibu. Itulah barangkali sebabnya mengapa saya sangat menyukai Nasi Goreng kencur ini. Saya tidak tahu,apakah Nasi Goreng Kencur juga ada di daerah lain?

Di Bali, sebenarnya nama aslinya adalah Nasi Goreng Suna Cekuh.  Disebut Nasi Goreng Suna Cekuh, karena Nasi Goreng ini menggunakan bumbu Suna Cekuh. Karena namanya jadi panjang jika diterjemahkan, Nasi Goreng Bawang Putih Dan Kencur, maka saya perpendek saja dengan nama Nasi Goreng Kencur.

Suna Cekuh, adalah salah satu bumbu standard dalam masakan traditional Bali, selain jenis bumbu standard traditional Bali yang lain seperti misalnya Basa Gede,  Basa Genep, Basa Cenik , Uyah Tabya, dll.  Sesuai dengan namanya, tentu saja Nasi Goreng ini menggunakan Suna (Bawang putih) dan Cekuh (Kencur)  sebagai bahan bumbunya yang utama. Walaupun demikian, bumbu ini juga mengandung komponen bumbu yang lain dalam jumlah sedikit, antara lain kunyit, bawang merah dan garam.  Dan Daun Salam (Don Janggar Ulam) sebagai penyedap masakan traditional.  Bawang Putih dan Kencur, tetap menjadi bahan yang porsinya mendominasi bumbu ini. Semua bumbu diulek sampai halus (keculai daun salam), lalu ditumis dengan sedikit minyak kelapa, ditambahkan daun salam dan diaduk dengan nasi di atas penggorengan.

Menurut saya, terlepas dari minyaknya yang dipakai menggoreng, saya pikir ini adalah salah satu Nasi Goreng yang cukup sehat dibandingkan jenis Nasi Goreng yang lain. Tanpa daging, tanpa telor dan tanpa MSG.   Hanya nasi dan bumbu, serta sedikit minyak untuk menumis. Dan bumbunya tentu saja adalah bahan-bahan yang secara traditional dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan.

Di bawah ini adalah catatan bagaimana bahan-bahan untuk Bumbu Suna Cekuh ini dimanfaatkan secara traditional di Bali untuk menjaga kesehatan dengan cara praktis – namun tentunya tetap perlu pembuktian secara ilmiah, syukur-syukur jika sudah ada yang pernah melakukan penelitian tentangnya:

Kencur, Cekuh  (Kaempferia galanga), secara traditional dimanfaatkan untuk menjaga agar tubuh tidak kedinginan dan mencegah batuk dan pilek. Selain untuk bumbu dapur,kerap digunakan untuk bahan loloh (jamu) bersama-sama dengan beras untuk menjaga stamina tubuh.

Bawang putih , Suna (Allium sativum) digunakan untuk mencegah tekanan darah tinggi, mengobati gatal pada kulit.

Bawang merah, bawang  (Allium cepa) sering digunakan untuk mengobati demam, mengeluarkan duri yang masuk ke dalam daging.

Kunyit (Curcuma longa), dimanfaatkan untuk mengobati luka, antiseptik, melancarkan pencernaan.

Daun Salam, Don Janggar Ulam  (Syzygium polyanthum) digunakan untuk mencegah tekanan darah tinggi dan mencegah asam urat.Daun ini secara traditional dikenal sebagai penyedap masakan. Itu sebabnya dalam daftar  bahan masakan traditional kita tidak pernah mendengar  kata MSG ataupun bumbu kaldu sebagai penyedapnya.

Cukup sehat bukan Nasi Goreng ini? Tanpa accesories lainpun (ayam,bakso,sosis, telor, udang,cumi, dst), nasi gorenng ini sendiri sudah sangat enak.  Direkomendasikan untuk para Vegetarian.

Yuk lestarikan  Masakan Tradisional kita!.

Kacamata Kuda.

Standard

andani-kuda-11Ada sebuah tanah kosong di daerah seputar Graha Raya Bintaro yang sering saya lewati. Jika akhir pekan, tanah lapang itu penuh. Di sana ada banyak kuda-kuda tunggang dan kuda delman yang disewakan.  Ibu-ibu pun rajin datang ke sana beserta anaknya. Sesekali saya pun ikut nongkrong di sana untuk  ikut melihat keindahan dan ketangkasan kuda -kuda itu berlari di padang rumput buatan manusia itu.

Melihat kuda-kuda yang banyak merumput di situ, tiba-tiba saya teringat akan sebuah pertanyaan anak saya yang kecil dulu, “Ma, mengapa kepala kuda itu ditutup kain?“. Sayapun melihat ke arah kuda-kuda itu. Memang benar kepalanya ditutup, entah dengan kain ataupun bahan lain dan hanya menyisakan sedikit lubang di kedua matanya. “Oh! Itu namanya kacamata kuda” jawab saya. “Mengapa kuda disuruh memakai kacamata?“tanya anak saya lagi. “Supaya kudanya tidak menengok ke sana kemari. Nanti Pak Kusirnya susah ngasih tahu kudanya agar jalan ke tujuan yang diinginkan” kata saya.  Untuk mencapai tujuan, kuda perlu fokus dan, kacamata kuda itu memang perlu.

Mengingat itu, saya jadi berpikir, kadang-kadang kacamata kuda itu sebenarnya perlu juga digunakan oleh kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Seorang teman bercerita kalau dulunya ia pernah kuliah. Namun tidak menyelesaikan pendidikan S1-nya, karena kepalang kenal uang. Saat itu ia telah menuntaskan semua mata kuliahnya, tinggal menyusun skripsi. Beberapa bulan lagi tentu ia bisa maju untuk sidang, lalu lulus dan di wisuda. Ia mulai  menyusun proposal penelitian dan berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Saat mengerjakan itu, ia merasa punya banyak waktu yang luang. Rupanya dosen pembimbingnya tak selalu ada setiap kali iamembutuhkan bimbingan. Kadang harus menunda konsultasinya sehari- dua hari. Saat itu seorang trmannya memberi informasi lowongan part time  di sebuah perusahaan. Ia pikir, kalau bisa mulai bekerja lebih cepat mengapa tidak? Toh juga tujuan kuliah ujung-ujungnya untuk mencari kerja. Ia pun mencoba melamar dan diterima.

Sebulan berlalu ia mengerjakan skripsinya dengan baik sambil bekerja. Horee! Pertama kali mendapat gaji atas jerih payah sendiri memang sangat membanggakan. Bulan  ke dua, ia semakin semangat bekerja dan tetap berusaha mengerjakan skripsinya. Namun karena kadang dosennya tidak ada saat ia ke kampus, ia mulai merasa agak malas. Bulan ke tiga semakin malas lagi  dan semakin malas di bulan-bulan seterusnya.  Ia merasa lebih baik menghabiskan waktu dengan kerja lembur untuk mendapatkan tambahan uang.Bulan demi bulan berlalu, dan tahun demi tahun pun lewat dan skripsi itu tetap tak jadi jadi, hingga akhirnya ia dinyatakan Drop out dari kampusnya. Di kantor pun ia mengalami kesulitan untuk naik posisi karena kalah saing dengan anak-anak sekarang yang memiliki gelar S1 atau S2.

Sekarang ingin melanjutkan lagi, tapi biaya kuliahpun semakin tinggi dan tidak terjangkau oleh penghasilannya sendiri. Sementara orang tuanya sudah tua dan pensiun dan tak mampu lagi membantunya. Saya sedih mendengar ceritanya.

Cerita yang lain datang dari teman yang memegang project pengembangan sebuah produk baru. Awalnya ia mengikuti keseluruhan step step yang perlu dilakukan dengan tertib dan teratur. Mulai dari Ideation, research-research, pembuatan konsep dan sebagainya. Masalah mulai terjadi ketika ia masuk ke fase Development.  Ia telah mendapatkan formula yang bagus dengan wangi yang enak. Tinggal menunggu kemasan yang designnya sedang dibuat.

Suatu hari atasannya mereview projectnya dan berkata, “Ini wanginya agak kurang seger ya. Coba lihat ada nggak alternatif fragrance lain?” Ia menjelaskan bahwa fragrancenya itu sudah lolos test konsumen. Tapi atasannya mengatakan “Kan masih ada waktu.Sementara kamu menunggu designnya jadi, bisa test ulang lagi. Masih cukup waktunya kan? Kalaupun mundur paling sebulan” kata atasannya sambil memberikan contoh.

Ia mencari fragrance baru lagi. Ngetest lagi dari awal. dan tentunya itu membutuhkan waktu beberapa bulan. Ketika design kemasannya jadi, ia merasa  ada yang kurang sreg dengan element grafiknya. “Sementara menunggu fragrance yang baru, tidak ada salahnya aku perbaiki dulu sekalian. Masih ada waktu.Kalaupun telat, paling sebulan” pikirnya. Maka ia pun melakukan brief ulang ke Creative Designer. Ketika fragrance yang baru selesai dan sudah lolos test, atasannya berkomentar bahwa “Skin feel-nya kok agak kurang enak ya? Masih ada waktu kan? Toh juga masih menunggu design? Bisa coba perbaiki sedikit nggak?” Atasannya mengambil sample sebuah produk dari luar dan memebrikan sebagai referensi.”Ide  skin feelnya ini kaya gini” lanjut atasannya. ia mencoba dan memang terasa enak. “Wah. Ide bagus juga” pikirnya.

Akhirnya ia datang lagi ke Laboratorium dan meminta bantuan perbaikan formula. Demikianlah seterusnya. Ia merubah formula lagi, design kemasan lagi, fragrance baru lagi, setiap kali ia atau atasannya punya ide baru. Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, menjadi setahun.Demikian juga tahun berlalu tak terasa akhirnya telah lewat dua tahun dan produk baru itu belum keluar juga ke pasaran.

Dua kisah di atas, jelas sekali menunjukkan kepada kita bahwa kacamata kuda itu kadang sangat diperlukan bagi kita juga. Walaupun kita terbuka untuk gagasan dan ide-ide baru, namun pada suatu titik kita harus fokus. Fokus, Fokus dan fokus. Jangan tergiur pada kindahan bunga-bunga yang kita temukan di pinggir jalan, yang mungkin saja memberhentikan langkah kaki kita untuk maju ke depan.

Pasang kacamata kuda dan tancap gas. Tidak usah pakai tengok kiri kanan lagi, tetap berjalan lurus dan pastikan tujuan kita tercapai dengan baik.

Silakan Mampir, Tante!

Standard

pedagangSeorang pedagang tempe lewat di depan rumah. Membawa motornya melaju sambil berteriak “Tempe! Tempe!Tahu! Tahu!“. Lalu berhenti di depan rumah tetangga. Saya mendekat berniat belanja. Tempe yang harum dan kwalitasnya bagus. Bentuknya segitiga kecil-kecil dibungkus daun pisang. Saya membeli 20 buah. Namun Si Bapak Tukang Tempe memberi saya tambahan 3 buah. “Empat belas ribu. Ini saya tambahkan 3 lagi,boss!” katanya sambil memasukkan tambahan tempe ke dalam kantong plastik.  Saya berterimakasih.

Lalu ia mempromosikan  tahu baru yang bernama Tahu Susu.  “Coba ya, boss? Saya juga baru bawa tahu ini, karena waktu saya coba ternyata empuk dan lembut sekali” Katanya berpromosi.  Saya menyentuh tahu itu dari plastik pembungkusnya. Memang sangat lembut. Saya setuju untuk membeli sebungkus. “Dua belas ribu ya, boss. Isinya sepuluh” katanya memberi informasi. Saya mengangguk.  Lalu saya membeli 4 bungkus susu kacang kedelai lagi untuk anak saya yang kecil. Ia sangat suka susu kedelai. “Delapan ribu” katanya. saya mengangguk lagi. Setelah selesai berbelanja, Si Tukang Tempe pun menghitung kembali total belanjaan. Saya membayar. Lalu Si Tukang Tempe menutup pembicaraan dengan memberikan uang kembalian kepada saya.”Terimakasih ya, boss. Ini saya kasih lagi tambahannya ” katanya sambil meraih sebungkus susu kacang lagi dan 3 buah tempe segitiga lagi untuk diberikan gratis kepada saya. Saya terkejut. “Ah, nggak usah!.Ini saja sudah cukup. Nanti rugi. Kok dikasih gratis banyak sekali” kata saya khawatir.  Tapi si Tukang Tempe dengan santai menjawab “Ah! Buat boss nggak apa-apa saya kasih lebih. Kan penting itu menyenangkan pelanggan. Saya tidak rugi, karena tempe dan susu kacang saya bikin sendiri” katanya sambil menghidupkan mesin motornya dan berlalu.

Saya membawa bungkusan itu ke dapur . Tentu saja saya suka dikasih gratisan. Tapi walaupun dikasih gratisan, sebenarnya saya amat tidak suka dipanggil boss.  Saking tidak sukanya saya sampai berpikir kayanya tukang tempe itu tidak tahu tata krama. Barangkali ia pikir semua orang senang dipanggil boss. Dia tidak sadar kalau ada orang yang tak suka dipanggil begitu.  Menurut saya, Boss itu tepatnya panggilan untuk orang yang benar-benar kaya secara finansial dan mampu mensuport finansial orang lain. Jelaslah saya sangat tidak tepat disebut boss. Saya bukan boss. Saya ibu rumah tangga biasa yang membeli tempe, tentunya lebih senang dipanggil dengan Ibu saja. Atau kalau mau berbaik hati, panggil saja Mbak * terasa lebih muda seketika he he*.

Selain itu, panggilan boss lebih umum  saya dengar pada komunitas pria. Cukup sering panggilan boss saya dengar diucapkan oleh/kepada teman-teman saya yang laki, adik laki-laki ataupun kakak-kakak  sepupu saya yang laki.  Jadi benar-benar tidak cocok deh buat saya. Tapi salah saya sendiri juga  sih. Mengapa pula tidak protes saat dipanggil boss. Ah! Sudahlah!. Mungkin lain kali saya perlu kasih tahu si Tukang Tempe itu kalau saya tidak suka.

Ada lagi panggilan yang lebih tidak saya sukai lagi. Tante!. Beberapa kali saya merasa kesal jika lewat di sebuah pertokoan, lalu dipanggil panggil oleh SPG penjaga baju  “Mampir, Tan!” atau “Boleh. Lihat-lihat dulu, Tante!” atau “Coba dulu, Tante!”  Atau disapa mas-mas penjaga lapak sayur di pasar modern”Ayo Tante,mampir. Brokoli nya segar-segar. Untuk Tante nggak dimahalin“.   ?????????. . Menurut saya Tante itu benar-benar panggilan yang sangat menyebalkan.   Saya sangat tidak senang dipanggil Tante. Kecuali oleh keponakan saya sendiri atau anak-anak teman kita yang memang sudah sepantasnya memanggil Tante atau Bulik atau Bude, atau Wak.  Karena jika dipanggil Tante oleh orang yang tidak da hubungan kekerabatan dengan kita, kesannya jadi seperti mengarah kepada Tante – Tante yang bagaimana gitu (i.e tante girang).

Saya sempat bercerita soal ini kepada beberapa orang teman saya, dan tenyata mereka juga tidak suka dipangggil Tante. Alasannya sama dengan apa yang saya paparkan di atas.  Syukurlah bukan saya sendiri yang berpikir begitu*mencari teman*.Ujung-ujungnya, gara-gara dipanggil Tante, yang tadinya saya niat mau beli, akhirnya saya jadi tidak mau membeli. Kehilangan selera.  Nah, kalau banyak orang yang tidak suka dipangil Tante sembarangan, dan orang akhirnya tidak mau membeli gara-gara tidak suka dipanggil Tante,  tentu pedagang itu akan rugi. Mengapa ya para pemilik toko tidak mentraining karyawannya agar menyapa pembeli dengan sapaan yang lebih baik dari Tante.

Tapi saya tidak tahu juga, barangkali banyak juga wanita yang justru lebih senang dipanggil Tante. Setidaknya Tante kan lebih muda dari Ibu. Entahlah.  Itu soal selera.

Panggilan lain,  secara umum sih saya masih OK. Langsung memanggil nama, Ibu atau Mbak saya lebih suka. Kadang-kadang ada juga yang memanggil saya dengan Bunda.  Saya tahu banyak orang lebih suka dipanggil Bunda. Dan tentunya itu baik dan juga lagi trend ya.  Namun sayangnya saya agak kurang familiar dengan sebutan Bun, Bunda, walaupun sangat positive kesannya. Pasalnya sederhana, hanya karena sebutan Ayah-Bunda tidak umum di lingkungan saya yang biasa membahasakan orang tua dengan kata Bapak -Ibu.   Jadi tentunya saya lebih menyukai kata Ibu, ketimbang Bunda. Rasanya kurang ‘saya’. Tapi  tentunya saya tidak menolak panggilan Bunda.

Demikianlah soal panggilan-panggilan yang saya sukai dan tidak sukai. Bagaimana dengan teman-teman? Panggilan apa yang teman-teman sukai dan panggilan apa yang teman-teman tidak sukai?

Bagaikan Jamur Di Musim Hujan.

Standard

Jamur 1“Bagaikan jamur di musim hujan”. Itu adalah salah satu pepatah yang sangat populer diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia saya ketika SD. Apa artinya? Ya..artinya ya… banyak aja tiba-tiba muncul.  Di musim hujan biasanya banyak jamur yang tumbuh. Oleh karenanya, maka tetua kita jaman dulu menyebut  segala sesuatuyang tadinya tidak terlalu banyak ada yang lalu tiba-tiba muncul banyak,  sebagai ‘bagaikan jamur di musim hujan’.

Pepatah itu sebenarnya sederhana. Tapi bagi saya, itu adalah pepatah yang sangat menantang saya untuk mencari pembuktian.  Jika musim hujan tiba, saya paling senang melihat-lihat ke rerumputan dan ke bawah batang pohon  untuk mencari-cari apakah benar ada banyak jamur yang muncul.

Rasanya sangat senang jika melihat ada tumbuhan kecil yang berdiri memakai payung di sana. Mulai dari Jamur Bulan (Gymnopus sp) yang ukurannya sangat besar hampir segede piring kecil, jamur kuping yang warnanya gelap dan bentuknya mirip kuping tikus, jamur kayu yang keras, dan sebagainya sampai jamur Dedalu yang selalu muncul tak jauh dari rumah rayap.

Kebetulan ada beberapa jenis jamur yang bisa dimakan juga suka muncul di musim hujan. Tapi saya perlu membedakannya dengan jamur yang  beracun. Secara umum saya diberi tahu bahwa jamur yang berwarna terang (mearh,orange,dst) jangan diambil.  Jamur yang jika dipotes batangnya berwarna biru, atau jika digosok payungnya menjadi kuning terang juga jangan diambil. Begitu juga dengan jamur yang memiliki cincin, harus hati-hati. Walaupun begitu, sampai dewasa tetap saja saya tidak bisa mengidentifikasi jamur dengan baik, keculai jamur bulan dan jamur kuping.

Di mata saya, Ibu saya adalah seorang pengidentifikasi jamur yang baik. Mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak.  Jika saya melihat jamur, selalu bertanya pada Ibu, apakah yang ini bisa dimakan? Ibu saya akan memberikan jawabannya. Jika bisa dimakan, biasanya Ibu saya akan memasak jamur itu.Kadang dibuat pepes, kadang ditumis. Seingat saya, Ibu saya paling sering memasak jamur dengan campuran daun Cemcem – sejanis kedondong tapi tidak berbuah. Daun Cemcem rasanya enak, segar dan asem.

Kebiasaan sejak kecil itu, tetap berlaku hingga sekarang. Saya tetap suka memeprhatikan rerumputan dan di bawah pohon untuk melihat apakah ada jamur tumbuh. Yang beda hanyalah Ibu saya sekarang sudah tiada. Jadi tidak ada tempat bagi saya untuk bertanya. Sehingga saya tidak pernah berani lagi mengambil jamur di alam untuk dimakan. Takut salah.

Sebagai penggantinya tentu harus browsing sendiri di internet. Walaupun informasi semakin mudah didapatkan dan jenis jamur yang masuk ke pasaran juga semakin banyak , saya malah semakin bingung.  ternyata mengidentifikasi jamur lebih complicated dari apa yang saya pikir waktu kecil. Ketika ingat akan jenis jamur yang dulu pernah saya makan waktu kecil, begitu melihat di internet ternyata ada juga yang mirip seperti itu tapi beracun. Nah lho? Saya menjadi semakin tidak percaya diri. Semakin tidak berani lagi memanfaatkan jamur yang tumbuh di sekitar untuk dimakan. Salah-salah nanti malah  berakibat fatal. Sudahlah! Lebih baik menonton saja jika menemukan jamur tumbuh. Kalau ingin dikonsumsi ya…. beli saja di pasar atau di super Market. Itu lebih aman.

Musim hujan ini, saya sempat memperhatikan beberapa jenis jamur yang bermunculan. Tapi seperti yang saya sampaikan, saya tidak mampu mengidentifikasinya dengan baik. Cukup dilihat-lihat saja gambarnya.  Ada banyak juga. Mulai dari jamur tiram, jamur kuping, jamur kayu, dan sebagainya jamur lain yang saya tidak tahu namanya.

Apakah diantara para sahabat ada yang bisa membantu saya mengidentifikasi jamur-jamur di gambar ini?

Annual Report 2013.

Standard

Ini sebenarnya postingan sudah basi banget. Tadinya saya pikir tidak akan mereleasenya karena kepalang  telat.  Tapi kemudian saya pikir-pikir lagi, mungkin ada baiknya tetap saya release untuk merecord  proggress yang saya lakukan di dunia per-blog-an dari tahun ke tahun.

2013 reportDi tahun 2013 ini, kemampuan saya memposting rupanya turun banyak (-23%) dibandingkan dari di tahun 2012. tentunya terkait dengan kesibukan saya sehari-hari yang  menyita waktu lebih banyak. Namun yang cukupmenghibur, adalah jumlah kunjungan meningkat dengan cukup baik (+17%) dari 230 000 kunjungan tahun lalu, kin menjadi 270 000, sehingga membuat total kunjungan per 31 Dec’13 menjadi 582 306.

Jumlah pengunjung per hari terbanyak yang pernah saya dapatkan di tahun 2013 adalah 2 457 kunjungan dalam sehari. Sebagai informasi, rata-rata kunjungan ke blog saya dalam 3 bulan terakhir di tahun 2013  berkisar antara 1 000 – 1 200 per hari. Tentunya saya berharap jumlah kunjungan ke blog saya akan semakin meningkat di tahun 2014 ini.

Annual Report 2013-1

Wajah blog ini pun berubah dari waktu ke waktu. Demikian juga artikel yang disearch oleh pembaca. Namun saya perhatikan,postingan berkenaan masakan dan bunga,masih merupakan yang cukup banyak disearch pembaca.

Annual Report 2013-2

Yang menarik adalah banyak postingan lama ternyata tetap masih digemari pembaca di tahun 2013. Misalnya  Lyric lagu Jangi Janger yang saya posting di bulan December 2010 saat blog ini baru dimulai, masih mampu bertahan di ranking 4.  Lalu tulisan saya mengenai kisah Isah, pembantu rumah tangga yang telah mengajarkan artinya sebuah keikhlasan pada saya berada di ranking 1. Tulisan ini padahal saya post-kan pada bulan April 2011.  Demikian juga dengan Resep masakan Tumis Jnatung Pisang yang saya postkan 4 bulannya kemudian. Hingga saat ini masih bertahan di peringkat ke 2.

Melihat ringkasan dari tulisan-tulisan yang menadapatkan posisi Top 5 di atas, sangat jelas bahwa untuk mendapatkan tingkat kunjungan yang tinggi, kita perlu memperhatikan konten dari tulisan kita. Tidak ada kesuksesan murni  yang bisa dicapai secara instant. Semuanya butuh usaha dan strategy.  Demikian juga dengan tulisan. Jika tulisan kita ingin mendapatkan banyak pembaca, tentunya kita harus mempertimbangkan hal-hal yang mungkin menarik hati pembaca untuk melakukan search dan mampir keblog kita. Jika tidak demikian, tentu tulisan itu hanya akan menjadi pemuas hati kita sendiri saja tanpa ada orang lain yang merasa membutuhkan isinya.  Hingga saat ini, blog saya memuat banyak sekali tulisan-tulisan yang hanya memuaskan diri saya sendiri, yang tingkat searchingnya rendah dan hits-nya juga masih di bawah 100-an.  Walaupun ada juga sih sekitar 70-an  tulisan yang telah mencapai masing-masing ribuan hingga puluhan ribu hits.  ya itu, barangkali kembali lagi kepada kontennya.

Namun terlepas dari itu semua,saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada

– para pembaca setia tulisan-tulisan saya. Semoga apa yang saya tulis selalu berkenan dan ada gunanya.

– WordPress – Thanks a lot for helping me  in expressing my thought  through the writing – with your support.

– Juga terimakasih banyak buat teman-teman sesama penulis blog atas support dan persahabatannya. Walaupun saya belum sempat ikut kopdar (kecuali dengan Bu Prih), saya merasa sangat dekat dan serasa sudah bersahabat bertahun-tahun di dunia nyata. Mohon agar saya tetap diterima  sebagai sahabat seperti apa adanya.

Semoga kita semua menjadi lebih sukses ke depannya. Tetap menulis!

Burung Prenjak Di Pohon Petai Cina.

Standard

PrenjakBurung Prenjak!. Ini adalah salah satu burung favorit saya. Burungnya kecil tapi suaranya itu lho.Sibuk banget  pindah dari satu cabang pohon ke cabang yang lain.Mencari makan dan bermain-main di tanaman perdu yang rendah. Meloncat loncat sambil bercinglar-cinglar setiap pagi. Mendekat lalu menjauh.Mendekat lagi lalu terbang entah kemana. Kedengarannya di telinga saya seperti  cing larr, cing larrr, cing larr…. cing larr, cing larr, cing larrr…. begitu terus berulang ulang.  Tapi sayangnya walaupun burung ini sangat sering mampir ke rumah saya, sangat jarang sekali saya bisa memotretnya. Kalau pun bisa fotonya selalu sangat kecil dan blur karena saya mengambilnya dari jarak yang jauh.

Namun suatu hari saya bisa berada dalam jarak yang cukup dekat dengan burung ini.  Ia datang bermain di pohon petai cina di belakang tembok rumah. Lumayanlah akhirnya saya dapat memiliki beberapa buah fotonya.

Burung Prenjak atau Taylor Bird (Orthotomus sutorius), kalau di kampung saya di Bali disebut dengan nama Kedis (burung) Kecinglar, barangkali karena suaranya  yang terdengar cing larr cing larr itu. Di Jakarta, kelihatannya sering juga disebut dengan nama Ciblek atau Cinenen.  Burung ini berukuran kecil,kurang lebih 10 cm atau mungkin sedikit lebih besar dibandingkan dengan Burung Madu. Makanannya terutama ulat. Itulah sebabnya ia sangat rajin mengunjungi perdu dan pohon-pohon rendah di taman-taman perumahan dimana ada banyakKupu-kupu bertelor dan menetas menjadi ulat.

Burung ini memiliki warna mahkota agak kemerah-merahan, demikian juga sisi kepala bagain atasnya. Pipinya berwarna putih suram dengan tanda hitam di leher sisi sampingnya.  Tengkuknya berwarna coklat, sayap dan punggungnya berwarna hijau zaitun.Ekor bagian atas berwarna hijau zaitun dengan sapuan warna putih pada bagian bawahnya. Kaki dan paruhnya berwarna merah.

Burung ini suka membuat sarangnya dengan cara menjahit beberapa lembar daun dan melapisinya dengan serat kapas dan rerumputan,sehingga dikenal juga sebagai burung penjahit. Saya pernah menemukan sarangnya di pohon Kacapiring di halaman rumah saya. Padahal pohon Kacapiring itu tidak terlalu tinggi.  Paling banter hanya 2 meteran dari tanah. Awalnya saya pikir itu sarang semut yang agak besar. Tapi setelah saya periksa ternyata itu sarang burung. Telurnya ada 3 butir dengan warna kehijauan.

Burung ini kelihatannya tersebar dengan baik di pulau Jawa dan Bali. Saya tidak perhatikan apakah di luar dua pulau itu juga ada. Namun sayang sekali, burung ini termasuk salah satu burung yang cukup banyak diuber oleh pemburu burung untuk dipelihara dan  diperjualbelikan, walaupun mungkin harganya tidak terlalu mahal. Penyebabnya adalah karena suara burung ini sangat kencang dan merdu.

Saya juga sangat menyukai suara burung ini. Suaranya yang riang selalu mengingatkan saya akan pagi. Pagi yang penuh semangat dan suka cita. Namun saya lebih menyukai suaranya  terdengar di udara yang bebas, dari burung yang bebas merdeka di alam.