Pohonku, Maaf Kau Kutebang.

Standard

Masih dalam edisi Liburan. Walaupun stock liburnya tinggal  sedikit lagi. Sebentar lagi  anak-anak harus balik ke sekolah. Dan saya juga harus balik lagi tenggelam dengan urusan kantor. Banyak yang sudah dilakukan. Main ke sana ke mari. Menemani anak-anak. Dan juga melakukan hobby diri sendiri. Banyak yang seru dan semuanya menyenangkan. Tapi  rasanya liburan tidak pernah cukup. Selalu terasa kurang.  Mau ngapain lagi hari ini? Masa pergi lagi? Mendingan di rumah saja.

Suami saya tiba-tiba mencetuskan ide yang sangat diluar dugaan. Menebang pohon! Hah?  Pohon mana yang mau ditebang? Tentu saja itu bukan ide yang baik. Saya garuk-garuk kepala. Meragukan apakah saya akan bisa menyetujui ide gilanya itu. Tapi setelah mendengarkan baik-baik penjelasannya, akhirnya saya mengerti mengapa ia ingin menebang pohon.

Pohon Pucuk Merah Sebelum DitebangPohon Cemara, Pohon Pinus dan Pohon Rambutan bersama dengan Pohon Pucuk Merah sebelum ditebang.

Suami saya ingin menebang sebatang pohon pucuk merah alias Zyzygium yang memang batangnya sudah terlalu besar dan daunnya terlalu rimbun. Saking rimbunnya sehingga halaman rumah kami menjadi sangat gelap. Ooh!.Selain itu rumput di bawahnya pun menjadi gundul karena tidak terkena sinar matahari. Ooh!. Suami saya menambahkan, belum lagi sekarang musim hujan. Banyak angin. Kita harus mengantisipasi jika pohon tumbang. Ooh!. Belum lagi akarnya yang kemana-mana. Ooh!. Intinya, halaman rumah kami kesempitan karena kami menanam terlalu banyak pohon.  OOh! Ya udah deh!.Akhirnya saya mengangguk-angguk. Tak bisa tidak menyetujui. Suami sayapun akhirnya memanggil tukang potong tanaman.

Memang sih saya akui, kami terlalu banyak menanam pohon di halaman yang sangat sempit.   Saya menanam dua batang pohon mangga yang bibitnya dikasih hadiah oleh seorang sahabat saya. Mangga Harum Manis dan Manalagi.  Dua batang pohon rambutan. Dulunya teman saya juga memberikan sebatang pohon Jambu Air, tapi mati saat dipindahkan. Lalu suami saya yang penyuka conifer menanam  3 batang pohon Pinus dan dua batang pohon Pucuk Merah. Kemudian  saya menambah dengan sebatang pohon Kenanga alias Ylang-Ylang. Anak saya yang besar menanam sebatang Cypres, dan yang kecil menanam sebatang Cemara. Dari  pihak developer dulu memang setiap rumah ada diberikan sebatang pohon Tabebuia. Lalu ada tetangga yang tidak mau pohon Tabebuia dan memberikan lagi ke saya.  Jadi ada 2 batang pohon Tabebuia. Lalu dalam rangka Dapur Hidup saya menanam  2 batang pohon Jeruk (Limau, dan Jeruk Nipis) – tadinya ada 3 dengan sebatang pohon Jeruk Purut – tapi sudah mati kena virus. Terus ada pohon Durian yang masih kecil tumbuh sendiri. Juga sebatang pohon Salam. Juga tumbuh sendiri. Nah! Bisa dibayangkan bagaimana berimpit-impitannya para pepohonan itu. Mirip hutan. Belum lagi berbagai jenis tanaman bunga dan dapur hidup serta apotik hidup. Komplit deh. Halaman rumah saya benar-benar seperti hutan mini yang pengap dengan pepohonan.

Menebang PohonMenebang Pohon Pucuk Merah.

Setelah memeriksa sejenak, dan memastikan tidak ada sarang burung yang berisi telor/anak burung, maka bapak tukang tebang pohon pun beraksi.  Hanya ada beberapa sarang yang sudah kosong  dan tak berpenghuni. yang penting tidak ada mahluk hidup yang merasa kehilangan rumahnya.

Pohon Pucuk Merah  DitebangPohon Pucuk Merah Ditebang.

Bapak itu mulai menggergaji cabangnya satu per satu.  Saya hanya melihat dari jauh. Sebenarnya sih sedih melihatnya. Tapi ya sudahlah.   Maaf ya, pohon!. Tak beberapa lama akhirnya  pohon itupun tertebang sudah. Tinggal sebatang. Tapi memang sekarang halaman rumah saya sedikit agak terang.

Pucuk MerahPucuk daunnya berwarna merah atau orange – itulah sebabnya disebut dengan Pucuk Merah.

Pohon Pucuk Merah (Zyzygium oleana) di rumah saya ini sebenarnya agak salah pilih. Karena niat awalnya sebenarnya kami ingin membeli yang jenis kerdil/bonsai, namun entah kenapa  begitu kami tanam di halaman, ia tumbuh dengan riang gembira seperti di hutan. Dalam beberapa tahun saja, tingginya sudah melebihi atap rumah. Pohon ini cantik, karena ujung daunnya berwarna merah atau jingga, sehingga disebut dengan Pucuk Merah. Saya suka karena mengingatkan saya akan Bapak saya dan tanaman cengkehnya.  Batangnya keras dan kering. Mirip batang pohon cengkeh.  Hanya saja baunya berbeda.Saya duga, tanaman ini mungkin saja mengandung minyak juga. Entah kenapa saya berpikir begitu. Saya teringat dulu waktu kecil jika disuruh oleh Bapak saya membakar  batang atau daun-daun cengkeh yang kering atau rontok di halaman rumah, api akan sangat membesar karena kandungan minyak di tanaman cengkeh sangat tinggi dan mudah terbakar.

Bunga Pucuk Merah.Bunga Pohon Pucuk Merah.

Pohon pucuk merah juga berbunga. Agak mirip dengan bunga jambu air.  Namun kecil-kecil berwarna putih. Waktu ditebang kuncup bunganya sedang banyak sekali. Suami saya membiarkan  batangnya tersisa.

Setelah selesai menebang pohon kayu merah itu, saya sekalian meminta tolong si Bapak untuk memangkaskan cabang bunga Jepun Cenana (Kamboja Bali  yang berbunga kuning)  alias Frangipani yang juga sudah kebesaran dan kepanjangan, sehingga mengganggu lalu lintas  di halaman rumah. Sekalian. Mungkin memang sudah waktunya untuk bebersih-bersih. Tanaman-tanaman saya memang sudah banyak yang gondrong. Waktunya untuk prunning!.

Memangkas Pohon FrangipaniSekalian minta tolong memangkaskan cabang pohon Jepun Cenana. 

Walaupun belum selesai membersihkan semuanya, tapi sekarang lumayan agak bersih dan terang di area bawah pohon pucuk merah itu dan di area dekat pohon Frangipani.  Lalu lintas  di halaman menjadi sedikit lebih lega. Jadi pengen nambah libur lagi.

HalamanNah, sekarang halaman rumah tampak sedikit lebih rapi dibanding sebelumnya.

31 responses »

  1. Banyaak bgt tanaman di halamannya Mbaak..rata2 pohon gedhe pula..
    Kadang memang sayang rasanya nebang pohon, apalagi yg udah ditanem dari kecil sampai gede, rimbun, berbunga, berbuah..
    itu rambutan, manalagi sama harum manis kalo pas berbuah asik pasti yaa🙂

    • halaman rumah saya sebetulnya sempit pak. Saya bingung mengapa teman-teman berkomentar halaman saya luas. Baru saya perhatikan ternyata di foto foto ini halaman rumah kok jadi kelihatan luas ya.. mmm.. mungkin efek sudut pengambilan foto saja Pak

  2. Senangnyaaaa banyak pepohonan di halaman rumah… Saya cuma punya satu pohon Cherry di halaman belakang rumah, yg harus selalu dipangkas supaya ndak terlalu tinggi.
    Adeeeem kalau sekitar rumah banyak pohon itu yaaa…

    • tuh kan.. aku bingung deh..kok pada nyangka halaman rumahku gede ya?. Kayanya itu cuma di foto doang terlihatnya begitu deh Non. Mungkin sudut pengambilan fotonya kali yang menyebabkan terlihat lebih luas dari aslinya …ha ha ha..

    • nah ini satu lagi yang nyangka halaman rumahku luas. Serius Dan.. itu halaman sebenarnya sama sekali tidak luas.. sama kaya rumah-rumah kecil di daerah Bintaro itu saja (bukan Bintaro yang besar-besar ya). Cuma entah kenapa di foto ini kelihatannya luas. Aku juga nggak ngerti…

  3. duh enaknya halaman rumahnya, mbak. jadi pengen punya pohon lagi di halaman. tapi halaman kami udah makin sempit karena dibangun rumah kontrakan. dulu masih ada pohon jambu di depan. pohon melati dan tanaman lain seperti pandan juga ada. sekarang udah jauh berkurang tanaman di rumah.

  4. Rupanya kegiatan memangkas pohon jadi salah satu kegiatan pengisi liburan ya Mbak. Kebetulan kemarin aku juga sempat memangkas daun belimbing dan jambu air yang juga sudah gondrong di rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s