Roti Sasur, Cita-Cita Yang Terlupakan.

Standard

???????????????????????????????Saya mampir di sebuah Super Market untuk membeli keperluan rumah yang habis. Ketika hendak membayar di kasir, saya melihat roti dipajang tak jauh dari sana. Jadi teringat perlu membeli roti tawar untuk anak-anak.  Sambil memeriksa  tanggal kadaluwarsanya,  saya melihat ada Roti  yang dibelah dengan rumbutter diusapkan di lapisan dalamnya. Hmm..kelihatannya enak dan empuk. Sayapun memeriksanya sebentar. Harganya Rp13 700 per bungkus.kalau tidak salah ada 6 buah di dalamnya. Berarti harga per buahnya adalah Rp 2 833. Lumayan.Tidak terlalu mahal.Sayapun memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan saya.  Roti ini mengingatkan saya akan Nyoman, adik saya  yang nomor tiga dan akan cita-cita kami bersama waktu kecil.

Bagi sebagian orang, terutama yang dibesarkan di kota besar, tentu Roti adalah makanan yang umum dan mudah ditemukan sehari-hari. Termasuk roti dengan rumbutter seperti ini. Tapi bagi saya yang dibesarkan di kota kecil, roti bukanlah makanan sehari-hari. Karena di rumah saya, untuk teman minum teh, ibu saya lebih banyak menyediakan jagung rebus, pisang goreng, keladi kukus , singkong, ubi kukus, bubur kacang ijo dan sebagainya makanan kampung yang alami. Makanan olahan seperti roti merupakan makanan yang terlalu mewah untuk kami dan sangat jarang dihidangkan. Paling banter juga, sesekali ibu saya kadang membuatkan kue donat,bolu kukus ataupun bolu kering. Seingat saya, walaupun ibu saya pintar memasak, tapi ibu tidak pernah membuatkan roti buat kami.

Namun, roti yang serupa dengan roti rumbutter ini juga beredar di Bangli, kota kelahiran saya saat saya masih kecil. Dijual di warung  dekat rumah dengan harga Rp 35 per buah.  Karena harganya Rp 35 maka saya dan adik-adik saya menyebutnya dengan nama Roti Sasur. ( Catatan: Sasur dalam bahasa Bali artinya 35. Serupa dengan kata Seket untuk angka 50).

Harga Rp 35 untuk sebuah roti pada jaman itu termasuk sangat mahal. Bandingkan harga Tipat Cantok (semacam gado-gado ketupat traditional Bali) yang pada jaman itu  adalah Rp 10 per porsi. Atau es potong yang Rp 5. Nah, bisa dibayangkan betapa premiumnya harga Roti Sasur di kota saya saat itu.

Tapi Roti Sasur ini sangat enak menurut saya. Rumbutter yang dioleskan di tengahnya terasa gurih dan manis. Ukurannya pun seingat saya lebih besar dari roti yang saya beli tadi. Saya, adik-adik dan kakak saya sangat menyukai Roti ini. Jadi kami ingin sekali bisa menikmatinya setiap hari.

Namun sayangnya kami tak mampu membelinya setiap hari. Mengingat uang jajan saya kalau ke sekolah pada saat itu hanya Rp 15 -20 per hari * uang jajan saya bergerak naik dari  1 ringgit (Rp 2.5)  waktu kelas 1 SD (tahun 1972), lalu menjadi 2 ringgit (5 rupiah) per hari  waktu kelas 2 SD dan seterusnya hingga waktu SMP uang jajan saya menjadi Rp 20 -25/hari* maka jika ingin makan Roti Sasur ini saya harus mengirit-irit uang jajan dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit agar bisa terkumpul menjadi Rp 35 dan bisa membeli roti ini. Biasanya saya hanya mampu membeli seminggu sekali. Karena uang jajan yang dikasih ibu, juga sebagian tetap kami manfaatkan untuk jajan lain saat istirahat jam sekolah. Biasanya yang disisihkan untuk membeli roti ini hanya Rp 5-10 per hari.

Ibu saya tidak akan mau menambahkan uang jajan begitu saja. Satu-satunya kesempatan bagi kami untuk menambah uang jajan hanya jika kami mau bekerja di penggilingan beras milik ibu saya. Mengawasi buruh, menimbang beras dan melayani petani pelanggan penggilingan atau pedagang beras yang akan membeli dari kami. Upahnya berupa dedak yang boleh kami jual dan uangnya kami miliki. Dan tentunya itu hanya bisa dilakukan di hari libur. Demikianlah, Roti Sasur itu tetap menjadi impian mewah bagi saya dan saudara-saudara saya.

Masih terbayang diingatan saya, pada suatu kali saya dan Nyoman (adik saya yang no 3) membeli roti ini diwarung dekat rumah. Kami menikmatinya segigit demi segigit sambil duduk berdua bersender di pagar rumah. Lalu  Nyoman berkata, seandainya ia kaya, maka ia akan membeli dan makan Roti Sasur ini setiap hari.  Sayapun menyetujui perkataannya. Jika saya punya uang, tentu saya juga akan membeli dan makan roti ini setiap hari. Dari percakapan itu, maka kamipun bercita-cita “Jika suatu saat kami kaya, maka kami akan membeli dan makan roti sasur ini setiap hari”.  

Sejak saat itulah, membeli Roti Sasur menjadi cita-cita kami yang paling tinggi. Kami harus belajar keras agar menjadi pintar, lalu bisa bekerja dan  punya uang, agar mampu membeli Roti Sasur setiap hari!. Kakak dan adik-adik saya yang lainpun ikut familiar dengan CITA CITA ROTI SASUR ini.

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Cita-cita Roti Sasur itu masuk ke dalam nadi  kami dan tidak lagi muncul di permukaan otak. Sekarang kami sudah dewasa dan bekerja serta memiliki penghasilan sendiri. Walaupun tidak kaya, tapi sebenarnya saya sudah memiliki uang yang cukup untuk membeli Roti Sasur setiap hari. Tapi sungguh, saya tidak melaksakan impian saya untuk membeli dan makan roti sasur ini setiap hari. Saya bahkan lupa akan cita-cita saya waktu kecil itu, hingga Roti Rumbutter yang serupa dengan Roti Sasur ini ada di hadapan saya. Maka sayapun menelpon Nyoman, apakah masih ingat akan CITA-CITA ROTI SASUR-nya ? Begitu saya ceritakan bahwa saya membeli sebuah roti mirip roti Sasur kami jaman dulu, adik saya tertawa dan seketika ingat kembali akan cita-citanya.

Saya melihat ke “Roti Sasur”  yang saya beli dan merasa berterimakasih kepadanya.Walau entah bagaimana hubungannya, saya merasa setidaknya Roti ini sempat menjadi penyemangat saya untuk menggapai cita-cita saya ke depannya.

 

30 responses »

  1. Tak kira Sasur itu sm dg kasur. Trnyata sak sur, seket.
    Cerita masa kecilnya unik juga, Mba. Ini akan menjadi kenangan smpai kapan pun ya, Mba.

    Mungkinkah trtarik untuk mendirikan pabrik roti sasur? Hihihi

  2. kita satu generasi mbak…, eh senioran aku dikit ding…, hi..hi..
    aku dulu seneng banget biskuit kaleng KG .. itu rasanya nikmat banget…, abisnya cuma bisa makan itu kalau ada famili datang bawa oleh2 itu, atau lebaran..

  3. Roti sasur memang enak Mbak ? Tapi paling enak saat menyantap singkong rebus/goreng, kimpul, ganyong, jagung rebus atau grontol saat paska panen di desa. Umumnya makanan khas kampung ini tidak lekang oleh panas sampai saat ini. Terbuktu di warung-warung atau pasar tradisional masih diperjual belikan dengan harga murah.

    • ha ha ha.. itu waktu kecil Mbak. karena setiap harinya ya makan singkong, ketela,ubi rebus ya..makanan yang mewah menurut kami ya roti. Tapi sekarang malah sebaliknya saya lebih menyukai makanan rebus itu lagi..he he

  4. Terharu banget bacanya Mba Made. Roti ini emang enak dan kenangan bangeettt.. Ibu saya dulu juga jualan roti ini dan jarang-jarang kami dikasih roti berisi selai rumbutter ini. Baru sebulan yang lalu saya menemukan roti ini dijual di gerai toko waralaba itu dan saya beli 2.
    Aih ternyata bukan cuma saya yang punya kenangan sama ini roti..
    Kebahagiaan bisa berasal dari hal yang kecil dan sederhana ya Bu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s