Mitos Tentang Binatang.

Standard

Minggu sore  ibu tukang pijit datang ke rumah menawarkan jasanya. Karena tidak ada acara lain, saya setuju untuk dipijit.  Sambil mijit si Ibu bercerita banyak. Mulai dari pengalaman pertamanya naik pesawat terbang, ikut menantu pulang kampung ke Bukit Tinggi,  hingga musim hujan yang membuat hatinya dag dig dug  takut kebanjiran. Lalu obrolan berlanjut tentang sungai di depan rumahnya yang sering meluap dan pohon-pohon bambu yang sangat rimbun  di tepi sungai itu. Saya tertarik mendengar ceritanya, terutama tentang binatang-binatang yang menghuni pinggiran kali dan rumpun bambu itu. Lalu saya meminta ijin apakah suatu saat saya boleh main ke sana.

Sementara saya berpikir tentang  pengamatan terhadap burung-burung dan habitatnya di tepi sungai , ternyata Ibu tukang pijit ini lebih melihat keberadaan binatang-binatang ini dari sudut yang mistis.

Otus_lempiji_040613_0028_tdpKalau malam  kadang-kadang terdengar suara menyeramkan: buuk, buuk. Kalau sudah begitu saya langsung tutup pintu” kata ibu tukang pijit. “Ooh, itu suara burung hantu.” Kata saya.”Sebenarnya burung hantu itu burung beneran atau hantu sih bu?. tanya si Ibu meminta konfirmasi dari saya.”Bukan!” kata saya.”Itu suara burung biasa. Namanya saja Burung Hantu“. kata saya bingung. Bagaimana mungkin si ibu ini tidak tahu suara burung hantu biasa yang memang aktif di malam hari mencari makan berupa ngengat,kodok dan lain lain .“Tapi kata orang di kampung saya, itu burung jadi-jadian. Katanya tunggangan Kuntilanak” jelas si Ibu. “Kata orang, kalau terdengar suara burung hantu, harus cepat-cepat tutup pintu, karena pasti di sekitar situ sedang ada kuntilanak gentayangan’ lanjut si Ibu lagi.

Saya juga tidak tahu persis, mengapa burung ini diberi nama Burung Hantu.  Mungkin karena matanya besar dan melotot. Tapi di Bali burung ini tidak disebut dengan Burung Hantu, tapi Celepuk. Karena  suara burung ini terdengar seperti kata “Puuk” oleh karena itu burung hantu biasa berukuran kecil ini disebut dengan burung Celepuk (Otus lempiji). Ibu itu manggut-manggut mendengar penjelasan saya.  Saya tidak terlalu pasti apakah ia yakin pada saya atau meragukan penjelasan saya. Kemudian ia juga bercerita kepada saya tentang burung Uncuing, alias burung Kedasih. Saya sudah bisa menebak apa yang akan diceritakannya tentang burung itu. Saya juga sudah pernah menulis tentang hal itu sebelumnya.

Kedasih 3Semua orang takut Bu,  kalau mendengar suara burung itu” katanya. Saya tidak membantah apa-apa. Karena sudah mendengar mitos itu ada di berbagai daerah di Indonesia. “Dan sering terbukti. Kalau ada burung itu berbunyi, maka tak lama kemudian di sekitar iru akan ada orang yang meninggal”. Lalu si Ibu bercerita, bahwa pernah suatu kali saat ia memijat di rumah seorang tetangga saya, ada burung Uncuing hinggap di pohon mangganya. “Pak A langsung ngambil batu dan melempar ke burung itu, Bu. Eh, burung! Pergi kamu dari sini. Jangan ngajak-ngajak orang sini. Tidak ada yang mau. Pergi aja ke kampung lain. Dan ajak orang lain, kata Pak A.” cerita si Ibu. Saya  hanya mendengarkan dan membayangkan bagaimana tetangga saya bisa berinisiatif melempar burung yang kebetulan menclok di dahan pohon mangganya. Setahu saya banyak burung Kedasih  yang memang tinggal di kali di belakang rumah kami. Sejak jaman dulu. Dan saya mendengarkan suaranya nyaris setiap hari. Mungkin karena saya tahu bahwa habitat burung itu memang di sana, jadi saya biasa saja mendengarnya. Bukan berarti bahwa saya takabur, kadang kadang malah saya menunggu kedatangan burung itu dalam jarak dekat agar bisa saya potret dan pelajari tingkah lakunya.

Kucing hitamAda lagi binatang lain yang juga digosipkan buruk alias ditakuti. Dialah kucing hitam yang dianggap jahat dan seram Saya juga heran dan tidak paham mengapa binatang lucu ini dianggap menakutkan. Namun kejadian pada suatu subuh, membuat saya mengerti mengapa kucing hitam itu dianggap menakutkan.

Pagi-pagi pada suatu hari libur saya berniat  untuk berjalan-jalan di pinggir kali. Seperti biasa untuk melihat tingkah laku burung-burung prenjak yang biasanya memang lebih aktif di pagi hari mencari makan. Ketika sedang sayik  memotret burung-burung pipit yang hinggap di rumput benggala, saya dikejutkan oleh sesuatu yang bergerak dari balik tembok perumahan. Saya menengok untuk memastikan binatang apakah itu.Warnanya hitam legam.  Rupanya seekor kucing liar berwarna hitam. Ia duduk di atas tanah yang dilapis  hard block beberapa meter di hadapan saya.  Memandang ke arah saya dengan tajam.  Saya melihat ke arahnya dan merasa agak risih dipandang seperti itu. Akhirnya saya coba mengusir kucing itu. “Hush! Hush! Hush!” tapi tidak sedikitpun ia bergeser.  Malah semakin menatap saya dengan mata bercahaya* tentu saja matanya bercahaya karena di bagian belakang retina mata kucing terdapat lapisan yang mampu merefleksikan sinar yang disebut dengan Tapetum Lucidum. Keberadaan Tapetum Lucidum ini memungkinkan kucing untuk melihat dengan jelas walau dalam keadaan remang-remang .Aduuuh goblok banget aku ini*.  Entah kenapa saya merasa agak gentar juga. Walaupun dalam hati saya berusaha meyakinkan” Itu kucing!!!! Itu kucing!!!!. Itu pasien yang mau berobat!.Kenapa takut?” tetap saja rasanya tidak nyaman.

Karena tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan, maka saya arahkan lensa saya ke kucing itu dan saya potret. Mungkin karena kilatan flash kamera, kucing itupun akhirnya pergi juga.   Ha ha ha..

Note: foto burung hantu saya pinjam dari Wikipedia

35 responses »

  1. Hewan dan pohon di Indonesia ounya tempat khusus ya Mbak Dani, sebagai sumber mitos. Ada bagusnya juga sih, mitos2 seperti ini sedikit banyak melindungi hewan ini dari kerakusan manusia🙂

  2. Iya ya Mba, kadang apa yang diceritakan di masyarakat tentang hewan tertentu bikin hewan itu jadi serem banget. Padahal ya sebenernya lucu kayak kucing hitam itu. Pengen uwel-uewl ngelihatnya..

  3. Saya juga sering dengar tentang mitos burung uncuing, Mba. Mitos burung2 kenapa selalu menakutkan, ya. Beda dengan kupu-kupu ya, Mba. Yang katanya mau ada tamu datang.🙂

  4. ntah ya kenapa jadi mitos.. tapi kalu lihat kucing hitam legam lewat kog ada perasaan desir gitu.. ya sih cuma perasaaan.. dan selalu ada kejadian “lucu” dan “tak lucu” setelahnya..

  5. kucing itu banyak mitosnya ya..
    aku nabrak kucing…, ktnya kl kucing mati nggak dibungkus baju yg nabrak bakal bikin celaka lagi…
    masa sih yg begitu mau dipercaya ya

  6. personifikasi dari mitos binatang ya Jeng, kita kaya sekali dengan mitos ini. Dan berlaku universal ya tentang kucing hitam juga dipercaya masyarakat Filipina. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s