Silakan Mampir, Tante!

Standard

pedagangSeorang pedagang tempe lewat di depan rumah. Membawa motornya melaju sambil berteriak “Tempe! Tempe!Tahu! Tahu!“. Lalu berhenti di depan rumah tetangga. Saya mendekat berniat belanja. Tempe yang harum dan kwalitasnya bagus. Bentuknya segitiga kecil-kecil dibungkus daun pisang. Saya membeli 20 buah. Namun Si Bapak Tukang Tempe memberi saya tambahan 3 buah. “Empat belas ribu. Ini saya tambahkan 3 lagi,boss!” katanya sambil memasukkan tambahan tempe ke dalam kantong plastik.  Saya berterimakasih.

Lalu ia mempromosikan  tahu baru yang bernama Tahu Susu.  “Coba ya, boss? Saya juga baru bawa tahu ini, karena waktu saya coba ternyata empuk dan lembut sekali” Katanya berpromosi.  Saya menyentuh tahu itu dari plastik pembungkusnya. Memang sangat lembut. Saya setuju untuk membeli sebungkus. “Dua belas ribu ya, boss. Isinya sepuluh” katanya memberi informasi. Saya mengangguk.  Lalu saya membeli 4 bungkus susu kacang kedelai lagi untuk anak saya yang kecil. Ia sangat suka susu kedelai. “Delapan ribu” katanya. saya mengangguk lagi. Setelah selesai berbelanja, Si Tukang Tempe pun menghitung kembali total belanjaan. Saya membayar. Lalu Si Tukang Tempe menutup pembicaraan dengan memberikan uang kembalian kepada saya.”Terimakasih ya, boss. Ini saya kasih lagi tambahannya ” katanya sambil meraih sebungkus susu kacang lagi dan 3 buah tempe segitiga lagi untuk diberikan gratis kepada saya. Saya terkejut. “Ah, nggak usah!.Ini saja sudah cukup. Nanti rugi. Kok dikasih gratis banyak sekali” kata saya khawatir.  Tapi si Tukang Tempe dengan santai menjawab “Ah! Buat boss nggak apa-apa saya kasih lebih. Kan penting itu menyenangkan pelanggan. Saya tidak rugi, karena tempe dan susu kacang saya bikin sendiri” katanya sambil menghidupkan mesin motornya dan berlalu.

Saya membawa bungkusan itu ke dapur . Tentu saja saya suka dikasih gratisan. Tapi walaupun dikasih gratisan, sebenarnya saya amat tidak suka dipanggil boss.  Saking tidak sukanya saya sampai berpikir kayanya tukang tempe itu tidak tahu tata krama. Barangkali ia pikir semua orang senang dipanggil boss. Dia tidak sadar kalau ada orang yang tak suka dipanggil begitu.  Menurut saya, Boss itu tepatnya panggilan untuk orang yang benar-benar kaya secara finansial dan mampu mensuport finansial orang lain. Jelaslah saya sangat tidak tepat disebut boss. Saya bukan boss. Saya ibu rumah tangga biasa yang membeli tempe, tentunya lebih senang dipanggil dengan Ibu saja. Atau kalau mau berbaik hati, panggil saja Mbak * terasa lebih muda seketika he he*.

Selain itu, panggilan boss lebih umum  saya dengar pada komunitas pria. Cukup sering panggilan boss saya dengar diucapkan oleh/kepada teman-teman saya yang laki, adik laki-laki ataupun kakak-kakak  sepupu saya yang laki.  Jadi benar-benar tidak cocok deh buat saya. Tapi salah saya sendiri juga  sih. Mengapa pula tidak protes saat dipanggil boss. Ah! Sudahlah!. Mungkin lain kali saya perlu kasih tahu si Tukang Tempe itu kalau saya tidak suka.

Ada lagi panggilan yang lebih tidak saya sukai lagi. Tante!. Beberapa kali saya merasa kesal jika lewat di sebuah pertokoan, lalu dipanggil panggil oleh SPG penjaga baju  “Mampir, Tan!” atau “Boleh. Lihat-lihat dulu, Tante!” atau “Coba dulu, Tante!”  Atau disapa mas-mas penjaga lapak sayur di pasar modern”Ayo Tante,mampir. Brokoli nya segar-segar. Untuk Tante nggak dimahalin“.   ?????????. . Menurut saya Tante itu benar-benar panggilan yang sangat menyebalkan.   Saya sangat tidak senang dipanggil Tante. Kecuali oleh keponakan saya sendiri atau anak-anak teman kita yang memang sudah sepantasnya memanggil Tante atau Bulik atau Bude, atau Wak.  Karena jika dipanggil Tante oleh orang yang tidak da hubungan kekerabatan dengan kita, kesannya jadi seperti mengarah kepada Tante – Tante yang bagaimana gitu (i.e tante girang).

Saya sempat bercerita soal ini kepada beberapa orang teman saya, dan tenyata mereka juga tidak suka dipangggil Tante. Alasannya sama dengan apa yang saya paparkan di atas.  Syukurlah bukan saya sendiri yang berpikir begitu*mencari teman*.Ujung-ujungnya, gara-gara dipanggil Tante, yang tadinya saya niat mau beli, akhirnya saya jadi tidak mau membeli. Kehilangan selera.  Nah, kalau banyak orang yang tidak suka dipangil Tante sembarangan, dan orang akhirnya tidak mau membeli gara-gara tidak suka dipanggil Tante,  tentu pedagang itu akan rugi. Mengapa ya para pemilik toko tidak mentraining karyawannya agar menyapa pembeli dengan sapaan yang lebih baik dari Tante.

Tapi saya tidak tahu juga, barangkali banyak juga wanita yang justru lebih senang dipanggil Tante. Setidaknya Tante kan lebih muda dari Ibu. Entahlah.  Itu soal selera.

Panggilan lain,  secara umum sih saya masih OK. Langsung memanggil nama, Ibu atau Mbak saya lebih suka. Kadang-kadang ada juga yang memanggil saya dengan Bunda.  Saya tahu banyak orang lebih suka dipanggil Bunda. Dan tentunya itu baik dan juga lagi trend ya.  Namun sayangnya saya agak kurang familiar dengan sebutan Bun, Bunda, walaupun sangat positive kesannya. Pasalnya sederhana, hanya karena sebutan Ayah-Bunda tidak umum di lingkungan saya yang biasa membahasakan orang tua dengan kata Bapak -Ibu.   Jadi tentunya saya lebih menyukai kata Ibu, ketimbang Bunda. Rasanya kurang ‘saya’. Tapi  tentunya saya tidak menolak panggilan Bunda.

Demikianlah soal panggilan-panggilan yang saya sukai dan tidak sukai. Bagaimana dengan teman-teman? Panggilan apa yang teman-teman sukai dan panggilan apa yang teman-teman tidak sukai?

46 responses »

  1. Kalau saya lebih suka memanggil atau dipanggil ibu atau bapak kesannya formal, tapi banyak orang tidak suka katanya “saya belum ibu-ibu atau belum bapak-bapak”, padahal panggilan dalam bhs Indonesia ke wanita ya ibu dan pria = pak. Dulu ketika kerja kalau telp panggil customer dengan mbak atau mas bisa di marahin bos😆 .

  2. saya juga risih kalo dipanggil bos. mentang2 saya gemuk jadi disangka hidupnya makmur kali ya.😦 mendingan bang, dek, mas, atau pak juga nggak apa-apa.

  3. Saya juga tidak suka dipanggil Boss. Kalo ada yang manggil gitu langsung saya bilang biasanya Mba. Kalo temen sendiri sih saya langsung panggil balik dia dengan sebutan bos. Daaaan tentu saja saya tidak suka dipanggil Tante. hahahaha *maap bercanda Mba.
    Kalo saya dipanggil Om sih gapapa, awalnya risih, cuman setelah punya anak, jadinya mikir kalo dia manggil tante eh om mungkin itu diwakilkan untuk anak/adik/ponakannya yang masih kecil. Soalnya saya kalo bawa Aaqil suka manggil orang lain dengan sebutan tante/om. Tapi kalo lagi sendirian sih saya panggilnya Mba/Mas/Pak/Bu.

  4. Sama mbak, saya lebih suka di panggil ibu. Kalau ada ponakan manggil tante, lsg saya protes, mending di panggil bulik/bude/bibi/uwak.

    Selama ini yg saya temui, SPG/tukang jualan/supir angkot di Bandung jarang menyebut tante, kebanyakan ibu atau teteh.

  5. tahu susu itu enak loh, mbak. Aku suka. *OOT dulu* hihihi..
    Aduh, mbak Daniiii… samaaaa banget kayak aku.
    1. Tukang sayur di rumah suka manggil ” dunungan”—> juragan dalam bhs sunda.
    2. Dipanggil tante sama SPG kaos di BIP.
    3. Dipanggil Bunda sama gurunya Aura sama Amartha di sekolah.
    Tiga2nya itu kalo boleh jujur, aku kurang suka. Lebih enak dipanggil Ibu aja, deh. Habis kalo mbak kok kayaknya ntar dianggep pengen muda terus, hahaha…
    Eh tapiiiii… kalo boss, aku suka manggil gitu ke atasanku di kantor, loh. Beliau ibu2 sih (masih muda) dan panggilannya itu dalam rangka becanda aja…🙂

  6. Kalo penjual onlen panggilnya sis..sisss… males juga sih, tp ya sudahlah..
    kalau SPG2 di mall panggil tan..aku males mampir, tapi kalau dia panggil Kak… dengan senang hati singgah🙂

  7. Saya pernah jalan sama temen cewek ke supermarket. Pas dia mau bayar, mbak kasirnya bilang “Totalnya xxx rupiah bu”, nah begitu giliran saya yang bayar “Totalnya xxx rupiah mas” Hahahaha…temen sy langsung cemberut😀😀

  8. Soal panggilan ini memang kayanya menunjukkan tingkat kematangan kita ( gak mau nyebut tua soalnya 🙂 ). Aku juga ngerasa koq Mbak, dari cuma dipanggil nama, paling banter ‘mas’ sampai sekarang banyak juga yang nyebut ‘pak’ dan gak terhindarkan yang panggil ‘oom’ juga, terutama panggilan oleh teman anak-anakku. Mungkin sebentar lagi sudah ada yang panggil ‘mbah’ atau ‘opa’ 😀

    • kalau dipanggil Tante sama anaknya teman-teman saya juga suka aja Pak Chris. Tapi maslahnya dipanggil Tante oleh mas mas yang nggak ada urusan kekerabatan ataupun pertemanan dengan kita.. jadi nggak nyaman aja Pak rasanya.. kedengerannya kaya mengarah ke Tante-Tante yang gimana..gitu…

  9. Benar juga Mba Made, saya juga tidak suka dipanggil Bos atau Pak apalagi sama orang yang lebih tua dari saya, kesannya saya lebih tua padahal kan saya masih muda… heheheheheh

  10. Rasa – rasanta kita sama Mbak, suka kurang sreg dengan panggilan2 yang di ceritakan itu…trus panggilan Bunda atau Bund…juga kurang saya banget, secara saya cuma tinggal di desa dgn lingkungan dan status yg biasa2, saja rasanya kok ‘mewah’ dgn panggilan itu, meski ya gak bisa protes kalo ibu2 ada yang menyebut Bunda

  11. lucu ya manusia, berubah menurut umur hehehe
    Dulu saya tidak suka dipanggil ibu, karena saya merasa saya masih muda, lebih baik panggil nama. Sekarang kalau ada yang lebih muda, seperti mahasiswa saya panggil nama, sayanya manyun, tidak suka.
    Pertama chatting saya tidak suka dipanggil tante atau mami, kemudian dipanggil bunda juga…huhuhu. Tapi sekarang? Harus menerima semua sebutan, TAPI BELUM MAU DIPANGGIL OMA hahaha

  12. di beberapa komunitas, saya dipanggil mamih.. beberapa bunda.. tapi tukang sayur kebanyak panggil mbak.. tukang pos yang panggil ibu.. di kantor malah panggil nyonya.. idih..

  13. Sama saya pun tidak suka dipanggil tante kecuali sama orang’ tertentu seperti ponakan atau kerabat atau anaknya tmn kita, kalau sama orang lain ih males banget apalagi sama laki’…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s