Kacamata Kuda.

Standard

andani-kuda-11Ada sebuah tanah kosong di daerah seputar Graha Raya Bintaro yang sering saya lewati. Jika akhir pekan, tanah lapang itu penuh. Di sana ada banyak kuda-kuda tunggang dan kuda delman yang disewakan.  Ibu-ibu pun rajin datang ke sana beserta anaknya. Sesekali saya pun ikut nongkrong di sana untuk  ikut melihat keindahan dan ketangkasan kuda -kuda itu berlari di padang rumput buatan manusia itu.

Melihat kuda-kuda yang banyak merumput di situ, tiba-tiba saya teringat akan sebuah pertanyaan anak saya yang kecil dulu, “Ma, mengapa kepala kuda itu ditutup kain?“. Sayapun melihat ke arah kuda-kuda itu. Memang benar kepalanya ditutup, entah dengan kain ataupun bahan lain dan hanya menyisakan sedikit lubang di kedua matanya. “Oh! Itu namanya kacamata kuda” jawab saya. “Mengapa kuda disuruh memakai kacamata?“tanya anak saya lagi. “Supaya kudanya tidak menengok ke sana kemari. Nanti Pak Kusirnya susah ngasih tahu kudanya agar jalan ke tujuan yang diinginkan” kata saya.  Untuk mencapai tujuan, kuda perlu fokus dan, kacamata kuda itu memang perlu.

Mengingat itu, saya jadi berpikir, kadang-kadang kacamata kuda itu sebenarnya perlu juga digunakan oleh kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Seorang teman bercerita kalau dulunya ia pernah kuliah. Namun tidak menyelesaikan pendidikan S1-nya, karena kepalang kenal uang. Saat itu ia telah menuntaskan semua mata kuliahnya, tinggal menyusun skripsi. Beberapa bulan lagi tentu ia bisa maju untuk sidang, lalu lulus dan di wisuda. Ia mulai  menyusun proposal penelitian dan berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Saat mengerjakan itu, ia merasa punya banyak waktu yang luang. Rupanya dosen pembimbingnya tak selalu ada setiap kali iamembutuhkan bimbingan. Kadang harus menunda konsultasinya sehari- dua hari. Saat itu seorang trmannya memberi informasi lowongan part time  di sebuah perusahaan. Ia pikir, kalau bisa mulai bekerja lebih cepat mengapa tidak? Toh juga tujuan kuliah ujung-ujungnya untuk mencari kerja. Ia pun mencoba melamar dan diterima.

Sebulan berlalu ia mengerjakan skripsinya dengan baik sambil bekerja. Horee! Pertama kali mendapat gaji atas jerih payah sendiri memang sangat membanggakan. Bulan  ke dua, ia semakin semangat bekerja dan tetap berusaha mengerjakan skripsinya. Namun karena kadang dosennya tidak ada saat ia ke kampus, ia mulai merasa agak malas. Bulan ke tiga semakin malas lagi  dan semakin malas di bulan-bulan seterusnya.  Ia merasa lebih baik menghabiskan waktu dengan kerja lembur untuk mendapatkan tambahan uang.Bulan demi bulan berlalu, dan tahun demi tahun pun lewat dan skripsi itu tetap tak jadi jadi, hingga akhirnya ia dinyatakan Drop out dari kampusnya. Di kantor pun ia mengalami kesulitan untuk naik posisi karena kalah saing dengan anak-anak sekarang yang memiliki gelar S1 atau S2.

Sekarang ingin melanjutkan lagi, tapi biaya kuliahpun semakin tinggi dan tidak terjangkau oleh penghasilannya sendiri. Sementara orang tuanya sudah tua dan pensiun dan tak mampu lagi membantunya. Saya sedih mendengar ceritanya.

Cerita yang lain datang dari teman yang memegang project pengembangan sebuah produk baru. Awalnya ia mengikuti keseluruhan step step yang perlu dilakukan dengan tertib dan teratur. Mulai dari Ideation, research-research, pembuatan konsep dan sebagainya. Masalah mulai terjadi ketika ia masuk ke fase Development.  Ia telah mendapatkan formula yang bagus dengan wangi yang enak. Tinggal menunggu kemasan yang designnya sedang dibuat.

Suatu hari atasannya mereview projectnya dan berkata, “Ini wanginya agak kurang seger ya. Coba lihat ada nggak alternatif fragrance lain?” Ia menjelaskan bahwa fragrancenya itu sudah lolos test konsumen. Tapi atasannya mengatakan “Kan masih ada waktu.Sementara kamu menunggu designnya jadi, bisa test ulang lagi. Masih cukup waktunya kan? Kalaupun mundur paling sebulan” kata atasannya sambil memberikan contoh.

Ia mencari fragrance baru lagi. Ngetest lagi dari awal. dan tentunya itu membutuhkan waktu beberapa bulan. Ketika design kemasannya jadi, ia merasa  ada yang kurang sreg dengan element grafiknya. “Sementara menunggu fragrance yang baru, tidak ada salahnya aku perbaiki dulu sekalian. Masih ada waktu.Kalaupun telat, paling sebulan” pikirnya. Maka ia pun melakukan brief ulang ke Creative Designer. Ketika fragrance yang baru selesai dan sudah lolos test, atasannya berkomentar bahwa “Skin feel-nya kok agak kurang enak ya? Masih ada waktu kan? Toh juga masih menunggu design? Bisa coba perbaiki sedikit nggak?” Atasannya mengambil sample sebuah produk dari luar dan memebrikan sebagai referensi.”Ide  skin feelnya ini kaya gini” lanjut atasannya. ia mencoba dan memang terasa enak. “Wah. Ide bagus juga” pikirnya.

Akhirnya ia datang lagi ke Laboratorium dan meminta bantuan perbaikan formula. Demikianlah seterusnya. Ia merubah formula lagi, design kemasan lagi, fragrance baru lagi, setiap kali ia atau atasannya punya ide baru. Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, menjadi setahun.Demikian juga tahun berlalu tak terasa akhirnya telah lewat dua tahun dan produk baru itu belum keluar juga ke pasaran.

Dua kisah di atas, jelas sekali menunjukkan kepada kita bahwa kacamata kuda itu kadang sangat diperlukan bagi kita juga. Walaupun kita terbuka untuk gagasan dan ide-ide baru, namun pada suatu titik kita harus fokus. Fokus, Fokus dan fokus. Jangan tergiur pada kindahan bunga-bunga yang kita temukan di pinggir jalan, yang mungkin saja memberhentikan langkah kaki kita untuk maju ke depan.

Pasang kacamata kuda dan tancap gas. Tidak usah pakai tengok kiri kanan lagi, tetap berjalan lurus dan pastikan tujuan kita tercapai dengan baik.

32 responses »

  1. Saya suka tulisan ini Bu …
    Kandidat the nine untuk 2014 nih hahaha

    Bicara masalah product development … Memang tak pernah selesai … atas nama continous improvement … dan semangat untuk seeking the best option … Membuat produknya nggak di launch-launch ….

    Keburu disikat kompetitor
    Hahahs

    Salam saya Bu

  2. Apakah ini akibat selalu merasa kurang ya, sehingga tidak pernah sampai tujuan. Berkali-kali diperbaiki untuk mendapat hasil yang tidak pernah sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s