Pizza Making Competition.

Standard

Making Piza CompetitionHari Minggu. Waktunya bersama anak-anak. Ngapain ya biar seru dan menyenangkan? Saya sudah merencanakan untuk mencoba memanggang pizza sendiri. Anak-anak mungkin akan senang, jika mendapatkan piza hasil panggangan emaknya sendiri dan bukan membeli di gerai -gerai pizza di Bintaro.

Terus terang saya tidak bisa membuat pizza dan belum pernah membuat pizza. Selain karena lidah kampung saya agak sulit menyesuaikan diri dengan makanan Non Asia, juga saya tidak pernah makan daging sapi sama sekali sejak kecil. Saya lebih banyak makan sayur. Karena secara umum, kebanyakan orang-orang di Bali memang tidak memakan daging. Dan saya lahir dan besar di situ. Kedua anak saya yang lahir dan besar di Jakarta memakan daging sapi. Sementara kebanyakan pizza menggunakan daging sapi untuk toppingnya. Sehingga makan di restaurant Pizza bukanlah favorite saya.  Walaupun kadang-kadang ikut makan di restaurant Pizza untuk menghormati teman-teman saya atau anak-anak yang ingin makan pizza, biasanya saya memilih yang vegetarian. Atau paling jauh yang seafood atau chicken saja. Tapi anak-anak sangat menyukai Pizza.

Walaupun belum pernah membuat, tapi saya pikir, kalau ada orang lain yang bisa membuat tentu sebenarnya kita punya potensi untuk bisa membuatnya juga. Semua tergantung niat dan usaha.  Saya coba mengingat-ingat,kira-kira apa yang dibutuhkan untuk membuatnya. Dari tampangnya, kayanya bisa ditebak.   Saya menemukan “Pizza Dough” yang siap pakai di sebuah Supermarket,  ah…ini akan sangat membantu saya untuk mempercepat  pembuatannya. Lalu saya tinggal membeli bahan untuk toppingnya. Bawang bombai, Jamur Portabella, Paprika,  keju Mozarella, Tomat,  Dada ayam, Sosis ayam, Margarine. Saya coba mencari olive dan oregano,  tapi tidak ketemu.  Lagi kosong.  Tapi saya punya  Basil dan saus cabe. Lalu untuk anak saya yang makan daging sapi saya membelikan  corned beef, sosis sapi dan beef burger.

 

Walaupun bangunnya siang dan masih bermalas-malasan dulu di tempat tidur, akhirnya Andre anak saya yang besar meloncat bangun dari tempat tidurnya dan siap membantu saya membuat piza dan memanggangnya. Karena saya tidak makan beef, anak saya mendorong kami hanya membuat Non Beef Pizza. Saya bilang “Tidak apa-apa, tidak harus  mikirin mama.” kata saya.  Kalau ia ingin Beef Pizza, semua bahan juga sudah tersedia. Tapi ia berkeras ingin membuat Pizza yang kami semua bisa makan. Okelah kalau begitu.

Lalu ia mengeluarkan Dough, mengolesinya dengan margarin, memberi sedikit saus cabe. Ia meminta tolong saya untuk memasak dulu irisan ayam dan sosis  biar matang*anak saya yang besar ini sangat concern akan kontaminasi kuman pada makanan*.  Lalu ia mulai menata Irisan Jamur, irisan bawang bombay, irisan dada ayam, irisan sosis ayam dan irisan keju Mozarella.  Tak lupa ia menaburkan sedikit basil di atasnya. Saya membantu menambahkan irisan keju Mozarella lagi .

Membuat topping piza Andre mendandani pizzanya.

Tiba-tiba Aldo anak saya yang kecil datang, habis main dari rumah tetangga. Ia melihat ke kakaknya yang sedang mendandani pizza.”Aku juga mau” katanya sambil meletakkan laptopnya yang sedari tadi ia bawa-bawa bermain. “Tapi aku mau Beef Pizza” katanya. “Bikinlah sendiri” kata kakaknya. Sayapun menganjurkan hal yang sama. Akhirnya ia pun mengabil selembar Dough, mengolesinya dengan margarin, menambahkan saus cabe banyak-banyak, menambahkan corned beef, irisan sosis sapi, potongan burger sapi dan menyusun irisan keju Mozarella di atasnya. Saya membantunya dengan menambahkan keju hingga ke pinggir. Namun ia tidak setuju. “Nanti meleleh keluar terlalu banyak” katanya menolak. Okey sayapun mengalah. “Ini akan menjadi lebih enak” katanya penuh percaya diri. “Oke. kalau begitu kita akan berkompetisi. Dan papa yang akan menjadi jurinya“. kata saya. Anak-anak setuju dan melapor pada bapaknya bahwa kami sedang membuat pizza, dan akan berkompetisi, mengharap kesediannya menjadi Juri. Papanya setuju.

Setelah itu saya menyalakan oven. Memoles nampan panggangnya dengan margarin.  Sebenarnya saya bingung, harus berapa lama ya? Dan berapa suhu yang bagus untuk memanggang pizza? Akhirnya saya coba api atas bawah, 200°C, 20 menit.  Di tengah jalan, saya turunkan suhunya ke 170°. Keju meleleh dengan baik dan aroma yang lezat pun tercium.

Tdlara! Pizza pun sudah jadi. Saya mengangkatnya keluar dan menempatkannya di piring saji.

Chicken PizaIni Chicken Pizza buatan Andrei

Pizza Andre terlihat sangat menarik. Warnanya krem didominasi warna putih dari lelehan keju Mozarella yang banyak, menutupi irisan dada ayam, sosis ayam , bawang bombay dan paprika yang muncul mal-malu. Ada sedikit lelehan keju yang keluar dari rotinya ” Ini gosong” kata Aldo sambil tertawa.  Kakaknya ikut terawa sambil berkata ” I’ll blame mom, for the cheese excess” . ha ha.,saya tertawa. Itu memang saya yang  meletakkan banyak keju hingga ke pinggir dan ketika dipanaskan rupanya ada yang meleleh sampai keluar. tapi secara umum tampilannya keren juga.

Beef PizaIn Beef Pizza buatan Aldo

Pizza Aldo terlihat sangat menawan tampilannya.  Warnanya krem dengan bercak-bercak merah saus cabe, potongan sosis dan potongan beef burger di sana sini, terlihat menonjol diantara lelehan keju Mozarella yang memutih. Sangat mirip dengan Pizza commercial keluaran restaurant pizza terkenal. Nah..tinggal deg-degannya sekarang. Dari sisi rasa, siapakah pemenangnya? Andre atau Aldo?. Sang juri mencoba. Hmm..nyam nyam. pemenangnya adalah… Aldo!.

Tentu saja selain karena tampang pizanya kelihatan lebih profesional, juga rasanya pasti lebih enak bagi penggemar beef. Wah! Tapi Aldo sangat hebat.  Ia tidak pernah membuat pizza, tidak mengerti cara membuat pizza, tidak tertarik urusan membuat makanan, tapi bisa memenangkan  kompetisi dengan baik. Enjoying Piza

Aldo menikmati pizza buatannya sendiri yang menang kompetisi.

Andre menerima kekalahannya dengan baik. Saya tahu kekalahannya tentu akibat dari upayanya membuat pizza yang bisa dinikmati juga oleh ibunya. Walaupun ia sendiri sebenarnya adalah penggemar Beef. Sementara jurinya sendiri adalah penggemar beef juga. Ia kalah, tapi ia tahu bahwa hanya pizza buatannyalah yang bisa dinikmatinya bersama ibunya. Saya terharu dengan kebijakan hati anak saya. Setelah itu, karena ia masih lapar dan penasaran, maka iapun membuat pizzanya yang ke dua. Kali ini berjudul : Meat Lover. Dengan segala urusan daging dimasukkannya. Ia memanggang untuk ia makan berdua dengan adiknya.

Piza ke dua

Ini pizza ke dua buatan Andre – Meat Lover.

Saya senang, ke dua anak saya mengerti bahwa ini bukan soal menang kalah. Namun soal bagaimana kita menikmati kebahagiaan dalam kebersamaan. Bagi saya pemenangnya adalah keduanya. Kedua orang anak saya adalah Chef yang baik. Saya senang karena sudah berhasil membuat kedua anak saya senang.

Hari Minggu yang indah!

28 responses »

  1. kalau agama hindu memang tidak makan sapi kan mbak?
    Saya sih pemakan segala, tapi sekarang lebih memilih sayur daripada daging.
    Saya suka pizza yang cheese 4 macam.
    Kalau beli dough jadi ya biasanya enak. Kalau buat dari adonan rotinya, kadang keras mbak hehehe. Dan kalau dagingnya sudah matang semua biasanya cukup 7-10 menit saja.
    Asyiknya melewatkan acara masak-masak bersama. Yang penting semua enjoy ya mbak

  2. Duh salah buka blog nih saya. Lihat foto pizza di posting ini, jadi kebelet pengen. Mana tanggal tua nih mba. Nant ah kalau sudah gajian saya sempatkan mampir beli pizza.
    Senang melihat keharmonisan keluarga mba. Semoga nanti saya juga bisa demikian setelah berkeluarga…

  3. dapurnya pasti sangat berbau harum ya mbak..
    senangnya lihat kekompakan ini, dan dua anak cowok ganteng ini nggak sungkan masuk dapur…
    jadi pengen nyobain pizza buatan Aldo

  4. Kayaknya baru sekarang aku liat foto anak2 mbak Dani, deh🙂
    Seruuu itu bikin pizzanya. Eh, doughnya merk apa, mbak? Harganya inget, gak berapa? Boleh juga tuh, kapan2 coba bikin pizza sendiri…
    Aku juga gak makan daging sapi, loh. Juga kambing. Cuma ayam aja yg masuk di lidahku. Jadi kalo beli pizza, paling suka yg cheesy lover..🙂

  5. Keren, salut sama Andre. Dia ga mementingkan dirinya aja, suka sama kata-katanya bun~😳
    Dan di keluarga kami juga ga ada yang makan daging sapi, jadi kalau makan ya serba sayur, ayam atau ikan~😀

  6. Mbak Dani emang emak yang keren banget. Sekalipun sibuk masih memikirkan membuat makanan untuk anak-anak. Dan foto pizzanya bikin ngiler hehehe..

  7. Selalu menyenangkan membaca berbagai kegiatan yang dilakukan Mbak Dani bersama keluarga di akhir pekan ataupun di saat liburan. Lain kali kalau mau lomba masak lagi, aku mau koq diminta jadi jurinya 😀

  8. asik banget pizza nyaa apalagi masak rame2 sama keluarga ya
    saya jauh2an sama orang tua. tp kalo lagi di rumah ortu suka bakar2 ikan. yg bikin tambah lezat emang bareng2nya.
    salam kenal🙂

  9. Tampilan pizza nya sangat cuantik mbak. Pasti rasanya maknyus:D. Kalau ini makanan kesukaan anak-anak saya mbak. Kalau saya masih beli untuk hal ini, belum bisa buat sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s