Ketakutan.

Standard

timbangan 1Anak si Mbak yang berumur 4 tahun ikut ibunya yang saya suruh berbelanja ke ruko depan rumah. Waktu kembali pulang, ia bercerita kepada saya  kalau dia bertemu anjing di jalan dan sangat ketakutan “ana mbaung… warnane ireng..nyong wedhi nemen ..karo Mbaung ” ceritanya terbata-bata.  Ia memperagakan mimik anjing itu dan sekaligus juga ia memperagakan ketakutannya.  Tidak terlihat takut, tapi lucu. Saya tertawa melihat peragaannya. Tertarik mendengar ceritanya tapi saya bisa mengerti. Walaupun ada banyak orang yang suka pada anjing, tapi ada cukup banyak orang juga yang saya tahu takut  pada anjing.

Saya ingat dulu seorang baby sitter yang membantu mengasuh anak saya pernah saya ajak bermain ke rumah seorang sepupu saya yang punya anjing. Saya ingat ia langsung naik dan berdiri di di atas kursi tamu, gara-gara ada seekor anak anjing peking melintas di dekat kursi. Tapi ia memang sangat takut. Karena kasihan melihat ia begitu ketakutan, akhirnya buru-buru saya pamit dari rumah sepupu saya.

Seorang keponakan suami saya  sangat takut pada tikus. Pernah suatu kali ada tikus masuk ke dapur. Saya ingin mengeluarkan tikus itu lewat pintu belakang. Lalu saya ingin meminta tolong keponakan itu untuk mengatur pintu. Dibuka saat tikus ada di dalam dan ditutup saat tikus sudah keluar. Eh..malah ia lari masuk ke kamar  dan menutup pintu sambil berteriak-teriak ketakutan. Awalnya saya pikir ia bercanda. Tapi ternyata ia memang serius sangat takut pada tikus.

Seorang keponakan yang lain dari suami  ada yang takut pada ketinggian.Setiap kali hendak menyeberang lewat jembatan layang, ia malah menutup matanya dengan sangat stress. Kalau melihatnya menyeberang jembatan layang tentu seperti melihat orang buta berjalan, karena ia menutup matanya, berjalan selangkah demi selangkah pelan pelan,sambil tangannya meraba-raba besi pegangan.

Ada seorang teman baik saya yang takut pada karet gelang. Saya bingung. Di mana ya letak ketakutannya?  Kok karet gelang. Nggak masuk akal kan? Tapi teman saya menjelaskan bahwa dulu waktu kecil pernah tanpa sengaja memegang karet gelang yang sudah tua dan getas karetnya… sangat mirip cacing dan terasa lengket!. Ia kaget dan sampai sekarang merasa takut pada karet gelang.

Seorang teman anak saya ada yang sangat takut pada kucing dan kelinci.Hah? Saya heran. Masa takut pada kucing? Apalagi kelinci? Itu aneh banget! kan bintangnya lucu? Komentar saya pada anak saya. Tapi anak-anak saya menjelaskan bahwa temannya itu memang seriously takut pada “any” binatang. Kenapa? karena pada waktu kecil pernah dicakar kucing. Ooh…

Suatu kali anak saya berkata kepada saya “Mama,kayanya mama tambah gendut deh” kata yang besar. “Berat badannya mama berapa sekarang?“lanjut yang kecil. Saya menyadari bahwa berat badan saya bertambah. Tapi saya tidak mau share kepada anak saya tentang berapa berat badan saya saat ini. Pertama kali tidak saya jawab, anak saya tidak terlalu mendesak. Tapi yang namanya anak-anak, mereka selalu penasaran. Ingin tahu.

Mereka tak bosan bosan memberi komentar tentang betapa gendutnya saya. “Kalau aja mama agak langsing dikit, pasti mama cantik banget” katanya. Terus lanjutannya “Memang berat badannya sekarang berapa, Ma?“. Huah.. No comment!. Rahasia dong!.  Atau “Mama sebenarnya cantik ya, tapi sayang gendut… ”  kata anak saya. Saya mendelik “Maksud lo?” Anak-anak saya tertawa melihat saya memasang wajah manyun.  Nggak enak dong begitu. Dipuji terus dibanting. Makin tinggi pujiannya, makin sakit bantingannya. He ehe. “ Jadinya… cantiknya agak kurang ” kata anak saya cekikikan.

Lalu mereka punya ide gila. Membawa timbangan badan ke dekat saya dan menarik-narik tangan saya agar bersedia ditimbang. Lah? Apa-apain ini?!. “Nggak. Nggak mau.Nggak mau” kata saya meronta. Tapi anak saya tetap memaksa saya ditimbang. Sekarang mereka kompak berkolaborasi mendorong badan dan kaki saya agar bisa ditimbang. Saya terus meronta dan bertahan. Aduuh.. kacau ini anak anak!.

Karena saya tetap tidak mau ditimbang, anak saya yang kecil menangis berguling-guling dan merasa bahwa saya berlaku curang dan tidak adil. Mengapa semua orang di keluarga ini bersedia ditimbang, cuma saya saja yang tidak bersedia. Aduuuh… kaypo banget sama urusan mamanya!. Akhirnya anak saya yang besar berkata pada adiknya agar jangan memaksa saya, karena  memaksa orang itu tidak baik. “Mungkin saja mama malu kalau berat badannya diketahui oleh kita semua” katanya. Untunglah adiknya mau berhenti menangis. Tapi anak saya yang besar  berkomentar  pada saya “Aku ini sangat heran deh, Ma! Aku tahu ada orang yang takut pada jarum suntik. Aku tahu ada orang yang takut pada tikus. Aku juga tahu ada orang yang takut pada anjing. Nah… ini aku baru tahu kalau ada orang yang takut pada…TIMBANGAN!” Dalam kemanyunan, sayapun tak bisa menahan tawa saya.

Dan hingga sekarang, setiap kali bertemu dengan teman atau keluarga saya, anak saya suka bercerita sambil senyam-senyum” Tante, tahu nggak ? Mamaku itu takut  bener lho, sama timbangan …”  .

12 responses »

  1. Hahahaha. Mbaaaa. Saya speechless deh. Saya sangat memahami ini. Pernah dikasih tahu temen baik kalo jangan pernah menanyakan berat badan ke perempuan. Itu bisa meruntuhkan dunianya. Katanya begitu. Saya sih takut sama Kecoa dan sama Ikan Mateng. Hahaha.

  2. aku takut gelap mba.. kalo sama tikus n kecoa itu lebih ke jijik😀

    kalo sama timbangan juga agak2 takut sik… takut liat kalo berat badanku naik😀

  3. emang kadang gak abis pikir ya kenapa orang bisa takut ama benda2 yang menurut kita gak menakutkan. tapi ya itu namanya phobia ya… gak bisa dijelaskan dengan logika.😀

  4. kok sama mbak? hehehe aku juga takut pada timbangan nih.
    Tapi sebelum itu aku takut pada ketinggian, takut pada tempat tertutup, pada gelap. Pernah sampai panic syndrom dan sampai sekarang menghindari naik subway (kereta bawah tanah) sendirian…karena takut.
    Dulu kemana-mana bawa oksigen, karena kalau panicnya kumat aku “merasa” susah nafas. Jadi perlu jimat, oksigen itu hehehe. Sekarang sih udah mendingan

  5. Ada yg takut sama kucing rupanya ya mba? Aneh juga ya.
    Kalo saya takut sama ular. Aneh lihat ada orang yg pelihara ular disimpan di kamarnya.
    Takut timbangan ya mba? Ah mba ini ada-ada saja…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s