Daily Archives: January 31, 2014

Kita Bikin Sendiri Yuk!

Standard

Satu hal yang saya selalu percayai dalam hidup saya adalah bahwa “Jika ada orang lain yang bisa membuat sebuah benda, maka sebenarnya kita bisa membuatnya juga, asalkan ada niat membuatnya, mau melakukannya, kita tahu cara membuatnya dan kita memiliki alat untuk membuatnya”. Itulah sebabnya saya sering mencoba membuat benda-benda yang saya sukai dengan maksud untuk membuktikan bahwa saya ternyata bisa membuatnya.  Mungkin hasil buatan kita sama bagusnya dengan jika kita membeli, kadang kurang bagus atau bahkan beberapa kali malah lebih bagus dibanding dengan benda yang dijual umum.  Buat saya mau lebih bagus, sama bagus atau kurang bagus adalah masalah ke dua. Kalau lebih bagus atau sama bagus, ya tentunya saya senang. Kalau kurang bagus, kan juga bisa diperbaiki nanti jika kita lebih mengerti lagi tata cara pembuatannya dengan lebih baik. Jadi saya tetap mencoba membuat dan membuat lagi untuk menyenangkan hati saya.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan bahwa seringkali jika kita membuat sendiri benda-benda kesukaan kita, ternyata juga membuat pengeluaran kita menjadi lebih irit.  Terutama jika kita membuat dalam jumlah banyak. Karena ternyata ongkos membuat  sendiri, lebih murah dibandingkan jika kita membeli. Ada beberapa contoh benda yang sering saya buat sendiri dan menurut saya ongkosnya jauh lebih murah dibandingkan membeli.

1/. Benang dan kain. 

Menyulan & merendaSaya  senang membuat sendiri benda-benda yang terbuat dari benang dan kain. Sejak remaja, saya suka menjahit sendiri baju-baju saya. Saya beli kainnya di pasar, lalu saya lihat modelnya di majalah-majalah remaja, saya ukur badan saya sendiri, buat polanya sendiri, lalu jahit dan paskan dengan badan saya… jadi deh.  Saya juga suka membuat sendiri topi, baju tidur, atau sprei  buat diri saya sendiri. Saya menemukan setidaknya kita bisa irit 25% – 50%  atau bahkan lebih jika kita buat sendiri, ketimbang jika kita beli. Lumayan kan?

Saya juga suka mennggambar dan menyulam sendiri untuk membuat jahitan saya terlihat lebih manis. Selain itu saya juga cukup sering membuat bantal kursi, taplak meja dan acessories lain yang tebuat dari benang. Saya kadang-kadang merenda sendiri apa yang ingin saya buat.  Benda-benda yang saya perlihatkan di foto ini akan menjadi cukup mahal jika kita beli dari toko.  Tapi kalau buat sendiri? Sudah pasti jauh lebih irit.

2/ Pengharum ruangan.

PotpourriPengharum ruangan traditional (potpourri) bisa kita bikin sendiri. Terkadang  saya juga bikin sendiri. Caranya sederhana. Hanya dengan memetik bunga-bunga wangi yang mekar di halaman (frangipani, kacapiring, mawar, melati, dsb) dicampur dengan irisan kulit jeruk, pekak, adas, pala,cengkeh dsb bahan bahan alam yang memang wangi dari sononya  dan mengeringkannya, lalu saya tambahkan dengan biang parfum dan simpan dalam toples.  Wangi akan keluar sesuai dengan benda-benda yang kita campur di dalamnya. Jika pengeringan dan proses dilakukan dengan baik, maka pengharum ruangan ini akan mampu bertahan hingga beberapa bulan. Kadang lebih dari 6 bulan.

Membuat potpouri sendiri ini sangat menarik lho. Dan juga murah. Soalnya yang dipakai hanyalah bunga-bunga kering dan irisan bahan lain yang mudah didapat seperti misalnya kulit jeruk (saya hanya menggunakan kulit jeruk yang buahnya saya makan – saya iris tipis tipis dan saya jemur), pala dan sebagainya. Jadi benar-benar irit tentunya dibandingkan dengan jika kita membeli.

3/Hiasan Kamar.

MelukisHiasan kamar bisa jadi sangat mahal. Tapi kita bisa menyiasatinya dengan membuatnya sendiri. Saya senang menggambar dan mendorong anak-anak saya untuk ikut  melukis dan memajang hasil karyanya di dinding. Buat saya, memasang hasil gambar anak-anak bukan saja membuat anak-anak semangat berkereasi  serta bangga akan karyanya sendiri, namun juga lumayan untuk mengirit pembelian pajangan.

Caranya ya tinggal siapkan buku gambar atau kanvas, pensil ataupun cat minyak, krayon, cat acrylic dan sebagainya. Biarkan anak-anak belepotan. Biarkan anak-anak menggambar semaunya. Dan hasil lukisannya kita bingkai dengan baik,  lalu pajang di dinding.  Saya tidak pernah khawatir dengan gambar jelek.  Gambar anak-anak yang dijiwai oleh semangat yang tinggi selalu bagus. Kalaupun gambarnya jelek, tidak apa-apa juga. Gambar jelek tapi hasil karya sendiri masih jauh lebih baik daripada memajang gambar bagus hasil karya orang lain he he. Selain itu sudah pasti lebih irit dibandingkan membeli lukisan di galery.

4/ Mainan Anak

Membuat mainan sendiriMainan anak juga tidak semuanya harus dibeli. Bisa bikin sendiri dan lebih asyik. Sejak anak-anak masih kecil saya selalu membiasakan diri membuat sendiri mainan anak-anak.  Mulai dari membuat berbagai jenis binatang dari kain flanel maupun dari benang, membuat sendiri gelembung sabun, membuat sendiri terompet,pancing dan berbagai mainan lain yang bisa dimainkan oleh anak-anak saya dengan hati senang.  Anak-anak saya sangat suka dengan mainan hasil buatan tangan saya sendiri. Bahkan sering promosi dengan bangga ke teman-temannya bahwa” mamaku pintar membuat mainan lho..”. Apesnya… anak-anak tetangga jadi minta dibuatkan juga. Tidak apa-apa sih. Yang menarik adalah, beberapa ibu-ibu tetangga jadi ikut belajar membuat mainan juga, gara-gara anak-anaknya merengek meminta dibuatkan mainan he he. Kalau lihat sisi positivenya adalah, kegiatan saya lumayan berhasil mendorong kreatifitas ibu-ibu lain *bangga*.

Walaupun banyak juga mainan jenis lain  yang tetap dibeli oleh anak saya,  namun dengan adanya mainan buatan sendiri, setidaknya keperluan membeli mainan komersial jadi sedikit bisa dikurangi.  Anak-anak bisa memainkannya bergantian.

Selain sedikit lebih irit, karena sering melihat emaknya membuat mainan sendiri, anak-anak juga jadi ikut terdorong pengen mencoba membuat mainan mereka sendiri juga. Kadang-kadang merekapun cukup kreatif membuat maianannya sendiri. Sering juga anak-anak mencoba membuat robot-robotan sendiri,membuat mobil-mobilan, mencoba merakit sendiri mainannya yang membuat saya merasa senang. Setidaknya walaupun nilai iritnya tak seberapa, saya senang karena bisa mendorong sisi kreatifitas anak-anak bertumbuh dengan baik.

5/. Memasak Sendiri.

MemasakMakan di restaurant tentunya selalu menyenangkan. Hanya saja harganya yang mahal membuat kita berpikir juga jika sering-sering pergi ke sana. Membuat makanan sendiri! Sudah pasti buat saya itu adalah cara mengirit tersendiri. Jika saya menemukan makanan yang enak dan menarik perhatian saya, atau jika saya tahu anak-anak maupun suami saya menyukai jenis masakan tertentu yang disajikan di sebuah restaurant,  dan terutama jika harganya mahal, maka saya  pasti akan berusaha membuatnya sendiri.  Mencoba membuat sendiri makanan favorit sebenarnya cukup mudah.  Saya sering melakukannya.

Contohnya adalah membuat Tom Yum Goong , membuat pizza,membuat chocolate ball, membuat banana split, membuat cream sup dan lain sebagainya. Saya coba-coba saja sendiri dengan menebak bumbu yang digunakan. Jikapun ragu, maka jaman sekarang sungguh sangat mudah mendapatkan informasi cara pembuatannya. Tinggal browsing saja di internet, lalu coba. Jika tidak happy dengan hasilnya, coba-coba lagi dengan mengotak-atik bumbunya, sampai kita menemukan yang pas dengan selera kita atau yang mendekati rasa yang dihidangkan di restaurant favorite kita.

Cara irit yang lain,  juga dengan memasak dan membawa sendiri bekal makan siang ke kantor. Yang ini dijamin irit deh. Karena saya sering melakukannya.

Sebenarnya masih banyak lagi cara saya melakukan penghematan – namun “Cara Berhemat dengan Membuat Sendiri” adalah cara penghematan yang paling saya sukai. Karena penghematan dengan cara begini bukan saja memberi benefit dalam bentuk biaya yang lebih sedikit, namun yang lebih penting lagi buat saya adalah membuka peluang bagi diri kita dan anak-anak untuk menjadi  lebih kreatif dan percaya diri.  Dan  tentu saja, cara irit seperti ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pelit, lho!.

Yuk kita buat sendiri! Lebih Irit, Lebih Kreatif Dan Tidak Pelit!.

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin.

Menelisikin Bulu, Menelusuri TiapTitik Perbuatan Kita.

Standard

Menyisir Bulu 1Senja. Sehabis hujan. Saya keluar rumah dan memandang ke sekeliling. Sisa-sisa sinar matahari yang tadinya tertutup mendung sekarang mulai terkuak dan memantul dari pucuk-pucuk pohon keluwih di belakang rumah. Membuat segala sesuatunya terlihat lebih merah dari biasanya.  Senja yang hangat.

Saya mendongak ke atas. Empat ekor burung balam tampak sedang bertengger di dahannya yang mati. Wah..banyak sekali. Saya belum pernah melihat ada empat ekor burung yang sama bertengger di pohon yang sama saat bersamaan. Kecuali burung gereja, burung pipit atau burung peking yang memang hobinya bergerombol. Burung-burung itu berdiang menikmati kehangatan sinar matahari sore.  Sebagian ada yang bercanda saling mengangguk dengan temannya, namun ada juga yang memanfaatkan diri menyisir bulunya satu per satu.

Barangkali hujan telah membuat sayapnya basah kuyup dan kusut. Sehingga ia merasa perlu menyisir dan meminyakinya agar rapi dan mengkilap kembali. Selain itu barangkali hujan juga telah membuat sarangnya lembab dan banyak kutu dan kuman yang mungkin saja mengkontaminasi kesehatan bulunya.

Saya salut dengan kerajinan para burung membersihkan dirinya setiap kali ada kesempatan.  Ia menyisir mulai dari bulu-bulu lehernya, dadanya, perutnya, bagian bawah sayap kirinya, bagian atas sayap kirinya, punggungnya, dan sebagainya. Satu per satu. Helai demi helai, sehingga tak ada satupun yang terlewat. Tak ada kutu atau kuman yang tertinggal,tidak ada kekusutuan dan tidak ada kekusaman. Semuanya rapi dan mengkilap kembali.

Menyisir bulu seperti yang dilakukan oleh burung ini,kalau di Bali diistilahkan dengan “Menelisikin Bulu“. Artinya sama. Yakni menelusuri setiap titik dan helai satu per satu tanpa ada yang terlewatkan. Dan sekaligus membersihkan serta memperbaiki  jika menemukan ada sesuatu yang salah dengan helaian bulu itu, misalnya kusut, kusam, ada kotoran ataupun ada kuman dan jamur.  Dengan demikian, setelah kegiatan menelisikin bulu ini selesai, maka dipastikan surung akan kembali memiliki sayapnya yang bersih, rapi, indah dan mengkilap.

Menelisikin Bulu, tidak hanya berlaku untuk burung. Tetapi juga untuk manusia yang tidak memiliki bulu sebanyak burung. Istilah “Menelisikin bulu“, digunakan ketika seseorang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Misalnya – untuk sekedar contoh, seorang teman tiba-tiba marah kepada dirinya namun ia tidak tahu persis apa salahnya. Mengapa temannya itu bisa marah kepadanya?. Maka biasanya orang yang bersangkutan akan segera “menelisikin bulu’. Mengambil jeda sejenak, mencari waktu untuk melakukan refleksi diri, menelusuri satu per satu perbuatannya dari awal hingga akhir untuk mencari tahu, apakah ada diantara perkataan ataupun perbuatannya itu yang tanpa sengaja telah menyakiti hati orang lain (temannya). Persis seperti burung yang mencari kotoran yang menyelip di sela-sela bulunya. Jika ada, maka ia perlu membersihkannya, entah dengan cara meminta maaf, atau memberi klarifikasi  kepada yang bersangkutan, atau memperbaiki sikap dan sebagainya.  Dengan demikian, selayaknya burung, maka ia akan mejadi lebih lega, karena setidaknya ia telah berhasil menemukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Demikianlah orang -orang yang  secara reguler ‘menelisikin bulu’ ini membuat dirinya menjadi cemerlang dalam kebahagiaan, karena tidak membiarkan kotoran dan debu mencemari tingkah lakunya. Jika ia mendapati dirinya kotor, maka dengan kesadaran penuh iapun berusaha membersihkannya.

Ada cukup banyak orang yang suka ‘menelisikin bulu’ secara berkala. Namun yang namanya isi dunia tentu saja beragam. Ada banyak orang juga yang tidak mau menelisikin bulu. Tidak  mau merefleksikan diri dan perbuatannya,  tidak berusaha mencari tahu apakah dirinya benar atau salah, dan apapun orang katakan, ia selalu merasa benar sendiri.

Hidup selalu memberikan kita berbagai pilihan untuk kita pilih.